Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 46


__ADS_3

Livy mengambil kapas di depannya sebelum melekatkannya di kulit kepala Abio. Entah apa lagi yang sudah dilakukan pria itu hingga dia sampai masuk ke rumah sakit dengan kondisi cedera di kepala. Ada darah yang mengalir di sana. Bahkan ada darah yang keluar dari hidung juga karena terbentur.


Abio di antar oleh seseorang ke rumah sakit tempat Livy bekerja. Setibanya di rumah sakit, pria itu di sambut oleh dokter jaga dan beberapa perawat. Anehnya, dia hanya mau di rawat oleh Livy. Abio menolak semua perawat dan dokter yang ingin menyentuhnya. Hanya Livy yang bisa menyentuhnya.


Livy yang saat itu sedang santai di ruangannya terpaksa harus ke ruangan tempat Abio di rawat. Bahkan Abio tidak mau berlama-lama di ruang IGD. Pria itu ingin mendapatkan fasilitas kelas atas.


“Kenapa diam saja? Apa kau sedang memikirkan masa depan kita?” tanya Abio dengan senyuman.


Livy tidak bergeming. Wanita itu berusaha untuk tetap profesional dengan kerjaannya. Ia meletakkan kapas yang digunakan untuk membersihkan darah sebelum mengambil perban.


“Livy, kau marah padaku? Kenapa kau tidak mau bicara? Apa aku sudah melakukan kesalahan?” tanya Abio lagi. Dia tidak mau dicueki Livy seperti ini. Abio ingin Livy merespon perkataannya bahkan mau membalas perasaannya.


“Lukanya tidak terlalu parah. Anda hanya perlu rawat jalan. Setelah menebus obat, anda bisa pulang,” ucap Livy tanpa memandang. Wanita itu ingin beranjak dan pergi karena masih banyak pasien yang harus dia perhatikan. Tetapi, tiba-tiba Abio memegang pergelangan tangannya dan menariknya hingga Livy kembali duduk.


“Livy, bicaralah. Jika aku salah, katakan dimana kesalahanku? Aku merasa hubungan kita baik-baik saja kemarin-kemarin. Kenapa hari ini kau berubah?” Nada bicara Abio mulai meninggi. Pria itu tidak terima diperlakukan Livy seperti ini.


“Apa yang kau inginkan? Kau ingin aku bicara? Baik, aku bicara. Kau ingin aku di sini? Baik, aku tidak akan pergi. Tetapi, tolong jangan paksa aku untuk bisa mencintaimu, Abio. Aku tidak bisa.” Livy menghepaskan tangan Abio dan berlari pergi meninggalkan pria itu sendirian diruangannya. Abio menghela napas untuk mengatur emosinya.


“Apa ada yang salah dengan perkataanku? Kenapa dia marah seperti itu?” gumam Abio di dalam hati.


Livy duduk di kursi yang ada di taman rumah sakit. Wanita itu menutup wajahnya dengan tangan dan duduk bersandar. Kebetulan lokasinya masih sunyi jadi dia tidak perlu malu di lihat orang. Tiba-tiba saja ada yang menyentuh pundaknya. Livy membuka tangannya dan memeluk wanita paruh baya itu dengan tangis yang semakin pecah.


“Mommy ….” lirih Livy.


Katterine tersenyum lalu membalas pelukan putrinya. Oliver yang juga ada di sana memilih untuk pergi dan memberi waktu kepada mereka berdua untuk bicara.


“Kenapa kau menangis Livy? Apa ada yang menyakitimu?” tanya Katterine ingin tahu.


“Tidak, Mom. Tidak ada,” jawab Livy masih dengan posisi memeluk Katterine.


“Lalu, kenapa kau menangis? Tadinya mommy dan daddy ingin memberimu kejutan dengan datang diam-diam. Tetapi kami justru melihatmu dalam keadaan menyedihkan. Apa kehidupan yang seperti ini yang kau katakan menyenangkan Livy? Kau rela meninggalkan rumah demi mengejar karirmu, tetapi mommy lihat kau hanya menangis di taman sendirian.”


“Mom, ini karena Abio,” jawab Livy. “Dia terus saja mengejar Livy. Dia terus saja melakukan segala cara agar bisa mendapatkan hati Livy.”


“Lalu, kenapa kau menangis? Kau seharusnya bahagia karena ada pria yang dengan sungguh-sungguh memperjuangkan cintanya,” jawab Katterine. Dia merasa tidak ada yang salah di sana. Tidak sepantasnya putrinya menangisi hal sepele seperti itu. Ini hanya masalah waktu. Katterine berpikir kalau mungkin putrinya hanya butuh waktu untuk menerima Abio sebagai pasangannya. Mengingat, selama ini Livy terlalu fokus dengan karirnya hingga tidak fokus lagi untuk mencari pasangan hidup.


