Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 184


__ADS_3

Dominic memandang Faith dengan ekspresi tidak terbaca. Jika saja pria itu datang terlambat entah bagaimana nasib Faith tadi. Supir tadi telah berhasil menelanjangi Faith sebelum memperkosanya. Pertemuan itu memang tidak sengaja terjadi. Ketika di lampu merah mobil Dominic dan taksi yang ditumpangi Faith berhenti berjajar. Tanpa sengaja Dominic melihat Faith tertidur di dalam taksi tersebut. Dominic mengemudikan mobilnya sendiri. Dia tertarik untuk mengikuti taksi yang ditumpangi oleh Faith. Dia sempat kaget ketika taksi itu berhenti di lokasi yang sangat sunyi. Kecurigaannya semakin bertambah ketika dia melihat supir itu menggendong Faith dan membawanya masuk ke sebuah rumah kosong.


Awalnya Dominic ingin masa bodoh. Dia tidak mau lagi berhubungan dengan Faith apapun itu ceritanya. Namun namanya juga masih ada rasa cinta di dalam hati. Dia tidak bisa membiarkan Faith berada dalam masalah. Apalagi ini terjadi di depan matanya sendiri. Mau tidak mau pria itu keluar untuk memeriksa keadaan di dalam sana.


Melihat kelakuan supir taksi itu membuat Dominic emosi. Dia segera menghajar supir taksi itu hingga babak belur sebelum membunuhnya dengan belati. Hanya ada mereka bertiga di dalam rumah kosong tersebut. Dominic segera menutup tubuh Faith dengan jaket sebelum menggendongnya dan membawanya pergi meninggalkan supir taksi itu begitu saja di dalam rumah kosong tersebut.


"Tadinya Anda bilang anda telah melupakannya, Tuan. Sekarang Anda membawanya ke rumah ini lagi," ujar wanita yang kini berdiri di samping Dominic. Terlihat jelas dari ekspresi wajahnya kalau dia cemburu ketika melihat Faith kembali datang dan ada disisi Dominic lagi.


"Aku ingin tahu apa alasannya kembali ke Las Vegas. Kemarin aku mati-matian untuk membawanya kembali tetapi ia bersembunyi di balik tubuh pria brengsek itu. Sekarang ketika aku sudah menyerahkannya, dia kembali lagi kepadaku. Aku ingin tahu sebenarnya permainan apa yang sudah dia siapkan sampai dia nekat kembali ke Las Vegas seperti ini."


"Apa masih ada namanya di dalam hati Anda Tuan?" tanya wanita itu ingin tahu.


"Tidak. Sekarang di mataku dia tidak lebih dari wanita pembawa sial," dusta Dominic sebelum memutar tubuhnya dan meninggalkan Faith yang masih belum sadarkan diri. Wanita yang tadi berdiri di samping Dominic terlihat tersenyum puas mendengar jawaban Dominic. Ia juga segera mengikuti Dominic dari belakang.


...***...


Tidak lama setelah Dominic pergi meninggalkan kamar itu, Faith mulai membuka matanya secara perlahan. Ia sangat syok ketika bangun dan berada di kamar yang begitu mewah. Wanita itu cepat-cepat duduk di atas tempat tidur lalu memeriksa ke kanan dan ke kiri dengan linglung.


"Di mana ini? Siapa yang sudah membawaku ke tempat ini?" ujar Faith.


Faith kembali mengingat apa yang terjadi sebelum tidak sadarkan diri. Wanita itu melebarkan kedua matanya ketika mengingat supir taksi yang sudah membawanya. Dia sadar kalau ada yang tidak beres dari minuman yang diberikan oleh supir taksi tersebut.

__ADS_1


"Aku yakin ada sesuatu di dalam minuman itu hingga akhirnya aku mengantuk dan tidak sadarkan diri lagi. Sebenarnya apa yang terjadi? Di mana ini?" Faith memperhatikan pakaian yang ia kenakan. Dari bahan dan modelnya saja ia sudah tahu kalau itu piyama yang sangat mahal. Wanita itu cepat-cepat turun dari tempat tidur. Untuk menghilangkan rasa penasarannya Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan kamar itu dan menemui sang pemilik rumah.


Masih tiba di depan kamar Faith sudah bertemu dengan salah satu pengawal Dominic. Dari ekspresi wajahnya saja Faith sudah tahu kalau kini dia berada di kediaman Dominic. Karena sudah terlanjur sampai, wanita itu tidak bisa mundur lagi.


"Di mana Dominic? Aku Ingin bertemu dengannya," ucap Faith kepada pengawal yang berjaga di kamar itu.


"Maaf, Nona. Tapi Tuan Dominic sudah tidak ingin bertemu dengan Anda lagi. Beliau berpesan jika anda sudah sadar anda boleh pergi meninggalkan rumah ini. Tuan Dominic sudah tidak mau tahu lagi dengan urusan anda."


Faith seperti tidak terima mendengar jawaban pengawal tersebut. "Hanya sebentar saja. Tolong Izinkan saya bertemu dengan Dominic. Ada beberapa kalimat penting yang ingin saya sampaikan kepadanya. Saya juga tidak akan berlama-lama di sini."


Pengawal itu tidak tahu harus berbuat apa. Namun Ia juga tidak tega melihat Faith seperti itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui Dominic dan menyampaikan apa yang diucapkan oleh Faith. "Baiklah Nona. Anda bisa tunggu di lantai bawah karena saat ini Tuan Dominic ada di ruang kerjanya. Saya akan menemui Tuan Dominic dan menyampaikan maksud perkataan Anda tadi."


