Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 196


__ADS_3

"Maafkan Zion, Ma Karena sudah menyebabkan Mama menjadi sakit seperti ini. Zion menemui Faith karena Zion ingin mendengar penjelasan wanita itu. Zion ingin tahu alasan dia pergi ke Las Vegas menemui Dominic apa. Tidak ada niat sedikitpun di hati Zion untuk melukai hati Mama. Apa lagi sampai mengecewakan mama. Zion sengaja tidak pamit karena Zion tahu jika Zion pamit Mama tidak akan mengijinkan Zion pergi. Hal itu akan membuat Zion semakin berat untuk pergi ke Las Vegas. Sekali lagi Zion mohon maaf. Zion sangat menyayangi mama. Mama harus segera bangun karena Zion tidak mau melihat Mama sakit seperti ini." Zion menundukkan kepalanya sambil memegang tangan Leona. Pria itu terlihat sedih dan menyesal. Jika saja ia tahu kalau ibu kandungnya akan jatuh sakit seperti itu mungkin pria itu akan berpikir dua kali sebelum berangkat ke Las Vegas.


"Kak, Kata dokter Mama baik-baik saja. Mama hanya kelelahan dan banyak pikiran. Sebentar lagi Mama juga akan bangun. Kak Zion tidak perlu merasa bersalah hingga seperti itu. Semua akan baik-baik saja. Mama pasti akan memaafkan Kak Zion," ujar Norah yang juga ada di dalam kamar tersebut. Daisy dan Jordan yang juga ada di kamar itu hanya diam saja tanpa tahu harus berkata apa. Sama halnya dengan Austin. Sebagai anggota keluarga baru pria itu tidak tahu harus memberi solusi yang bagaimana. Dia tahu kalau saat ini posisi kakak iparnya sangat sulit.


"Lalu apa yang kau dapatkan setelah kau bertemu dengan wanita itu?"


Tiba-tiba saja Leona mengeluarkan suara hingga membuat kaget semua orang yang ada di sana. Mereka tidak menyangka kalau sejak tadi ternyata Leona sudah sadar dan bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Zion. Ada rasa senang ada juga rasa khawatir. Zion yang saat itu sudah tertangkap basah memilih untuk kembali menunduk karena tidak berani memandang wajah orang tuanya secara langsung.


"Faith bilang kalau dia juga mencintaiku."


Leona mengukir senyuman tipis. "Sudah mama tebak sejak awal wanita itu pasti ingin mengatakan kalau dia juga mencintaimu. Dia pasti menyesal karena sudah meninggalkanmu dan menemui pria bernama Dominic itu di Las Vegas. Dia baru sadar kalau ternyata kau jauh lebih baik daripada Dominic itu. Ia benar-benar wanita yang tidak berguna. Hanya bikin repot saja. Lalu setelah dia berkata kalau dia juga mencintaimu, bagaimana jawabanmu? Apakah kau langsung luluh dan mau menerima dia sebagai Kekasihmu." Leona sangat ingin tahu sebenarnya apa yang terjadi di sana. Dia ingin putranya menceritakan semuanya secara gamblang. Tidak ada yang ditutup-tutupi lagi.


"Aku memintanya untuk melupakanku, Ma." Pria itu memandang Leona lalu mengusap tangan Leona lagi. "Walaupun Zion sempat bahagia mendengar pernyataan cinta Faith. Tetapi Zion tetap memegang janji Zion, Ma. Zion pernah berjanji sama mama untuk menikah dengan wanita pilihan mama dan berusaha mencintai wanita yang Mama pilihkan untuk Zion. Setelah memutuskan hal itu Zion sudah memantapkan hati Zion untuk tidak mengingat lagi tentang Faith. Zion pergi hanya untuk mendapatkan penjelasan saja. Setidaknya Zion tahu kalau Faith berangkat ke Las Vegas karena ingin menemui kakak kandungnya yaitu Dominic."


"Dominic kakak kandung Faith?" celetuk Austin tidak percaya. Begitu juga Norah dan semua orang yang ada di ruangan itu.


