
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga. Justru Norah dan Austin orang yang terakhir tiba di sana. Pertama kali Norah bertemu dengan Daisy, Dia segera memeluk wanita itu karena rindu. Dia wanita itu mengalihkan perhatian semua orang. Kakak beradik itu memang sangat dekat. Wajar sekali kalau di antara mereka tidak ada rahasia lagi. Saling terbuka agar bisa memberi solusi.
Jarang-jarang mereka berpisah hingga selama ini. Biasanya, setiap kali Daisy ingin pergi, Norah selalu ikut. Entah itu sebagai penjaga atau sebagai kakaknya. Yang penting Norah dan Zion selalu ikut kemanapun adiknya melangkah. Ini pertama kalinya Daisy pergi tanpa mereka. Mereka juga tidak akan mungkin melepas Daisy jika tidak ada Opa Zen di samping Daisy.
"Kangen kangen kangen," ucap Norah sambil memeluk erat adiknya. "Kau terlihat bahagia sekali," sindir Norah. Dia tahu adiknya pasti sekarang sedang berbunga-bunga karena sudah bertemu dengan Foster.
"Aku juga. Aku juga sangat merindukan kakak. Apakah kakak tahu. Kakak selalu hadir dalam mimpiku. Karena aku terlalu rindu," gombal Daisy agar Norah senang.
"Aku yakin selama berada di Ukraina kau tidak mengingatku," bisik Norah hingga membuat Daisy melebarkan kedua matanya. Dia tidak mau sampai Norah mengatakan yang sebenarnya terjadi di sana. Selain Zion, kedua orang tuanya juga tidak tahu. Ini akan jadi masalah besar jika Norah sampai keceplosan.
"Mana oleh-olehku? Jangan bilang kau lupa." Norah melirik beberapa paper bag yang tergeletak di atas karpet. Ada banyak sekali dan Norah tidak tahu, yang mana untuknya.
"Tidak akan. Aku sudah membeli oleh-oleh yang banyak untuk kakak." Dengan penuh percaya diri Daisy mengambil paper bag yang diinginkan oleh Norah. Setelah memberi kepada Norah, Daisy juga membagi oleh-oleh itu kepala kedua orang tuanya, Zion, Livy, Abio dan juga Austin. Semua dapat bagian. Bahkan kedua orang tua Livy juga. Daisy merasa puas dengan hasil kerja bawahan Opa Zen. Jika tidak ada pria itu, malam ini akan terasa sangat sulit untuk melaluinya.
"Apa ini?" Norah mengeluarkan setelan berwarna pink yang ia temukan di dalam paper bag. Walau dia seorang wanita tetap saja dia tidak suka warna pink.
"Apa kau yang membeli semua barang ini?" tanya Norah mulai ragu.
Daisy mengangkat dagunya dan melirik Opa Zen. Bukan membantu, justru pria itu memalingkan wajahnya. Dia tidak mau bertanggung jawab. Sebatas ini dia bisa membantu cucunya. Sisanya tergantung usaha yang dilakukan oleh Daisy.
"Ini bajuku. Aku mencarinya ke mana-mana. Padahal ingin aku pakai saat pulang," ujar Daisy dengan ekspresi wajah yang serius. Hingga akhirnya membuat Norah tidak curiga lagi.
__ADS_1
"Jaket?" Norah melebarkan kedua matanya. Jaket hitam itu adalah jaket impiannya. Kali ini dia tidak mau membahas masalah baju warna pink lagi. Wanita itu terlalu bahagia karena mendapat oleh-oleh sebuah jaket.
Zion dan yang lainnya juga segera membuka paper bag yang mereka terima. Mereka semua penasaran, sebenarnya apa oleh-oleh yang sudah di persiapkan oleh Daisy.
Melihat semua orang terlihat bahagia membuat Daisy merasa jauh lebih lega. Tiba-tiba ponsel Livy berdering. Wanita itu segera beranjak dari sofa dan mengangkat panggilan masuknya.
"Ya, Esme. Ada apa?"
Daisy terlihat sedih. Sebenarnya dia masih ingin berteman dekat dengan Esme seperti dulu lagi. Namun kejadian waktu itu membuatnya trauma dan sulit untuk percaya lagi dengan Esme. Bahkan mau bicara dengan Esme saja rasanya sudah canggung.
