
"Tadinya mama pikir kau datang untuk marah-marah sama mama dan juga menyalakan mama karena sudah membuat Faith pergi. Tidak mama sangka kalau ternyata kau hanya ingin bermanja-manja dengan mama seperti ini Zion. Mama sangat senang karena akhirnya kau bisa menerima semuanya. Mama tahu semua ini akan terasa berat tapi jika dijalani dengan hati yang tenang maka semuanya bisa dilalui dengan mudah," ucap Leona sambil mengusap kepala Zion dengan lembut. Kini pria itu tertidur di atas bantal yang ada di pangkuan Leona. Sudah cukup lama ia tidak bermanja-manja dengan ibu kandungnya seperti itu. Malam ini adalah momen yang tepat untuk melakukannya. Di depan Leona dan Zion ada Jordan yang sejak tadi mengamati ibu dan anak itu dengan begitu serius. Pria itu merasa senang sekaligus cemburu. Sudah setua ini dia juga ingin dimanja-manja oleh istrinya.
"Dia tidak cantik. Aku juga tidak tahu sifatnya baik atau tidak. Tapi entah kenapa aku jatuh cinta padanya. Apa seperti ini rasanya jatuh cinta? Cinta itu membuat kita menjadi orang bodoh. Aku merasa menyesal karena sudah jatuh cinta. Sakitnya begitu luar biasa ketika di tolak," ucap Zion dengan wajah kecewa.
Jordan tertawa mendengar perkataan putranya. Kali ini pria itu tidak bisa diam saja karena ia ingin ikut masuk ke dalam obrolan Leona dan juga Zion. "Apa kau tahu Zion. Perjuangan Papa untuk mendapatkan mama dulu juga tidak mudah. Mamamu ini wanita yang sangat keras kepala. Tidak mudah baginya untuk jatuh cinta. Apalagi waktu itu posisinya mamamu ini pernah patah hati karena cinta pertamanya. Ia sangat-sangat membenci yang namanya jatuh cinta." Jordan kembali tertawa seolah-olah obrolan mereka kali ini adalah sebuah lelucon.
Leona melebarkan kedua matanya sebagai kode kalau ia tidak setuju jika Jordan menceritakan masa lalu mereka. Jordan yang paham langsung diam dan tidak lagi melanjutkan ceritanya. Berbeda dengan Zion yang tiba-tiba beranjak dari pangkuan Leona lalu memandang Jordan dengan begitu serius. Ia ingin tahu seperti apa cerita kedua orang tuanya ketika muda dulu.
"Pa, Papa ini kan seorang pria. Ceritakan padaku bagaimana perasaan seorang pria ketika ditolak. Dan apa yang harus dilakukan oleh pria yang patah hati sepertiku ini?" Zion benar-benar serius.
"Jika soal patah hati kau tidak perlu menanyakannya kepada Papa karena Papa belum pernah merasakan patah hati. Pertama kali jatuh cinta cinta, cinta papa langsung tersambut dan bahkan Papa bisa menikahi wanita yang papa cintai. Kau bisa tanyakan langsung kepada Mama karena jika salah bicara Papa bisa habis dibuat mama," ucap Jordan apa adanya.
Kali ini Zion gantian memandang ke arah Leona sedangkan Leona seperti mencari-cari cara untuk kabur dari sana agar bisa terhindar dari cerita masa lalunya.
"Zion, setelah patah hati kau Justru lebih parah dari pada Norah dan Daisy. Sekarang sifat ingin tahumu begitu besar. Biasanya kau ini pria yang sangat cuek," ucap Leona.
"Mama tidak mau menceritakannya kepadaku?" tebak Zion.
__ADS_1
"Bukan mama tidak mau cerita tetapi bagi Mama masa lalu akan selamanya menjadi masa lalu dan tidak pantas untuk dikenang lagi. Jika saja masa lalu yang menyakitkan kembali diceritakan itu akan membuka luka yang sudah tertutup rapat. Mama tidak mau hal itu terjadi lagi. Sebaiknya masalah yang terjadi ini lupakan saja. Kedepannya dia akan jadi masa lalu dan bisa di kenang. Setiap kali kau mengingatnya kau akan tertawa dan menjadikannya sebuah lelucon."
"Sejak patah hati aku tidak mau mencintai lagi Ma. Aku tidak mau mencari wanita lagi karena tidak mau sakit hati lagi," ucap Zion dengan wajah frustasi.
