Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 230


__ADS_3

"Norah, siapa anak kecil ini? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah," bisik Leona dengan nada yang sangat pelan agar Harumi tidak mendengarnya dan tidak sampai sakit hati.


Sebenarnya bukan hanya Leona saja yang penasaran. Jordan, Oliver, Katterine, Oma Lana, Opa Lukas dan juga Opa Zen merasa bingung ketika pulang pulang bulan madu justru Norah dan Austin membawa seorang anak kecil.


Mereka semua sempat berpikir yang aneh-aneh saat itu. Mungkin jika keluarga Abio juga ada di sana. Pertama kali mereka tiba juga pasti mereka sudah diwawancarai. Sayangnya hari ini keluarga Abio tidak bisa hadir untuk menyambut kepulangan Abio dan Livy dari bulan madu mereka.


Abio sendiri yang melarangnya. Dia mengkhawatirkan kesehatan para Omanya yang memang sudah tidak seaktif dulu lagi. Sedangkan kedua orang tua Abio akan tiba sore nanti setelah pekerjaan Kwan selesai.


"Dia Harumi, Ma. Harumi akan menjadi anak angkat kami," ucap Norah mantap.


"Anak angkat?" celetuk semua orang secara bersamaan.


"Ya," jawab Norah. Wanita itu memandang ke arah Harumi sambil tersenyum manis. "Harumi cepat salam Opa dan Oma. Mulai sekarang kau harus terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Opa dan Oma," ucap Norah hingga membuat Leona semakin bingung.


"Hai, Opa. Hai, Oma," sapa Harumi sambil tersenyum manis.


"Harumi, kau anak yang sangat baik dan ramah. Oma yakin kau pasti sangat lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh. Oma akan meminta pelayan untuk membawamu ke kamar agar kau bisa istirahat." Leona memandang ke arah pelayan yang sejak tadi berdiri di sana. "Cepat antarkan Harumi ke kamar," perintah Leona.


"Nona muda, mari ikut saya," ucap salah satu pelayan wanita itu. Mereka segera membawa Harumi menuju ke lantai atas. Sambil berjalan, Harumi mengajak ngobrol pelayan yang mengantarnya. Semua orang senang karena melihat Harumi ramah terhadap semua orang. Terutama para pelayan yang ada di rumah itu.


"Lihatlah, Ma. Bukankah dia sangat menggemaskan?" puji Norah sambil memandang punggung anak angkatnya yang sudah semakin jauh.


"Ya. Dia sangat mirip denganmu saat kecil dulu." Leona sempat terdiam memandang punggung Harumi. Rasanya wanita itu juga tidak keberatan jika Norah dan Austin mengangkat Harumi sebagai anak mereka.


Setelah Harumi tidak ada di sana lagi. Leona dan Jordan kembali duduk di sofa begitu juga dengan Norah dan Austin. Mereka semua kini memandang ke arah sepasang pengantin baru itu dengan tatapan penuh tanya.


Berbeda dengan Livy dan Abio yang memang sudah mendengar ceritanya secara langsung saat mereka bertemu di bandara tadi.


"Harumi adalah anak yatim piatu yang mewarisi harta kedua orang tuanya. Sayangnya keluarga Harumi tidak sebaik yang dipikirkan olehnya selama ini. Mereka berencana untuk membunuh Harumi agar bisa menguasai hartanya. Saat itu tanpa sengaja kami bertemu Harumi. Dia minta tolong sama kami. Jika saja kami tidak menolong Harumi waktu itu, mungkin Harumi sekarang sudah tewas di tangan para penjahat yang sudah dibayar orang tua angkat Harumi," ucap Norah tanpa mau menjelaskan yang sebenarnya terjadi. "Sepertinya memang kita sudah dijodohkan untuk bertemu dengan Harumi. Buktinya saja pasukan Gold Dragon yang berjaga di rumah utama pernah berkata kalau GrandNa sempat bermain dengan Harumi di taman saat dia masih hidup. Mungkin jika saat ini GrandNa masih hidup, GrandNa juga akan melindungi Harumi dari orang-orang yang ingin mengincar nyawanya."


