
Biao meletakkan sebuah album foto di atas lemari. Pria itu tersenyum sejenak sebelum melangkah menuju ke meja kerjanya. Dia duduk di sana sambil memandang ke depan. Ruangan itu masih sama seperti 50 tahun yang lalu. Dimana dia merayu dan menggoda wanita yang sekarang menjadi istrinya. Bahkan sosok sahabat yang ia temui dan ia rindukan juga masih terbayang jelas di dalam ingatannya.
"Mr. Paul. Aku tidak menyangka kalau Austin adalah cucu Mr. Paul. Paul Clark?" Abio tertawa kecil membayangkan kebodohannya sendiri. Dia tidak pernah tahu kehidupan Mr. Paul. Dia hanya tahu kalau mereka pernah menjadi sahabat.
Kemarin, Paman Tano datang menemui Abio dan menceritakan semuanya. Pria itu memohon agar Abio mau menjadi pengganti orang tua Austin. Pria paruh baya itu juga memohon agar dibantu membersihkan nama baik Austin di depan keluarga Norah.
Abio awalnya menolak. Dia justru bingung harus berada di sisi mana. Keduanya sama-sama penting bagi hidupnya. Salah bicara sedikit saja, dia bisa di cap sebagai pembela musuh. Padahal jelas-jelas Abio tidak tahu menahu soal masalah yang terjadi. Di tambah lagi kabar yang di terima Abio, Austin terlihat dalam penembakan Serena. Nona muda yang ia jaga dan ia hormati sejak dulu. Tentu saja Abio tidak segampang itu membela Austin di depan Leona dan juga Jordan.
Tetapi satu kemudahan kembali mereka temui. Abio meminta istrinya untuk memutar kembali kejadian penembakan malam itu. Semua terbongkar. Austin tidak terlibat. Bahkan rekaman ketika Austin memarahi anak buahnya yang sudah menembak Serena bisa mereka dengar dengan jelas. Detik itu Abio percaya dengan Paman Tano kalau memang Austin anak yang baik dan wajib untuk di bela.
Suara pintu terbuka membuat Abio mengalihkan pandangannya. Sharin masuk dengan segelas kopi di tangannya. Senyum wanita itu berhasil membuat ukiran senyum indah di bibir Biao.
"Apa aku mengganggu bos?" ledek Sharin dengan langkah yang hati-hati.
"Kemarilah. Ada yang ingin aku sampaikan." Abio menepuk pahanya. Walau sudah tua, dia masih sanggup memangku istrinya yang menggemaskan itu. Pria itu membenarkan kaca matanya sebelum memandang Sharin lagi.
__ADS_1
"Sepertinya penting," sahut Sharin. Wanita itu duduk di atas pangkuan Biao. Sedikit menahan tubuhnya dengan kaki agar tidak sepenuhnya di tanggung oleh Biao.
"Kau masih ingat dengan Mr. Paul?" tanya Biao ragu-ragu.
Sharin mengangkat kedua bahunya. "Sulit untuk dilupakan," jawabnya dengan tawa kecil. "Dia membuat kita menjadi seperti sekarang. Saling mencintai dan tidak mau dipisahkan."
"Ya. Dia sahabat yang berjasa bagi hubungan kita. Tanpa kemunculan dia, mungkin kita tidak akan menikah secepat itu. Walau harus masuk rumah sakit dan kritis," ujar Biao. Hal itu membuat Sharin tertawa geli mendengarnya.
"Lalu, kenapa kita harus membahas dia?"
"Dia sudah tiada," jawab Biao. Kali ini Sharin tidak berani tertawa lagi. Wanita itu terdiam dan sedih. Karena memang usia mereka sudah tua. Cepat atau lambat kematian pasti akan menghampiri mereka. Seperti yang sekarang terjadi pada Mr. Paul.
"Sudah beberapa tahun yang lalu. Aku tidak mengetahui kabar kematiannya. Seseorang datang dan menceritakan semuanya. Kita terlalu sibuk mengurus keluarga kita sendiri sampai tidak peduli dengan sahabat lama kita. Aku merasa malu pada diriku sendiri." Biao menunduk dengan wajah bersalah.
Sharin mengusap lembut tangan Biao. "Kita tidak salah. Mr. Paul sendiri yang tidak mau memberi kabar duka itu kepada kita. dia tidak pernah mau merepotkan kita apapun yang terjadi."
__ADS_1
"Sharin, ada satu hal yang ingin aku katakan lagi."
"Tentang?"
"Tentang cucu Mr. Paul. Apakah kau mau menjadi pengganti orang tuanya yang sudah meninggal? Kita akan melamar wanita yang ia cintai dalam waktu dekat."
"Tentu saja. Kapan? Dimana wanita itu tinggal?"
"Wanita itu adalah Norah," jawab Biao.
"Norah putri Leona dan Jordan?"
"Ya."
"Apakah kau keberatan?"
__ADS_1
Sharin tertawa kecil. "Tentu saja tidak. Ini tidak sulit," jawabnya. "Sudah pasti lamaran kita di terima."
Biao hanya mengangguk saja. Dia tidak mau menjelaskan terlalu panjang. Cukup Sharin setuju itu sudah jauh lebih cukup, sisanya akan ia pikirkan sendiri.