Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 174


__ADS_3

Zion menembak satu persatu serigala yang ingin menyerangnya. Sama dengan apa yang dilakukan oleh Dominic. Namun bedanya, Dominic harus lari sejauh mungkin agar tidak terkena ledakan mobil. Satu-satunya kendaraan yang dimiliki Dominic kini telah hancur. Pria itu telah terjebak di dalam rencananya sendiri. Sekarang ia tidak memiliki pilihan lain selain melawan Zion agar bisa selamat.


"Sial! Ternyata tidak mudah menjebaknya," umpat Dominic di dalam hati. Ia berhenti lalu memandang ke arah Zion.


Dengan kaki yang terluka, Zion Masih sanggup melawan satu persatu serigala yang ingin menyerangnya. Pria itu memegang dua senjata untuk mengalahkan serigala yang ingin menerkamnya. Sesekali pria itu memandang ke arah Dominic yang juga masih bertarung dengan serigala. Ada senyum puas di bibir Zion.


Setelah semua serigala mati, tiba-tiba beberapa pria berbadan kekar dengan rantai di tangan mereka muncul. Dominic terlihat senang karena melihat pasukan yang tidak ia sangka-sangka muncul di sana. Padahal sebenarnya pria itu belum memberi perintah apapun.


"Tunggu apa lagi. Cepat serang pria itu dan kalahkan dia!" teriak Dominic dari posisinya berdiri.


Zion masih tetap tenang menghadapi pasukan yang ingin menyerangnya meskipun kini dia dalam keadaan terluka. Dia merasa sangat yakin kalau bala bantuan pasti akan segera datang.


Salah satu dari pria itu melayangkan senjatanya ke arah Zion. Rantai yang ia pegang dilayangkan ke arah kaki Zion hingga membuat Zion terpaksa untuk berlutut. Pria itu mengepal kuat tangannya untuk menekan rasa sakit yang begitu luar biasa yang kini ia rasakan. Sebagai seorang pria dan pemimpin geng mafia Zion masih terlihat kuat. Pria itu memaksa kedua kakinya untuk kembali berdiri. Senjata api yang ia miliki telah kehabisan peluru karena menembak serigala yang tadi ingin menyerangnya. Kali ini Zion benar-benar harus mengandalkan kemampuan yang ia miliki.


"Aku yakin kali ini pria itu tidak akan menang melawan anggotaku," ucap Dominic dengan penuh percaya diri. Dia sudah sangat-sangat dendam melihat Zion. Rasanya pria itu ingin segera melihat Zion tewas.


Dua pria berbadan kekar melangkah maju dan menghajar Zion. Sebenarnya Zion juga sudah melakukan perlawanan dengan menendang pria tersebut. Namun sepertinya pukulan yang diberikan Zion tidak ada apa-apanya. Sedikitpun pria itu tidak merasa sakit. Sedangkan Zion sudah kehabisan banyak tenaga karena sebelumnya Ia juga telah bertarung melawan Dominic.


Dengan mudahnya dua pria berbadan kekar itu memegang tangan Zion. Masing-masing dari mereka memegang satu tangan Zion dan mengarahkan Zion ke arah Dominic.


"Bos, kita apakan pria ini?" tanya salah satu pria. Mereka merasa sangat yakin kalau kesempatan Zion untuk hidup sudah berakhir.


Dominic melangkah maju. Pria itu sudah tidak sabar untuk menghajar Zion dengan tangannya sendiri.


"Aku sudah bilang kalau kau tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganku. Sekarang masalah ini bukan lagi karena seorang wanita tetapi karena dendam. Kalau saja kau tidak pernah mengusik ketenanganku maka aku tidak akan pernah mungkin melakukan perbuatan sekejam ini kepadamu?" tanya Dominic kepada Zion.


"Kau begitu pengecut. Beraninya keroyokan! Aku tidak akan mengusikmu jika kau tidak mengusik keluargaku terlebih dahulu. Jika kau tidak suka padaku, kau bisa mencelakaiku. Tidak perlu orang-orang yang ada di dekatku terlihat." "Bagaimana kalau posisiku ada padamu. Apa kau akan diam saja jika wanita yang kau cintai direbut oleh pria lain. Sebagai pria pasti kau berusaha untuk memperjuangkannya. Sama seperti yang aku lakukan sekarang." Dominic berusaha membela diri dan melempar semua kesalahan kepada Zion.

__ADS_1


"Tapi cara yang kau lakukan salah. Wanita yang kau cintai juga tidak mencintaimu bahkan ingin menghindarimu. Kau terlalu berambisi untuk memilikinya hingga membenarkan segala cara. Sebenarnya di antara kita berdua kaulah yang terlebih dulu mengusik keluargaku. Tanpa kau sadari kau telah membuat orang-orang terdekatku masuk ke rumah sakit dan celaka. Aku tidak bisa memaafkan perbuatanmu. Aku akan tetap melawanmu sampai titik darah penghabisan." Zion mengerahkan seluruh kemampuannya untuk melepas paksa tangan yang ada di genggaman pria kekar itu. Satu hal yang begitu luar biasa terjadi. Tangan Zion terlepas dan dengan mudahnya Zion menusukkan belati yang tidak lain adalah senjata terakhir yang ia miliki ke perut pria berbadan kekar itu secara berganti-gantian. Tusukannya bukan tusuk yang biasa. Belatinya ia tarik hingga perut itu bisa terkoyak lebar. Dominic masih diam pada posisinya berdiri meskipun ia sendiri merasa ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Zion.