Faith menggangguk setuju. Wanita itu berjalan bersama pengawal menuju ke lantai bawah. Sesekali ia memandang lagi ruangan tempatnya berada. "Ini bukan mansion. Ini sebuah rumah. Apa Dominic sudah tidak tinggal di Mansion itu lagi?" gumam Faith di dalam hati.


"Hai wanita tidak tahu terima kasih ! Untuk apa kau hidup? Seharusnya kau mati saja sana," ujar wanita itu tidak suka.


"Faith beranjak dari sofa yang ia duduki. "Maaf. Saya tidak punya urusan dengan anda. Sebaiknya jangan mempersulit saya lagi," jawab Faith tanpa memandang.


"Mempersulitmu kau bilang? Kau ini sungguh percaya diri sekali. Bagaimana mungkin aku mempersulitmu sedangkan kita tidak saling kenal. Aku juga tidak ingin kenal dengan wanita sepertimu," ketus wanita itu semakin menjadi.


"Aku pikir aku tidak tahu kalau kau yang menyuruh orang-orang itu untuk membunuhku? Apa jadinya jika aku menyampaikan semua ini kepada Dominic dan memintanya untuk menyelidikinya secara langsung. Sumber masalahnya ini pada dirimu."

__ADS_1


Wanita itu seperti ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh Faith. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dan tidak mau mengurus urusan Faith. Faith tersenyum kecil melihatnya. Dia kembali duduk lalu memandang ke arah pintu yang menjadi tempat kerja Dominic saat ini.


Pengawal yang ditunggu-tunggu akhirnya keluar dari ruangan itu dan berjalan menghampiri Faith. Dengan penuh antusias Faith beranjak dari sofa dan berjalan mendekati pengawal tersebut. "Bagaimana? Apa kau sudah mengatakannya? Apa dia mengizinkanku untuk menemuinya?"


"Hanya lima menit waktu yang diberikan oleh Bos Dominic untuk Anda. Sebaiknya Anda pergunakan waktu itu dengan sebaik mungkin."


Faith mengangguk. "Terima kasih atas bantuannya,_ ucap Faith sebelum melangkah menuju ke ruang kerja Dominic. Wanita itu segera masuk ke dalamnya. Pengawal yang tadi bercerita dengan Faith hanya geleng-geleng kepala saja. "Kenapa wanita sifatnya sangat tidak bisa ditebak. Dulu dia mati-matian pergi menjauhi Tuan Dominic. Sekarang dia berjuang keras untuk bisa bicara dengan Tuan Dominic. Wanita itu memiliki mental yang beda dari wanita lain. Bisa-bisanya ia masuk ke kandang harimau setelah membuat harimau itu sakit hati," gumam pria itu di dalam hati.


...***...


Setibanya di dalam ruang kerja Dominic, Faith terlihat bingung. Namun ia tidak mau menyia-nyiakan waktu lima menit yang ia punya. Saat itu posisinya Dominic membelakangi Faith. Pria itu berdiri dan menghadap ke jendela. Sepertinya ia tidak tertarik untuk memandang wajah Faith seperti biasanya.


"Seharusnya aku tidak membiarkanmu hidup karena kau sudah menghancurkanku habis-habisan. Bukan hanya hatiku tapi mansion dan semuanya. Kau sudah membuatku hancur. Wanita sepertimu memang tidak pantas untuk diperjuangkan. Tadinya aku pikir kau akan bahagia bersama dengan Zion Zein karena sejak awal kau memperlihatkan tanda-tanda kalau kau menyukai pria itu. Ketika Zion berhasil mengalahkanku, kau justru kembali padaku. Kau ini jauh lebih rendah daripada wanita murahan yang pernah menggodaku. Kau suka sekali bergonta-ganti pria. Ketika kau tidak dapat yang satu kau kembali kepada yang satunya lagi. Apa Kau pikir aku mau menerimamu seperti dulu lagi? Asalkan kau tahu, kalau rasa cintaku sudah tidak sama lagi seperti dulu. Saat ini aku memandangmu sebagai wanita yang sangat aku benci. Tidak lagi memandangmu seperti wanita yang sangat aku cintai seperti dulu lagi," ketus Dominic apa adanya. Dia merasa puas karena sudah menyampaikan rasa sakitnya itu.


"Terima kasih, Tuan. Saya turut senang ketika mendengar kabar Kalau anda telah membenci saya untuk saat ini," ucap Faith dengan santai seolah-olah wanita itu tidak keberatan dihina seperti itu oleh Dominic.


Dominic memutar tubuhnya. Kali ini dia menatap langsung mata Faith. "Apa kau bilang?" ulanginya lagi.


Faith maju secara perlahan sambil mengepal tangannya. "Sebelumnya terima kasih karena Anda sudah pernah mencintai saya dan memperjuangkan saya dengan begitu keras. Maafkan saya karena sudah mengecewakan Anda dan tidak bisa membalas cinta anda. Saya menyimpan sebuah rahasia yang tadinya saya pikir akan saya kubur rapat rapat sampai saya mati. Tetapi melihat peristiwa yang sudah terjadi membuat saya tidak tenang lagi. Saya harus menyampaikan semuanya kepada anda agar anda benar-benar membebaskan Tuan Zion."


Dominic mengukir senyuman tipis. Lagi-lagi hal yang ingin diucapkan Faith berhubungan dengan Zion Zein dan itu membuatnya sangat kecewa. "Apa rahasia yang ingin kau katakan? Cepat katakan saja!" teriak Dominic dengan wajah tertantang.

__ADS_1


"Sebenarnya ...."


__ADS_2