
“Lalu, Kak Zion sudah tahu kalau Kak Foster mengirim orang untuk memata-matainya?” tanya Daisy penasaran. Dia terus saja tertawa ketika mendengar cerita Foster di dalam telepon. Memang Kakaknya itu tidak mudah untuk di tebak jalan pikirannya. Daisy sendiri tidak memiliki ide apapun untuk membuat Kak Zionya mau menerima Foster sebagai kekasih Daisy.
“Dia pria yang cerdas. Jadi, Kak Zion belum tahu. Tapi, aku tidak tahu juga. Jangan-jangan Kak Zion pura-pura gak tahu,” sahut Foster. “Sekarang aku sudah memiliki mata-mata baru. Sepertinya setiap hari aku harus menggantinya.”
Daisy lagi-lagi tertawa di buat Foster. “Sebentar lagi Kak Norah juga akan datang. Kita akan semakin sulit untuk bertemu. Tetapi, tenang saja. Kak Norah tidak akan lama katanya. Dia hanya beberapa hari saja di sini sebelum kembali ke rumah GrandNa.”
“Daisy sayang … aku selalu memiliki cara untuk bisa bertemu denganmu. Kau tidak perlu memikirkan hal sepele seperti itu. Tugasnya hanya mencintaiku dan menjaga hatimu dari godaan pria lain. Itu sudah cukup!”
Daisy tersipu malu di buat Foster. Padahal pujian itu hanya melalui ponsel semata. Bagaimana kalau diucapkan secara langsung. Bisa-bisa Daisy semakin malu karena Foster harus melihat wajahnya yang memerah karena malu.
“Kak, bagaimana dengan Lyn? Bukankah aku dengar dia cinta mati sama Kak Foster?”
“Lyn? Dia hanya penggemar. Daisy sayang, pacarmu ini pria paling ganteng dan popular di Universitas Yale. Jadi, siapkan hatimu jika ada wanita yang mengaku-ngaku sebagai pacarku. Karena pacarku hanya kau seorang. Bahkan jika kau ijinkan, besok pagi aku akan umumkan hubungan kita kepada semua orang agar tidak ada lagi wanita yang berusaha mengejar-ngejar cintaku!”
Daisy tertawa kecil. “Jangan Kak. Kita sudah janji untuk merahasiakan semua ini.” Daisy memandang ke arah pintu ketika mendengar seseorang mengetuk pintunya dari luar. “Kak, Daisy matikan teleponnya ya. Ada yang datang.”
“Baiklah. Hubungi aku lagi jika kau sudah sendiri.”
“Iya …,” jawab Daisy dengan lembut.
“I love you sayang ….”
“I love you too, Kak Foster.” Daisy segera memutuskan panggilan telepon itu dan meletakan ponselnya di bawah ranjang. Dia merapikan penampilannya sebelum berjalan ke arah pintu. Daisy membuka pintu kamarnya dengan lebar. Dia melihat Esme berdiri sambil membawa sebuah laptop dan beberapa buku.
“Mau belajar bareng?” tawar Esme dengan senyuman manis.
Daisy sudah selesai mengerjai tugasnya. Tetapi, dia tidak tega menolak dan mengusir Esme. “Baiklah. Silahkan masuk.”
Esme dengan semangat masuk ke dalam kamar Daisy. Wanita itu duduk di atas tempat tidur seperti apa yang ia lakukan selama ini. Esme menganggap kamar itu adalah kamar miliknya. Daisy sendiri tidak pernah keberatan. Namun, sejak dia berpacaran dengan Foster, Daisy tidak mau berlama-lama mengbrol dengan Esme. Wanita itu ingin segera menghubungi Foster lagi.
“Daisy, kenapa kau berdiri di sana? Kemarilah.” Esme menepuk sisi ranjang yang masih kosong.
Daisy menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita itu duduk di samping Esme dan memandang ke layar laptop Esme. “Sebenarnya tugasku sudah selesai. Bagaimana kalau kau mencontoh tugasku saja? Itu akan memudahkanmu untuk menyelesaikan tugas, Esme.”
__ADS_1
Esme mengeryitkan dahinya. “Benarkah?”
Daisy beranjak dan mengambil tugas yang sudah ia kumpulkan di sebuah makalah. Dia memberikannya kepada Esme. “Ini. Kau bisa membacanya dari awal.”