"Mama tidak setuju, Zion. Kau tidak bisa mengambil keputusan seperti itu. Bagaimanapun juga kau ini adalah seorang pria. Satu-satunya pria di dalam keluarga kita. Meskipun Mama memiliki dua anak perempuan tetapi tetap saja Mama menginginkan menantu wanita. Kau harus menikah dan memberikan mama cucu. Nanti kedepannya kau akan bertemu dengan wanita yang kau cintai lagi dan juga mencintaimu. Kalian akan menikah dan hidup bahagia seperti mama dan papa. Percaya sama mama."
"Aku tidak mau mencari wanita lagi," ucap Zion dengan begitu sungguh-sungguh. Sepertinya pria itu serius dengan apa yang dia katakan.
"Zion, maksudmu apa? Mama tidak setuju. Apa kau ingin menutup hatimu dan menjadi pria tua tanpa keturunan?" protes Leona dengan wajah marah.
"Menurut papa itu ide yang bagus. Lebih baik sekarang kau pikirkan saja masa depanmu. Buka bisnis yang bisa membuatmu mendapatkan penghasilan tanpa harus mengandalkan Gold Dragon lagi. Papa tahu penghasilanmu yang sekarang lebih besar dari penghasilan papa. Tetapi itu tidak bisa diperpanjang karena ketika kau menikah nanti kau memerlukan bisnis yang aman."
Zion tersenyum. "Baiklah Pa. Aku akan pikirkan dari sekarang."
"Tunggu dulu. Mama masih belum paham dengan cerita kita malam ini. Maksudmu kau menyerahkan tugas mencari jodoh kepada Mama? Siapapun wanitanya kau mau untuk menikahinya."
Zion tersenyum hangat memandang Leona. "Benar Ma. Siapapun wanitanya aku akan terima dan aku janji sama Mama aku akan belajar untuk mencintainya. Bila perlu tidak ada perkenalan terlebih dahulu. Kami berdua bertemu pada saat pesta pernikahan saja."
__ADS_1
Leona tersenyum bahagia mendengarnya. "Kau tidak bisa menarik kata-katamu lagi, Zion. Mulai sekarang mama akan mencari wanita yang cocok untuk menjadi istrimu. Kau harus pegang janjimu untuk mencintai wanita pilihan mama nantinya."
Zion mengangguk sambil tersenyum mendengarnya. "Baiklah, Ma."
Jordan juga tersenyum mendengar dan melihat istri dan putranya. Lagi-lagi mereka harus dijodohkan.
"Mama akan menggelar pesta pernikahanmu satu bulan setelah pernikahan Norah dan Livy," ucap Leona dengan penuh semangat.
"Satu bulan? Apa itu tidak terlalu cepat, Ma?" Zion kembali ragu.
"Bagaimana bisa kau menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria Zion dalam waktu satu bulan? Itu akan sangat sulit. Belum lagi kita harus menyelidiki latar belakang wanita itu agar tidak sampai salah pilih," protes Jordan tidak setuju.
"Kau tidak perlu khawatir karena aku tidak mungkin memberikan yang buruk kepada anakku. Aku pasti mencari yang terbaik dan memikirkannya dengan matang-matang." Leona memandang ke arah Zion lagi lalu tersenyum. "Mama ingin melihat kau tersenyum bersama dengan wanita yang akan kau nikahi nanti. Melihatmu merayu seorang wanita itu pasti akan sangat menyenangkan. Bahkan hanya membayangkannya saja Mama sudah bisa tersenyum sendiri. Seperti apa kau ini ketika jatuh cinta lagi nanti dengan istrimu. Ya, istrimu. Tidak lagi ada kata pacaran karena kau akan langsung menikah dengan wanita itu dan mencintainya," ujar Leona dengan penuh semangat.
Zion hanya tersenyum saja mendengarnya. Bahkan pria itu tidak banyak protes ketika ibu kandungnya mengatakan kalau sebulan lagi dia akan menikah dengan wanita pilihan ibunya. Ini adalah pilihan terbaik karena Zion tidak mau sakit hati lagi. Untuk memaksa Faith berada di sisinya juga itu tidak mungkin karena dia juga sudah pernah berjanji kepada Dominic jika Faith tidak menginginkannya maka ia akan melepaskannya. Faith sudah memutuskan untuk berangkat ke Las Vegas. Secara tidak langsung berarti Wanita itu telah memilih Dominic bukan dirinya. Mulai detik ini Zion telah berusaha untuk merelakan kepergian Faith dari sisinya. Walau sebenarnya terasa begitu berat bagi Zion.
"Cinta tidak pernah bisa dipaksakan. Lebih baik aku memaksa hatiku untuk mencintai wanita pilihan Mama daripada aku harus memaksa Wanita yang tidak mencintaiku untuk jatuh cinta padaku," gumam Zion di dalam hati.
__ADS_1