Ketika dua pria kekar yang sempat menahannya tergeletak karena tidak berdaya, Zion telah siap untuk melawan pria kekar lainnya. Tersisa tiga orang dan Zion merasa yakin kalau dia pasti bisa mengalahkannya. Zion membuka baju yang ia kenakan lalu mengikat paha yang sejak tadi mengeluarkan darah karena terkena tembakan. Setidaknya kain itu bisa menekan luka agar tidak terus mengeluarkan darah. Setelahnya Zion melawan tiga pria yang tersisa tanpa mempedulikan keberadaan Dominic di sana. Dia merasa sangat yakin kalau Dominic tidak akan pergi kemana-mana lagi karena pria itu tidak memiliki alat transpor untuk kabur.


Dominic sempat terheran-heran melihat kemampuan Zion. Kemampuannya sungguh luar biasa. Di luar perkiraan Dominic. Meskipun sudah sempat dalam keadaan sekarat tetapi Zion masih sanggup untuk melawan musuhnya. Secara tidak langsung kini Dominic mengagumi kemampuan yang dimiliki Zion. Namun sayangnya mereka tidak akan pernah bisa menjadi teman. Dominic tetap pada tekad awalnya yang tidak lain adalah menghabisi nyawa Zion.


Ketika Zion sedang serius melawan pasukan yang tersisa, Dominic justru mengangkat senjata apinya dan mengarahkannya ke arah Zion. Ini waktu yang tepat untuknya membunuh Zion. Tidak ada lagi yang bisa membela Zion di sana. Sebelum pria itu menang, Dominic harus segera menembaknya.


DUARRR


Satu tembakan yang dilayangkan oleh Dominic ternyata meleset. Di detik sebelum peluru itu mengenai tubuhnya, Zion sempat menghindar hingga peluru itu terkena oleh pasukan Dominic sendiri. Meskipun tidak terkena bagian vital, tapi luka tembakan itu sangat membantu Zion untuk mengalahkannya.


"Aku akan membunuhmu, Zion!" umpat Dominic sebelum menembak lagi.


Dominic kembali mengeluarkan tembakan. Tidak hanya sekali bahkan berulang kali. Namun tidak ada satu tembakan pun yang berhasil mengenai tubuh Zion. Dominic memang memiliki kemampuan menembak yang hebat. Namun, dalam keadaan emosi pria itu tidak lagi handal menggunakan senjata api.


Zion menghindar dengan begitu lihai hingga peluru sekecil itu tidak berhasil menyentuh kulitnya.


Pria itu mengambil sesuatu dari dalam jas. Bibirnya tersenyum melihat senjata terakhir yang kini ia miliki. Meskipun hanya bom kecil, tetapi memiliki daya ledak yang mematikan. Jika berdiri di dekat ledakan tersebut pasti akan tewas. Bentuk bomnya sangat kecil seperti bola pingpong. Bahkan jika orang yang tidak ahli dalam bidangnya mungkin tidak akan tahu kalau benda berbentuk bola itu adalah sebuah bom.


"Kali ini aku pasti akan menang dan kau akan kalah Zion Zein," ujar Dominic sambil memainkan bom yang ada di tangannya. Prinsip kerja bom itu akan segera meledak jika menyentuh tanah. Dominic benar-benar memperhitungkan ledakan bom tersebut dengan posisi Zion berada. Jika sampai gagal maka habislah sudah senjata yang ia miliki untuk mengalahkan Zion.


"Apalagi sekarang? Kenapa senjata yang ia miliki tidak ada habisnya," umpat Zion di dalam hati sambil memperhatikan bom yang ada di tangan Dominic. Pria itu membutuhkan senjata api untuk menembak tangan Dominic. Namun ia tidak lagi menemukan senjata api di sana karena musuh yang ia lawan menggunakan senjata rantai.


Tiba-tiba Zion mengambil batu yang ada di dekat kakinya. Sebelum melempar batu itu ke arah tangan Dominic, ia kembali memukul pria yang sejak tadi belum berhasil ia kalahkan.


Ketika Dominic ingin melemparkan bom itu ke arah Zion di detik itu Zion segera melempar batu yang sudah ada di genggaman tangannya. Lemparan Zion memang tidak pernah meleset. Kali ini ia berhasil membuat bom yang ada di tangan Dominic lepas.

__ADS_1


"****!" Dominic terlihat panik bukan main karena tidak lama lagi bom itu akan segera meledak. Sedangkan Zion tertawa geli melihatnya. Dominic berlari sekencang mungkin untuk menjauhi bom tersebut. Terlihat jelas kalau pria itu tidak mau sampai mati.