"Sayang, terima kasih." Leona memamerkan syal yang dia dapat dari dalam paper bag. "Ini warna kesukaan mama. Kau memang selalu tahu selera mama."
"Lalu, bagaimana dengan ini? Apa yang kau pikirkan sebelum membeli barang ini untukku?" Zion memamerkan dasi yang ia temukan di dalam paper bag. Dia tidak suka pakai dasi. Bagaimana mungkin Daisy bisa kepikiran untuk memberinya sebuah dasi? Lebih bagus juga sebuah jaket seperti Norah.
"Aku membeli dasi agar kakak segera mendapatkan pacar. Kakak harus menggunakan dasi itu di makan malam pertama kakak dengan pacar kakak," jawab Daisy santai. Untuk menjawab pertanyaan Zion, dia tidak akan mungkin sampai hilang ide.
Zion menaikan satu alisnya. Dia menyimpan dasi itu lagi. Entah kapan dia akan memiliki kekasih. Yang pasti, dia memang akan mengenakan dasi itu di kencan pertamanya nanti.
Semua orang terlihat sibuk dengan oleh-oleh yang dibawakan oleh Daisy. Tidak dengan Jordan. Pria itu memandang Zeroun dengan wajah sedih. Padahal ayah kandungnya terlihat baik-baik saja. Tetapi, Entah kenapa Jordan merasa sedih.
Mendengar kabar kalau Zeroun ingin membawa putrinya jalan-jalan, Jordan merasa senang saat itu. Dia bahkan mendukungnya. Jordan berharap perjalanan liburan ini bisa membuat Zeroun kembali bangkit dan bahagia. Dia sebagai anak, tidak tahu lagi harus bagaimana. Jordan berharap anak-anaknya bisa membuat Zeroun bangkit dan ceria seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Ma, aku kangen sama kamarku. Aku ke kamar ya? Aku mau mandi dan tidur," ucap Daisy. Sebenarnya dia tidak kangen dengan kamarnya. Tetapi dia merindukan Foster. Sejak tadi Daisy belum memiliki kesempatan untuk menghubungi kekasihnya yang ada di Ukraina.
"Ya, sayang. Kau butuh banyak istirahat," jawab Leona dengan senyuman.
Norah memandang Daisy dengan kedua mata menyipit. Dia tahu apa yang ingin dilakukan oleh adiknya. Tetapi dia juga tidak mau sampai yang lain mengetahuinya.
"Livy, Norah. Kemarin mama dan Tante Katterine sempat membicarakan sesuatu. Kalian akan bertunangan. Ini hanya rencana kami berdua saja. Kalian boleh setuju atau tidak. Bagaimana kalau pernikahan kalian dilangsungkan di waktu yang sama dan tempat yang sama. Kita memiliki pulau pribadi. Pulau keluarga Edritz Chen. Kita akan buat pesta pernikahan di sana. Semua tamu undangan akan di jemput secara khusus dengan menggunakan kapal. Mama rasa untuk pernikahan ini, penjaganya akan sangat ketat. Tapi kembali lagi pada kalian. Kalian yang akan menikah. Selalu orang tua, kami hanya bisa membantu sebisa kami."
"Abio setuju. Pulau keluarga Edritz bukan main indahnya. Jika pesta pernikahan berlangsung di sana, maka akan jadi pesta pernikahan paling berkesan," sahut Abio.
"Kalau aku terserah Norah saja. Apapun yang dia suka, Aku juga suka," sahut Austin.
Tinggal Norah dan Livy. Bukan menjawab justru mereka saling memandang dengan tatapan tidak terbaca. Walau mereka sepupu, selama kebersamaan mereka, mereka lebih banyak ributnya. Kali ini saja mereka masih pikir-pikir untuk melangsungkan pernikahan di tempat dan waktu yang bersamaan.
"Jangan jawab sekarang. Kalian juga sama-sama belum menentukan tanggal pernikahan kan?" ucap Norah.
Livy menunduk. "Benar, Tante. Nanti Livy kabari lagi."
"Setelah pesta pertunangan kita akan kumpul lagi, Ma," ucap Norah memberi solusi.
Zion hanya senyum-senyum saja melihat Livy dan Norah. Dia tahu bagaimana kelakuan dua wanita itu. Bisa dibilang mereka seperti kucing dan tikus jika sudah bertemu.
__ADS_1