
Austin berhasil menyeret Mr. A keluar dari helikopter. Ternyata The Filast sudah membuat helikopter itu rusak hingga Mr. A gagal menerbangkannya. Setelah merebut paksa senjata api yang ada di tangan Mr. A, Austin menghajar wajah Mr. A hingga babak belur.
"Anda hanya seorang pecundang pak tua. Tanpa pengikut anda, anda itu tidak ada apa-apanya," hina Austin sebelum melayangkan pukulan di wajah Mr. A lagi.
Mr. A yang sudah bonyok hanya bisa tersenyum melihat Austin. Pria itu memang terlihat sudah kalah. Tetapi sebenarnya dia sedang menyiapkan sebuah rencana agar bisa mengalahkan Austin.
"Kau tidak akan pernah menang, Austin. Kau akan menyesal karena sudah bergabung dengan mereka. Kau pasti akan menyesal!" lirih Mr. A di sela-sela rasa sakit yang menyiksanya.
"Itu tidak akan terjadi," ujar Austin dengan penuh percaya diri. Dia mendekati wajah Mr. A. Karena melihat Mr. A sudah tidak berdaya, Austin merasa yakin kalau pria itu tidak akan bisa kabur kemana-mana. Austin ingin Mr. A ikut meledak bersama mansion dan gudang harta karun yang ia miliki.
Satu hal tidak terduga. Mr. A menusuk kaki Austin dengan belati mungil yang ia miliki. Ada senyum puas di sana. Tidak hanya goresan kecil. Tusukan itu berhasil membuat Austin terjatuh karena menahan rasa sakit yang begitu luar biasa.
Mr. A tertawa puas melihat kucuran darah segar mengalir dari kaki Austin. Pria itu lalu berdiri dan memperlihatkan kekuatannya yang sesungguhnya.
"Hei, anak muda. Apa kau pikir aku selemah itu? Bahkan aku masih sanggup mengalahkan seorang Zeroun Zein." Mr. A menunduk dan mengutip senjata api milik Austin yang tergeletak di lantai. Posisi sekarang sudah terbalik. Justru nyawa Austin yang berada dalam bahaya.
Dengan wajah meringis kesakitan, Austin kembali memandang wajah Mr. A yang memang sudah babak belur. Dia menyesal memberikan kesempatan menghirup oksigen kepada Mr. A. Andai saja tadi dia langsung merenggut nyawa Mr. A, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Satu-satunya hal yang ia takuti adalah, dia tidak bisa kabur ketika bom meledak.
"Apa pesan terakhirmu, Austin Clark?"
Austin masih diam sambil memandang kakinya. Entah kenapa dia merasa lumpuh. Austin yakin kalau ada sesuatu di belatih yang digunakan Mr. A hingga membuat kakinya tidak terasa seperti ini.
"Tetapi, kalau dipikir-pikir lagi. Kau itu tidak murni keturunan keluarga Clark. Kau hanya anak haram yang tidak tahu siapa ayahnya. Kau pria yang sangat menyedihkan ternyata Austin. Anak terbuang yang tidak diakui ayahmu sejak di dalam kandungan."
Mendengar pengkhinaan Mr. A membuat Austin emosi. Pria itu berdiri dan berusaha untuk melawan Mr. A lagi. Dengan mudahnya Mr. A membuat Austin kembali terjatuh. Pria paruh baya itu memukul Austin dengan senjata api yang ada di tangannya.
DUARRRRR
Zion muncul dan menembak tangan Mr. A. Pria itu membuat senjata yang tadinya di genggam Mr. A terlepas. Austin merangkak untuk merebut kembali senjata api itu. Di waktu yang bersamaan, Zion duduk di atas tubuh Mr. A dan menghajarnya. Trik yang sama digunakan Mr. A. Dia ingin menusukkan belatih mungil itu di tubuh Zion. Namun, Austin bergerak cepat. Pria itu segera menembak tangan Mr. A hingga membuat belatih itu terlepas.
"Kau bisa menggunakan belati itu untuk menyiksanya," ucap Austin.
Zion tadinya ingin menghajar Mr. A sampai kritis sebelum menembaknya. Ketika mendengar tawaran Austin, pria itu segera mengutip belatih mungil yang ada di lantai.
__ADS_1
"Kita lihat. Benda mungil ini bisa membuat anda merasakan sakit yang seperti apa," ujar Zion dengan senyuman penuh arti. Dia menusukkan belati itu di perut Mr. A awalnya. Melihat reaksinya tidak ada, Zion mendaratkan belatih itu di dada Mr. A. Penyiksaan yang diberikan Zion rasanya belum setimpal dengan rasa kehilangan dia dan keluarganya. Zion sangat dendam melihat Mr. A. Dia lagi-lagi menusukkan belatih itu ke beberapa bagian tubuh Mr. A.
