
Livy masuk ke dalam kamar tempat Abio di rawat. Dengan membawa alat medisnya, dia ingin memeriksa keadaan Abio. Bagaimana mungkin pria itu tidak juga bangun sementara dokter yang menangani Abio bilang kalau kondisi Abio sudah stabil. Ia ingin memastikan sendiri, apa benar keadaan Abio sudah stabil.
“Selamat pagi, Tante. Bagaimana kabar tante?” sapa Livy kepada Alana.
“Tante merasa sedikit pusing, Livy.” Alana mendekati Kwan. Wanita itu memilih bersandar di pundak suaminya. Sembari menunggu Livy sampai selesai memeriksa keadaan Abio, wanita itu memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa ngantuk yang ia rasakan.
“Tante pasti kecapekan karena kurang tidur. Nanti resepkan vitamin ya?” tawar Livy dengan nada lembut dan sopan.
“Terima kasih, Livy,” jawab Kwan karena saat itu Alana sudah memejamkan mata.
Livy kembali fokus pada Abio. Wanita itu mengambil tangan Abio agar bisa memeriksa denyut nadinya untuk memastikan kondisi Abio saat ini. “Ya, dia sudah stabil. Tetapi, kenapa dia belum juga bangun? Dimana masalahnya?” gumam Livy di dalam hati. Dia meletakkan tangan Abio dan mengamati kedua mata Abio yang bergerak-gerak seperti sedang pura-pura tidur. Dekat dan semakin dekat.
“BA!”
Ketika Abio tiba-tiba membuka kedua matanya, Livy kaget dan sampai terjatuh di lantai. Wanita duduk sambil memegang bokongnya yang sakit. “ABIO!” umpatnya kesal.
Alana dan Kwan yang juga kaget segera berlari ke tempat tidur. Di sana mereka melihat Abio tertawa kegirangan. Pria itu sudah sadar ternyata. Namun, ia sengaja tidak mau buka mata sampai Livy datang memeriksa keadaannya.
“Abio, kau sudah sadar?” tanya Kwan bingung. Alana menghela napas panjang. Dia senang putranya sudah bangun. Ketika Alana memandang ke arah Livy yang berusaha berdiri, wanita itu cepat-cepat menolongnya.
“Livy, apa kau baik-baik saja? Kenapa kau bisa sampai terjatuh?” tanya Alana sembari membantu Livy berdiri.
Livy belum mau menjawab. Dia memandang Abio yang kini menertawakannya dengan posisi berbaring. “Ternyata anda sudah sadar, Tuan? Lalu, kenapa anda harus pura-pura tidak sadar? Apa anda sengaja ingin membuat kedua orang tua anda sedih?” ujar Livy.
Kwan dan Alana memandang ke arah Abio dengan alis saling bertaut. Abio menghentikan tawanya. Pria itu memikirkan jawaban yang tepat agar kedua orang tuanya tidak salah sangka padanya. Jika sampai Kwan dan Alana tahu dia sengaja pura-pura tidak sadarkan diri seperti tadi. Bisa-bisa Abio akan mendapatkan hukuman.
“Ma, Abio tadi merasa pusing ketika pertama kali sadar. Terus ketika Abio membuka mata, Abio melhat Dokter Livy ingin mencium Abio,” dusta Abio.
“Kau!” Livy melangkah maju. Namun, dia masih berusaha sabar karena Abio adalah pasien. Livy mengukir senyuman ramah di depan kedua orang tua Abio dan juga Abio. “Tuan Abio yang terhormat, saya tadi melihat anda sudah sadar dan ingin memastikan sendiri kalau anda sudah bangun. Jadi, jangan salah paham. Saya tidak mungkin memiliki niat untuk mencium anda. Itu sangat mustahil dan tidak akan mungkin pernah terjadi!”
