
Setelah bermain dengan anak-anak terlantar itu, Abio dan Livy memutuskan untuk pulang. Anak-anak itu juga sudah saatnya untuk tidur. Livy memeriksa setiap anak di dalam rumahnya sebelum keluar menemui Abio. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Keramaian di kota juga sudah mulai berkurang.
"Sekarang kita mau ke mana? Aku akui, ini sangat menyenangkan. Namun, apa tidak ada hal lain yang lebih menarik lagi yang bisa kita lakukan?" Abio mendekati wajah Livy. "Berdua saja," ujarnya dengan satu kedipan mata. "Tidak ada orang lain selain kita berdua."
"Aku sudah menyiapkan satu permainan yang cocok untuk kita berdua. Tapi, tidak di sini. Ayo ikut aku. Aku yakin, kali ini kau akan memiliki kenangan yang tidak terlupakan." Livy menarik tangan Abio dan membawa pria itu untuk pergi meninggalkan desa kurcaci. Setibanya di terowongan, Livy melepas tangan Abio dan berjalan sendirian ke depan. Sesekali wanita itu mengusap kulit tangannya karena kedinginan. Abio sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena dia juga hanya memakai kaus tipis yang membuat dingin sampai menusuk kulit.
"Kita mau ke mana? Sekarang bukan jadwalnya kereta api lewat kan?" Abio memandang ke depan dan belakang untuk memastikan tidak ada kereta api yang muncul secara tiba-tiba. "Ayo kita pulang. Mainnya lain kali saja."
"Tidak ada. Kalaupun ada, kita bisa segera berbelok. Tenang saja. Aku tidak akan membahayakan nyawamu," sahut Livy dengan santai.
"Apa setiap tangga yang ada di pinggiran lorong ini adalah jalan buntu?" Abio memperhatikan setiap tangga yang dia lewati.
"Ya. Fungsi tangga-tangga itu hanya untuk menghindari tabrakan kereta api."
Abio tidak mau banyak protes lagi. Pria itu berjalan saja mengikuti livy dari belakang.
Kali ini Livy membawa Abio melewati jalan yang berbeda. Bahkan Abio sendiri tidak ingat tadi dari mana mereka lewat. Livy membawa mereka menuju ke tempat yang dipenuhi kerumunan orang. Wanita itu menerobos keramaian tanpa peduli dengan tubuhnya yang kadang terhimpit bahkan bersentuhan dengan pria-pria asing.
Abio cemburu melihat pria-pria itu menyentuh Livy secara bebas seperti itu. Livy adalah wanita yang berharga. Abio tidak rela jika sampai Livy disentuh seperti itu. "Berhentilah!" Abio menahan kakinya. Pria itu menarik Livy dan memposisikan Livy di belakang tubuhnya.
"Apa yang ingin kau lakukan?" protes Livy tidak setuju.
"Melindungimu!" sahut Abio. "Katakan padaku. Kemana kita akan pergi. Aku akan melindungimu. Tetaplah berdiri di belakangku."
"Bukan seperti ini cara mainnya." Livy yang keras kepala, lagi-lagi berdiri di depan untuk menjadi pemandu jalan.
"Kenapa kau suka sekali bersentuhan dengan pria-pria asing itu?" teriak Abio kesal.
Livy tidak mau menggenggam tangan Abio lagi. Wanita lanjut jalan dan meninggalkan Abio yang masih marah-marah tidak jelas.
"Livy!" Mau tidak mau pria itu mengejar Livy agar tidak sampai kehilangan jejak.
__ADS_1
Livy berhenti di tengah-tengah segerombolan pria yang sedang meneguk minuman keras. Dengan kasarnya wanita itu merebut salah satu botol minuman keras yang ingin diminum. Bukan hanya itu saja. Dengan beraninya Livy mengambil plastik yang berisi obat-obat terlarang dan membuangnya ke tanah hingga tidak ada yang tersisa. Jelas saja hal itu membuat orang yang ada di sana marah. Abio yang melihat kejadian itu hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan tidak percaya. Bahkan dia sendiri tidak tahu sebenarnya apa tujuan Livy mengusik ketenangan orang lain.
"Apa yang dia pikirkan? Apa mereka semua ini adalah teman Livy? Livy seperti ini karena sudah biasa melakukannya?" gumam Abio di dalam hati.
Pria yang tadi minumannya di rebut Livy kini beranjak dari kursi. Pria itu berdiri di hadapan Livy dengan tatapan penuh arti.
"Nona, kau memang cantik dan menarik. Tapi kelakuanmu ini membuatku muak. Kau harus membayar kekacauan ini dengan tubuhmu. Atau aku akan menyiksamu hingga kau merasakan sakit setengah mati!" ancam pria itu.
"Berani sekali kalian mengancam wanitaku!" sahut Abio tidak terima. Lagi-lagi pria itu maju ke depan untuk melindungi wanita yang ia cintai.
"Bukan seperti ini cara mainnya," bisik Livy.
"Lalu, bagaimana caranya?" sahut Abio dengan berbisik juga.
"Aku hitung sampai 3 jika sudah 3 kita harus segera berlari meninggalkan tempat ini."
