
"Mr. A membangun sebuah mansion mewah di pulau yang sangat luas ukurannya. Dia seperti membangun kotanya sendiri. Terdapat banyak emas-emas batangan di sana dan apa lagi berlian. Barang berharganya dikumpulkan menjadi satu. Namun, tidak ada satu orang pun yang bisa masuk ke dalam sana. Penjagaannya ketat. Belum lagi harus melewati pintu-pintu yang di pasang sidik jari di setiap meternya. Bukan hanya itu saja. Gudang harta karun ini sangat jauh tertimbun di bawah tanah. Untuk menghancurkannya, kita harus meledakkan mansion mewah yang di bangun di atasnya," jelas Austin sambil melingkari gambar mansion yang terdapat di papan tulis. "Tujuan utama kita, menyelamatkan Norah. Kita harus fokus mencari keberadaan Norah. Setelah berhasil membebaskan Norah, kita tidak bisa tinggalkan pulau itu begitu saja. Kita harus menghancurkannya juga. Kehancuran Mr. A ada pada hartanya."
"Dari mana kau tahu informasi sedetail ini?" tanya Zion ingin tahu. Bahkan dia saja dan pasukannya belum mendapatkan informasi apapun tentang Mr. A dan Norah hingga detik ini. Tetapi Austin, meski dia sendirian dia telah berhasil mendapatkan banyak informasi penting.
"Seseorang menghubungiku. Aku juga masih ragu hingga detik ini. Apa benar informasi ini benar atau hanya jebakan saja. Tetapi, feeling ku mengatakan kalau informasi ini benar. Wanita yang sudah menghubungiku memang memiliki niat baik."
"Wanita? Kau mendapatkan informasi ini dari orang asing yang sama sekali tidak kau kenal? Kau waras? Misi kita bukan main-main. Bagaimana kalau semua ini jebakan? Mr. A seorang pengkhianat. Bahkan sampai detik ini, aku belum berhasil mengetahui siapa saja yang bekerja sama dengannya. Sekarang dengan mudahnya kau percaya sama perkataan orang asing di dalam telepon?"
"Karena dia mengirim foto Norah." Austin memberikan foto terbaru Norah kepada Zion. "Bagaimana mungkin aku tidak percaya?"
Zion menerima ponsel Austin dan melihat gambar Norah ada di dalam sana. Hatinya terisi perih melihat kaki adiknya berdarah dan dalam kondisi terikat. Sungguh menyedihkan. Rasanya seluruh tubuh Zion seperti dicambuk setelah melihat keadaan adik kandungnya tersebut.
"Lalu, pilihan mana yang harus kita ambil? Percaya atau tidak?" Austin meletakkan spidol yang tadi ia gunakan ke atas meja. "Kalau aku lebih memilih percaya. Coba untuk menyelidikinya. Jika berhasil itu bonus jika gagal kita harus berjuang lagi. Selama kita bersama, masalah seberat apapun pasti akan berhasil kita lewati."
Zion kali ini setuju dengan rencana Austin. Walau tingkat keberhasilannya mungkin hanya 25%, tetapi tidak ada salahnya mencoba. Toh hingga detik ini mereka juga belum memiliki petunjuk apapun yang bisa menghubungkan mereka dengan Norah.
"Baiklah. Aku setuju. Sekarang apa yang harus aku lakukan?"
Austin mengukir senyuman penuh arti. "Kita butuh banyak kapal. Bisakah kau siapkan kapal dengan senjata lengkap di dalamnya? Kapal kecil saja. Setiap kapal hanya berisi sekitar lima orang."
"Orang kita banyak. Jika satu kapal hanya berisi lima orang, itu berarti kita tidak berada dalam satu tempat yang sama. Apa itu tidak beresiko?"
__ADS_1
"Jika kita berkeringat menjadi satu, itu hanya akan membuat kedatangan kita di sadari oleh mereka. Pulau ini luas. Aku yakin pasti ada celah untuk bisa mendarat di pulau ini dengan selamat. Penjagaannya memang sangat ketat, tetapi setiap manusia pasti selalu memiliki kelemahan. Mungkin memang harus ada yang di korbankan. Maka dari itu, aku meminta satu kapal berisi lima orang. Entah kapal mana dulu yang diketahui mereka. Jika itu kapal kita berdua, aku merasa yakin bisa lolos. Tetapi jika kapal pasukan Gold Dragon yang lebih dulu di sadari mereka, mau tidak mau kita harus rela kehilangan mereka."
"Tidak ada cara lain agar pasukan Gold Dragon tetap baik-baik saja?"
