Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 78


__ADS_3

Zion dan Daisy sudah ada di meja makan. Pagi ini mereka akan sarapan bersama kedua orang tua mereka. Makanan sudah di sajikan di atas meja. Para pelayan juga telah kembali ke dapur. Namun, sampai sekarang Leona dan Jordan tidak juga muncul. Padahal biasanya sepasang suami istri itu tidak pernah terlambat ketika sedang sarapan.


"Kak, kenapa papa dan mama lama sekali?" ujar Daisy mulai bosan. Dia sudah tidak sabar untuk kembali ke kamar dan menghubungi Foster. Semakin hari dia semakin rindu sama kekasihnya itu. Daisy tidak mau berlama-lama duduk di meja makan seperti ini. Di tambah lagi, dia juga harus memastikan Foster tidak lupa sarapan di tengah kesibukannya mengurus perusahaan dan juga kuliah.


"Mungkin sebentar lagi," sahut Zion. Pria itu masih memikirkan adiknya, Norah. Sampai sekarang pasukan Gold Dragon belum juga memberi kabar keberadaan Norah. Wanita itu hilang seperti di telan bumi. Pencarian ini terbilang sulit karena Norah sendiri yang menyembunyikan dirinya. Zion tahu, kalau adiknya itu sangat pintar dalam hal bersembunyi. Hal itu diketahui Zion sejak mereka kecil. Dimana setiap kali bersembunyi, Norah yang paling lama di temukan.


"Sayang, apa kau sudah lama menunggu mama dan papa?" Kehadiran Leona dan Jordan menyadarkan Zion dari lamunannya. Pria itu mengatur posisi duduknya.


Leona muncul dengan mata yang bengkak. Itu membuat Daisy merasa sedih. Dia tahu kalau berat sekali beban yang di pikul oleh ibu kandungnya. Daisy sendiri tidak bisa bantu apapun.

__ADS_1


"Ma, mama baik-baik saja?" tanya Zion khawatir. Pria itu memandang Jordan. "Pa, mama menangis?"


Jordan menghela napas panjang. Pria itu tahu kalau tidak seharusnya dia menutupi kesedihan Leona di depan anak-anak mereka. "Mama merindukan Opa Daniel, GrandNa dan juga Norah," jawab Jordan apa adanya. Dia menarikkan kursi dan membantu Leona duduk di sana. Saat sering menangis seperti ini, kondisi kesehatan Norah menjadi menurun. Wanita itu mudah sekali terserang penyakit.


"Mama baik-baik saja. Uhuk uhuk." Leona menutup mulutnya saat batuk. Dia menerima tisu yang diberikan oleh Jordan.


Daisy beranjak dari kursi. Wanita itu berjalan mendekati Leona. Dia memeluk Leona dari belakang sambil mengecup pipi wanita itu. "Ma, masih ada aku dan juga kak Zion. Mama adalah penyemangat kami. Kalau mama sedih, kami juga akan ikutan bersedih," bujuk Daisy sambil mempererat pelukannya. "Mama jangan sampai sakit ya. Daisy sayang mama. Daisy masih butuh mama."


"Zion, bagaimana kabar Norah? Apa kau sudah menemukan keberadaan Norah?" tanya Jordan penasaran. "Bukankah semalam kau bilang lokasi Norah sudah ditemukan. Kau bilang akan menjemput Norah. Opa Lukas dan Paman Oliver juga mengatakan hal yang sama sama papa. Kenapa sekarang Norah belum ada di runah? Apa terjadi sesuatu? Norah beneran masih hidup kan?"

__ADS_1


"Zion belum berhasil menemukan keberadaan Norah, Pa. Tapi Zion yakin, Norah akan kembali ke rumah ini dalam waktu dekat," jawab Zion penuh keyakinan. "Tetapi, untuk sementara waktu Daisy harus berada di rumah ini. Aku tidak berani jamin keberadaan Mr. A. Bisa saja dia sudah memiliki mata-mata di rumah ini." Zion memandang keadaan di sana. Pria itu sengaja mengatakan kalimat seperti itu untuk memeriksa apakah benar ada mata-mata di dalam rumahnya. Penyerangan terakhir yang pernah terjadi, tidak boleh sampai terulang lagi. Zion mau secepatnya Norah kembali ke rumah ini.


"Tapi, Kak. Aku bisa jaga diri," sahut Daisy. Sepertinya dia tidak setuju jika harus libur kuliah terus menerus. Selain tidak bisa bertemu dengan Foster, wanita itu juga tidak bisa merasakan belajar di alam terbuka seperti apa yang selama ini dia lakukan.


"Daisy, jangan membantah perintah kakakmu. Jadilah adik yang penurut!" tegur Leona. Sebenarnya dia tidak mau memaksa putrinya seperti ini. Namun mau bagaimana lagi? Dia juga tidak mau putrinya sampai hilang di culik lagi.


"Maafkan Daisy ma." Daisy menunduk dengan wajah sedih.


Jordan berdehem pelan untuk mencairkan suasana. "Ayo kita sarapan. Nanti keburu dingin lagi." Jordan mengambil dua lembar roti dan meletakkan selai di atasnya. Setelah itu dia meletakkannya di atas piring Leona. "Sayang, makan yang banyak ya. Kau harus kuat." bujuk Jordan.

__ADS_1


Leona hanya mengangguk sambil tersenyum. Dia memandang Daisy dan Zion secara bergantian. "Ayo kita sarapan. Kenapa diam saja? Cepat makan."


Daisy dan Zion juga mulai mengambil makanan mereka. Walau rasanya tidak selera, tetapi mereka harus makan dan terlihat ceria di depan kedua orang tua mereka.


__ADS_2