Zion menggangguk pelan. "Dan ternyata mereka saudara satu ayah. Faith berangkat ke Las Vegas juga atas perintah Opa Zen. Faith sudah menjelaskan semuanya. Hanya saja Zion belum sempat menemui Opa Zen karena Zion juga ingin mendengar langsung cerita dari Opa Zen."


Sekarang Leona tidak tahu harus bicara apa karena masalah ini sudah berhubungan dengan mertuanya sendiri. Meskipun awalnya ia sempat membenci Faith dan memandang Faith sebagai wanita yang jahat tetapi setelah mendengar cerita Zion barusan, wanita itu menjadi berpikir dua kali untuk menjelekkan Faith.


"Apa Mama sudah merasa jauh lebih baik? Mama harus segera makan dan minum obat." Zion mengambil nasi yang ada di atas nakas. Dia ingin menyuapi ibu kandungnya agar makan dan cepat minum obat supaya cepat sembuh. Dia tidak mau membahas tentang Faith lagi karena itu hanya akan membuat ibu kandungnya merasa tidak nyaman. Saat ini Zion hanya ingin ibu kandungnya kembali sehat seperti biasa.


"Apa kau masih mencintai Faith?" tanya Leona hati-hati. Wanita itu masih belum mau membuka mulutnya ketika Zion menyendokan makanan yang ada di piring.


"Saat ini aku hanya ingin fokus dengan hidupku saja Ma. Aku tidak mau memikirkan tentang cinta dulu. Meskipun sebenarnya aku juga mencintai Faith tetapi aku tidak mau bersama dengannya lagi. Aku tetap ingin menikah dengan wanita pilihan Mama. Aku rasa itu jauh lebih baik. Aku menyayangi Mama. Aku tidak mau membantah perintah mama."


Leona membuka mulutnya lalu mengunyah makanan yang baru saja dimasukkan oleh Zion. Dia merasa tersentuh mendengar penjelasan putranya. bahkan di saat seperti ini jion masih memikirkan perasaannya. Sebagai seorang ibu Leona merasa kalau dirinya sangat egois karena terlalu memaksakan kehendaknya. Wanita itu memandang Jordan lalu meminta suaminya untuk duduk di sampingnya.


"Zion, Kau pasti capek dan lelah karena baru pulang dari Las Vegas sebaiknya sekarang kau istirahat saja di kamarmu. Biar Papa yang menyuapi Mama."


Zion mengangguk dengan wajah tidak bersemangat. Pria itu berdiri lalu mengecup pucuk kepala ibu kandungnya. "Mama jangan sakit lagi ya. Zion permisi dulu. Nanti Zion akan menemui Mama lagi."

__ADS_1


Leona menggangguk. Wanita itu juga memandang ke arah Norah. Dia tahu kalau pengantin baru itu tidak bisa tidur nyenyak ketika dia jatuh sakit. "Norah, sebaiknya kau juga pergi ke kamar bersama dengan Austin. Mama tahu sejak tadi malam kau ada di sini untuk menemani mama. Mama tidak mau kalian kelelahan dan jatuh sakit. Kalian ini juga pengantin baru. Sebaiknya kalian persiapkan saja diri kalian untuk menyambut bulan madu nanti. Di sini juga sudah ada Papa. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan Mama lagi karena papa akan selalu menjaga mama."


Norah beranjak dari kursi yang ia duduki lalu berjalan mendekati Leona. Wanita itu juga mengecup ibu kandungnya. "Nanti Norah akan kembali lagi, Ma. Sekarang Norah dan Austin istirahat sebentar ya Ma."


"Ya, Sayang. Maafkan Mama karena sudah merepotkanmu dan mengganggu malam pertamamu." Leona mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda putrinya.


"Mama ...." Norah tersipu malu mendengar perkataan ibu kandungnya. Wanita itu melirik Austin sejenak sebelum memandang wajah Leona lagi. "Sebaiknya Mama pikirkan ulang untuk menjodohkan Kak Zion dengan wanita pilihan mama. Bukankah masalah yang sebenarnya sudah jelas kalau Kak Faith pergi bukan karena ingin meninggalkan Kak Zion tetapi ia ingin menemui kakak kandungnya. Tentu saja hal ini tidak bisa dikatakan sebagai sebuah kesalahan."


