Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 142


__ADS_3

"Jangan terlalu diperhatikan kak. Nanti kakak bisa melihat yang seharusnya tidak kakak lihat," ledek Norah. "Warna merah dan sangat mengerikan."


Livy memandang Norah dan menyipitkan matanya. "Bisakah kau jalan tanpa bicara?"


Norah melangkah lebih dulu. "Tidak!" ketusnya.


Faith sendiri sudah kesulitan untuk melangkah. Kini dipikirannya telah dipenuhi wajah hantu yang begitu menyeramkan. Memang mereka kini harus melewati lorong panjang yang gelap.


Bagi Norah dan Livy biasa saja karena mereka sudah sering keluar masuk lorong itu. Tapi tidak dengan Faith. Ini pertama kalinya dia melewati tempat segelap itu. Jika di tanya kembali, wanita itu ingin berkata kalau dia mau ke ruangan tadi saja daripada harus ikut bersama Norah dan juga Livy.


"Faith, semua akan baik-baik saja. Norah memang seperti itu. Di sini tidak ada hantu," ucap Livy berusaha untuk menenangkan Faith yang saat itu sudah pucat ketakutan.


"Aaarrhh!" teriak Norah.


"Ada apa?" Faith segera memeluk Livy karena ketakutan. Hal itu membuat Norah tertawa semakin kuat. Dia geli melihat Faith memeluk Livy seperti itu. "Maafkan aku kak. Tolong jangan katakan semua ini sama kak Zion," ucap Norah.


Livy menatap Norah dengan tatapan penuh arti. "Aku akan katakan semua ini sama Kak Zion. Bahkan aku akan menambahinya!" ancam Livy.


"Aku mau ke tempat tadi saja. Sepertinya aku ingin pipis," ucap Faith dengan tubuh gemetar ketakutan.


"Kak, maafkan aku." Norah mendekat. "Ayo kita jalan. Di sini tidak ada apa-apa. Aku hanya bercanda. Jika kakak ingin pipis, di sana ada toilet."


Memandang Norah yang kelihatannya serius membuat Faith percaya. Wanita itu mau melangkah lagi mengikuti dua wanita yang bersama dengannya.


Di tempat latihan, Zion menahan gerakannya ketika ingin memukul samsak tinju yang ada di depannya. Suara teriakan yang begitu berisik mengalihkan perhatiannya.


"Kak Zion!" teriak Norah. Wanita itu muncul lebih dulu daripada Livy dan Faith.


"Kenapa lama sekali?" protes Zion. Sepertinya pria itu sudah haus sekali.


"Maaf," ujar Norah pelan.


Zion menahan kalimatnya ketika melihat Faith muncul di sana. Pria itu terus saja memandang Faith yang kini berjalan mendekatinya bersama dengan Norah dan Livy. Austin dan Abio yang saat itu sedang latihan menembak juga menahan gerakan mereka. Mereka ingin istirahat sebelum lanjut latihan.


"Kak Zion, sekarang kakak sudah gak sendirian lagi. Jadi kami tidak perlu merasa segan ketika berduaan," ledek Livy. Wanita itu memandang Abio yang kini tersenyum padanya.


Wajah Faith memerah mendengarnya. Padahal jelas-jelas di antara dia dan Zion tidak ada hubungan yang spesial. Norah memberikan sebotol air mineral kepada Faith. "Berikan ini kepada Kak Zion, Kak," bisik Norah. Tanpa menunggu jawaban dari Faith, wanita itu segera mendekati Austin.


Faith memandang air mineral yang ada di genggamannya sebelum memandang Zion. Dia melangkah dengan ragu-ragu. Zion duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya. Dia memandang Norah dan Livy sejenak sebelum memandang Faith.


"Apa itu untukku?" Zion memandang botol minum yang ada di genggaman Faith.

__ADS_1


Faith mengangguk pelan. Dia segera memberikannya kepada Zion. Wanita itu duduk di samping Zion. Lagi-lagi kepalanya tidak bisa berhenti berputar untuk memeriksa lokasi latihan tersebut. Tidak ada jendela di sana. Namun lokasinya tetap nyaman. Tidak panas tidak juga terlalu dingin. Alat olahraga sangat lengkap di sana. Faith akan menjadikan tempat itu sebagai tempat favoritnya karena memang dia suka sekali olahraga.


"Apa yang kau lihat?"


"Apa tempat ini buka setiap saat?"


Zion mengeryitkan dahinya. "Maksudnya?"


"Apa besok pagi aku boleh ke sini?"


Zion diam sejenak. Dia sama sekali tidak keberatan jika Faith ingin datang ke tempat itu besok pagi. Tetapi jika Faith sampai masuk ke ruangan lain bisa gawat. Faith akan berpikir yang aneh-aneh. Sampai sekarang Zion dan Gold Dragon belum juga membereskan musuh-musuhnya yang mereka sekap di ruang penyiksaan. Semua masih terikat di dalam sana.


"Untuk sementara waktu sebaiknya jangan. Tapi jika bersamaku kau boleh ke sini kapanpun. Aku tidak mau kau sendirian di tempat sunyi seperti ini," jawab Zion. Hanya itu alasan yang ia pikirkan saat ini.


