Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 124


__ADS_3

Ukraina


Foster baru saja selesai mandi. Pria itu mengambil kaos dan celana jeans yang ada di dalam lemari. Di dalam lemari kayu yang sudah tua itu hanya tersimpan beberapa setel baju saja. Foster tersenyum melihat keadaannya yang sekarang. Sebenarnya bisa saja dia menjual jam tangan atau ponsel yang sekarang dia miliki untuk bertahan hidup. Tapi Foster lebih memilih untuk hidup seperti sekarang. Seperti ini yang diinginkan oleh orang tuanya. Dengan begini, orang tuanya tidak banyak menuntut lagi. Foster muak jika setiap hari dia harus bertemu dengan mata-mata yang dikirimkan orang tuanya.


Setelah memakai baju, Foster menyisir rambutnya di depan cermin. Tidak lupa Ia memakai hoodie warna hitam favoritnya. Baru ini dia memakai pakaian yang sama hingga berulang kali sampai sebulan penuh. Walau terlihat sangat miskin tetapi Foster sangat menikmati hidupnya. Dia bisa merasakan kebahagiaan ketika bernyanyi dan bertemu dengan banyak orang. Setidaknya dia bisa melupakan sedikit kerinduannya terhadap Daisy.


Foster berjalan ke sudut lemari tempat gitarnya digantung. Dia berdiri di depan gitarnya dengan kedua tangan di dalam saku hoodie. Mengukir senyum di bibirnya sebelum berkata.


"Hay, Daisy. Apa kabar? Apakah kau sudah makan? Kau pasti baru saja selesai mandi. Rambutnya terlihat setengah basah." Foster tertawa geli membayangkan dirinya yang hampir gila karena terlalu merindu. "Ayo kita bekerja. Kita harus cari uang untuk beli makan hari ini. Daisy, kau harus bekerja sama denganku. Jangan rewel."


Foster membawa gitarnya dan pergi menuju ke kota. Dia bahkan tidak khawatir meninggalkan rumahnya yang dalam keadaan tidak terkunci. Karena memang tidak ada barang berharga di dalamnya.


"Daisy, senyummu indah sekali Seindah matahari pagi ini," puji Foster. Dia mengecup gitarnya sebelum melangkah lagi. Karena sudah cinta mati sama Daisy, sampai-sampai di gitar itu tertulis nama Daisy dan juga ada foto Daisy.


"Foster, selamat pagi. Apa kau ingin pergi bekerja?" teriak salah satu tetangga yang ada di sana.


"Aku hanya sedang bersenang-senang. Jika bekerja penampilanku tidak akan seperti ini," jawab Foster sambil tertawa.


"Semoga beruntung anak muda!" teriak pria tua itu lagi sambil tertawa meledek memandang Foster.


Beberapa orang yang sering bertemu dengan Foster tidak pernah menyangka kalau ternyata Foster adalah sah satu keturunan keluarga Mattew. Mereka berpikir kalau Foster hanya seorang pria brandal yang tidak memiliki pekerjaan.


Foster memperhatikan keadaan sekitar. Siang itu memang langit sangat cerah dan hembusan angin tidak terlalu kencang. Hari ini adalah hari yang cocok untuk mengamen. Semua orang yang berlalu lalang untuk beraktivitas pagi menjadi target Foster. Walau hanya mendapat uang dalam bentuk koin, tapi itu sangat berharga bagi Foster.


Foster berdiri di depan gedung Universitas yang menjulang tinggi. Foster berdiri dan mengamati keadaan sekitar. Mahasiswi yang berlalu lalang membuat Foster mantap untuk mengamen di sana. Selain menjual suara, dia juga menjual ketampanan yang ia miliki. Pria itu berdoa sebelum memainkan gitarnya.


Suara Foster memang bagus. Nadanya juga sangat pas dengan irama gitar yang kini dia mainkan. Beberapa orang yang berlalu lalang memutuskan untuk berhenti dan mendengarkan lagu yang di bawa Foster selesai. Mayoritasnya wanita. Wajah tampan Foster menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka.


Di sisi lain. Daisy dan Zeroun juga berada di lokasi yang sama dengan tempat Foster mengamen. Zeroun sengaja mengajak Daisy jalan-jalan pagi untuk menikmati matahari. Sambil berjalan sesekali mereka terlihat bercanda. Daisy merangkul lengan Zeroun dengan mesra. Beberapa orang berpikir kalau Daisy dan Zeroun adalah sepasang kekasih. Walau sebagian besar juga berpikir kalau hubungan mereka hanya sebatas kakek dan cucunya.


