Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 140


__ADS_3

Faith dan Zion baru saja tiba di markas Gold Dragon. Zion tidak mau membawa wanita itu ke rumah yang selama ini ditempati oleh Faith. Dia takut jika tiba-tiba saja anak buah Dominic menyerang dan membawa Faith pergi dari sana. Zion mau Faith mendapat penjagaan yang ketat. Tidak boleh ada yang boleh membawa wanita itu pergi dari sisinya.


"Tempat apa ini?" tanya Faith dengan wajah bingung. Dia bahkan ragu untuk menurunkan kakinya keluar dari mobil.


"Ini adalah tempat yang aman. Kau tidak perlu takut. Semua orang yang ada di sini akan menjagamu dengan baik. Mereka juga akan menuruti apa yang kau perintahkan. Memang lokasinya tidak sebagus rumahnya selama ini kau tempati. Tetapi percayalah, kau akan merasa nyaman tidur di dalamnya." Zion keluar duluan. Pria itu mengitari depan mobil lalu membukakan pintu mobil. Faith memandang Zion sejenak sebelum menurunkan kakinya. Karena kepalanya masih terasa pusing, mau tidak mau Faith harus rela di rangkul oleh Zion.


"Hati-hati," ucap Zion. Faith melangkah perlahan sambil sesekali memperhatikan lokasi yang akan ia jadikan tempat tinggal itu.


"Selamat siang, Bos." Beberapa pria berwajah sangar menunduk hormat ketika melihat Zion. Senjata api dan senjata tajam yang mereka genggam membuat Faith merinding. Mereka semua justru terlihat lebih menakutkan daripada anak buah Dominic. Sejenak Faith merasa kalau dirinya akan terjebak lagi di lubang yang sama. Zion akan mengurungnya dan tidak akan membiarkannya bebas seperti apa yang dilakukan oleh Dominic selama ini.


"Sebelum masuk ke dalam, Aku ingin bertanya sesuatu." Faith menahan langkah kakinya. Ia bahkan melepas tangannya Zion yang sejak tadi merangkul pinggangnya.


Zion memandang anak buahnya yang ada di dekat sana. Mereka semua segera pergi dan memberi waktu kepada Zion dan juga Faith untuk bicara berdua. Setelah mereka semua menjauh, Zion memandang wajah Faith lagi.


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Apa kau juga akan mengurungku seperti yang dilakukan oleh Dominic selama ini? Kau tidak mengizinkanku untuk pergi ke tempat yang aku sukai."


"Kenapa kau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Apa seburuk itu aku di matamu. Sampai-sampai kau menyamaiku dengan pria lain." Zion terlihat kesal minat Faith. Walaupun begitu, dia tetap sabar.


"Aku tidak menyamakanmu dengan pria lain. Hanya saja apa yang kau lakukan sama dengan apa yang dia lakukan terhadapku selama ini. Dia juga mengurungku dan menjagaku dengan begitu ketat agar aku tidak kabur. Sampai-sampai aku merasa seperti hidup di sebuah penjara." Faith masih berusaha untuk membela diri. Dia juga tidak mau sampai Zion salah paham.


"Aku melakukan semua ini agar mereka tidak bisa membawamu pergi lagi. Tapi jika kau tidak suka aku tidak akan melarangmu lagi." Zion menunjuk pintu keluar. "Jika kau sudah tidak percaya denganku lagi. Pergilah dari sini. Aku tidak akan menghalangimu. Aku juga tidak akan peduli dengan keadaanmu lagi. Mau ditangkap atau tidak oleh pria itu sekarang bukan lagi menjadi urusanku." Zion segera masuk ke dalam tanpa mau menunggu Faith lagi. Pria itu ternyata sakit hati ketika Faith menyama-nyamainya dengan Dominic.


Faith masih berdiri diam di sana dengan wajah bingung. Sebenarnya posisi Faith saat ini memang sangat tidak enak. Ia tahu kalau Zion adalah pria yang pernah menolongnya dulu. Tetapi waktu itu mereka juga tidak sempat akrab bahkan tidak saling kenal. Sampai detik ini Faith juga tidak tahu apa tujuan Zion menolongnya. Berbeda dengan Dominic. Faith Sudah jelas-jelas tahu apa tujuan pria itu mengurungnya. Pria itu ingin memilikinya dan menjadikannya kekasih.

__ADS_1


"Sepertinya aku sudah menyinggung perasaan Tuan Zion. Lebih baik aku masuk saja ke dalam. Aku juga tidak mau sampai tertangkap oleh anak buah Dominic lagi." Faith memutar tubuhnya dan berjalan menuju ke arah yang dituju oleh Zion. Pasukan Gold Dragon yang sempat mendengar perdebatan antara Faith dan Zion hanya saling memandang sebelum tersenyum kecil. Mereka tidak menyangka kalau Big Boss mereka bisa merajuk juga.


...***...


Zion menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada di ruangan luas yang biasa dijadikan tempat oleh Zion dan juga Norah berdiskusi. Pria itu mengangkat kakinya ke atas meja. Dia memijat-mijat kepalanya yang terasa pusing. Meskipun matanya terpejam, tetapi pikiran pria itu dipenuhi oleh Faith.


