
Zion akhirnya tiba di Cambridge. Kepulangannya di sambut hangat oleh Daisy. Ternyata wanita itu sudah lebih dulu tiba di rumah. Dia di antar oleh Foster. Tetapi sayangnya Foster tidak bisa terlalu lama di Cambridge karena masih banyak urusan yang harus segera ia selesaikan. Daisy tadinya tidak menyangka kalau Zion akan pulang hari ini. Wanita itu tiba-tiba saja memutuskan untuk menikmati suasana yang ada di depan rumah. Senyumnya mengembang ketika melihat Zion muncul. Tanpa pikir panjang wanita itu langsung memeluk kakak kandungnya dengan penuh kerinduan.
"Akhirnya Kakak pulang juga. Aku sangat merindukan Kak Zion,” ucap Daisy sambil tersenyum manja. Dia langsung merangkul lengan kekar Zion sambil mengikutinya berjalan.
"Tadinya aku ingin menjemputmu di Universitas Yale. Aku sempat kaget ketika melihatmu tiba-tiba saja muncul di sini." Zion membawa Daisy masuk ke dalam rumah. Pria itu merasa gembira ketika bisa melihat adiknya dalam keadaan baik-baik saja. "Di mana Norah. Apa dia masih ada di rumah ini bersama dengan Austin? Siapa yang sudah mengantarmu pulang? Opa Zen atau Norah? Apa jangan-jangan kau pulang bersama dengan Foster,” tebak Zion asal saja. Karena dia tahu kalau Daisy tidak akan berani pulang sendiri ke Cambridge.
“Kak Foster yang mengantarkanku, Kak. Apa kakak marah?” Daisy ingin mengetahui apa kakaknya itu sudah benar-benar merestui hubungannya dengan Foster.
“Untuk apa aku marah?” sahut Zion tanpa pikir-pikir dulu. Hal itu membuat Daisy semakin bahagia.
"Kak Norah pasti sedang bermain di kamar bersama dengan Harumi. Apa Kakak tahu kalau Kak Norah menemukan anak kecil di Jepang dan sekarang dia berniat untuk menjadikan anak kecil itu sebagai anak angkatnya. Kalau aku sih sama sekali tidak keberatan. Anak kecil itu tidak memiliki orang tua lagi. Bahkan dia harus tinggal di rumah yang seisi rumahnya itu mengincar nyawanya. Harumi anak yang manis dan asyik diajak bermain. Kalau saja aku tidak memikirkan kuliahku, mungkin aku mau menemani Harumi bermain selama seharian penuh.” Daisy tertawa kecil. Hal itu membuat Zion semakin senang.
"Beberapa waktu yang lalu Norah sempat menelepon Kakak dan menceritakan semuanya. Kakak justru merasa bangga terhadap Norah dan Austin. Pernikahan mereka masih seumur jagung tetapi pemikiran mereka sudah benar-benar dewasa. Hitung-hitung mereka sambil belajar sebelum memiliki anak sendiri nantinya. Harumi itu hanya anak kecil, seharusnya keberadaannya tidak membahayakan bagi semua orang.”
Meskipun Harumi hanya seorang anak kecil, tetapi setelah tahu kalau adiknya akan mengangkat anak kecil itu sebagai anaknya. Zion segera menyelidiki semuanya secara diam-diam. Setelah Zion tidak menemukan ada masalah di sana pria itu baru bisa bernapas dengan tenang. Kini pria itu juga memandang Harumi sebagai anak baik yang menggemaskan.
Daisy menahan langkah kakinya lalu berdiri di depan Zion. Wanita itu mengukir senyuman penuh arti hingga membuat Zion menjadi curiga. "Sekarang apa lagi yang kau pikirkan. Perasaanku menjadi tidak enak,” ujar Zion tanpa memandang. Dia tahu sudah pasti ada yang diinginkan Daisy saat ini.
__ADS_1
“Kak, ajari aku menembak,” bisik Daisy dengan takut-takut.
“Bukankah Norah pernah mengajarimu menembak?” jawab Zion dengan alis saling bertaut.
“Ya, memang benar. Tapi aku sudah lupa caranya. Ajari juga aku naik sepeda motor agar aku bisa seperti Kak Norah.” Daisy terlihat sangat bersemangat kali ini.
“Kenapa tiba-tiba memiiki pemikiran untuk menjadi seperti Norah? Norah itu jejaknya tidak bisa diikuti. Dia seperti itu sejak dia kecil. Dan kau ingin memulainya dari sekarang. Jelas saja akan sulit. Kakak akan mengerahkan pasukan Gold Dragon untuk menjagamu lebih ketat lagi. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkan keselamatanmu sampai memutuskan untuk belajar menembak dan mengendarai sepeda motor. Jika kau melakukan semua itu karena terpaksa, kau juga tidak akan berhasil.”
