
Faith memperhatikan Dominic dengan begitu serius. Kini mereka sudah ada di dalam pesawat yang terbang menuju ke Dubai. Sejak tadi Dominic belum menceritakan hal apapun. Tidak sesuai dengan apa yang dia janjikan. Padahal sebenarnya Faith sudah menunggu sejak tadi. Wanita itu sudah tidak sabar untuk mendengar cerita tentang ayah kandungnya.
"Apa kau haus?" tanya Dominic hingga membuat Faith memutuskan untuk mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya kecewa.
"Tidak," jawabnya malas. Wanita itu terlihat tidak bersemangat lagi.
"Apa yang terjadi? Apa kau tidak enak badan?" tanya Dominic khawatir.
"Apakah Kak Dominic lupa kalau tadi Kak Dominic sempat berjanji kalau akan menjelaskan semuanya ketika kita sudah tiba di pesawat. Tetapi sampai detik ini Kak Dominic tidak menceritakan hal apapun kepadaku. Aku yakin Kak Dominic tidak mungkin lupa."
Dominic diam sejenak. Seperti apa yang baru saja dikatakan oleh Faith, tidak mungkin pria itu lupa dengan janjinya. Dominic belum bercerita karena ia sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.
"Kau sempat bertanya tentang ayah kandung kita. Hari ini aku akan katakan padamu kalau kita akan berangkat ke Dubai untuk bertemu dengan ayah kandung kita. Dia sedang sakit."
"Papa tinggal di mana?" tanya Faith ingin tahu.
Dominic menggeleng kepalanya karena memang sebenarnya dia juga tidak tahu di mana tempat tinggal Ayah kandungnya. Zean suka sekali pindah tempat dan tidak pernah menetap di satu tempat dalam waktu yang lama.
"Itu berarti Papa sakit ketika dia sedang liburan?"
"Ya," jawab Dominic singkat.
"Kak Maafkan Aku. Tadi tanpa Sengaja aku mendengar perbincangan pengawal yang sering bersama dengan Kak Domini. Mereka sempat berkata kalau ini adalah momen yang tepat untuk membuat Kak Dominic dan papa kembali akur. Apa sebelumnya Kak Dominic dan papa memiliki masalah. Apa ini alasannya Kak Dominic tidak tinggal satu rumah dengan papa?"
"Ya. 10 tahun yang lalu aku pernah melakukan sebuah kesalahan. Aku telah membunuh orang kepercayaan papa. Papa marah besar padaku. Dia mengusirku tanpa mau menyelidiki kebenarannya. Bahkan memukulku dengan begitu keras. Bukan Hanya hatiku saja yang sakit tetapi sekujur tubuhku juga merasa sakit. Sejak itu aku merasa dendam dan sakit hati hingga memutuskan untuk tidak lagi bertemu dengan papa. Bahkan aku sempat berkata kalau aku akan menganggap diriku tidak memiliki Papa lagi. Aku merintis bisnisku dari nol. Masa itu adalah masa yang sangat sulit. Sampai-sampai aku harus menangis darah karena menjalani kehidupan yang begitu menyakitkan. Papa terlihat tidak peduli. Aku tidak tahu dia sengaja membiarkanku sengsara karena ingin aku menjadi pria yang sukses atau karena dia dendam padaku. Seiring berjalannya waktu aku mulai mengerti kalau Papa melakukan semua ini karena demi kebaikanku."
__ADS_1
"Di dunia ini tidak ada orang tua yang membiarkan anak kandungnya sengsara. Bahkan ada banyak sekali orang tua angkat yang sangat menyayangi anaknya. Apa saat pertikaian itu terjadi Kakak pernah meminta maaf kepada papa?" Faith terus saja mengorek informasi agar dia bisa tahu cerita yang sebenarnya.
Dominic menggeleng kepalanya. "Aku tidak pernah menemui Papa apalagi memiliki niat untuk meminta maaf. Beberapa tahun setelah kejadian Aku bahkan tanpa sengaja sempat bertemu dengan papa di sebuah pertemuan. Kami sama-sama bersikap tidak saling kenal saat itu."
"Apa Kak Dominic sudah menyelidiki orang yang Kak Dominic bunuh? Kak Dominic membunuh pria itu pasti karena ada alasannya."
"Sebenarnya jika dibahas kembali, memang benar kalau aku yang salah. Tapi karena melihat perlakuan Papa yang menghukumku dengan begitu kejam membuatku menjadi sakit hati dan tersinggung. Hingga akhirnya aku putuskan untuk tidak mengenal Papa lagi." Dari ekspresi Dominic ketika menceritakan semua itu sudah terlihat jelas kalau rasa sakit hati dan kecewa di dalam hatinya masih belum sembuh total.