"Kemana dia? Apa dia benar-benar pergi?" gumam Zion di dalam hati. Pria itu membuka matanya ingin memeriksa Faith. Namun, ketika dia mendengar suara sepatu wanita mendekat, Zion lagi-lagi memejamkan matanya dan berakting seperti sedang tidur.


Faith yang baru saja tiba di sana hanya bisa berdiri diam sambil memandang Zion. Jangankan bertanya kemana dia harus istirahat. Mau meminta maaf saja rasanya dia tidak berani. Faith tidak mau menunggu Zion. Dia tahu pria itu sangat kelelahan karena pertarungan tadi.


Faith memperhatikan ruangan itu dengan saksama. Tidak ada yang spesial di sana. Ruangan serba hitam itu memang sangat misterius. Ada banyak sekali pintu yang mengelilingi. Faith sendiri tidak mau pergi kemanapun karena takut tersesat. Wanita itu memutuskan untuk duduk di salah satu sofa yang ada sambil menunggu sampai Zion bangun.


"Kenapa mataku ngantuk sekali," gumam Faith di dalam hati. Dia menyandarkan punggungnya. Masih membuka mata dan memandang wajah Zion. Lama kelamaan matanya mulai mengantuk. Wanita itu memejamkan matanya dan tidur sambil duduk.


Zion menahan langkah kakinya sejenak ketika melihat lorong ke arah ruang bawah tanah. Di sana ada banyak sekali darah dan baunya juga tidak enak. Zion kepikiran akan ria itu. Dia tidak mau ketika Faith tinggal di sana, wanita itu sampai mengetahui ruang penyiksaan yang ada di ruang bawah tanah. Wanita itu bisa ketakutan dan tidak mau bertemu dengannya lagi.


"Bos, ada yang bisa saya bantu?" Salah satu penjaga di sana mendekati Zion ketika Zion berdiri di sana tanpa melakukan apapun.


"Pastikan penjagaan di sini ketat. Aku tidak mau sampai Faith masuk ke dalam ruang bawah tanah."


"Baik, Bos," jawab pria itu. Zion segera mengambil selimut dari dalam lemari. Dia menggenggam selimut warna cokelat itu sebelum meletakkannya di atas tubuh Faith. Pria itu pergi meninggalkan Faith karena tidak mau mengganggunya tidur. Zion juga masih memiliki banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan secepatnya.


"Kak Zion!"


Zion menahan langkah kakinya mendengar suara Norah. Dia melihat Norah, Austin, Livy dan juga Abio di sana. Pria itu segera meletakkan satu jarinya di depan bibir sebelum mendekati Norah dan membawa mereka semua keluar dari markas.

__ADS_1


"Kenapa kak? Kenapa kami di suruh keluar? Dimana Kak Faith?" Karena sofa yang ditiduri Faith ukurannya sangat besar. Sampai-sampai Norah tidak bisa mengetahui kalau Faith tidur di sana.


"Dia tidur. Kenapa kau bisa ada di sini? Apa yang ingin kalian lakukan?" Zion memandang Livy. "Kalian kenapa juga bisa ada di sini?"


"Kami ingin membantu Kak Zion," jawab Norah. "Kak Livy dan The Filast juga akan membantu kita."


"Apa yang akan kita lakukan?" Zion melangkah maju menjauhi mereka semua. "Dia saja tidak pernah memikirkan perasaanku."


"Kak Faith?" Norah mendekati Zion. "Maksud kakak. Kak Faith gak cinta sama kakak?"


"Sepertinya begitu. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya di tolak oleh wanita yang kita sukai," jawab Zion. Perkataan Zion membuat Livy menunduk. Namun, wanita itu bukan senang. Dia juga sedih ketika tahu cinta Zion tidak terbalas.


"Kak, jangan seperti itu. Kakak juga harus berjuang. Untuk saat ini kita kesampingkan saja dulu soal perasaan kakak. Kita fokus menghadapi Dominic saja ya?"


Zion mengangguk dia memandang Austin lagi. "Apa kau tidak keberatan jika Norah membantuku?"


Austin memandang Norah sejenak sebelum memandang Zion lagi. "Kita saudara. Sudah sepantasnya kita saling membantu."


Norah mengukir senyum mendengar jawaban Austin. Andai saja pria itu mengatakan apa yang dia katakan di rumah sakit tadi. Bisa-bisanya hubungannya dengan Zion menjadi renggang.


"Oke, sekarang kita mulai dari Dominic. Aku sudah mengirim orang untuk menyelidikinya. Memang tidak banyak informasi yang bisa kita dapat. Dia seorang pengusaha. Pastinya untuk menghadapi orang seperti dia kita tidak hanya butuh tenaga. Tetapi yang dan juga kecerdasan," ujar Livy.


"Jika bersatu kita pasti akan menang," sahut Abio. Zion mengangguk pelan.


"Terima kasih."

__ADS_1


__ADS_2