
“Kak Norah kemana ya? Di telepon gak di angkat. Dia juga gak ada telepon aku. Apa dia lupa sama adiknya ini? Biasanya sehari tidak mendengar suaraku dia tidak sanggup. Sekarang sudah dua hari tanpa kabar, dia santai-santai saja sepertinya,” umpat Norah sambil memandang ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja.
“Lagi mikirin apa sayang?”
Daisy melebarkan matanya sampai bulat ketika mendengar suara Foster. Dengan cepat dia beranjak dari kursi dan menjauh. Wanita itu tidak mau sampai Zion melihat mereka. Ini di kantin. Zion bisa melihat apa yang mereka lakukan.
“Kenapa Kak Foster ke sini? Bagaimana kalau Kak Zion lihat?” protes Daisy.
“Dia tidak akan tahu,” jawab Foster santai. Pria itu duduk di kursi yang ada di depan Daisy. Melirik ponsel Daisy sebelum memandang Daisy dengan bibir tersenyum manis. “Kau cantik sekali hari ini, Daisy …,” pujinya.
“Kak, aku takut ketahuan Kak Zion,” ucap Daisy lagi. Wajahnya terlihat sangat panik. Seperti sedang kepergok melakukan sebuah kesalahan besar.
“Tenanglah. Aku sudah memikirkan hal itu sejak awal,” jawab Foster. “Aku sudah membayar orang agar mengikuti kemanapun Kak Zion dan anak buahnya berada. Ternyata setelah aku perhatikan, mereka tidak menjagamu sampai 24 jam penuh. Ada beberapa saat mereka gunakan untuk istirahat. Walau memang tidak lama. Seperti sekarang. Kak Zion pergi meninggalkan Uniersitas Yale sedangkan anak buahnya sedang makan siang. Jadi, aku bisa bertemu denganmu tanpa ada yang tahu.”
Mendengar penjelasan Foster, Daisy merasa jauh lebuh tenang. Kini wanita itu bisa duduk santai sambil memandang pria yang ia cintai. “Kak Foster sudah makan?”
“Belum. Ayo kita makan siang bersama,” ajak Foster. “Aku sudah memesan beberapa makanan lezat untuk makan siang kita.”
Daisy hanya tersenyum saja. Apapun makanan yang di pesan oleh Foster, sudah pasti akan dia makan. Dari lokasi yang tidak terlalu jauh dari posisi Daisy dan Foster berada, Lyn dan rekannya memperhatikan mereka dengan wajah tidak suka. Walau hubungan yang terjadi di antara mereka masih dirahasiakan, tetapi tetap saja semua orang sudah berpikir kalau Daisy dan Foster pacaran.
“Sepertinya apa yang dikatakan semua orang benar. Daisy dan Kak Foster pacaran. Sekarang kau telah kalah Lyn. Kau tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan hati Kak Foster lagi,” ujar wanita yang duduk di dekat Lyn.
“Tidak, aku tidak akan kalah. Aku pasti bisa mendapatkan hati Kak Foster,” sahut Lyn tidak terima. Dia merapikan penampilannya sebelum berjalan menuju ke meja tempat Foster dan Daisy duduk. Wanita itu ingin merusak momen kebersamaan mereka. “Daisy, apa aku boleh duduk di sini? Semua meja penuh,” ucap Lyn dengan tatapan memelas.
Daisy memandang keadaan sekitar. Sebenarnya masih ada beberapa meja yang kosong. Daisy tahu tujuan Lyn mendekatinya apa. “Tentu,” jawab Daisy dengan wajah manis.
Foster mengeryitkan dahinya. Jelas saja pria itu tidak setuju jika ada orang lain di meja mereka berdua. Dia ingin bermesraan bersama Daisy. Foster tidak mau Lyn menjadi orang ketiga di antara mereka.
“Terima kasih, Daisy,” jawab Lyn bahagia. Wanita itu segera duduk di kursi yang ada di samping Foster.
“Dia memang wanita yang tidak tahu malu. Lihat saja, aku akan mengerjainya,” gumam Daisy di dalam hati. Daisy beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu mendekati Foster dan menarik tangannya. “Lyn, kami pergi dulu ya. Kami tidak jadi makan di sini. Kami ingin makan di kursi yang ada di dekat taman,” ucap Daisy. Tanpa mau menunggu jawaban dari Lyn, Daisy sudah membawa Foster menjauh dari Lyn. Wanita itu menahan tawa karena dia bisa membayangkan bagaimana wajah kesal Lyn saat ini.
