
Tiba-tiba Norah muncul di samping Zion. Wanita itu juga memandang ke depan melihat segerombolan orang yang kini baru saja turun dari speed boat. Sama seperti Austin, wanita itu juga kaget melihat orang-orang yang baru saja tiba di pulau.
"Kak Zion," celetuk Norah.
Zion berdiri di depan speed boat sambil mengamati pulau tersebut. Dia belum sadar kalau sekarang Austin dan Norah sedang mengintipnya di balik pohon.
Austin memegang tangan Norah. Dia menatap wanita itu dengan saksama. "Kita harus menemui mereka. Sepertinya mereka juga tidak tahu kalau kita ada di sini."
"Tidak," tolak Norah.
Austin mengeryitkan dahinya. "Kenapa? Kau tidak mau pulang?"
"Tidak sekarang Austin." Norah tahu kalau tidak semudah itu meluluhkan hati kakaknya. Dia tahu bagaimana kerasnya hati kakak kandungnya.
"Norah, semakin cepat semakin baik. Aku juga tidak berani jamin Paman Tano menjemput kita di pulau ini. Kau juga sudah terlalu lelah. Kau butuh tempat yang nyaman untuk istirahat. Kau butuh makanan bergizi untuk tetap sehat," bujuk Austin agar Norah mau pulang bersama Zion.
"Tidak, Austin. Aku tahu Kak Zion seperti apa. Dia pasti akan menghajarmu. Aku tidak mau dia melukaimu." Norah memegang pipi Austin. Sekarang rasa sayangnya terhadap Austin membuatnya tidak tega melihat pria itu terluka. Apa lagi sampai di lukai kakak kandungnya sendiri.
Austin memegang kedua tangan Norah yang ada di pipinya. "Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja. Zion pasti akan mendengarkan kata-kataku."
Austin menarik tangan Norah dan membawanya keluar dari balik pohon. Dia harus bergerak cepat karena kini Zion dan pasukan Gold Dragon sudah bersiap-siap untuk pergi lagi.
Zion memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Entah kenapa dia ingin sekali datang ke pulau ini. Padahal target mereka bukan pulau ini. Tapi sebuah vila yang ada di tengah pulau yang letaknya tidak jauh dari pulau tersebut.
"Bos, untuk apa kita ke sini? Apa yang anda pikirkan?" tanya salah satu pasukan Gold Dragon. Mereka sendiri saja tidak tahu apa yang harus mereka lakukan di sana.
"Tidak ada," jawab Zion. Dia memutar tubuhnya dan berjalan ke speed boat. Sebelum masuk ke dalam speed boat, terdengar teriakan seseorang dari kejauhan.
"Zion Zein!"
Zion menahan langkah kakinya. Dia memutar tubuhnya diikuti oleh pasukan Gold Dragon. Mereka semua kaget melihat Norah dan Austin muncul di pulau tersebut. Sungguh sesuatu yang sama sekali tidak terduga.
"Austin, kau memang pria brengsek!" umpat Zion di dalam hati. Melihat tangan Norah di genggam oleh Austin membuatnya mengira kalau adiknya telah di sekap oleh Austin.
Tanpa pikir panjang, Zion mengambil senjata apinya dan mengarahkannya ke tubuh Austin. Hal itu membuat Norah segera melepas tangannya dan berdiri di hadapan Austin. Dia akan melindungi kekasihnya. Meskipun harus melawan kakak kandungnya sendiri.
"Kak, hentikan!" ucap Norah.
Zion menatap wajah Norah dengan penuh kecewa. Dia tetap tidak mau menurunkan senjata apinya. "Norah, kemari!" perintah Zion.
__ADS_1
"Kak, aku akan ke sana. Tetapi kakak harus berjanji untuk tidak menembak Austin."
"Sekarang!" sambung Zion lagi.
"Pergilah Norah. Temui kakakmu," pinta Austin. Pria itu sama sekali tidak takut dengan ujung senjata api yang kini tertuju ke arah tubuhnya.
Norah memandang wajah Austin dengan mata berkaca-kaca. Dia mengangguk dan berjalan pelan mendekati Zion.
Zion tidak tahu harus bagaimana sekarang. Bahkan dia sendiri tidak tahu apa yang kini dia rasakan. Entah dia senang karena Norah masih hidup dan berhasil ditemukan. Atau kecewa karena Norah telah melindungi orang yang sudah membuat GrandNanya tewas. Orang yang sudah menyebabkan semua kekacauan ini terjadi.
Norah memandang wajah Zion dengan takut-takut ketika jarak mereka beberapa meter lagi. "Kak."
Zion menatap kedua mata Norah dengan begitu tajam. "Kenapa kau bisa ada di sini? Jika kau baik-baik saja, kenapa kau tidak segera pulang? Kenapa kau berduaan dengan pria yang sudah menyebabkan rumah kita hancur?"
"Kak, aku tahu alasan Austin melakukan semua itu. Dia di paksa oleh pria bernama Mr. A." Walau terdengar mustahil Zion percaya. Tetapi sebisa mungkin dia akan membela kekasihnya di depan kakak kandungnya.
Zion menyunggingkan senyuman tipis. "Kau membelanya? Kau lupa kalau dia adalah musuh kita?"
"Kak, Austin sudah berubah. Dia bahkan sudah meninggalkan geng mafianya. The Bloods tidak di tangannya lagi," jelas Norah tidak menyerah.