Esme menerimanya. Namun, memang bukan itu tujuan utamanya datang ke kamar Daisy, jadi dia tidak akan pergi sebelum tugasnya berhasil. “Daisy, kau memang sangat pintar. Terima kasih karena kau sudah membantuku.”
Esme beranjak dari tempat tidur sambil membawa laptop dan buku yang tadi ia bawa. Tiba-tiba beberapa lembar foto tergeletak begitu saja di lantai. Esme sengaja menjatuhkan foto itu. Daisy mengutip foto itu dan melihatnya satu persatu. Wanita itu terlihat cemburu ketika melihat Foster dan Lyn yang sedang berpelukan. Hatinya panas hingga ingin berteriak. Di tambah lagi Lyn memakai baju seksi seolah mereka ingin bermesraan saat itu.
“Daisy, kembalikan. Untuk apa kau mengambil foto itu? Berita ini sudah menyebar. Kalau ternyata, Kak Foster sering tidur bersama Lyn. Tadinya aku ingin memberi tahumu. Tetapi, aku tahu kau tidak akan percaya. Ya, daripada terlambat dan kau nantinya akan menyesal. Sebaiknya jauhi saja Kak Foster,” ucap Esme berharap Daisy mau mengikuti saran yang dia katakan barusan.
Daisy memberikan foto itu kepada Esme. “Kau dapat dari mana foto ini?”
“Sebenarnya foto ini aku dapatkan di depan kamarmu. Baru saja. Aku tidak mau kau sakit hati melihat ini. Tetapi, fotonya jatuh sendiri.” Esme menunduk dengan wajah bersalah. Padahal di dalam hatinya dia sedang meledek Daisy dan menertawakan wanita itu. “Aku tahu, akhir-akhir ini kau terlihat dekat dengan Kak Foster. Sebagai sahabatmu, aku hanya tidak ingin kau sakit hati,” ucap Esme dengan eskpresi wajah yang menyakinkan.
“Esme, aku senang kau perhatian padaku. Aku ….” Daisy tidak bisa melajutkan kalimatnya ketika melihat ada tali di jendela kamarnya. Tali itu milik Zion. Sudah pasti sebentar lagi pria itu akan muncul di dalam kamar Daisy. “Esme, kakakku datang. Bisakan kau rahasiakan semua ini?” Daisy memberikan foto-foto itu kepada Esme lagi. Esme memandang ke jendela. Dia juga penasaran inginmelihat wajah asli kakak kandung Daisy, namun Daisy sudah menariknya dan memaksanya untuk pergi.
“Daisy, apa kakakmu marah kalau di kamarmu ada orang lain selain kau?” tanya Esme yang terlihat keberatan untuk pergi.
“Anggap saja seperti itu,” jawan Daisy panik. Ia menarik tangan Esme menuju ke pintu. Esme tidak kehilangan akal. Wanita itu menjatuhkan buku yang ia bawa hingga berserak di lantai. Daisy memejamkan matanya melihat barang-barang Esme kini berantakan di lantai.
Jendela terbuka dan Zion muncul di sana. Namun, pria itu mengenakan topeng. Tentu tidak jadi masalah bagi Daisy jika Esme bertemu dengan Zion. “Tadinya aku pikir Kak Zion tidak memakai topeng seperti biasa,” gumam Daisy di dalam hati.
“Sial! Kenapa dia juga memakai topeng!” umpat Esme di dalam hati. Wanita itu berdiri dan tersenyum kepada Daisy. “Aku pamit dulu ya.”
“Ya. Besok kita bertemu lagi,” jawab Daisy. Setelah Esme keluar, Daisy segera menutup rapat pintu kamarnya bahkan menguncinya. Di waktu yang bersamaan, Zion membuka topengnya. Pria itu meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.
“Apa itu kak?” tanya Daisy penasaran. Dia segera mendekati Zion untuk memeriksa kotak kecil tersebut.
“Hadiah dari GrandNa.”
“Untukku?” tanya Daisy sambil memperhatikan kotak itu lagi.
“Ya. Kakak sudah memakai hadiah dari GrandNa.” Zion memamerkan gelang di tangannya.
__ADS_1
Daisy mengangguk. “Gelang yang keren.” Wanita itu membuka kotak hadiah miliknya. Dia sudah tidak sabar untuk melihat isi di dalamnya. Wanita itu tersenyum indah ketika melihat sebuah kalung dengan liontin warna putih bersih. “Kak, ini sangat indah,” ucap Daisy. Dia memberikannya kepada Zion. “Cepat pakaikan.” Daisy mengangkat tinggi rambutnya sambil tersenyum bahagia. Sebenarnya dia masih kesal dengan masalah Foster. Namun, dia akan memikirkannya lagi setelah Zion pergi dari kamar ini. Sekarang dia harus fokus dengan kakak kandungnya agar tidak curiga.