Kulit yang terkena tusukan langsung membiru. Mr. A tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena racun telah menyebar ke seluruh tubuhnya.
Saat Zion asyik menyiksa Mr. A, Livy menelepon Zion. Pria itu mengangkat panggilan masuk Livy dan menjauh dari Mr. A.
"Kak, apa yang kalian lakukan? Waktunya tinggal satu menit. Kalian harus segera pergi, Bom akan meledak secara bertahap!" teriak Livy hingga membuat Zion mengeryitkan dahi. Ya, pria itu hampir lupa dengan tujuan utamanya. Dia datang untuk menyelamatkan Austin. Bukan menyiksa Mr. A. Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku, Zion berlari mendekati Austin.
"Kita harus pergi dari gedung ini. Kita hanya memiliki waktu 60 detik," ujar Zion panik.
Mr. A yang sudah tidak berdaya hanya bisa menguping pembicaraan Austin dan Zion tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Kita memiliki waktu yang sangat sedikit. Gedung ini cukup tinggi," jawab Austin. Pria itu sendiri tidak yakin kalau mereka akan selamat. Untuk bisa tiba di lantai bawah mereka butuh waktu paling cepat lima menit.
"Hahahaha."
Tawa Mr. A membuat Austin dan Zion terdiam. Zion yang semakin geram segera mengambil senjata apinya dan menembak kepala Mr. A hingga akhirnya pria itu benar-benar tewas.
"Aku sudah menyiapkan rencana lain. Ayo ikuti aku," ajak Zion sambil menuju ke pinggiran gedung. Pria itu tidak ingat kalau sebenarnya Austin tidak bisa berjalan apalagi berdiri.
"Anda meninggalkan saya, Tuan?" teriak Austin.
Zion yang sudah ada di pinggiran gedung terpaksa berputar balik. Pria itu melirik kaki Austin yang terluka.
"Maafkan aku," ucapnya sebelum membantu Austin untuk berdiri. Mereka sama-sama berjalan menuju ke pinggiran gedung.
Setelah tiba di pinggiran gedung. Austin di buat merinding melihat ketinggian tempat mereka berada saat ini.
"Kau yakin kita akan melompat dari atas sini? Terakhir kali kita melompat, kita sama-sama masuk rumah sakit," ujar Austin memperingati.
"Tidak ada cara lain lagi. Waktu yang kita miliki semakin sedikit," sahut Zion mulai panik.
DHOMMMMM
__ADS_1
Suara ledakan membuat Austin dan Zion hampir terjatuh tanpa persiapan. Mereka saling berpegangan agar tidak terjun bebas.
"Bomnya sudah mulai meledak. Sebelum gedung yang menjadi tempat kita berdiri meledak sebaiknya kita segera melompat menuju ke kolam renang itu. Kita tidak akan mati jika jatuh ke dalam air."
Ketika Zion ingin menarik Austin untuk melompat, tiba-tiba pria itu menahan tubuhnya. Hal itu membuat Zion mulai emosi.
"Apa lagi sekarang?"
"Aku memiliki satu pertanyaan."
"Sekarang bukan waktu yang tepat."
DHOOOM
Bom berikutnya meledak.
"Harus sekarang. Ini menyangkut hidupku," ucap Austin dengan wajah yang sangat serius.
"Cepat katakan!' ucap Zion dengan emosi tertahan.
"Apa kau akan merestui hubunganku dan Norah?"
Zion menyunggingkan senyuman tipis. "Ya. Aku merestui kalian. Apa itu sudah cukup? Kita akan benar-benar mati jika kau mengajukan pertanyaan lagi."
Austin menggeleng. "Itu sudah cukup!" Austin menarik tangan Zion hingga mereka sama-sama melompat. Bertepatan dengan itu, gedung yang mereka pijak tadi meledak. Austin dan Zion berhasil masuk ke dalam kolam renang dan selamat.
Dari atas kapal, Livy memegang selimut yang menutupi tubuh Norah dengan wajah khawatir. Dari posisinya berada, dia bisa melihat kalau ledakan di tengah pulau sangat dahsyat. Ledakan itu berhasil menghancurkan mansion milik Mr. A tetapi dia tidak tahu apa Zion dan Austin selamat atau tidak.
"Mereka akan baik-baik saja," ucap Abio sambil mengemukakan kapal.
"Kenapa kau begitu yakin?"
Abio tersenyum saja. Pria itu tidak mau banyak menjelaskan. Yang terpenting, dia tahu bagaimana trik yang dimiliki seorang pria untuk menyelamatkan diri. Dia merasa yakin kalau Zion dan Austin tidak akan mungkin mati konyol di pulau mewah tersebut.
__ADS_1