Foster sendiri tidak terlalu peduli dengan Lyn. Dia kini merasabahagia karena Daisy mau menggenggam pergelangan tangannya seperti itu. Daisy mengajak Foste duduk di kursi yang sudah ia pilih. “Aku benci sama Lyn. Aku tidak pernah mengusik hidupnya tetapi dia selalu mengusik hidupku,” umpat Daisy dengan wajah kesal.
Foster mengambil ponselnya yang bergetar. Pria itu mengeryitkan dahi ketika panggilan masuk itu berasal dari mata-matanya. “Ada apa?” tanya Foster cepat.
__ADS_1
“Tuan Zion sudah tiba.”
“Apa?” Foster segera memutuskan panggilan masuk itu. Dia beranjak dari kursi dengan wajah panik.
“Ada apa kak?” tanya Daisy bingung.
“Kak Zion sudah kembali,” jawab Foster. “Aku akan menemuimu lagi nanti.” Foster segera pergi agar tidak ketahuan. Daisy hanya bisa memasang wajah kecewa smabil menopang wajahnya dengan tangan.
“Ternyata tidak enak pacaran sembunyi-sembunyi,” gumamnya di dalam hati.
Dari lantai atas, Esme memperhatikan apa yang terjadi di kantin bawah. Dari mulai Lyn, sampai Daisy dan Foster. Tiba-tiba saja wanita itu menemukan ide brilian untuk membuat Daisy menderita. “Lyn. Aku bisa memanfaatkan wanita itu untuk menghancurkan Daisy!”
***
Zion memutar tubuhnya ketika dia merasa ada yang sedang mengawasinya. Pria itu memperhatikan pohon-pohon yang ada di sana dengan alis saling bertaut. Pasukan geng Gold Dragon yang ada di depan Zion terlihat bingung.
“Ada apa, Bos?”
Zion menggeleng pelan. “Mungkin hanya perasaanku saja,” jawab Zion. “Bagaimana dengan Daisy? Apa dia baik-baik saja?”
Zion mengangguk. Dia meminta teropong agar bisa melihat Daisy secara langsung. Teropong itu di arahkan ke tempat Daisy duduk saat ini. Daisy seperti sedang bersenda gurau bersama dengan Esme. Wanita itu kelihatan semakin cantik ketika sedang tertawa.
“Kalian boleh pergi. Biar aku yang menjaganya,” perintah Zion.
“Baik, Bos,” jawab mereka serentak. Mereka segera pergi meninggalkan Zion. Walau diberi perintah boleh pergi, tetap saja mereka tidak bisa pergi jauh-jauh. Mereka semua hanya diberi waktu untuk istirahat namun masih tetap ada di wilayah universitas Yale.
Pria yang di bayar oleh Foster terlihat takut ketika tadi dia hampir ketahuan. Pria itu mengambil ponselnya untuk memberi tahu Austin kalau saat ini Daisy di jaga oleh Zion Zein.
“Tuan, Non Daisy di jaga oleh Alfa.” Pria itu mengirim pesan ke nomor Foster. Setelah itu dia memandang ke arah Zion lagi untuk melihat apa yang ingin dilakukan Zion selanjutnya.
“Dimana dia?” Alisnya saling bertaut ketika dia tidak lagi berhasil menemukan Zion di depan sana. Dia segera keluar dari semak-semak tempatnya bersembunyi sambil mencari ke segala arah. Dia harus tahu dimana dan kemana Zion pergi karena memang hanya itu tugasnya saat ini.
“Kau mencariku?” tanya Zion. Tiba-tiba saja pria itu sudah ada di belakangnya. Bawahan Foster tidak bisa berkutik lagi. Dia memutar tubuhnya dengan tubuh gemetar ketakutan.
Zion berdiri dengan tangan di masukkan ke dalam saku. Tatapan pria itu seperti sedang menikam. Dia memperhatikan pria yang menjadi suruah Foster dengan penuh selidik.
__ADS_1
“Siapa kau? Apa yang kau inginkan? Kenapa kau mengikutiku seperti ini?” tanya Zion cepat.
Sebelum menjawab pertanyaan Zion, pria itu lebih dulu berlutut di hadapan Zion. Dia mengatupkan kedua tangannya berharap pria yang ada di hadapannya mau memaafkan perbuatannya.
“Maafkan saya, Tuan. Saya hanya bekerja. Semua ini saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya,” lirih pria itu dengan nada yang begitu memelas.