“Kau sangat pantas memakainya. Kata GrandNa Norah memakai kalung yang sama tetapi dengan liontin berwarna biru.”
“Benarkah?” Daisy berlari ke cermin. Dia ingin melihat dengan jelas setelah kalung itu melingkar di lehernya. “Kak, apa aku cantik?”
“Kau selalu cantik, Daisy.” Zion mengambil ponselnya yang berdering. Pria itu segera mengangkatnya. “Ada apa?” ketusnya tidak suka. Ekspresi wajah Zion berubah. Pria itu tidak bicara lagi. Ponsel itu ia turunkan dan dia memandang Daisy dengan mata berkaca-kaca.
“Kak, ada apa?” Daisy berlari mendekati Zion. Melihat ekspresi wajah Zion yang berubah membuat Daisy khawatir. “Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Zion memandang wajah Daisy lagi sebelum memeluknya. Pria itu tidak bisa bicara. Bibirnya tiba-tiba saja membisu. Kedua tangannya mere*mas rambut Daisy untuk menahan air mata yang ingin terjatuh. Daisy memaksa Zion melepasnya. Wanita itu menatap kakak kandungnya dengan saksama. Ia butuh jawaban. Bukan pelukan yang membuatnya semakin tidak tenang.
“Kak, ada apa?” teriak Daisy mulai marah.
“Pesawat yang ditumpangi Norah mengalami kecelakaan. Meledak di udara.”
Daisy melangkah mundur sambil menggeleng tidak percaya. Kedua matanya terasa perih hingga akhirnya buliran-buliran air mata mulai jatuh. “Kak Zion bohong. Tadi Kak Norah baru saja menghubungiku sebelum dia berangkat. Dia pasti baik-baik saja kak!” teriak Daisy. Dia segera mengambil ponselnya di atas nakas. Dengan tangan gemetar, dia menekan nomor telepon Norah. Sulit menerima kenyataan kalau Norah mengalami kecelakaan. Daisy melekatkan ponselnya berharap ada jawaban di seberang sana. Namun, sayangnya nomor Norah sudah tidak bisa dihubungi. Hal itu membuat perasaan Daisy semakin tidak karuan. Tidak mau menyerah, dia lagi-lagi menekan nomor telepon Norah. Hasilnya masih sama. Nomor itu tidak bisa dihubungi lagi.
“Pasti Kak Norah lupa mengisi baterai. Ini pasti hpnya mati,” lirih Daisy dengan air mata yang semakin deras.
Zion duduk di kursi sambil mengusap wajahnya. Pria itu sendiri juga sedih hingga rasanya dia ingin menangis. Ini kabar paling buruk yang pernah ia dengar seumur hidupnya. “Norah, maafkan aku. Seharusnya aku jemput saja agar semua ini tidak terjadi,” gumam Zion di dalam hati. Dia sangat menyesal. Jika waktu bisa di ulang kembali, dia ingin memperbaiki semuanya agar Norah tetap baik-baik saja.
Daisy melempar ponselnya ke lantai ketika panggilan teleponnya tidak juga tersambung. Wanita itu duduk di lantai. Dia menangis sejadi-jadinya. “Kak Norah. Kak Norah.”
Zion berlari mendekati Daisy. Pria itu menahan tubuh Daisy yang berubah lemah dan membawanya ke atas tempat tidur. Ponsel Zion kembali berdering. Setelah meletakkan Daisy dia segera mengangkat panggilan masuk itu.
“Halo, Pa.”
“Bawa Daisy pulang ke Cambridge,” perintah Jordan.
“Baik, Pa.” Zion memutuskan panggilan telepon itu. Sudah pasti mereka semua harus berkumpul untuk membahas hilangnya Daisy. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku. Daisy memandang Zion sebelum memeluknya. Wanita itu tidak bisaberhenti menangis. Dia ingin kakaknya kembali.
“Lakukan segala cara agar Kak Norah kembali kak. Lakukan kak! Apapun itu!” pinta Daisy dengan nada yang begitu memilukan. Zion hanya diam membisu. Dia memeluk Daisy sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
“Maafkan aku Norah. Aku memang kakak yang tidak berguna!”