
Zion baru saja tiba di markas Gold Dragon. Pria itu ingin membawa Faith masuk ke dalam rumah dan memastikan kondisi wanita itu baik-baik saja sebelum ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Namun belum juga turun dari mobil ponsel pria itu sudah kembali berdering. Dia memandang Faith sejenak sebelum mengambil ponselnya dari dalam saku. Pria itu bahkan belum membuka pintu mobil dan tidak mengizinkan Faith turun sebelum ia selesai menelepon. Panggilan telepon itu dari Daisy. Zion merasa tidak perlu menjauh dari Faith ketika ia sedang bicara dengan Daisy.
"Aku bisa masuk sendiri ke dalam," ucap Faith. Namun dijawab dengan lambaian tangan oleh Zion. Hal itu membuat Faith kembali diam. Wanita itu memilih untuk mengalihkan pandangannya dan pura-pura tidak menguping pembicaraan Zion ketika menelepon.
"Halo, Daisy. Apa kau sudah sampai di rumah sakit?"
"Ya, aku sudah sampai di rumah sakit," jawab Daisy dengan suara seperti orang menangis. Jelas saja hal itu membuat Zion khawatir.
"Ada apa Daisy? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau menangis? Cepat katakan padaku." Wajah Zion sudah terlihat khawatir. Jika sampai Daisy menangis, itu berarti ada sesuatu yang terjadi.
"Kak Norah. Kak Norah terkena ledakan bom dan sekarang dia ada di ruang operasi," jawab Daisy dengan suara terbata-bata.
"Norah terkena ledakan bom? Bagaimana bisa?Bukankah dia juga akan segera pulang bersama dengan Austin," ujar Zion dengan wajah yang begitu panik.
"Ceritanya panjang Kak. Cepat Kakak ke rumah sakit. Aku butuh kakak. Aku tidak tahu harus bagaimana sekarang," lirih Daisy dengan suara yang semakin serak.
"Baiklah. Aku akan ke rumah sakit sekarang juga. Tunggu aku di sana dan jangan pergi kemanapun. Tetap berada di sisi Opa atau Mama. Kakak gak mau kau celaka." Zion benar-benar memperingati Daisy.
"Baik, Kak."
Zion segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Dia benar-benar syok ketika mendengar Norah terkena ledakan bom. Padahal tadinya dia sama sekali tidak meragukan keselamatan Norah. Bersama dengan Austin mereka berdua pasti bisa menghadapi musuh sekuat apapun. Tetapi kini justru kabar buruk yang ia dengar.
__ADS_1
Faith yang juga mendengar obrolan Zion dan juga Daisy hanya bisa menahan air mata yang hampir menetes. Wanita itu benar-benar frustasi mendengar orang-orang yang baru saja ia kenal celaka karena dirinya. Lagi-lagi Faith menyalakan dirinya sendiri.
"Aku sudah bilang. Pulangkan saja aku ke Las Vegas. Keadaan akan semakin memburuk jika aku terus berada di sisi kalian. Dominic tidak pernah main-main dengan ucapannya. Apa pentingnya aku di mata kalian hingga kalian mempertahankanku sampai seperti ini?'
"Di mataku bukan di mata kalian," sahut Zion cepat. "Aku tahu keluargaku pasti tidak suka denganmu atau menyalahkanmu atas semua masalah ini. Tetapi aku tidak peduli. Yang aku tahu kau tetap berada di sisiku. Aku ingin melihatmu baik-baik saja," jawab Zion tanpa mau di bantah lagi.
"Tapi kenapa?" teriak Faith di dalam mobil.
"Karena aku-" Zion menahan kalimatnya. Pria itu tidak mungkin mengatakan apa yang ia rasakan sekarang juga. Masih ada perasaan gengsi di dalam hatinya. Dia tidak mau mengatakan perasaannya terhadap Faith. Justru pria itu ingin Faith sendiri yang mengatakan kalau wanita itu mencintainya. Meskipun Zion sendiri tidak tahu kapan waktu itu akan datang,
"Karena apa? Cepat katakan, Tuan. Jangan buat saya bingung," paksa Faith dengan wajah penasaran.
"Kau ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian di markas. Meskipun ada pasukan Gold Dragon yang menjaga tetapi itu tidak bisa menjamin keselamatanmu. Jika kau ikut denganku di rumah sakit setidaknya aku bisa melihatmu baik-baik saja. Aku akan memikirkan tempat istirahat yang nyaman untukmu nanti."
Melihat tatapan kekhawatiran di wajah Faith membuat Zion menjadi tidak tega. Hingga akhirnya pria itu setuju dengan keputusan yang diambil oleh Faith.