"Senjata makan Tuan," ujar Zion dengan penuh kemenangan.


Karena mengkhawatirkan keadaan Dominic pria yang berbadan kekar tadi melihat Dominic yang kini sedang berlari. Detik itu Zion memanfaatkan keadaan. Dia segera merebut rantai yang ada di genggaman tangan pria itu dan menggunakannya sebagai senjata. Zion melilitkan rantai itu di leher pria berbadan kekar itu lalu mencekiknya. Setelah berhasil mengalahkan semua orang yang tadi ingin membunuhnya kini Zion memandang ke arah Dominic yang tidak terlalu jauh dari lokasi ledakan. Pria itu juga segera melangkah mundur agar tidak terkena ledakan.


DHOMMMM


Dominic segera tiarap ketika mendengar ledakan yang tidak jauh dari belakangnya. Berbeda dengan Zion yang tetap berdiri sambil menyaksikan apa yang terjadi di depannya. Seperti apa yang tadi dipikirkan oleh Zion kalau bom itu tidak memiliki daya ledak yang luar biasa. Dominic yang masih tiarap segera dihampiri oleh Zion.


Kali ini Zion tidak ada ampun lagi. Pria itu segera menarik Domimic lalu menghajar pria itu habis-habisan.


"Ampun!" lirih Dominic pada akhirnya.


"Ampun kau bilang?" tanya Zion balik. "Perkataan pria sepertimu tidak bisa dipercaya. Bisa saja lima detik lagi kau datangkan bala bantuan untuk membunuhku," sang Zion.


"Aku kalah. Aku mengaku kalah. Tolong lepaskan aku," lirih Dominic. Pria itu juga sudah kehabisan tenaga dan kehabisan banyak darah. Ia tidak sanggup lagi untuk bicara banyak. Ketika Zion melepas Dominic pria itu hanya terduduk di atas tanah sambil menundukkan kepalanya. Meskipun geram tapi pria itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena pada kenyataannya memang kini ia telah kalah.


"Sebenarnya aku datang ke sini bukan untuk membunuhmu tapi aku ingin memperingatimu. Lain kali jika kau ingin mengusik keluargaku berpikirlah dua kali. Sebelum pergi ada satu kalimat yang ingin aku sampaikan kepadamu. Setelah tiba di Cambridge aku akan menemui Faith dan meminta Faith untuk memilih diantara kita berdua. Jika dia memilihmu, aku akan membiarkannya kembali ke Las Vegas. Tapi jika ia tetap ingin bersamaku, Aku harap kau bisa menerima kekalahanmu dan tidak lagi mengusik ketenangan kami."


Dominic tertawa sambil menggeleng kepalanya. "Ambil saja wanita itu. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Karena dia hidupku hancur. Aku sangat menyesal karena sudah mengenalnya." Dominic memandang wajah Zion dengan wajah yang sudah babak belur. "Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah memiliki masalah. Aku akan melupakan semua kesalahan yang sudah kau perbuat. Aku harap kau juga bisa seperti itu. Masa depanku masih panjang. Aku tidak mau masalah ini naik ke permukaan dan membuat nama baikku menjadi hancur. Kali ini kau bisa pegang kata-kataku."


Sebenarnya sulit bagi Zion untuk mempercayai perkataan Dominic. Mengingat pria itu sangat licik. Namun Zion sendiri tahu kalau Dominic tidak memiliki kemampuan untuk melawannya lagi. Pria itu benar-benar sudah kalah.


"Baiklah. Setidaknya malam ini aku pergi meninggalkan Las Vegas dalam keadaan menang. Terima kasih atas arena permainannya. Aku sangat puas," ujar Zion sebelum memutar tubuhnya dan pergi.


Selama melangkah menuju ke mobil pria itu tetap waspada. Dia takut jika tiba-tiba Dominic memiliki senjata rahasia lagi dan bisa mencelakainya. Namun sampai tiba di dekat mobilpun Dominic tidak melakukan hal apapun. Pria itu masih terdiam pada posisinya sekarang.

__ADS_1


Kini Zion sudah berada di dekat mobil. Pria itu memutar tubuhnya lalu memandang Dominic untuk yang terakhir kalinya. Zion sendiri juga tidak menyangka kalau bisa memiliki kemampuan sehebat itu untuk mengalahkan orang hebat yang dipilih Dominic untuk mengalahkannya. Tanpa menunggu lama lagi Zion segera masuk ke mobil untuk memeriksa Austin dan yang lainnya.


Ketika mobil Zion melaju dengan cepat meninggalkan arena itu, Dominic segera mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang. "Semua sudah berakhir. Biarkan mereka pergi." Dominic menjatuhkan ponselnya lagi lalu menunduk. Meskipun hatinya sulit untuk melupakan Faith begitu saja, tetapi ia berusaha untuk melupakan Faith selama-lamanya. Pria itu tidak mau masalah yang sama kembali terulang lagi. Permusuhannya dengan Zion akan ia akhiri sampai di sini.


__ADS_2