"Tempat ini sangat indah. Apa lagi jika dikunjungi pada saat pagi hari," puji Daisy sambil melihat keadaan sekitar.


"Kau suka dengan tempat ini?" Zeroun melirik Daisy sekilas sebelum memandang ke depan lagi.


"Aku suka. Tapi aku tidak akan lama di sini. Aku harus memenangkan taruhan antara kita, Opa. Jadi, Opa jangan coba-coba untuk merayuku agar bertahan di tempat ini. Nanti siang aku akan memaksa Opa untuk pergi meninggalkan tempat ini," ucap Daisy dengan penuh keyakinan.


"Baiklah," jawab Zeroun tanpa banyak protes.

__ADS_1


"Opa, lihatlah ke sana. Apakah gedung tinggi itu gedung Universitas?" tanya Daisy sambil menunjuk gedung yang menjulang tinggi yang ada di hadapannya.


"Sepertinya itu memang gedung Universitas," jawab Zeroun dengan sedikit keraguan.


"Orang-orang di sini terlihat cantik-cantik ya Opa. Penampilan mereka juga sangat modern. Berbeda jauh dengan Universitas Yale."


"Bukankah Universitas Yale di huni oleh anak-anak konglomerat. Seharusnya Universitas Yale jauh lebih maju daripada universitas yang ada di sini," protes Zeroun kurang setuju.


"Dari segi penampilan memang benar. Dari segi pertemanan, sepertinya jauh lebih baik universitas yang ada di Ukraina ini. Opa bisa lihat di sana. Beberapa wanita bergerombol seperti sedang membicarakan sesuatu. Mereka seperti tidak memiliki batasan antara satu sama yang lain. Di dekat sana juga ada beberapa orang lagi yang bergerombol. Kelihatan sekali kalau mereka saling menyayangi satu sama lain. Bukan saling menyaingi satu sama lain."


"Benarkah?" Zeroun lagi-lagi tidak fokus. Dia mencari pria yang sejak tadi ingin dia temui. Namun, entah dimana pria itu berada. Padahal dari informasi yang di dapat oleh Zeroun, pria yang ia cari seharusnya ada di sana. Di dekat mereka.


Daisy memandang ke arah lain lagi. Wanita itu merasa tertarik melihat segerombolan wanita yang kini mengelilingi sesuatu. "Apa yang mereka lakukan di sana. Apa ada sebuah pertunjukan?" tanya Daisy penasaran.


"Ayo kita periksa agar kau tidak penasaran. Bukankah sebentar lagi kau akan pindah tempat?" Zeroun menarik Daisy dan membawanya mendekati kerumunan di depan sana.


Tanpa menolak Daisy juga ikut melangkah menuju ke kerumunan tersebut. Anak-anak muda yang ada di sana terlihat bernyanyi dengan gembira. Mereka menyanyikan lagu yang memang akhir-akhir ini sedang viral. Daisy putus asa ketika melihat kerumunan yang begitu padat. Tadinya dia ingin sekali melihat langsung apa yang terjadi di depan sana. Namun berdesak-desakan bukan salah satu hobinya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mundur.


"Tidak jadi?" tanya Zeroun dengan alis saling bertaut.


Tanpa sepengetahuan Daisy, Zeroun memberu kode kepada anak buahnya yang sejak tadi berlalu larang sambil menyamar. Dengan mudahnya orang-orang yang bergerombol itu memberi jalan untuk Daisy. Awalnya Daisy sempat kaget. Namun kedua matanya menyipit sambil memandang ke arah Zeroun setelah itu. "Apa Opa yang membuat mereka menyingkir?"


"Opa tidak melakukan apapun," sangkal Zeroun.


"Opa selalu berkuasa di manapun Opa berada. Opa adalah Opa terbaik yang aku miliki," ucap Daisy dengan bibir tersenyum.


"Cepat lihat apa yang ada di sana."


Tanpa pikir panjang Daisy maju ke depan.


Foster yang baru saja selesai menyanyikan sebuah lagu kini mendapat tepuk tangan yang begitu meriah. Jumlah uang yang ia dapatkan dari mengamen pagi ini sudah lebih dari cukup. Foster memutuskan untuk pulang. Semua orang yang tadinya berkerumun mulai kembali melakukan aktivitas masing-masing. Hingga akhirnya hanya Daisy yang tersisa di sana. Wanita itu berdiri dengan tatapan tidak percaya.


Tanpa sengaja Foster memandang ke depan dan menemukan Daisy ada di hadapannya. Pria itu tersenyum meledek dirinya sendiri. Bukan hanya sekali tapi sudah berulang kali ia melihat bayangan Daisy berdiri di hadapannya. Kali ini Foster tidak mau terlihat seperti orang gila lagi. Dia mengutip uang-uang yang ada di bawah dan memasukkannya ke dalam kantong. Pria itu memandang gitarnya dan lagi-lagi mengajaknya mengobrol.