Austin menggeleng. "Maafkan saya. Tapi misi kita kali ini memang harus ada yang dikorbankan. Sebagai pemimpin, kau bisa ambil keputusan terbaik untuk anggotamu."
"Baiklah, aku akan bicarakan masalah ini dengan pasukan Gold Dragon. Sekarang sudah malam, sebaiknya kau tidur saja. Kita akan bicarakan masalah ini besok pagi. Bukankah kau sendiri yang bilang, kalau jalan satu-satunya harus naik kapal? Angin malam di tengah laut sangat berbahaya. Belum lagi perjalanannya sangat jauh."
"Baiklah. Tetapi, aku ingin sebelum matahari tinggi kita sudah ada di tengah laut besok pagi."
"Aku akan urus semuanya." Zion segera meninggalkan Austin sendirian di tempat tersebut. Pria itu ingin menemui pasukan Gold Dragon untuk mendiskusikan penyerangan besok pagi.
Zion sempat menghentikan langkah kakinya sebelum dia tiba di ruangan tempat pasukan Gold Dragon berkumpul. Dia seperti mendengar seseorang sedang menelepon. Suaranya berasal dari balik tembok yang tidak jauh dari posisi Zion berdiri.
"Bos, apa yang anda lakukan?" tanyanya dengan wajah polos. Padahal sudah jelas-jelas dia tertangkap sedang menghubungi musuh. Tetapi, masih sempatnya dia menghindar dan berakting.
"Siapa dia?" tanya Zion dengan tatapan menikam.
"Keluarga saya Bos."
"Keluarga? Sejak kapan kau memiliki keluarga?" Zion tahu siapa siapa saja yang sudah memiliki keluarga. Bisa di bilang pasukan Gold Dragon kebanyakan masih sendiri dan lebih fokus dengan kekuasaan Gold Dragon. Sungguh tidak masuk di akal jawaban pria di hadapannya.
__ADS_1
"Bos, maafkan saya." Pria itu tahu kalau Zion telah mendengar percakapannya. Kini dia sudah tertangkap basah. Hanya maaf yang bisa dia ucapkan agar dia bisa selamat.
"Maaf?" Zion menaikan satu alisnya. "Sekali pengkhianat selamanya pengkhianat!"
DUARRRR
Tanpa pikir panjang, Zion mendaratkan pelurunya di kepala pria itu. Tembakan Zion membuat semua orang keluar karena panik. Mereka semua muncul dengan senjata api di tangan. Termasuk Austin.
"Ada apa?" tanya Austin ketika dia menemukan Zion berdiri di bawah jenazah yang bersimbah darah. Satu hal yang membuat Austin bingung, pria yang berbaring adalah pasukan Gold Dragon.
"Tidak ada. Aku baru saja menyingkirkan duri yang menjadi penghalang rencana kita besok."
Austin tertawa kecil. Dia tahu apa maksud Zion. "Seharusnya kau mengkulitinya hidup-hidup sebelum dia mati karena tersiksa menahan sakit."
Perkataan Austin membuat pasukan Gold Dragon merinding. Mereka tidak ada yang berani berkhianat. Kesetiaan mereka memang sedang di uji. Tetapi mereka harus tetap berada di sisi Zion sampai maut menjemput mereka.
Zion tidak mau memperbesar masalah ini. Karena kebetulan pasukan Gold Dragon sudah berkumpul, dia ingin segera menyampaikan informasi penting itu.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Aku harap kalian bisa mengambil keputusan yang tepat!" Zion menahan kalimatnya dan berpikir sejenak. Pria itu juga bingung harus bicara dari mana lebih dulu. "Besok kita akan melakukan penyerangan. Tetapi, misi kali ini misi yang berat. Aku tidak bisa menjamin kalian pulang dengan selamat. Untuk itu, mulai sekarang pikirkanlah resikonya. Aku memberi kalian pilihan untuk mundur. Aku tidak akan marah. Kalian tetap akan menjadi anggota Gold Dragon jika besok pagi kalian memutuskan untuk kembali ke Cambridge. Untuk yang tetap ikut, saya ingin mengucapkan terima kasih. Kalian semua keluarga saya. Jasa kalian sangat besar bagi keluarga kami."
Austin tersenyum mendengar perkataan Zion. Tadinya dia pikir Zion akan memaksa pasukannya untuk ikut. Tetapi tidak. Zion justru memberikan kesempatan kepada pasukannya untuk mundur.
__ADS_1
"Kami tetap maju, Bos. Kamu akan menjaga anda dan melindungi anda," jawab salah satu pasukan. Diikuti pasukan lainnya.
Zion merasa terharu mendengarnya. "Terima kasih. Aku harap kita semua bisa pulang dengan selamat besok."