Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 126


__ADS_3

Norah dan Austin juga terlihat menikmati makan malam romantis. Bedanya pasangan ini memilih untuk makan malam romantis di rumah Norah. Mereka bosan jika harus keluar rumah. Walau tetap di dalam rumah, mereka berdua sudah bahagia karena orang yang mereka sayangi ada di dekat mereka.


"Austin, kau mau daging?" tawar Norah yang saat itu sedang memotong daging di piring.


"Suapin," jawab Austin dengan manja. Pria itu segera membuka mulutnya. Dia sendiri juga sudah tidak sabar untuk mendapatkan suapan cinta dari calon istrinya.


"Kau ini manja sekali." Norah memasukkan potongan daging itu ke dalam mulut Austin sebelum ke dalam mulutnya juga. Tanpa sengaja dia melihat Zion yang berdiri di balkon sambil melamun. Pria itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Norah merasa khawatir. Akhir-akhir ini memang sifat Zion terlihat jauh berbeda.


"Apa yang kau lihat?" Austin mengikuti arah pandang Norah. Pria itu kembali memandang wajah Norah. "Kak Zion? Ada apa dengannya?"


"Aku yakin, dia memiliki masalah. Hanya saja dia tidak mau cerita," ucap Norah dengan penuh keyakinan.


"Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Kak Zion?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Norah bingung. "Bukankah sekarang kita sedang makan malam romantis? Sebaiknya nanti saja memikirkan Kak Zionnya," tawar Norah. Wanita itu mengambil potongan daging dan menyuapi Austin lagi.


"Norah sayang, apa mama mengganggu kalian?"


Tiba-tiba saja Leona muncul bersama dengan Jordan. Hal itu membuat Norah mengurungkan niatnya untuk menyuapi Austin lagi. Dia memasukkan potongan daging tersebut ke dalam mulutnya sendiri.


"Apa yang bisa Norah bantu ma?" Norah beranjak dari kursi dan berjalan mendekati Leona.


"Sayang, mama menemukan surat ini. Mama khawatir sama kakakmu," lirih Leona.


"Kak Zion? Ada apa dengan Kak Zion ma?" Norah juga terlihat sangat khawatir. Dia segera membaca surat yang ada di genggaman Leona.


"Beberapa hari yang lalu, kakakmu mendonorkan darahnya untuk seseorang. Setelah papa selidiki, kita tidak kenal dengan wanita itu. Bahkan bertemu saja tidak pernah. Dia juga bukan bagian dari keluarga kita. Kita semua tahu bagaimana sifat Zion. Jika dia sampai turun tangan langsung untuk menolong wanita itu, berarti wanita itu sangat berharga bagi hidupnya," jelas Jordan apa adanya.


"Wanita? Apa Kak Zion sudah menemukan jodohnya?" Berbeda dengan Leona. Norah justru terlihat bahagia mendengar kabar ini. Dia bahkan ingin sekali segera bertemu dengan wanita itu. "Sebentar lagi aku akan memiliki kakak ipar."


"Norah, apa yang kau katakan," protes Leona. "Ini masalah yang serius kenapa kau menyepelekannya?"


"Ma, ini bukan sebuah masalah tapi sebuah kabar gembira. Seharusnya kita merayakannya bukan memikirkannya," jawab Norah dengan santai.

__ADS_1


"Kau lihat sendiri bagaimana sikap kakakmu akhir-akhir ini. Dia seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup. Diajak bicara juga tidak nyambung. Pokoknya dia terlihat jauh berbeda dari sebelumnya. Bahkan sampai detik ini dia seperti tidak peduli bagaimana keadaan Daisy di Eropa. Bukankah biasanya dia orang yang paling khawatir ketika Daisy pergi meninggalkan rumah?"


"Ma, Kak Zion bukan gak khawatir. Tetapi Kak Zion tahu kalau Daisy pergi bersama orang yang tepat. Opa Zen pasti akan menjaga Daisy dengan sebaik mungkin. Mama tidak perlu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya hal itu bukanlah sebuah masalah. Soal sifat Kak Zion yang tiba-tiba murung biar menjadi urusanku. Aku akan temui Kak Zion dan ajak dia untuk bicara. Semoga saja Kak Zion masih mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi."