"Norah, berhenti membelanya!" teriak Zion tidak suka. "Aku sudah pernah bilang, semua pria hanya penipu. Dia akan mengucapkan rayuan manisnya untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan!"
"Tidak seperti itu kau bilang?"
DUARRRR
Sebuah tembakan mendarat di kaki Austin. Hal itu membuat Norah panik. Dia segera merebut senjata api tersebut dari tangan kakaknya.
"Norah, apa yang kau lakukan?" umpat Zion kesal. Ini pertama kalinya Norah seberani ini padanya.
"Kenapa kakak menembak Austin?" teriak Norah dengan nada serak menahan tangis.
"Karena dia pantas mendapatkannya!" sahut Zion.
Pasukan Gold Dragon tidak tahu harus bagaimana saat ini. Tanpa perintah mereka mendekati Austin untuk memastikan pria itu tidak kabur.
"Tidak, Kak. Austin tidak sejahat yang kakak pikirkan!" bela Norah lagi. Sambil tetap berusaha merebut senjata api di genggaman Zion.
"Kau bilang dia tidak sejahat yang aku pikirkan?" Zion yang sudah terpancing emosi menarik tangan Norah dan memegangnya dari belakang. Pria itu mengunci tangan Norah hingga wanita itu tidak bisa bergerak lagi.
__ADS_1
"Kak, lepaskan!"
"Apa yang sudah dia lakukan sampai kau berubah seperti ini Norah?" Zion sebenarnya tidak tega melakukan hal seperti itu terhadap adiknya. Tetapi mau bagaimana lagi. Dia juga tidak mau adiknya terus-menerus membela musuh.
"Kak, aku mencintainya," sahut Norah tanpa peduli dengan reaksi Zion setelah ini.
Zion yang syok sampai melepas tangan Norah begitu saja. Pria itu kehabisan kata-kata. Dia diam membisu sambil menatap mata adiknya dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat kecewa dan sakit hati.
"Norah, apa yang kau katakan?" lirih Zion dengan nada yang lemah. "Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Kau mencintai dia?" tunjuk Zion ke arah Austin.
"Kak, aku ...."
"DIA PEMBUNUH NORAH!" teriak Zion dengan begitu kuat. "Dia sudah membunuh GrandNa!"
Bagai di sambar petir di siang bolong. Norah benar-benar syok mendengarnya. Bukan hanya Norah saja. Austin juga tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Walau bukan dia yang membunuh Serena secara langsung. Tetapi jika dia tidak membawa pasukan The Blood ke atas, maka penembakan itu tidak akan pernah terjadi.
"Dan sekarang kau dengan ringannya mengatakan kalau kau mencintainya?" sambung Zion lagi. Sebenarnya Zion tidak mau mengatakan semua ini sekarang. Dia tidak mau sampai Norah sedih. Tetapi mau bagaimana lagi. Adiknya sangat keras kepala dan terus membela musuh. Itu membuat Zion muak.
"Tidak, Kak. Tidak mungkin." Norah memandang ke arah Austin. "Kenapa kau tidak bilang sejak kemarin?"
"Norah, aku bisa jelaskan semua ini!" Austin ingin melangkah maju. Walau luka di kakinya terus saja mengeluarkan darah, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk melangkah mendekati Norah. "Aku tidak menembaknya. Pasukan The Bloods yang melakukannya. Ini jebakan Mr. A."
Tiba-tiba sebuah pukulan di punggung Austin membuatnya terjatuh. Pria itu berlutut di atas pasir. Norah sudah tidak mampu membendung air matanya. Dia sedih mendengar kabar kalau GrandNanya sudah tidak ada. Dia sangat menyayangi GrandNanya. Ada rasa kecewa karena Austin tidak mengatakan yang sebenarnya terjadi sejak awal.
"Ayo kita pulang." Zion memegang tangan Norah dan membawanya naik ke speed boat. Kali ini Norah tidak memberontak lagi. Wanita itu berjalan dan mengikuti arahan kakaknya.
"Norah, dengarkan aku!" teriak Austin. "Aku tidak peduli jika seluruh dunia tidak percaya padaku. Aku hanya butuh kau Norah! Aku ingin kau percaya sama kata-kataku!"
Norah terus saja menangis sambil menghapus air matanya. Zion memandang pasukan Gold Dragon yang belum naik. "Beri dia pelajaran. Pastikan dia akan membusuk di pulau ini!"
"Baik, Bos."
Rasanya ada sesuatu yang membuat jantung Norah terasa perih. Dia tidak tega Austin sampai di siksa. Tetapi, dia juga kecewa. Dia tidak bisa membela Austin lagi kali ini. Sekarang yang ada di pikiran Norah, dia ingin segera hadir di makam GrandNanya agar bisa meminta maaf.
Austin memejamkan mata ketika Norah tidak memandang wajahnya lagi. Pukulan demi pukulan yang diberikan pasukan Gold Dragon seakan tidak sebanding dengan rasa sakit hati yang kini dia rasakan.
"Norah, maafkan aku."
Austin terjatuh di pasir dengan posisi tengkurap ketika sebuah balik kayu mendarat di kepalanya. Semua terasa goyang. Austin kesulitan untuk mempertahankan kesadarannya. Kedua matanya mulai terpejam dan pada akhirnya Austin tidak lagi sadarkan diri.
__ADS_1
Norah memeluk Zion dan menangis tersedu-sedu. Wanita itu sendiri tidak tahu harus bicara apa sekarang. "GrandNa ...."