Faith terlihat kecewa. Padahal dia ingin sekali olahraga besok pagi. "Mereka juga saudaramu?"


"Livy?" tanya Zion.


"Ya. Dan yang lainnya. Aku hanya kenal dengan Norah lalu tunangannya yang bernama ...."


"Austin. Pria di samping Livy bernama Abio. Aku memiliki adik bernama Daisy. Dia adik Norah juga."


"Kalian tiga bersaudara?"


"Aku anak tunggal. Mungkin kalau aku memiliki saudara aku tidak semenderita ini." Faith mengukir senyum terpaksa menelan rasa sakit di hatinya. Dia ingin berteriak karena marah sama takdir. Namun dia menekan semuanya di dalam hati.


"Kau termasuk wanita yang beruntung. Di luar sana ada banyak sekali wanita seusiamu yang hidupnya sangat menderita. Aku bisa bicara seperti ini karena aku pernah melihatnya langsung."


"Ya, kau benar. Aku termasuk beruntung." Faith memandang Zion. "Tuan, ada yang ingin saya ketahui. Tapi, anda janji jangan marah."


"Hemm," jawab Zion malas.


"Tuan, apa anda memiliki pacar? Kenapa anda selalu ada di sisi saya? Apa anda tidak memiliki pekerjaan?"


Zion sebenarnya ingin marah. Tetapi dia sudah janji untuk tidak marah. "Aku tidak memiliki pacar. Aku memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Hidupku sangat bebas," jawabnya tanpa memandang.


Faith diam sejenak. Sepertinya ia sedang memikirkan pertanyaan yang ingin ia katakan kepada Zion. "Tuan, saya ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi saat kita pertama kali bertemu."


"Maksudmu 10 tahun yang lalu?"


"Benar. Maafkan saya karena tidak mengingat anda. Bahkan saya tidak tahu kalau anda telah menolong nyawa saya waktu itu. Saya hanya ingat kalau ada seorang pria yang muncul dan menarik saya. Membuat saya jatuh." Faith tertawa kecil ketika membayangkan kejadian itu. "Bahkan saya sempat berpikir, anda ini pria yang lancang sekali. Belum minta maaf sudah pergi."

__ADS_1


"Apa yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah mengejar saya? Apa mereka melukaimu?"


Faith menggeleng kepalanya pelan. "Saya hanya ingat kalau mereka berlari ke arah jurang. Waktu itu saya takut sekali jadi memutuskan untuk lari bersembunyi bersama yang lain."


"Kak, kami pergi dulu ya. Nanti kalau kakak perlu bantuan, kakak telepon aku ya?" teriak Livy dari kejauhan.


Zion mengangguk. Dia memandang Norah yang sepertinya bersiap-siap ingin pergi juga. Sebenarnya mereka semua bukan memiliki kesibukan lain. Mereka hanya ingin Zion dan Faith lebih dekat lagi agar mereka bisa pacaran.


"Kak, aku mau pulang. Aku mau istirahat," ujar Norah.


"Katakan kepada mama kalau aku malam ini tidak pulang," jawabnya.


"Baik, Bos!" Norah memandang Faith. "Kak Faith, hati-hati ya kalau mau lewat. Biasanya semakin sore-"


"Norah!" teriak Livy.


Norah tertawa lagi. Wanita itu merangkul lengan Austin dan segera pergi bersama Livy dan Abio. Zion yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya diam saja memandang wajah Faith yang terlihat gelisah.


"Kenapa harus membangun rumah bawah tanah seperti ini? Apa tidak pernah kebanjiran?"


"Banjir?" Zion menaikan satu alisnya. Bisa-bisanya Faith kepikiran banjir.


"Bukankah air hujan turun ke bawah?"


"Tempat ini di desain sesempurna mungkin. Tidak akan kebanjiran. Ruangan bawah tanah ini kedap suara. Tidak sembarang orang bisa kabur dari sini."


"Maksudnya yang masuk tidak akan pernah pergi?"


"Ya." Zion memandang Faith. "Yang masuk ke sini tidak bisa pergi tanpa izin dariku!"


"Termasuk aku?" Faith menunjuk dirinya sendiri.


"Selain kau," jawab Zion. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain lalu meneguk air minum di botol yang masih tersisa.


"Tuan, apa anda akan menemani saya malam ini?"


Zion memandang Faith. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"


"Tadi anda bilang kalau anda tidak pulang malam ini," sahut Faith.


"Maksudku, aku memiliki pekerjaan di luar jadi tidak bisa pulang," dusta Zion. Dia tidak mungkin ngaku kalau tidak pulang karena ingin dekat-dekat Faith.

__ADS_1


"Sayang sekali. Padahal tadi aku ingin mengajak anda makan malam," sahut Faith.


"Tapi sepertinya pekerjaannya bisa di tundah besok," jawab Zion. Dia meneguk minumannya lagi sampai habis. Sedangkan Faith hanya tersenyum saja dengan wajah malu-malu.


__ADS_2