“Sudah ada pria lain di hati Livy, Mom,” jawab Livy dengan mata terpejam. Dia lagi-lagi memeluk Katterine karena sedih sekaligus takut.

__ADS_1


“Sudah ada pria lain? Kau sudah jatuh cinta sama pria lain, sayang? Siapa? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya kepada mommy? Apa mommy mengenalnya?”


Livy berusaha menghapus air matanya. Dia ingin bicara serius tanpa ada air mata lagi. “Mom, mommy harus berjanji sama Livy. Mommy tidak akan marah jika Livy katakan yang sejujurnya. Mommy juga jangan ceritakan sama daddy masalah ini.”


“Ya, baiklah. Mommy akan menjaga rahasia ini.” Katterine menyelipkan rambut livy ke belakang telinga. “Sekarang cepat katakan. Siapa pria itu? Mommy sudah tidak sabar mendengar nama pria yang sudah berhasil meluluhkan hati putri mama yang cantik ini.”


“Ma, Livy suka sama ….” Livy memejamkan mata sejenak. Semakin ingin diucapkan, bibirnya terasa semakin kaku. “Kak Zion, Ma!”


Katterine mematung mendengarnya. Wanita paruh baya itu tidak percaya kalau putrinya suka sama anak dari kakak kandungnya. Ini kabar yang sangat mengejutkan sampai-sampai Katterine tidak tahu harus bicara apa.


“Livy, kau suka sama Zion? Zion putra Paman Jordan?”


Livy mengangguk setuju. Wanita itu tidak berani berkata-kata lagi karena takut salah bicara.


“Sayang, kenapa harus Zion? Kalian bersaudara. Tidak bisakah kau hanya menganggapnya sebagai kakak? Zion tidak akan pernah mau dan tidak akan mungkin membalas perasaanmu. Dia memandangmu sebagai adiknya. Sama seperti dia memandang Daisy dan Norah. Sayang …tolong lupakan perasaanmu terhadap Zion. Kalian tidak boleh menikah.”


“Mom, Livy juga lagi berusaha Mom. Tapi, semakin hari semakin kuat rasa cinta ini. Livy jadi semakin yakin kalau Livy mencintai Kak Zion bukan sebagai kakak. Tetapi sebagai pria yang Livy kagumi dan Livy cintai, Mom.”


Katterine bersandar di sandaran kursi dan menghirup oksigen agar bisa kembali tenang. Kabar yang ia dengar membuat kepalanya pusing. Rasanya katterine ingin pulang saja agar bisa menenangkan hati dan pikirannya.


Tanpa sengaja Livy melihat Abio yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka berada. Wanita itu sampai harus beranjak dari kursinya. Abio menatap wajah Livy dengan tatapan tidak terbaca sebelum memutar tubuhnya dan pergi. Sepertinya pria itu sakit hati setelah dia mendengar semua yang dikatakan oleh Livy.


“Apa dia mendengar semuanya? Apa sekarang dia sudah tahu alasanku tidak bisa mencintainya apa?” gumam Livy di dalam hati.


Abio masuk ke dalam mobil dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu memandang ke depan sambil mengingat apa yang dikatakan Livy di taman tadi. Rasa kecewa membuat hatinya terasa sakit. Pria itu mengepal kuat tangannya sebelum memukul stir mobilnya sendiri.


“SIAL SIAL! Kenapa harus Zion? Dari sekian banyak pria di dunia ini kenapa aku harus bersaing dengan ZION ZEIN!”


Abio menjatuhkan tubuhnya di sandaran. Dia mengambil ponselnya yang ada di dalam saku. Abio harus mengatakan semua ini kepada Zion. Zion Zein harus tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Livy. Abio tidak mau menyimpan rapat rahasia ini. Dia juga ingin tahu, seperti apa perasaan Zion terhadap Livy. Jika pria itu juga merasakan hal yang sama seperti yang sekarang dirasakan oleh Livy. Abio akan memilih untuk mundur daripada harus makan hati.


“Halo, Abio. Ada apa?” sahut Zion dari kejauhan sana.


“Kau ada dimana?” tanya Abio tanpa basa-basi.


“Universitas Yale. Apa ada masalah?” tanya Zion khawatir. Dari nada bicara Abio, Zion sudah tahu kalau Abio dalam masalah.


“Ya. Ada yang ingin aku sampaikan. Aku Akan ke sana.” Abio menghidupkan mesin mobilnya. Dia mengaur napasnya sekali lagi seperti sebelumnya.

__ADS_1


***


Zion sudah menunggu Abio di lokasi pacu kuda. Pria itu ingin mengajar Abio bermain kuda sore ini. Sudah lama Zion tidak menunggang kuda. Biasanya bersama dengan Norah, dia selalu mengunjungi tempat itu setiap sore.


“Zion,” sapa Abio yang baru saja muncul. Pria itu terlihat berantakan dengan perban kecil di kepalanya. Dia berjalan dengan sedikit sempoyongan. Ada sebotol minuman di tangannya. Abio meneguk minuman itu lagi sampai botol yang ia pegang benar-benar habis isinya.