"Kasihan sekali dia. Tapi kenapa kau harus menjadikan Harumi sebagai anak angkat? Kau dan Austin baru saja menikah. Nantinya Kalian juga akan dikaruniai seorang anak. Sebaiknya untuk saat ini kalian fokus saja untuk bersenang-senang menikmati masa pengantin baru kalian. Kehadiran Harumi hanya akan membuat batasan di antara kalian berdua. Biar mama dan papa yang menjaga dan merawat Harumi. Kami gak masalah jika Harumi tinggal di rumah ini bersama kami," tawar Leona berharap Norah setuju.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Aku dan Austin sudah sepakat untuk menjadikan Harumi sebagai putri kami. Selain pengangkatan Harumi sebagai anak angkat kami, ada hal lain yang ingin kami katakan kepada mama dan papa. Kami berdua sudah memutuskan untuk tinggal di rumah utama keluarga Edritz Chen. Sejak GrandNa tiada, rumah itu tidak memiliki Tuannya lagi. Biar aku dan Austin yang mengurusnya."


"Soal itu Mama sama sekali tidak keberatan. Paman Aleo juga berulang kali meminta Mama untuk mengurus rumah itu agar tidak terbengkalai. Tapi, Apa kau yakin kalau kau akan merawat Harumi dengan baik? Bagaimanapun juga kau dan Austin orang yang sangat sibuk. Bukankah kalian masih terlibat dalam urusan Gold Dragon? Saat ini Zion tidak akan bisa fokus dengan Gold Dragon karena dia sedang berusaha mengejar restu Dominic."


"Jangan jadikan Gold Dragon sebagai alasan untuk menghalangi kebahagiaan cucuku, Leona," sahut Opa Zen. Ternyata meskipun diam saja. Ternyata pria itu mendengar obrolan antara Norah dan Leona. "Jika memang Norah sudah memutuskan untuk merawat Harumi seperti anaknya sendiri, Opa akan dukung. Tapi ingat satu hal. Kami masih keluargamu. Jika terjadi sesuatu, jangan pernah sembunyikan dari kami."


Leona tersenyum. "Terima kasih, Opa." Leona memandang ibu kandungnya lagi. "Mama harus percaya pada kami. Kami janji pasti bisa merawat Harumi dengan baik dan menyayangi Harumi seperti putri kami sendiri. Dalam hal ini Norah juga butuh bantuan mama. Mulai sekarang Norah akan banyak tanya agar bisa jadi orang tua terbaik untuk Harumi."


Leona menghela napas pasrah. "Jika memang keputusanmu ini sudah mantap, Mama tidak bisa melarangnya lagi. Mama hanya bisa mendukung apapun yang kau lakukan." Leona mengusap pipi putrinya.


"Terima kasih, Ma," ucap Norah sembari memeluk ibu kandungnya tersebut. "Oh ya, Leona dan juga Kak Livy membawa banyak oleh-oleh."


Leona dan Livy beranjak dari sofa. Mereka mengambil oleh-oleh yang sudah mereka persiapkan lalu memberinya kepada pemiliknya masing-masing. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.


Setelah membagikan oleh-oleh itu mereka kembali duduk dan menceritakan bagaimana cerita mereka selama bulan madu. Jelas saja semua orang terlihat senang karena baik Livy maupun Norah memiliki kisah tersendiri selama bulan madu mereka.


...***...


Sebenarnya tidak hanya Norah saja yang mendapatkan hadiah dari Zion. Pria itu juga mengirimkan hadiah spesial untuk Daisy meskipun hari ini bukan ulang tahun Daisy.


"Bos, ini oleh-oleh yang sudah dipersiapkan oleh Bos Norah untuk anda." Salah satu pasukan Gold Dragon yang sekarang bersama dengan Zion memberikan sebuah paper bag kepada Zion.