"Baiklah. Ayo kita masuk ke dalam." Zion segera membuka kunci mobil lalu turun dari sana. Begitu juga dengan Faith. Mereka sama-sama masuk ke dalam markas Gold Dragon dan melangkah dengan begitu cepat. Pasukan Gold Dragon yang berjaga di pintu masuk memberi hormat kepada Zion.
"Masuklah," perintah Zion kepada Faith. Sedangkan pria itu masih berdiri di sana untuk memberi perintah kepada bawahannya. Faith hanya menjawab dengan anggukan saja sebelum melangkah kembali masuk. Zion memandang bawahannya lagi ketika Faith sudah benar-benar jauh dari posisi mereka berada.
"Berapa orang yang berjaga di rumah sakit dan berapa orang yang tersisa di markas?" tanya Zion kepada penjaga tersebut.
__ADS_1
"Markas ada 20 orang dan sisanya ke rumah sakit semua Bos. Bos Zeroun dan bos Lukas yang memberi perintah. Tadinya lebih banyak di markas namun baru saja mereka menelepon dan meminta penjagaan di sana dijaga lebih ketat lagi. Mobil Nona Norah hampir saja di bom, bos. Jika saja Nona Daisy tidak melihatnya mungkin bos Norah dan bos Austin sudah meledak di dalam mobil tersebut."
Zion mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar geram dengan musuh yang ia hadapi saat ini. Baru hitungan jam pria itu sudah buat strategi baru. Bahkan Zion dan yang lainnya belum saja sempat menyusun strategi balasan sampai detik ini. Mereka semua masih fokus dengan keadaan Livy dan Abio di rumah sakit.
"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Austin dengan wajah yang begitu serius.
Pria itu menunduk hormat. "Anda bisa mempercayai apapun kepada saya. Saya janji tidak akan mengecewakan Anda Bos."
"Tolong jaga Faith. Pastikan dia tidak kabur dari tempat ini dan pastikan dia baik-baik saja di dalam sana. Aku akan kembali ke sini besok pagi. Tapi jika aku sampai tidak kembali tolong tetap jaga dia dan perhatikan makanan yang akan ia konsumsi. Jika markas diserang bawa Faith ke tempat persembunyian yang sudah pernah kita buat. Lalu segera hubungi aku agar aku bisa tahu. Sekarang aku tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi. Jika pasukan Gold Dragon yang aku miliki sampai berkhianat, aku akan benar-benar membubarkan geng mafia ini." Ekspresi Zion terlihat sangat serius.
Pria itu menunduk dengan hormat. "Anda bisa mempercayakan Nona Faith kepada saya. Saya akan menjaga Nona Faith dengan satu-satunya nyawa yang saya miliki, Bos."
Zion memandang ke dalam lagi. Tadinya pria itu ingin berbicara satu atau dua kata kepada Faith. Namun sekarang waktu yang ia miliki sangat sedikit. Dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan Norah. Dengan cepat Zion berlari menuju ke arah mobil dan masuk ke dalam mobil. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam kamar Faith menangis sejadi-jadinya. Dia merasa sangat bersalah hingga tidak bisa bersikap sewajarnya. Bayang-bayang wajah Norah dan canda wanita itu mengiang di kepalanya. Faith tidak mau sampai Norah celaka.
"Ini semua karena aku. Aku yang sudah menyebabkan kekacauan di dalam keluarga Tuan Zion. Kalau saja saat itu aku tidak muncul maka semua ini tidak akan terjadi," ucapnya sambil menyalahkan diri.
Faith memandang telepon yang tergeletak di atas nakas. Wanita itu memandang keadaan sekitar dengan begitu waspada. Dia melangkah perlahan menuju ke nakas tersebut.
"Aku akan hubungi Dominic sekarang. Aku akan bilang padanya kalau aku ingin pulang ke Las Vegas. Ini yang terbaik sebelum jatuh korban lagi," gumamnya di dalam hati.
__ADS_1
Tindakan yang sekarang ingin diambil oleh Faith benar-benar beresiko. Jika dia sampai berhasil menyambungkan nomor telepon yang ada di markas ke nomor telepon yang ada di Las Vegas. Itu sama saja ia mempermudah Dominic untuk melacak keberadaannya saat ini. Faith menghapus air mata yang tersisa di pipinya sebelum mengangkat telepon itu dan menekan nomor Dominic satu persatu. "Maafkan aku, Tuan Zion. Anda pria yang sangat baik. Karena kebaikan anda yang begitu banyak saya tidak mampu membalasnya satu persatu. Setidaknya dengan cara ini saya bisa mengurangi beban yang anda miliki," gumam Faith di dalam hati.