Zion yang tadinya ingin mengajak Abio menunggang kuda kini harus mengurungkan niatnya. Melihat keadaan Abio yang seperti sekarang rasanya tidak memungkinkan jika dia mengajak Abio untuk menunggang kuda. Bisa-bisa Abio akan semakin celaka.


“Abio, apa yang terjadi? Kau mabuk?” Zion berjalan mendekati Abio. Walau dulunya tidak terlalu akrab bahkan saling kenal. Tetapi sejak misi penyelamatan Daisy waktu itu, Zion jadi semakin peduli terhadap Abio. Bahkan ketika dia tahu kalau Abio mencintai Livy, Zion selalu mendukung Abio agar tidak mudah menyerah. Secara sengaja Zion juga memberi tahu Abio beberapa hal yang disukai Livy dan tidak disukai Livy.


“Dia mencintai pria lain. Dia tidak mencintaiku, Zion!” racau Abio. Dia tertawa seperti orang gila sebelum memandang Zion dengan tatapan berkunang-kungan. Kedua matanya mulai berat.


“Maksudmu, Livy? Dia mencintai siapa? Apa orangnya ada di dekat kita? Apa kau kenal dengan orang yang disukai Livy?” Rasanya Zion masih tidak percaya jika Livy mencintai pria lain. Selama ini Zion tahu bagaimana kegiatan sehari-hari Livy. Rasanya Livy tidak akan memiliki banyak waktu untuk dekat dan mengenal pria. Apa lagi sampai membuatnya jatuh cinta.


“Kau penghianat, Zion!” Abio menampar pipi Zion dengan lembut. “Kau pengkhianat!”


Zion tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Abio. Bagaimana bisa pria itu mengatinya sebagai seorang pengkhianat. Zion tidak merasa sedang mengkhianati Abio. Dia merasa selama beberapa bulan ini fokus ke Daisy dan tidak pernah mengusik masalah Abio dan Livy.


“Abio, katakan yang jelas. Sebenarnya apa yang terjadi?” Zion yang mulai geram menggoyang-goyangnya tubuh Abio. Pria itu ingin tahu apa maksud Abio.


“Livy mencintaimu, Zion Zein. Dia tidak mencintaiku! Dia mencintai kakak sepupunya sendiri!” teriak Abio agar pria itu merasa jauh lebih lega.


Mendengar apa yang dikatakan Abio hanya membuat Zion diam membisu. Pria itu sendiri juga tidak menyangka bahkan dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Abio. Dia berpikir mungkin Abio meracau karena kini dalam keadaan mabuk.


“Aku akan membawamu ke hotel terdekat. Di sana kau bisa istirahat,” ajak Zion. Namun Abio menolak Zion dengan wajah marah.


“Aku tidak mau pergi! Aku ingin di sini. Aku ingin kau mendengar semua yang aku katakan Zion Zein!” teriak Abio lagi. Karena sudah dalam keadaan mabuk berat, pria itu tidak lagi peduli kalau sekarang ada banyak pasang mata memandang ke arahnya dan mengejeknya secara diam-diam.


“Oke, baiklah. Katakan padaku apa yang ingin kau katakan. Aku pasti akan mendengarkan semua yang kau katakan, Abio.” Zion menurunkan nada bicaranya. Dia yakin, kekerasan tidak akan ada akhirnya jika di balas dengan kekerasan juga.


“Bantu aku, Zion. Aku ingin dia membalas cintaku. Aku sudah terlanjur cinta mati kepadanya. Aku tidak sanggup berpindah ke lain hati. Aku hanya ingin Livy yang menjadipendamping hidupku nanti,” liirh Abio dengan mata berkaca-kaca. Itu membuat Zion juga ikut sedih. Dia yang selama ini tidak pernah peduli dengan kata cinta kini harus terlibat ke dalam kisah cinta yang dimiliki Abio.


“Maafkan aku, Abio. Maafkan aku karena memang aku tidak pernah tahu kalau Livy suka bahkan jatuh cinta padaku. Aku akan bicarakan masalah ini kepada Livy nanti. Aku akan tetap mendukungmu. Aku harap kau tidak menyerah untuk mendapatkan cinta Livy.”


Setelah mendengar perkataan Zion, Abio jatuh pingsan. Abio tergeletak di tanah dengan kedua mata terpejam. Zion segera berjongkok dan menolong Abio. Pria itu juga khawatir terjadap keadaan Abio karena kini pria itu tidak sadarkan diri dengan bibir pucat.


“Panggilkan dokter! Tolong panggilkan Dokter!” teriak Zion kepada pasukan Gold Dragon yang ada di sana. Dia memandang ke arah Abio lagi. “Abio, kau harus kuat! Kau tidak boleh menyerah seperti ini!”

__ADS_1


__ADS_2