Leona memandang ke arah Austin yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia saja. "Austin, maafkan mama ya karena sudah mengganggu waktu berdua kalian. Mama tidak tahu lagi harus cerita kepada siapa. Sejak tadi pikiran mama tidak tenang."


"Mama tidak perlu merasa keberatan seperti itu. Austin ngerti apa yang Mama pikirkan dan apa yang mama rasakan. Austin akan membantu Norah untuk menyelidiki masalah ini. Kita akan segera tahu, sebenarnya siapa wanita itu. Mama dan papa Tenang saja di rumah," ucap Austin dengan sungguh-sungguh. Dia juga tidak mau sampai papa dan mama mertuanya tidak tenang seperti ini.


"Terima kasih Austin. Kau memang menantu yang baik. Semoga saja nanti Zion dan Daisy juga mendapatkan pasangan yang baik dan pengertian seperti dirimu," puji Leona sambil tersenyum.


Jordan tetap diam. Sampai detik ini dia juga belum tahu sebenarnya apa yang terjadi pada putranya tersebut. Tim yang diutus oleh Jordan masih dalam proses penyelidikan. Tetapi Jordan tidak tahu kapan tim penyelidiknya itu berhasil mendapatkan informasi yang lengkap dan akurat.


"Kalau begitu kalian bisa lanjut makan lagi. Mama dan Papa mau masuk ke dalam. Kami juga ingin menghubungi Daisy. Mama ingin tahu sebenarnya apa yang dia lakukan di sana."


"Ma, tadi sebelum Norah dan Austin makan malam. Daisy sempat mengirimkan pesan. Dia bilang dia juga akan makan malam bersama dengan Opa Zen Sebaiknya Mama telepon besok pagi saja. Norah tahu apa yang terjadi pada adiknya di sana. Daisy telah menceritakan semuanya. Norah sangat mendukung hubungan Daisy dan juga Foster. Tetapi memang untuk saat ini hubungan mereka biar menjadi rahasia saja. Keadaan masih belum tenang. Setelah pesta tunangan berlalu, Daisy dan Foster berencana untuk mengumumkan hubungan mereka di depan semua orang.


"Baiklah, kalau begitu Mama akan telepon Daisy besok pagi saja. Selamat malam sayang."


"Selamat malam, Ma."


...***...


Setibanya di dalam kamar, Zion segera membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berulang kali ia mengusap wajahnya dengan tangan. Kali ini pikirannya tidak bisa tenang. Wajah Faith dan semua tentang Faith telah mengganggu pikirannya. Apapun yang dilakukan Faith selalu muncul di dalam pikirannya. Sekarang satu-satunya cara yang dipikirkan Zion adalah bagaimana dia bisa menghilangkan Faith dari dalam ingatannya. Pria itu tidak mau menjadi orang gila hanya karena seorang wanita.


"Faith Faith Faith. Apa yang sudah dia lakukan? Kenapa dia bisa muncul di dalam ingatanku." Zion mengacak rambutnya. Dia kembali duduk di atas tempat tidur. Pria itu memandang celana kotor yang ada di dalam keranjang. Secepat Mungkin dia turun dan mendekati keranjang pakaian kotor tersebut. Zion mengambil sebuah foto di dalam saku celananya. Alisnya saling bertaut ketika ia berhasil menemukan foto Faith dari dalam saku celananya.


"Aku yakin dia adalah wanita yang kucari selama ini. Tapi kenapa dia sama sekali tidak ingat denganku. Apa pertemuan kami waktu itu tidak ada artinya baginya. Bagaimana caranya agar kau tahu kalau aku adalah pria yang pernah menolongmu waktu itu. Kenapa kau begitu mudah melupakan orang yang sudah menyelamatkan nyawamu?"


Zion duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Pria itu memandang wajah cantik Faith sebelum akhirnya senyum-senyum sendiri. "Setelah 10 tahun tidak bertemu ternyata kau semakin cantik. Tapi kau masih saja ceroboh. Mau sampai kapan kau seperti ini."


Zion menurunkan foto Faith. Pria itu memandang ke depan. Suara ketukan pintu mengganggu lamunannya. Zion yang terlihat panik segera membuang foto Faith ke dalam keranjang pakaian kotor. Pria itu segera merapikan penampilannya dan berjalan ke pintu.