"Bagaimana dengan Mama Kak Dominic? Bukankah Kak Dominic sendiri yang bilang kalau kita dilahirkan dari rahim yang berbeda."
"Mama sudah meninggal sejak aku masih kecil. Beberapa orang bilang kalau Papa berubah menjadi emosional sejak Mama meninggal. Tapi tetap saja apapun suasana hatinya dia tidak sepantasnya untuk melibatkanku di dalam kesedihannya. Aku ini adalah putra kandungnya. Bukan musuh yang seharusnya dibasmi," ujar Dominic dengan suara yang tinggi.
Faith menjadi kasihan kepada Dominic. Sekarang dia jadi tahu apa alasan Dominic menjadi pria kejam seperti sekarang. Sejak kecil pria itu sudah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Bahkan kekayaan yang sekarang ia miliki juga prosesnya sangat tidak mudah. Dominic harus jatuh bangun Sebelum berhasil mencapai semua itu.
"Tapi sekarang Kak Dominic sudah punya adik. Aku akan menjadi adik yang baik untuk Kak Dominic. Aku berjanji untuk tidak merepotkan Kak Dominic. Kedepannya kita pasti bisa menjadi adik kakak yang saling menyayangi." Faith memegang tangan Dominic lalu mengusapnya dengan lembut. "mulai sekarang Kak Dominic tidak perlu merasa sendirian lagi. Apapun masalah yang Kak Dominic miliki ceritakan saja kepada Faith. Sebisa mungkin Faith akan membantu Kak Dominic."
...***...
Norah mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Austin. Selesai mandi Austin terlihat semakin tampan dan gagah. Kini pria itu hanya menutup tubuh polosnya dengan handuk yang dililit di pinggang. Rambutnya yang setengah kering terlihat acak-acakan namun membuat Norah tergoda.
"Sekarang kita sudah menikah. Tidak ada lagi halangan di antara kita. Kita bisa melakukan apapun yang kita inginkan."
Austin mengangkat tubuh Norah dengan cara digendong. Tanpa permisi pria itu mengacup bibir Norah dengan mesra. Sejak sah menjadi istrinya wanita itu belum berhasil ia sentuh. Malam pertama yang sejak kemarin mereka impikan harus gagal ketika mereka mendapat kabar kalau Leona jatuh pingsan.
"Sekarang?" tanya Norah malu-malu.
__ADS_1
Austin tidak menjawab. Pria itu justru mencumbu istrinya semakin panas lagi. Austin mulai melangkah menuju ke tempat tidur yang tidak jauh dari posisi mereka berada.
"Austin, sebenarnya ada yang ingin aku katakan kepadamu," ucap Norah sambil sesekali memejamkan mata dan menikmati sentuhan suaminya sendiri.
"Nanti saja," tolak Austin sebelum membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Norah. Pria itu ingin memiliki istrinya. Bahkan dia tidak peduli kalau matahari di luar sana masih tinggi.
"Austin, berhentilah."
Nora menjambak Rabu Austin dan memaksa pria itu untuk memandang wajahnya. Jelas saja hal itu membuat Austin marah.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu bukankah kita sudah menikah kau sendiri yang menggodaku.
"Tapi aku belum bisa disentuh."
"Kenapa?" tanya Austin dengan wajah yang begitu polos.
Norah menghela napas. Dia berusaha untuk duduk agar bisa menjelaskan yang sebenarnya terjadi. "Semua ini bisa dirasakan oleh semua wanita setiap bulannya. Apa kau tidak mengerti juga." Norah memandang Austin dengan wajah malu-malu.
"Aku butuh jawaban yang pasti. Bukan tebak-tebakan seperti ini. Norah, apa kelakuanku ada yang menyinggung perasaanmu sampai-sampai kau menolak untuk aku sentuh."
Norah menghela napas. "Austin, aku datang bulan. Apa kau tidak tahu juga apa itu datang bulan?"
Kali ini Austin sudah paham dengan alasan Norah menolak dirinya. Dia diam sejenak lalu mengalihkan pandangannya. "Biasanya berapa lama?"
"Bisa cepat bisa lama," jawab Norah juga tanpa memandang. Menjadi pengantin baru seperti ini justru membuat mereka merasa canggung. "Terkadang lima hari saja sudah berhenti."
__ADS_1
Austin mengukir senyuman penuh arti. "Kita masih memiliki cara lain untuk bersenang-senang." Pria itu segera menerkam istrinya.
"Austin, apa yang ingin kau lakukan?" Norah sudah berbaring. Kini bibir wanita itu telah di kunci oleh Austin hingga dia tidak bisa berteriak lagi.