Perkataan Zion membuat Daisy terdiam untuk beberapa saat. Memang benar, namun Daisy sendiri juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia mulai tertarik dengan senjata api. “Kak Norah sudah menikah dan akan pindah ke rumah utama keluarga Edritz Chen di Jepang. Kak Zion juga akan menikah dan memiliki Kak Faith. Kak Zion dan Kak Norah pasti akan sibuk dengan kehidupan kalian yang baru. Sedangkan aku belum siap menikah. Bekali aku ilmu menembak agar aku bisa melindungi diriku sendiri ketika Kak Norah dan Kak Zion tidak ada di sampingku,” rengek Daisy. Sebenarnya waktu itu dia hampir bisa. Karena latihannya tidak dilanjut lagi, akhirnya Daisy lupa. Dia hanya tahu cara memegang senjata api tanpa bisa menggunakannya.
"Oh iya, sebenarnya kapan Kak Zion menikah dengan Kak Faith. Bukankah Kak Zion dan Kak Faith saling mencintai? Paman Zean juga sudah sembuh. Lalu apa lagi yang harus Kakak tungg? Cepatlah kak menikah. Aku ingin lihat seperti apa Kak Zion setelah menikah nanti. Kakak ini tipe pria yang takut istri seperti Kak Austin dan Papa atau justru sebaliknya.” Permintaan Daisy memang tidak masuk akal. Dia ingin kakaknya menikah hanya karena ingin mengetahui kakaknya nanti takut atau tidak dengan istrinya.
"Kau ini masih kecil tapi sudah memikirkan urusan orang lain. Aku dan Faith akan menikah jika waktunya sudah tiba. Sekarang cepat antarkan aku untuk bertemu dengan Mama." Zion tidak mau menceritakan rencana pernikahannya dengan Faith. Pria itu tahu kalau belum saatnya Daisy di ajak bertukar pikiran tentang masalah seperti itu. Zion maunya Daisy fokus saja dengan kuliahnya di Universtitas Yale.
“Tidak mau!” Daisy berontak. Wanita itu tidak mau mengantarkan Zion bertemu dengan Leona jika pria itu belum menjawab pertanyaannya. "Kak ini aku serius. Kapan kakak menikah. Apa Dominic masih menghalangi cinta kakak dan Kak Faith. Semalam Kak Norah bilang kalau Dominic sudah merestui kakak. Lalu di mana lagi letak masalahnya." Semakin Zion menolak untuk cerita, justru Daisy semakin penasaran.
"Tadi sudah aku jawab. Hanya tinggal menunggu waktunya saja. Itu berarti tidak ada lagi yang menghalangi kami.” Zion tetap berusaha sabar menghadapi kebawelan adik kandungnya tersebut.
__ADS_1
Mendengar perdebatan antara Daisy dan Zion membuat Leona keluar dari kamar tidurnya. Wanita itu tersenyum bahagia karena pada akhirnya ia bisa bertemu dengan Putra pertamanya lagi. “Zion, kau sudah pulang?” Leona langsung membuka kedua tangannya untuk mendapat pelukan dari Zion.
“Mama.” Zion melangkah mendekati Leona. Sedangkan Daisy tetap berdiri di tempatnya merengek tadi. Wanita itu juga tersenyum melihat ibu dan kakak kandungnya pelukan untuk melepas rindu.
"Kau ini benar-benar membuat Mama khawatir. Tiba-tiba saja pergi dan tiba-tiba saja pulang. Tidak pernah memberitahu Mama jika mengambil sebuah keputusan." Leona yang geram melihat Zion hanya bisa menarik telinga putranya tersebut.
“Sakit, Ma,” rengek Zion. Pria itu segera memeluk Leona karena memang dia sangat merindukan ibu kandungnya. Sudah entah berapa lama mereka tidak bertemu. Zion terlalu fokus memperjuangkan cintanya dan menjaga Zean sampai pria itu dinyatakan benar-benar sembuh. "Maafkan Zion, Ma. Zion hanya tidak mau mama kepikiran dan jatuh sakit. Zion pergi dan bisa menjaga diri. Jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan Zion lagi sekarang. Zion ini sudah dewasa, Ma.” Zion berusaha membuat ibu kandungnya mengerti.
"Iya. Mama tahu kalau kau sudah dewasa. Tapi di mata Mama kau tetap Putra kecil mama. Oh iya bagaimana keadaan Paman Zean. Apa dia masih duduk di kursi roda?"
"Peman Zean sudah mulai belajar berjalan, Ma. Dia tidak menggunakan kursi roda lagi sekarang. Semakin hari kesehatannya mengalami kemajuan. Tidak lama lagi penyakit yang diderita oleh Paman Zean akan sembuh total.”
"Mama senang mendengarnya. Itu berarti tidak lama lagi kau akan menikah dengan Faith,” jawab Leona dengan senyum bahagia.
“Hore! Kak Zion akan menikah! Kak Zion jadi pengantin!” sorak Daisy penuh semangat. Zion hanya malu-malu mendengarnya. Pria itu tidak menyangka kalau hari ini dia akan diledeki oleh Daisy seperti ini. Leona juga tersenyum bahagia. Meskipun sebenarnya di dalam hati wanita itu menyimpan sebuah kesedihan.
“Tidak lama lagi satu persatu anakku akan pergi dari rumah ini. Merea akan membina rumah tangga bersama pasangan mereka,” gumam Leona di dalam hati.
__ADS_1