Zion ikut berjongkok. Dia menepuk pelan pundak pria itu sambil tersenyum. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin kau jawab dengan jujur. Siapa yang sudah menyuruhmu melakukan semua ini?”
Pria itu diam sejenak. Dia juga tidak berani mengatakan kalau Foster yang sudah membayarnya. Dia sudah lama bekerja dengan Foster. Rasanya tidak mungkin dia berkhianat hanya karena ketahuan seperti ini.
“JAWAB!” teriak Zion.
“Tidak tahu, Tuan. Saya tidak tahu. Saya di beri kerjaan oleh seseorang untuk mengawasi anda. Dia hanya meminta saya untuk mengawasi anda selama satu minggu. Pria itu bilang, ada atau tidak yang menjaga wanita yang ia cintai. Jika tidak ada, dia akan turun tangan untuk menjaganya.” Entah kenapa ide berbohong itu muncul begitu saja di dalam ingatannya. Dia berharap Zion percaya dengan jawabannya agar Foster tidak berada dalam masalah.
Hanya mendengar ceritanya saja Zion sudah tahu siapa pria yang dimaksud. Dia membiarkan pria itu pergi karena memang sejak tadi tidak ada niat di hati Zion untuk mencekainya. “Pergilah. Katakan padanya. Kejadian yang sama tidak akan terulang lagi!”
“Ba baik, Tuan.” Pria itu berdiri dan lari sekencang mungkin untuk menjauhi Zion. Dia seperti sudah tidak sabar untuk menyampaikan semua kejadian ini kepada Foster.
Zion berdiri di sana sambil memandang ke depan. “Foster. Pria itu masih belum bisa melupakan Daisy ternyata. Sepertinya aku harus cari cara agar Foster bisa melupakan Daisy. Untuk saat ini kau tidak mau Daisy tidak fokus dengan pendidikannya,” gumam Zion di dalam hati.
Di detik yang sama, Foster baru saja meletakkan ponselnya setelah membaca pesan yang dikirim bawahannya. Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sofa sambil membayangkan wajah Daisy. Rasanya dia ingin lebih lama lagi ada di dkeat Daisy. Namun, waktunya belum tepat. Saat ini Foster tidak mau melanggar janji yang sudah ia buat bersama Daisy. Ia tidak mau sampai Daisy kecewa.
Suara ketukan pintu membuat Foster beranjak dari sofa. Karena pintu di kunci, setiap kali ada yang masuk dia harus membukanya langsung. Pria itu belum memakai baju. Dia berjalan menuju ke pintu sambil memakai kaos hitam yang ia temukan di sandaran sofa.
Tanpa banyak bicara Foster membuka pintu tersebut. Dia melihat Lyn berdiri di depan pintu. Wanita itu mengenakan gaun yang seksi dengan penampilan yang sangat menarik. Sepertinya ia sengaja datang hanya untuk menggoda Foster.
“Kak, apa aku boleh masuk?” tanya Lyn dengan penuh godaan.
“Maafka aku, Lyn. Tetapi aku-” Lyn menjatuhkan tubuhnya ke depan. Hingga mau tidak mau Foster menangkap wanita itu agar tidak terjatuh. Secara sengaja Lyn mengalungkan kedua tangannya di leher Foster hingga posisi mereka terlihat seperti ingin berciuman. Di waktu yang sama seseorang secara diam-diam memotret kejadian langkah itu.
“Apa yang kau lakukan! Jangan sentuh aku!” umpat Foster. Pria itu segera mendorong tubuh Lyn hingga Lyn terjatuh di lantai.
“Kak, sakit,” lirih Lyn.
Foster menghela napas kasar. Bukan sekali dua kali. Foster sudah sering bertemu dengan wanita yang modelannya kayak Lyn seperti ini. “Pergi atau aku akan panggilkan penjaga. Kau harus tahu Lyn. Aku tidak hanya bisa mengusirmu dari depan kamarku. Tetapi aku bisa megusirmu dari universitas Yale. Lain kali berpikirlah dua kali sebelum kau melakukan sesuatu!” ancam Foster kesal.
__ADS_1
Lyn yang merasa malu dan sakit hati segera beranjak. Dia berlari pergi sambil menangis. Foster memejamkan matanya sejenak sambil mengatur emosi yang sempat naik ke ubun-ubun. “Resiko jadi orang ganteng memang seperti ini,” ujarnya dengan penuh percaya diri sebelum masuk ke dalam lagi.