
Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan sarapan yang tersaji di meja. Setelah selesai sarapan, para pelayan kembali mengutip piring dan membersihkan meja. Karena Leona dan Jordan masih ada di sana, Daisy dan juga Zion tidak berani untuk pergi. Mereka memandang kedua orang tuanya yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ma, ada yang ingin mama sampaikan?" tanya Daisy. Wanita itu sudah tidak mau berlama-lama di meja makan. Tetapi dia juga tidak mungkin meninggalkan kedua orang tuanya di meja makan. Daisy yakin, Kakaknya Zion sebentar lagi juga pasti akan pergi menemui pasukan Gold Dragon.
"Daisy, apa kau bisa menemani mama ke mall?"
Permintaan Leona membuat Zion dan juga Jordan kaget. Mereka tidak menyangka kalau Leona akan mengatakan kalimat seperti itu. Ini sungguh di luar prediksi. Walau sebenarnya memang tidak salah membahagiakan diri sendiri seperti apa yang dipikirkan Leona. Namun, tetap saja rasanya ada yang janggal.
"Baik, Ma. Daisy akan temani mama. Apa mama mau ke salon untuk perawatan atau spa? Sepertinya mama memang perlu merawat diri karena beban yang mama pikirkan membuat kepala mama terasa pusing," jawab Daisy setuju.
Zion memijat dahinya. Bukan dia tidak setuju. Tetapi mereka sedang di incar musuh. Opa Zen tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya Opa Lukas yang bisa di handalkan Zion kali ini. Itu juga Opa Lukas sedang sibuk melindungi The Filast dan juga Livy.
Pergi keluar rumah tanpa pengawasan yang ketat, sama saja bunuh diri. Walau tidak terlihat, tetapi setiap kali Leona atau siapapun itu keluar rumah, pasti Zion akan mengirim sniper handalnya untuk melindunginya. Namun kali ini masalahnya. Semua sniper akan di ajak Zion untuk bertarung melawan Mr. A. Zion tidak bisa mengurangi jumlah pasukannya karena dia tidak tahu ada berapa banyak pasukan Mr. A yang nantinya akan mereka hadapi.
"Papa temani ya," pinta Jordan. Pria itu tahu apa yang dipikirkan Zion. Dia juga tidak mau merepotkan anaknya. Jordan yakin, meskipun usianya sudah 50an, tetapi dia masih bisa bertarung dan melindungi Leona dari bahaya. "Daisy tetap di rumah saja ya. Biar papa yang temani mama."
__ADS_1
"Gak, mama maunya sama Daisy," tolak Leona.
Daisy mengukir senyuman. "Iya, Ma. Daisy akan temani mama. Tetapi, papa pasti bosan jika menunggu di rumah sendirian. Kita ajak papa ya?" Daisy berusaha membujuk Leona agar mengizinkan Jordan untuk ikut.
"Papa lebih baik membantu Zion. Mama tidak mau anak mama sampai celaka. Biasanya mama bisa duduk dengan tenang di rumah setiap kali ada GrandNa dan juga Opa Zen. Tapi kali ini, Mama tidak tahu apa yang mama rasakan."
"Jangan, Ma. Sebaiknya papa tetap di rumah. Atau paling tidak temani mama. Zion gak mau ajak papa. Bukan Zion tidak percaya dengan kemampuan papa. Tetapi, sudah saatnya papa istirahat. Jauhi pertarungan seperti ini," tolak Zion dengan eskpresi yang serius.
"Kau yakin bisa? Kau belum tahu seperti apa kejamnya dunia mafia nak. Apa lagi ini kita harus menghadapi keluarga kita sendiri. Orang yang pernah berdiri di antara kita. Mr. A sudah tahu kelemahan kita. Tetapi kita tidak tahu kelemahan dia." Leona meningginya nada bicaranya berharap Zion mau mengerti.
"Zion, mama harap kau mengerti dengan kekhawatiran mama. Norah masih belum pulang. Mama tidak bisa melepaskanmu nak. Mama takut. Sangat takut."
"Norah di sini ma."
Semua orang yang ada di meja makan tertuju pada suara Norah yang tiba-tiba terdengar. Mereka memandang ke arah mini bar yang menjadi jalan masuk ke meja makan. Leona segera berdiri melihat putrinya muncul dalam keadaan sehat.
__ADS_1
"Leona sayang...."
Zion dan yang lainnya juga berdiri. Namun, dari semua orang yang ada di sana, yang terlihat tidak senang melihat kepulangan Norah adalah Zion. Pria itu memandang pria yang berdiri di samping adiknya dengan tatapan jijik sebelum mendengus kesal.
"Berani sekali kau membawa pembunuh ini ke rumah kita!" ujar Zion dengan nada tidak suka.
Norah mempererat genggamannya di tangan Austin. Dia tidak mau sampai pria itu pergi.
"Norah, kemari sayang," bujuk Leona. Dia membuka kedua tangannya berharap putrinya mau memeluknya.
Austin segera melepas tangan Norah. "Pergilah. Aku akan tetap di sini."
Mendengar perkataan Austin membuat Norah menangis. wanita itu menghapus air matanya sebelum berlari untuk memeluk ibu kandungnya.
"Mama."
__ADS_1