Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 130


__ADS_3

Sehari sebelum pertunangan, Norah dan Austin terlihat sangat lengket. Kemana-mana mereka selalu berdua. Saling bersama yang dipenuhi canda tawa. Semua orang yang melihat mereka merasa iri. Austin benar-benar pria yang penyayang walau ekspresi wajahnya terlihat dingin.


Norah yang tegas dan selalu kuat juga kini terlihat seperti wanita manja yang lemah. Wanita itu membuang jauh-jauh sifatnya yang lama. Dia mau jadi wanita baik yang manis agar bisa membahagiakan calon suaminya. Norah membuang sifat keras kepala yang melekat di dirinya sejak lahir.


Malam itu Norah dan Austin baru saja selesai mencoba pakaian yang akan mereka kenakan di acara besok. Mereka berdua terlihat sangat lelah. Mereka duduk di halaman samping untuk menikmati taburan bintang di angkasa. Ditemani cokelat panas rasanya suasana menjadi romantis walau terlihat sederhana.


"Austin, sebenarnya ada rahasia yang sampai detik ini belum aku ceritakan kepadamu. Aku menyimpannya rapat-rapat dari semua orang. Bahkan Kak Zion saja tidak tahu. Termasuk kedua orang tuaku. Besok kita akan bertunangan. Setelah itu kita akan menentukan tanggal pernikahan kita. Jika tidak ada halangan, kita akan segera menjadi sepasang suami istri. Sebelum menikah aku tidak mau memiliki rahasia lagi. Sudah sejak lama aku ingin menceritakannya. Tetapi aku belum siap. Detik ini aku ingin kau tahu yang sebenarnya terjadi." Norah meletakkan gelas yang sejak tadi ia pegang ke atas meja. Wanita itu mengatur napasnya agar bisa menceritakan semuanya tanpa keraguan.


Melihat ekspresi Norah yang serius membuat Austin mengernyitkan dahi. Dia menarik tubuhnya dari sandaran sofa dan memegang tangan Nora. Pria itu ingin meyakinkan Norah. Apapun yang akan diceritakan oleh Norah, Austin akan menerimanya. Seburuk apapun itu. Karena Austin sudah bertekad untuk mencintai Norah bukan untuk membahas masa lalunya.


"Katakan saja jika kau ingin mengatakannya. Jangan katakan jika kau belum siap. Aku tidak mau melihatmu merasa tidak nyaman." Austin menarik tangan itu dan mengecupnya.


"Austin, ini menyangkut kedua orang tuamu."


Genggaman yang ada di tangan Norah terlepas. Austin memandang ke depan. Hatinya menjadi sensitif jika menyangkut kedua orang tuanya yang kini sudah tiada. Memang beberapa hari ini dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Pria itu ingin kedua orang tuanya hadir di pesta pertunangan dan pernikahannya bersama Norah nanti. Namun apalah daya karena takdir tidak mengizinkan.


"Ada apa dengan kedua orang tuaku?" tanya Austin tanpa memandang. Dia berharap kalau wanita yang ia cintai itu tidak ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aku yang membawa mereka ke rumah sakit saat kecelakaan. Saat itu kita juga bertemu. Apa kau ingat?"


Austin memandang wajah Norah dengan alis saling mengernyit. Dia memutar kembali pertemuannya dengan Norah saat berada di rumah sakit. Memang ketika itu Austin dalam keadaan depresi. Pria itu tidak ingat siapa-siapa saja yang sudah ia temui saat kedua orang tuanya meninggal.


"Kau wanita itu?" tanyanya ragu. Sampai saat ini yang dia ingat kalau orang yang sudah membawa kedua orang tuanya ke rumah sakit adalah wanita. Selebihnya dia tidak peduli.


"Ya. Sudah lama aku ingin mengatakannya tapi aku takut. Austin jika kau tidak keberatan, apa boleh aku bertanya sesuatu?"


"Kau ingin bertanya kenapa kedua orang tuaku bisa sampai kecelakaan?" tebak Austin.


"Sudah. Pria yang menjadi dalang kematian kedua orang tuaku adalah Mr. A."


"Apa alasan dia membunuh orang tuamu? Bukankan orang tua tidak seharusnya terlibat dalam masakan yang kita hadapi?"


"Mungkin dia tidak mau aku meninggalkan The Bloods. Karena sampai sebelum kecelakaan, kedua orang tuaku terus saja memaksa dan merayuku agar meninggalkan The Bloods. Mereka ingin aku menjadi pengusaha seperti yang dikerjakan papa selama ini. Inilah alasan Mr. A membunuh kedua orang tuaku. Mungkin dia tidak mau aku sampai berubah pikiran dan meninggalkan The Bloods begitu saja. Aku menyesal karena tidak mendengarkan perkataan mereka. Hingga akhirnya aku menyesal. Bahkan rasa menyesal itu selalu muncul." Kedua mata Austin berkaca-kaca hingga membuat Norah memeluk pria itu dengan erat.


"Semua akan baik-baik saja," bisik Norah lembut.

__ADS_1


"Semua sudah berlalu dan Mr. A juga sudah mendapatkan balasannya. Kita tidak perlu menyesalinya lagi. Austin kau pria yang hebat. Aku tidak pernah menyesal karena sudah memberikan hatiku kepadamu." Austin mengukir senyuman manis berharap kekasihnya bisa terhibur.


"Norah, terima kasih karena waktu itu kau mau menolong kedua orang tuaku dan membawa mereka ke rumah sakit. Padahal saat kejadian posisi kita adalah musuh. Jika aku jadi kau mungkin saat itu aku tidak mau menolongnya. Justru aku senang melihat bagian dari musuhku menderita. Kalian memang keluarga yang terbaik. Meskipun kalian suka berkelahi. Tetapi kalian di didik dengan penuh cinta. Kalian lebih mengutamakan perasaan dari pada keegoisan. Ini yang membuatku semakin jatuh cinta padamu hingga sangat ingin menjadi bagian dari keluarga besarmu."


"Jika ingat kejadian malam itu, aku tidak pernah berpikir kalau kita akan berjodoh. Malam itu aku berdoa agar kita tidak bertemu lagi. Tetapi pertemuan selanjutnya justru terjadi di Sapporo." Norah menghela napas panjang. Hal itu membuat Austin tertawa kecil mendengarnya.


"Ya, sepertinya memang kita berjodoh. Tuhan selalu saja mempertemukan kita."


Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba pelayan wanita muncul ingin menyampaikan sesuatu.


"Nona, Nona Daisy sudah tiba. Tuan dan Nyonya meminta anda untuk berkumpul di ruang keluarga," ucap pelayan wanita itu.


"Daisy?" Norah segera beranjak dari sofa. Dia sudah sangat merindukan adiknya. "Austin, ayo kita ke sana." Wanita itu segera berlari meskipun kini Austin belum beranjak dari sofa yang ia duduki.


Pelayan wanita kru masih menunduk hormat. Sedangkan Austin melangkah mengejar Norah yang kini jaraknya sudah beberapa meter di depan sana.


"Norah, tunggu!"

__ADS_1


__ADS_2