"Apa ini? Cepat sekali dia membalasnya padahal aku baru saja mengirimkan hadiah untuknya."


Tanpa pikir panjang, pria itu menerimanya dan memeriksa isi di dalamnya. Betapa kagetnya Zion ketika melihat hadiah yang diberikan oleh adik kandungnya adalah sebuah buku. Yang membuat Zion semakin bingung, buku itu berjudulkan.


"Cara jitu untuk meluluhkan hati kakak ipar."


Jelas saja hal itu membuat Zion tertawa geli. Dia tidak menyangka kalau adik kandungnya bisa tahu apa yang sekarang ia butuhkan.


"Kau memang selalu bisa diandalkan, Norah," ujar Zion dengan penuh semangat. Tanpa menunggu lagi pria itu segera membuka buku tersebut dan membaca isi di dalamnya.

__ADS_1


Pasukan Gold Dragon yang kini masih berdiri di samping Zion hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seorang pemimpin geng mafia Gold Dragon yang kini berdiri di hadapannya memang sudah berubah jauh dari sebelumnya.


Kini sang Big Boss tidak terlalu sering membahas soal dunia kegelapan. Pria itu justru sering sekali mencari informasi agar bisa meluluhkan hati calon kakak iparnya yang tidak lain adalah Dominic.


"Bos, apa mau saya bantu?" tawar pasukan Gold Dragon. "Biar saya yang baca."


"Aku bisa membacanya! Aku tidak perlu bantuan siapapun!" ketus Zion cuek.


"Anda yakin mengerti maksud dari buku tersebut, Bos?" lagi-lagi pria itu terlihat ragu.


Zion diam saja tanpa memberi jawaban. Pria itu kembali fokus untuk membaca isi buku di dalamnya. Namun beberapa menit setelahnya, pria itu menutup bukunya dengan wajah frustasi.


"Aku tidak bisa melakukannya. Ide yang ada di dalam buku ini terlalu konyol. Jika aku sampai melakukannya, Dominic akan memandangku sebagai pria yang lemah." Karena kesal Zion memberikan buku itu kepada pasukan Gold Dragon. "Untukmu saja!"


Zion duduk di kursi besi yang ada di dekatnya lalu memandang ke depan. "Aku rasa Dominic benar-benar dendam padaku hingga dia berniat mempersulitku sampai detik ini. Dia masih belum bisa menerima kekalahannya saat ada di Las Vegas dulu."


Zion diam sejenak sebelum akhirnya wajah pria itu kembali berseri. "Aku tahu apa yang bisa membuat Dominic merestui hubunganku dan Faith." Kali ini Zion merasa sangat yakin kalau triknya akan berhasil.


"Apa yang Anda pikirkan, Bos?" tanya pasukan Gold Dragon itu. Hanya melihat ekspresi Zion saja dia sudah tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres di sana.


"Bagaimana kalau aku mengajak Dominic untuk bertarung sekali lagi. Saat bertarung itu aku akan mengalah. Jadi kesannya Dominic yang menang. Dia pasti senang dengan hal ini. Lalu membanggakan dirinya kalau dia yang paling hebat karena sudah berhasil mengalahkanku," ucap Zion dengan penuh semangat. "Ya. Aku akan segera menentukan waktunya!"


"Itu ide yang buruk, Bos. Nona Faith pasti tidak menyetujuinya." Pria itu menghela napas ketika mendengar ide dari Zion.


"Faith tidak perlu tahu masalah ini."


"Lalu bagaimana jika dia sudah mengetahuinya?"


Zion mengangkat kepalanya lalu memandang pasukan Gold Dragon. "Apa maksudmu?" Alisnya saling bertaut.


Pasukan Gold Dragon itu menunjuk ke arah ke samping. Zion juga ikut memandang ke samping lalu segera melebarkan matanya ketika ia melihat Faith berdiri di sana.

__ADS_1


"Sejak kapan kau ada di sana?"


__ADS_2