
Norah ingin kabur. Namun, Austin lebih dulu memegang tangannya. Dia tahu kalau ada yang datang. Pria itu segera kembali menemui Norah ketika mendengar suara speed boot.
“Austin, mereka tahu kita di sini,” ujar Norah panik. Dia tidak bisa bertarung karena kakinya masih sakit. Wanita itu juga tidak mau tertangkap lagi.
“Mereka tidak tahu kalau kita ada di pulau ini. Mereka hanya ingin memeriksa pulau ini. Kita harus bersembunyi Norah. Ayo kita harus segera pergi sebelum mereka mendekat dan menyadari keberadaan kita.” Austin menggedong Norah agar mereka bisa kabur lebih cepat. Kali ini Norah tidak banyak bicara. Dia segera mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Austin. Pegangannya begitu erat hingga membuat Austin ingin tertawa geli melihatnya.
“Kau takut jatuh?” ledeknya sambil tersenyum.
“Bukan waktunya bercanda. Aku tidak mau tertangkap lagi,” sahut Norah dengan nada galak ciri khasnya. Wanita itu melonggarkan pegangannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu tertangkap lagi Norah! Aku rela mempertaruhkan nyawaku untuk melindungimu dari mereka,” sahut Austin dengan santainya. Dia mempercepat langkah kakinya agar bisa segera masuk ke tengah hutan. “Pegangan yang kuat Norah! Kita akan berlari.”
Norah yang terlihat ragu kini lagi-lagi memeluk leher Austin dengan erat. Dia bahkan tidak segan-segan lagi menyembunyikan wajahnya di depan dada bidang pria tangguh tersebut.
Segerombolan pria itu memperhatikan hutan dengan saksama. Rasanya untuk melangkah masuk ke dalam hutan mereka malas sekali. Selain ukuran pulau itu yang lumayan luas, langit juga sudah mulai gelap. Awan mendung terlihat dimana-mana. Mereka tidak mau terkebak hujan ketika berada di tengah laut. Namun, sudah sejauh ini pencarian mereka tetapi belum juga menemukan keberadaan Austin dan Norah. Mereka bisa dihukum oleh Mr. A jika sampai gagal menemukan Austin dan Norah.
“Pulau ini memang paling dekat dengan Vila. Tetapi, aku tidak yakin mereka ada di pulau ini. Kabar terakhir yang aku dengar, pengunjung yang datang segera pergi setelah mereka membangun tenda. Ada seekor beruang di dalam hutan ini. Kalaupun mereka ada di pulau ini, seharusnya mereka sudah tewas dicabik-cabik beruang,” ujar salah satu pria yang saat ini masih berdiri di pinggir pantai.
__ADS_1
“Kau benar. Ayo kita cari ke pulau lain saja. Sudah pasti mereka tidak ada di pulau ini.” Mereka semua memutuskan untuk segera kembali ke kapal dan pergi meninggalkan pulau tersebut. Bahkan sebelum melakukan pemeriksaan. Mereka semua juga tidak mau sampai celaka.
Austin yang baru setengah kilometer berlari kini lagi-lagi berhenti setelah mendengar suara kapal itu bergerak pergi. Dia memutar tubuhnya ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.
"Kau dengar itu? Apa mereka pergi?" tanya Austin kepada Norah.
"Aku tidak tahu. Semoga saja mereka benar-benar pergi." Norah melirik tangan Austin yang kini ada di bawah kakinya. "Bisakah kau turuni aku? Aku bisa jalan sendiri."
"Kau yakin?" tanya Austin dengan tatapan penuh arti. Hal itu membuat Norah mengeryitkan dahi dengan wajah bingung.
"Kenapa?"
"Sekarang kita harus bagaimana, Austin?" Kali ini Norah menyerah. Hewan buas yang ada di hadapannya bisa memanjat dan juga bisa berlari dengan sangat cepat. Mau kemana mereka kabur? Sedangkan posisi kaki Norah seperti ini. Senjata juga tidak ada. Mereka hanya akan menjadi santapan beruang kali ini.
"Norah, jangan bergerak." Austin menurunkan Norah secara perlahan. "Kita harus pastikan kalau kita tidak mengancam keberadaannya. Dengan begitu dia tidak akan menyerang kita."
"Darimana kau tahu?" bisik Norah.
__ADS_1
"Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan beruang. Bedanya sekarang aku bertemu dengan beruang ketika aku bersama dengan seorang wanita cantik." Walau keadaan begitu menegangkan tetapi dia masih bisa untuk menggoda Norah. Bahkan tidak lupa memberikan kedipan mata untuk melengkapi gombalannya saat itu.
Norah melangkah ke belakang Austin. Dia ingin berlindung. Dia tidak memiliki pengalaman untuk menang dari hewan buas.
Beruang itu berjalan mendekati Norah dan Austin. Langkahnya memang sangat pelan. Tetapi berhasil membuat debaran jantung Norah menjadi tidak karuan.
"Austin, dia semakin dekat," bisik Norah ketika Austin tidak bicara satu katapun.
Austin menggenggam berlatihnya dengan erat. Ia mengamati berubah terus dengan saksama. Rasanya Austin sudah tidak sabar menyerang duluan. Namun, dia juga tidak tahu apa berjuang itu sendirian atau ada temannya lagi.
Ketika beruang semakin dekat dan ingin menghirup aroma tubuh Austin. Di detik itu dia mulai melakukan penyerangan. Dia meninju hidup beruang dengan sekuat tenaga sebelum menusukkan belatih tersebut.
Beruang itu tidak mau kalah. Dia ingin mencakar wajah Austin. Tetapi belatih itu lebih dulu mendarat di tubuhnya. Austin berhasil mencabik-cabik beruang tersebut.
Norah melangkah mundur dengan wajah khawatir. Dia tidak mau sampai Austin celaka. "Austin, kau pasti bisa. Kau harus bisa mengalahkan beruang itu," teriak Norah.
Austin tersenyum mendengarnya. Pria itu mendapat kekuatan tambahan dan kembali menyerang beruang untuk memastikan beruang itu tidak bernyawa lagi.
__ADS_1
"Ini sangat mudah. Karena satu-satunya orang yang sulit untuk ditaklukkan adalah dirimu Norah."