"Daisy Sayang ... hari ini kita dapat uang banyak. Sepertinya untuk tiga hari ke depan kita tidak perlu mengamen lagi."


Daisy masih diam di tempatnya berdiri. Dia tidak bicara sepatah katapun.

__ADS_1


Sebelum melangkah pergi Foster memandang ke arah Daisy lagi. Mereka saling memandang satu sama lain namun dengan pemikiran yang berbeda. Foster masih menganggap Daisy itu hanya bayangan. Sedangkan Daisy seperti ingin menangis terisak-isak melihat mantan pacarnya kini menjadi pengamen dan terlihat tidak terawat.


"Kak Foster ...."


Buliran air mata jatuh menetes karena sudah tidak tertahankan lagi. Daisy mengepal kuat tangannya berusaha untuk menekan kesedihan yang ingin meledak. Kakinya masih terpaku di sana. Daisy tidak tahu harus berbuat apa sekarang.


Detik itu Foster sadar kalau wanita yang berdiri di depannya benar-benar Daisy. Bukan sekedar bayangan seperti yang selama ini ia temukan.


Foster memandang ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang jahat di dekat mereka berdua. Setelah memastikan Kalau tidak ada anak buah orang tuanya yang sedang memata-matai, Foster kembali memandang wajah Daisy dan tersenyum.


"Hai ... apa kabar?"


Daisy segera berlari dan memeluk Foster sambil menangis. Pelukannya sangat erat hingga membuat Foster juga menangis. Sebelum memeluk Daisy, Foster melihat wajah Zeroun yang berdiri tidak jauh dari posisi mereka berada. Pria itu tersenyum memandang Foster. Foster merasa gembira sebelum membalas pelukan Daisy. Dia memeluk wanita yang ia cintai dengan begitu erat dan penuh cinta. Menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan selama sebulan terakhir ini.


"Apa yang terjadi? Kenapa seperti ini?" lirih Daisy di sela isak tangisnya yang begitu memilukan. Dia memandang wajah Foster dan memukul-mukul pria itu dengan kesal. "Kenapa Kak Foster harus menjadi pengamen? Apa yang terjadi?"


Foster tidak bisa menjawab. Pria itu hanya bisa memeluk Daisy lagi untuk melepaskan kerinduannya. "Aku sangat merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Jangan Pergi. Aku mohon jangan pergi lagi. Maafkan kesalahan yang pernah kuperbuat. Aku ingin kita seperti dulu lagi Daisy."


Tangis Daisy semakin tidak karuan. Wanita itu sulit mengontrol emosinya sendiri. Daisy sangat frustasi melihat keadaan Foster yang sekarang.


"Tadinya aku pikir Kak Foster sudah tidak ingat dengan wajahku lagi. Hatiku teriris perih ketika melihat Kak Foster bicara dengan gitar itu. Sejenak aku pikir Kak Foster sudah menjadi pria gila," lirih Daisy dengan sedih.


"Ya, aku memang gila. Aku gila karena terlalu merindukanmu. Aku menganggap gitar itu adalah dirimu. Kapan saja Aku ingin bercerita aku akan mengajaknya untuk bercerita. Hanya itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa tetap waras," jawab Foster. Dia mengecup pucuk kepala Daisy hingga berulang kali.


Zeroun berjalan mendekat. "Apa kita bisa pergi dari sini? Semua orang melihat di kalian berdua. Kalian sudah seperti tontonan."


"Opa, apakah sebelumnya Opa sudah tahu kalau Kak Foster ada di Ukraina?" tanya Daisy penasaran.


Zeroun hanya tersenyum saja.


"Opa, jawab!"


"Itu tidak penting. Yang penting sekarang kau bahagia. Akhir-akhir ini Opa lihat kau tidak lagi menjadi dirimu sendiri. Kau tersenyum dan tertawa hanya demi orang lain bahagia. Bukan karena kau benar-benar bahagia. Opa merindukan senyummu. Apapun akan Opa lakukan agar senyum itu bisa kembali lagi."


Foster menggenggam tangan Daisy dengan begitu erat. Dia tidak mau terpisah lagi. "Opa, terima kasih karena sudah membawa Daisy ke sini. Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Daisy lagi. Dengan keadaanku yang sekarang Aku tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan Daisy."


Zeroun menepuk pelan pundak Foster. "Kau pria tangguh yang hebat. Aku bangga padamu!"

__ADS_1


__ADS_2