"Mama tahu apa yang terbaik untuk anak mama. Mama harap kau bisa menghargai keputusan yang nanti akan Mama ambil. Begitu juga dengan Zion."


Norah kembali diam karena wanita itu tidak bisa memaksa ibu kandungnya untuk melakukan hal yang sesuai dengan keinginannya. Setelah berpamitan dengan Jordan dan Daisy, Norah segera merangkul lengan Austin dan membawanya pergi meninggalkan kamar luas tersebut.


Daisy memilih untuk berbaring di atas sofa. Meskipun ibu kandungnya sudah sadar tetapi wanita itu belum mau beranjak dari kamar tersebut. Dia ingin selalu ada di sisi Leona sampai wanita itu dinyatakan benar-benar sehat. Selain itu Daisy juga ingin menguping pembicaraan kedua orang tuanya yang kini menyangkut soal hubungan Zion dan juga Faith.


"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang terasa sakit. Aku sungguh kaget ketika melihatmu jatuh pingsan tadi malam."


"Mungkin aku hanya kelelahan saja. Selama pesta pernikahan Norah aku tidak lagi makan dengan teratur. Ditambah lagi ada banyak sekali masalah yang memenuhi pikiranku. Tapi tenang saja karena sekarang aku sudah merasa jauh lebih baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi karena setelah ini aku bisa beraktivitas seperti biasa."


"I love you, Leona ...."


Leona tersipu malu mendengar perkataan suaminya. "I love you to suamiku."


Daisy menghela napas sambil terpejam. Dia bahagia mendengarnya. "Aku iri sama mama dan papa. Meskipun mereka sudah tua tetapi mereka masih romantis dan saling mencintai," gumamnya di dalam hati.


...***...


Zion tidak benar-benar pergi ke kamar tidurnya Untuk istirahat. Pria itu justru tertarik untuk menemui Opa Zen di kediamannya. Dia sengaja lagi-lagi tidak berpamitan dengan Leona kalau akan berangkat ke rumah Papa Zen. Zion ingin bergerak cepat. Sebelum ibu kandungnya menyadari kalau ia pergi menemui Opa Zen, dia akan segera pulang ke rumah.


Ketika sedang melangkah menuju ke pintu utama tiba-tiba saja dari kejauhan Norah berteriak memanggil Zion. Pria itu menahan langkah kakinya lalu memandang Norah yang kini berjalan mendekatinya. Ia melirik jam di pergelangan tangan sebelum mendengus kesal. Waktu yang ia miliki tidak banyak. Pria itu tidak mau menunda lagi untuk bertemu dengan Opa Zen.


"Kak Zion mau ke mana? Bukankah kamar Kak Zion ada di sana?" tanya Norah. Wanita itu sampai melepas tangan Austin karena ingin bicara dengan kakak kandungnya.

__ADS_1


"Aku ingin pergi ke rumah Opa Zen. Aku ingin mendengar langsung penjelasan dari Opa Zen."


"Bukankah tadi Kakak bilang sama Mama kalau kakak tidak akan mempermasalahkan masalah ini lagi. Kenapa sekarang kakak memutuskan untuk menemui Opa Zen. Jangan bilang kalau kakak ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi. Memangnya apa untungnya bagi Kakak jika Kakak mengetahui yang sebenarnya terjadi? Bukankah kakak sudah memutuskan untuk menikah dengan wanita pilihan mama."


Zion kelihatan kehabisan kata-kata untuk membela diri. Apa yang dikatakan Norah memang benar untuk apa lagi Zion mencari-cari informasi yang berhubungan dengan Faith. Pria itu sendiri juga sudah memutuskan untuk menikah dengan wanita yang dipilihkan oleh ibu kandungnya.