Berbeda dengan Alana yang lebih percaya dengan perkataan Abio. Sedangkan Kwan, dia paham kalau putranya ini sedang merencakan sesuatu untuk bisa menjerat Livy. Namanya sama-sama playboy, jelas saja Kwan lebih tahu bagaimana jalan pikiran putranya. Dan anehnya, Kwan mendukung apapun yang dilakukan Abio.
“Sayang, kita keluar makan ya. Bukankah kau belum sarapan?” ajak Kwan.
“Bagaimana dengan Abio?” Alana terlihat menolak.
“Dokter Livy akan menjaga Abio. Bukankah begitu dok?” ledek Abio.
“Maaf, tapi saya.”
“Livy, paman minta jaga Abio sampai kami selesai sarapan ya? Tidak lama lagi pasti Opa dan OmaAbio tiba. Mereka masih dalam perjalanan dari hotel ke rumah sakit,” ujar Kwan agar Livy mau bertahan di ruangan itu untuk menjaga putranya.
“Kenapa aku harus terjebak seperti ini?” umpat Livy di dalam hati. “Baik, paman. Saya akan menjaga Abio.”
“Terima kasih, Livy sayang. Kau memang anak yang baik,” puji Alana. Wanita itu merangkul lengan suaminya dan mengajaknya pergi. Kwan memutar kepalanya dan mengedipkan mata kepada Abio. Abio tersenyum ketika tahu kalau ayahnya ada di pihaknya kali ini. Sedangkan Livy tidak menyadarinya karena kini wanita itu memandang ke arah lain dengan wajah kesal.
Setelah pintu kembali tertutup rapat, tiba-tiba saja Livy menarik telingan Abio dengan geram. “Beraninya kau berbohong! Kau menggunakan kebaikanku demi keuntungan pribadimu!”
“Dok, ini sakit! Aduh, mama! Papa! Anakmu di siksa!”
__ADS_1
Livy segera melepas tangannya dari telinga Abio. Wanita itu menghela napas sebelum duduk di pinggiran ranjang Abio. Dia memandang ke jendela. Walau sebenarnya tadi tindakan Abio menjengkelkan. Tetapi tidak sepenuhnya marah sama Abio. Masih ada rasa bersalah di dalam hatinya terhadap Abio karena sudah membuat Abio celaka sampai seperti ini. Beruntung Abio selamat. Bagaimana kalau pria itu tewas di medan pertempuran?
“Kau marah padaku?” tanya Abio dengan nada pelan. Dia tahu sekarang bukan waktunya untuk bercanda lagi. “Maafkan aku. Tadi aku hanya iseng saja. Sebenarnya aku baru bangun beberapa menit yang lalu saat kau datang.”
“Terima kasih,” ucap Livy tanpa memandang.
Abio menaikan satu alisnya. “Terima kasih karena sudah membuatmu jatuh?”
Livy menggeleng. Dia memandang ke arah Abio. “Terima kasih karena kau sudah mau membantu Kak Zion menyelamatkan Daisy. Kau sampai terluka separah ini karena membantu kami.”
Abio tersenyum. “Aku pria! Kata Opa, luka seperti ini itu biasa. Aku masih hidupkan? Itu berarti tidak ada masalah di sini.”
Livy menghela napas panjang. “Tapi, kau masih sakit saat melakukan pertarungan. Cedera di kepalamu karena kecelakaan kemarin masih belum pulih total.”
“Apa itu yang menyebabkan aku kalah?” sahut Abio.
Livy mengangkat kedua bahunya. “Bisa iya bisa tidak.”
“Livu sayang … jangan bersedih seperti itu. Pacarmu ini baik-baik saja.”
Livy melebarkan kedua matanya hingga membulat. “Apa kau bilang? Sayang” Pacar? Sejak kapan kita jadian?”
“Hari ini,” sahutnya santai.