"Ya, sebentar!" teriaknya dari dalam. Zion membuka pintu itu dan mengeryitkan dahi melihat Norah berdiri di hadapannya. Padahal baru saja dia lihat kalau Norah makan malam romantis di bawah bersama dengan Austin.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Apa aku tidak boleh mengunjungi kakak?" tanpa izin wanita itu masuk ke dalam kamar Zion. Tempat pertama yang harus ia selidiki adalah kamar pribadi kakak kandungnya.


"Aku mau tidur. Kenapa kau masuk ke dalam?" Zion terlihat kurang setuju adiknya masuk ke dalam kamar. Dia tahu kalau Norah sudah masuk ke dalam kamar wanita itu tidak bisa duduk diam saja. Selalu saja ada barang rahasia yang dia temukan. Dan itu membuat Zion tidak nyaman.


"Tumben kamar Kakak rapi."


"Kamarku selalu rapi. Orang yang membuat kamarku berantakan adalah kau dan juga Daisy." Zion berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. "Sekarang Katakan padaku apa tujuanmu datang ke kamarku. Di mana tunanganmu itu. Apa kau meninggalkannya sendirian di bawah?"


"Austin Lagi menelepon seseorang. Mereka seperti sedang membahas masalah di perusahaan. Itu sangat membosankan. Tadi aku lihat kakak belum tidur. Lalu aku putuskan untuk menemani Kakak agar kakak tidak bosan," jawab Norah dengan senyum manis di bibirnya.


Tetapi Zion tidak mau percaya begitu saja. "Aku tahu kau datang ke sini bukan hanya untuk itu. Katakan saja yang sebenarnya. Aku yakin ini ada hubungannya dengan mama dan papa."


"Tebakan Kak Zion selalu saja benar. Baiklah tanpa basa-basi lagi, aku akan langsung tanya saja pada intinya. Siapa wanita yang sekarang dekat dengan kakak?"


"Sudah kuduga sejak awal. Kau pasti akan mengetahuinya."


"Aku tidak tahu sendiri. Papa yang sudah memberitahuku informasi ini. Kakak bahkan sampai rela mendonorkan darah kakak untuk wanita itu. Sespesial apa dia? Siapa namanya? Dari mana asalnya? Apa yang sudah dia lakukan hingga Kakak tergila-gila padanya?"


Zion tertawa mendengar pertanyaan Norah. Pria itu memijat kepalanya sendiri. "Apa yang kau pikirkan tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Kau ingat tentang wanita yang aku ceritakan di rumah sakit. Wanita yang pernah membuatku merasakan sebuah getaran aneh di dalam hati. Perempuan yang sudah membuatku merasakan jatuh cinta. 10 tahun yang lalu?"


"Wanita itu? Kakak berhasil bertemu lagi dengannya?" tanya Norah dengan penuh antusias.


Dia mengangguk setuju. "Ya, dia wanita itu. Aku sangat yakin kalau memang benar dia lah orangnya. Saat aku mencari keberadaannya aku tidak berhasil menemukannya. Ketika aku berusaha melupakannya dia justru kembali muncul. Sayangnya dia tidak ingat denganku. Dan itu membuatku kecewa."


"Wanita itu tidak salah kak. Itu hal yang wajar. Dulu saat bertemu bukankah kalian tidak sampai pacaran. Bagi wanita pria yang tidak penting di dalam hidupnya tidak harus diingat-ingat."


Zion ingin marah. "Itu berarti aku tidak penting di dalam hidupnya?"


"Seperti itulah kira-kira. Tapi Kakak jangan khawatir. Aku akan membantu kakak. Aku akan membuat Kakak menjadi pria paling penting di dalam hidupnya. Pertemukan aku dengannya sekali saja. Selanjutnya serahkan semuanya padaku. Kakak hanya tinggal menunggu hasilnya saja," ucap Norah dengan wajah yang sangat meyakinkan.


Zion tertawa puas mendengar tawaran adiknya. "Baiklah. Aku akan mengatur waktunya.

__ADS_1


Tapi sebaiknya tidak dalam waktu dekat ini karena aku sibuk mengurus pesta pertunangan. Bagaimana kalau setelah tunangan saja?"


"Oke, deal!"


__ADS_2