"Kau benar. Untuk apa aku menemui Opa Zen dan membahas soal Faith lagi." Wajah Jion terlihat tidak bersemangat. "Sebaiknya sekarang Aku memikirkan cara untuk melupakannya."


"Kak, aku tahu apa yang kini Kak Zion rasakan. Maafkan aku karena tidak bisa banyak membantu Kak Zion. Tetapi sebagai seorang pria kakak harus bisa mengambil sebuah keputusan. Jika Kak Zion memutuskan untuk menikah dengan Kak Faith, maka perjuangan Kak Faith di depan Mama. Tapi jika Kak Zion sudah menentukan untuk menikah dengan wanita pilihan Mama sebaiknya lupakan Kak Faith. Jangan lagi bertindak seperti sekarang. Perbuatan Kak Zion hanya akan membuat Kak Zion sendiri merasa sakit. Aku tidak mau melihat Kak Zion tidak tenang seperti ini. Kembalilah menjadi Kak Zion seperti yang selama ini aku kenal. Aku yakin Kak Zion tidak akan mungkin kalah hanya karena masalah seorang wanita."


"Norah, aku dengar kau akan bulan madu ke Jepang. Kapan kau akan berangkat?" Tiba-tiba saja Zion mengalihkan pembicaraan. Pria itu lelah juga jika terus-terusan membahas masalah yang berhubungan dengan Faith.


"Aku dan Austin belum menentukan tanggalnya. Karena kami bulan madu di Jepang mungkin kami akan tinggal di rumah GrandNa. Mungkin sesekali kami juga akan tinggal di hotel."


"Maafkan kakak karena menghilang di acara pentingmu semalam. Kakak harap kau tidak marah."


"Tentu saja aku tidak marah. Jika aku marah dengan Kak Zion, sekarang aku tidak akan berdiri di sini dan berbicara dengan Kak Zion. Aku juga sudah menerima hadiah yang Kak Zion titipkan dengan Daisy dan kami berdua sangat menyukainya."


"Sejak dulu memang kau selalu pintar mengembalikan suasana hatiku. Meskipun sekarang kau sudah menikah apakah kau masih mau memeluk kakakmu."


"Kak Zion bicara apa sih. Tentu saja aku masih mau memeluk Kak Zion karena sampai kapanpun Kak Zion akan tetap menjadi kakakku. Meskipun aku sudah menikah dan nanti Kak Zion sudah menikah, semua akan tetap seperti ini. Kita saling menyayangi dan saling peduli satu sama lain." Norah memeluk Zion di depan Austin. Wanita itu tahu kalau suaminya tidak akan mempermasalahkan pelukan ini.


"Ternyata masalah yang berhubungan dengan hati jauh lebih melelahkan dan menguras energi daripada sebuah pertarungan."


"Tapi sebagai seorang pria Kak Zion sangat hebat. Sejak awal Kak Zion sudah mencintai kak Faith tetapi Kak Zion tidak memaksa Kak Faith untuk mencintai Kak Zion. Biasanya pria yang aku lihat kebanyakan justru memaksakan kehendak mereka agar bisa mendapatkan wanita yang mereka cintai."


"Jika aku memperlakukan seorang wanita dengan baik. Aku berharap ketika adik-adikku bertemu dengan pasangan hidup mereka, mereka juga diperlakukan dengan baik oleh pasangan hidup mereka." Zion memandang ke arah Austin. Hal itu membuat Austin mengukir senyuman.


"Terima kasih karena sudah melindungiku dan menjagaku sejak kecil sampai sebesar sekarang. Aku sangat menyayangi Kak Zion Aku harap Kak Zion juga bisa merasakan kebahagiaan yang sekarang aku rasakan. Menikah dengan orang yang Kak Zion cintai dan hidup berbahagia bersama."


Zion hanya tersenyum saja. Dia memejamkan matanya sambil memeluk Norah lebih erat lagi. Hanya dengan memeluk Norah seperti itu saja sudah membuat hatinya kembali tenang. "Sepertinya aku harus mencari kesibukan yang lebih menguras waktu agar tidak memikirkan masalah tentang yang berhubungan dengan wanita lagi," gumamnya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2