"Lari? Untuk apa lari? Bukankah kita-"
"Berhenti!" teriak pria itu dengan geram. "Kejar mereka! Tangkap dan bawa ke hadapanku!"
Tanpa menunggu lagi, segerombolan pria yang ada di sana mengejar Livy dan Abio. Mereka tidak mau sampai kehilangan jejak.
"Livy, berhentilah!" teriak Abio. Lari Livy sangat kencang. Abio merasa kelelahan. Dia belum pernah berlari hingga sejauh ini. Di kejar-kejar lagi.
"Kita akan tertangkap jika berhenti!" sahut Livy yang masih tetap berlari kencang. Karena diajak mengobrol ketika berlari, Livy tidak melihat kayu yang melintang di tengah jalan. Pada akhirnya wanita itu tersandung dan terjerembap ke depan. Wajahnya hampir saja cedera jika saja Abio tidak segera memegang tangan Livy dan menahan wanita itu agar tidak terjatuh.
"Cukup Livy, cukup. Ini bukan bersenang-senang. Ini membahayakan dirimu sendiri. Aku akan menghadapi mereka. Aku sendirian saja masih sanggup menghadapi mereka. Untuk apa kita lari?"
"Karena aku ingin mereka di tangkap polisi. Aku tidak mau membunuh. Membebaskan mereka sama saja membuat peluang bagi mereka untuk mencelakai anak-anak kecil itu."
"Hanya ingin memasukkan mereka ke penjara? Livy, itu hal yang mudah! Serahkan padaku." Abio memutar tubuhnya. Dia kini menunggu kedatangan orang-orang yang sejak tadi mengejarnya. "Livy, tetap di sana. Jangan pergi. Tunggu sampai aku selesai mengalahkan mereka. Setelah mereka semua tidak sadarkan diri, di saat itu kita akan menghubungi polisi."
__ADS_1
Livy melipat kedua tangannya. Wanita itu menghela napas panjang dan berdiri di belakang Abio. "Tapi kita tidak memiliki senjata apapun. Mereka memiliki senjata api."
"The Filast tidak akan membiarkanmu celaka. Begitu juga dengan sniper yang selalu melindungiku," sahut Abio dengan ekspresi wajah yang tenang. "Mereka hanya preman biasa. Preman kampungan. Bahkan menghadapi bos mafia saja sudah sering kau lakukan. Hanya menghadapi preman kampungan seperti mereka, itu kecil." Abio terus saja menyombongkan diri. Sambil menunggu, pria itu memperhatikan wajah Livy yang kini terlihat khawatir. "Livy sayang, aku akan baik-baik saja. Jangan sedih."
"Mereka tidak sendirian," ucap Livy sambil memandang ke depan. Abio juga memandang ke depan. Kedua mata pria itu melebar melihat setiap orang memegang seekor dog di tangan mereka.
"Livy, apa lagi sekarang? Sepertinya kita memang harus berlari lagi. Aku tidak pernah bertarung dengan binatang!" ujar Abio menyerah. Andai saja dia memegang senjata api, pasti saat ini dia tidak akan sekhawatir ini. "Ayo kita lari!" Abio menarik tangan Livy dan berlari lagi. Bersamaan dengan itu, dog di lepas hingga mengejar Livy dan Abio dengan begitu cepat. Abio memandang pohon yang ada di hadapan mereka. Hanya itu satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri.
"Kau bisa manjat?"
"Bisa," sahut Livy. Tanpa aba-aba, wanita itu memanjat pohon besar tersebut. Begitu juga dengan Abio. Dog dog yang mengejar mengelilingi pohon di bawah. Menggonggong dan terdengar sangat berisik.
"Livy, kau benar-benar." Abio menahan kalimatnya melihat Livy tertawa geli. Wanita itu terlihat sangat bahagia seolah-olah musibah yang sekarang mereka hadapi adalah hiburan.
"Ini sungguh menyenangkan. Aku tidak menyangka kalau malam ini akan sebahagia ini. Abio, maafkan aku karena sudah menyusahkanmu. Siapa suruh kau muncul tadi sore?"
Abio memandang ke bawah sebelum memandang Livy lagi. "Apa kau tidak lelah? Tubuhmu sampai basah karena berkeringat."
"Aku tidak lelah. Ini sungguh menyenangkan!" Livy memandang ke bawah lagi. Kali ini bukan hanya dog saja yang menunggu di bawah. Tetapi pria yang sejak tadi mengejar mereka juga sudah berkumpul di bawah dan terlihat tidak sabar untuk menangkap mereka.
"Nona, sekarang bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan rencana B?"
"Aku tidak memiliki rencana apapun," jawab Livy santai.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan jika mereka sampai memanjat dan menangkap kita?"
Livy mencari ponselnya. Wanita itu mengeryitkan dahinya ketika ponsel yang ia cari tidak ada. "Dimana ponselku?"
Perasaan Abio mulai tidak enak. "Nona, jangan bilang kalau sekarang kau tidak tahu kita harus bagaimana."
Livy tersenyum penuh arti. "Sepertinya kita harus turun dan mengalahkan mereka. Bagian yang menggigit menjadi urusanmu ya?"
__ADS_1
"What?"