“Hei!” Livy ingin beranjak dari tempat tidur. Namun, dengan cepat Abio menarik tangan Livy hingga membuat wanita itu akhirnya terjatuh ke depan dan menindih dada bidang Abio. Wajah mereka sangat dekat. Mereka saling memandang satu sama lain.
“Aku mencintaimu,” ucap Abio tanpa mau menundah lagi. Pria itu ingin segera memilki Livy. Dia harus menjadi pacar Livy.
“Kau bisa belajar mencintaiku setelah kita pacaran,” bujuk Abio. Berharap Livy luluh dan bersedia.
“Tidak! Sekali tidak tetap tidak!” Livy membereskan alat medisnya yang masih berantakan di atas meja. “Sepertinya anda sudah tidak perlu ditemani lagi. Anda pasti bisa jaga diri!”
“Kau berjanji untuk menemaniku!” umpat Abio tidak terima. Dia tidak mau sampai Livy pergi meninggalkannyay sendirian di sana. Bukan karena takut sendirian. Tetapi Abio mau Livy selalu ada disampingnya.
“Permisi!” Livy membawa tas miliknya dan berjalan ke pintu.
“Dok! Jangan pergi!”
BRUAK
Livy menahan langkahnya dan segera berputar. “ABIO!” Wanita itu segera berlari ketika melihat Abio jatuh di lantai. Punggung tangan pria itu sampai berdarah karena selang infusnya tertarik dan terlepas saat dia terjatuh. “Apa yang kau lakukan? Kau belum kuat untuk berdiri.”
“Aku ingin mengejarmu. Aku tidak mau kau pergi,” jawab Abio.
Livy memandang wajah Abio. Pria di depannya sangat pemaksa. Baru ini Livy bertemu pria pemaksa namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. “Aku akan membantumu naik ke atas tempat tidur. Setelah itu, aku akan memasang infusnya lagi karena kau belum sembuh total!”
Abio hanya diam saja. Disentuh oleh Livy seperti ini saja sudah membuatnya bahagia. Pria itu kembali naik di atas tempat tidur dan memandang wajah Livy. Wanita itu sedang sibuk mencari urat nadi di tangan Abio karena ingin memasukkan jarum infuse lagi.
“Dia benar-benar sempurna. Sangat cantik. Semakin lama aku semakin tergila-gila dibuat olehnya,” puji Abio di dalam hati. Karena tidak mau Livy pergi lagi, pria itu memilih untuk jadi pendiam. Ia mengamati kecantikan Livy dengan bibir tersenyum bahagia.
__ADS_1
“Ini akan terasa sedikit sakit,” ucap Livy sebelum dia menusukkan jarum infuse ke dalam nadi Abio. Wanita itu terlihat sangat fokus. Setelah dia berhasil memasang infuse di tangan Abio, dia merapikan lagi alat medisnya. Sebenarnya ini bukan tugas dia. Ada perawat yang tugasnya secara khusus memasang dan melepas infuse. Namun, karena sudah terlanjur ada di dalam ruangan itu, Livy tidak mau meminta bantuan orang lain. Toh dia bisa melakukannya sendiri.
“Tidak sesakit ketika kau menolak cintaku,” ujar Abio tanpa memandang. Pria itu lebih memilih untuk melihat ke arah jendela karena tidak mau ribut dengan Livy lagi.
“Bagaimana rasanya?”
“Sakit.” Abio memegang dadanya dan memasang wajah memelas.
Livy menghela napas panjang. “Maksudku, luka yang ada di tubuhmu. Di kepalamu itu. Bagaimana sekarang rasanya?” protes Livy. Abio tersadar. Pria itu tertawa kecil sambil memandang Livy. “Masih terasa sedikit sakit. Tapi, sekarang aku sudah merasa jauh lebih baikan karena kau ada di sini. Mungkin jika kau pergi, aku baru merasa seperti orang sekarat!” gombal Abio lagi.
“Sudah berapa banyak wanita yang kau gombalin seperti ini? Sebelum aku sepertinya sudah ada dokter wanita yang kau godain, bukan?” ujar Livy.
Abio mengeryitkan dahi. “Bagaimana bisa Livy tahu?” gumamnya di dalam hati.
“Kenapa diam? Malu karena ketahuan?” ledek Livy.
“Mereka hanya iseng saja. Tapi cintaku hanya untukmu,” ujar Abio dengan sungguh-sungguh.
Livy dan Abio sama-sama memandang ke arah pintu ketika terdengar suara orang bercakap-cakap. Biao, Sharin, Kenzo dan Shabira muncul di sana. Tidak ketinggalan Zeroun Zein. Mereka semua datang untuk menjenguk Abio. Mereka senang ketika mendapat kabar kalau Abio sudah sadar.
“Abio, kau sudah bangun?” Opa Kenzo yang paling semangat.
Livy mengukir senyuman sebelum memeluk Oma Shabira. Setelah itu dia memeluk Oma Sharin dengan bibir tersenyum manis. “Oma apa kabar?”
“Kabar Oma sangat baik, sayang,” jawab Shabira. “Kau sangat cantik Livy. Sama seperti Katterine,” puji Shabira.
Sharin hanya tersenyum saja. Dia memang tidak terlalu dekat dengan Livy. Wanita itu mendekati Abio untuk memeriksa keadaan cucunya. Abio memandang ke arah Livy sejenak sebelum memandang Kenzo, Biao dan Sharin yang sudah ada di dekat tempat tidurnya.
“Maafkan aku Opa, Opa pasti marah padaku,” ucap Abio kepada Biao.
Biao menepuk pundak cucunya dengan tersenyum. “Opa bangga padamu. Setidaknya ilmu yang selama ini Opa ajarkan tidak sia-sia. Cucu opa sudah jadi pria hebat sekarang.”
Livy memandang ke arah Biao. Wanita itu juga tersenyum. “Mereka dikelilingi oleh keluarga yang lengkap. Anda Oma Emelie masih hidup, pasti sekarang dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Kak Zion,” gumam Livy di dalam hati.
“Livy, bagaimana keadaan Zion? Kenapa dia sudah tidak ada di kamarnya?” tanya Zeroun. Tadinya pria itu ingin menjenguk cucunya. Namun pasien yang ia jenguk justru sudah tidak ada di ruangannya.
“Kak Zion sudah keluar dari rumah sakit, Opa. Dia tidak mau lama-lama ada di sini. Sepertinya dia sekarang sudah ada di rumah,” jawab Livy.
Zeroun mengangguk. Ia duduk di sofa diikuti oleh Shabira. “Livy permisi dulu ya Opa, Oma,” ucap Livy kepada Zeroun dan Shabira. Mereka hanya mengangguk sambil tersenyum. Livy segera pergi meninggalkan ruangan itu karena Abio sudah ada yang menemani.
Abio memandang Livy dengan begitu serius hingga membuat Kenzo dan Biao menjadi curiga. “Kau menyukainya?” tanya Kenzo penasaran.
“Kita keluarga. Abio tidak boleh suka sama Livy,” sahut Biao.
“Kenapa tidak bisa?” Abio mulai protes. Pria itu sangat ingin keluara besarnya mendukung hubungannya dengan Livy.
“Opa Zeroun dan Oma Shabira kakak adik kandung. Kau cucu Oma Shabira dan Livy cucu Opa Zeroun,” jelas Sharin agar Abio tidak bingung.
“Tapi, tidak bisa seperti ini. Aku mencintai Livy, Oma!” ujar Abio tifak terima.
__ADS_1
Zeroun dan Shabira saling memandang. “Kak, bagaimana ini? Kenapa cucuku bisa suka sama cucu kakak? Apa tidak ada wanita lain di dunia ini?”
Zeroun tertawa geli mendengarnya. “Biarkan mereka melalui masa muda mereka dengan bahagia.”