Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 250


__ADS_3

Faith sedang membereskan barang-barang yang ada di kamarnya. Tiba-tiba saja firasat wanita itu menjadi tidak enak. Zion yang juga ada di dalam kamar tersebut mendekati Faith lalu memeluk istrinya dari belakang.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Zion khawatir. Karena memang dari ekspresi istrinya, dia bisa melihat kalau kini Faith sedang memikirkan sesuatu.


"Tiba-tiba saja Aku ingin berangkat ke Las Vegas. Aku ingin bertemu dengan Kak Dominic dan juga Papa."


"Jika kau memang ingin berangkat ke Las Vegas, kita akan berangkat besok pagi. Sekarang kita fokus beres-beres rumah dulu. Kau juga pasti sangat kelelahan karena terlalu banyak beraktivitas hari ini. Bagaimana kalau kita telepon saja Dominic. Dengan begitu kita tahu kalau dia baik-baik saja atau tidak," ucap Zion memberi solusi.


Faith mengangguk. Zion membawanya duduk di sofa. Setelah itu Zion mengambil ponselnya dan menekan nomor Dominic. Panggilan pertama teleponnya tidak diangkat. Namun Faith dan Zion tidak mau berpikir yang aneh-aneh. "Aku akan mencoba untuk menghubunginya lagi. Siapa tahu tadi dia ada di kamar mandi."


Zion kembali menekan nomor Dominic. Tidak hanya sekali dua kali. Tetapi mereka sudah mencoba untuk menghubungi Dominic sebanyak 5 kali namun tidak juga mendapat jawaban. Hingga akhirnya Faith mengambil ponselnya dan menekan nomor Zean. Wanita itu berharap ketika ia menghubungi ayah kandungnya, dia akan mendapatkan informasi yang bisa membuatnya jauh lebih tenang.


"Sayang, ada apa? Kenapa tiba-tiba kau menghubungi papa?" tanya Zean dari kejauhan sana.


"Aku senang bisa mendengar suara papa. Dengan begitu aku tahu kalau Papa baik-baik saja. Tiba-tiba saja firasatku tidak enak. Lalu ketika aku menghubungi Kak Dominic, Kak Dominic tidak juga mengangkat teleponku."


"Oh iya Dominic pasti meninggalkan teleponnya di kamar. Akhir-akhir ini pria itu menjadi pelupa. Belum juga menikah dia sudah pikun," jawab Zean yang saat itu berusaha untuk menutupi segalanya dari Faith.


"Aku dan Kak Zion akan berangkat ke Las Vegas besok pagi. Apa besok papa sibuk?" tanya Faith penuh harap.


"Maafkan Papa, Faith. Papa tidak ada di Las Vegas. Papa ada urusan di Dubai. Papa juga tidak tahu apa kakakmu ada di rumah atau tidak. Sebaiknya lain kali saja datang ke Las Begasnya. Bukankah kau dan Zion juga baru saja pindah rumah?"


Faith terdiam sejenak. "Baiklah kalau begitu papa tetap jaga kesehatan ya. Jika terjadi sesuatu segera telepon Faith."


Faiz segera memutuskan panggilan teleponnya. Dia memandang Zion yang kini duduk di sampingnya. "Apa sekarang kau sudah merasa jauh lebih tenang? Aku yakin jika terjadi sesuatu di sana pasti mertuaku segera menghubungi kita. Dia tidak mungkin menyimpannya sendirian. Sekarang ayo kita istirahat. Tubuhku terasa sangat lelah hari ini."


Faith hanya mengangguk saja. Wanita itu meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu berjalan menuju ke ranjang bersama dengan Zion.


...***...


Di rumah sakit, Dominic sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Ternyata pria itu mengalami infeksi karena luka yang ia derita tidak diobati dengan benar. Dominic belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Kini bukan hanya ada Zean yang menunggunya. Tetapi ada Elyna, Letty dan juga Miller memutuskan untuk menjaga Dominic sampai Dominic sadar.


Awalnya mereka bertiga datang ke Las Vegas untuk menemui Dominic dan mengucapkan terima kasih. Tetapi setibanya di kediaman Dominic, justru mereka mendapat kabar dari salah satu pelayan yang bekerja di rumah ini kalau Dominic dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan di perutnya. Karena khawatir Miller segera mengajak Letty dan juga Elyna menuju ke rumah sakit tempat Dominic dirawat. Pria itu tahu betul kalau Dominic mendapatkan luka tersebut karena menolongnya waktu itu.


"Aku senang kau bisa kembali berkumpul dengan keluargamu. Tetapi aku sama sekali tidak menyangka kalau Dominic yang sudah berhasil menyelamatkanmu. Mungkin memang dia tidak sengaja. Karena dari cerita yang baru saja kau katakan tadi, aku bisa menyimpulkan kalau Dominic menolong orang-orang yang disekap itu karena kasihan bukan karena dia tahu kalau kau ada di dalam sana." Zean kembali menjelaskan masalah yang terjadi. Pria itu tidak mau sampai Miller merasa berhutang budi terhadap pertolongan yang sudah diberikan oleh Dominic.


"Ya, kau benar. Dominic membebaskanku bukan karena dia tahu kalau aku adalah ayah kandung Elyna. Tetapi karena dia merasa kasihan melihat kami disekap selama bertahun-tahun di ruangan tersebut. Aku datang ke sini juga bukan untuk menjodohkan anakku dengan anak anda, Zean. Tetapi aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Dominic. Aku harap luka di perutnya segera kering. Dia pria yang sangat hebat. Bisa-bisanya ia menyembunyikan luka dari ayah kandungnya hanya karena takut Ayah kandungnya khawatir." Miller tertawa kecil. Sebenarnya sejak dulu dia ingin sekali memiliki anak laki-laki.


"Tapi setelah dia sadar, aku pasti akan segera menghukumnya. Bagaimanapun juga ini adalah perbuatan yang salah."


Letty dan Elyna hanya diam saja di sana. Sesekali mereka memandang ke arah Dominic yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.

__ADS_1


"Kau pasti tidak bisa merawat orang sakit. Untuk itu aku akan meminta Elyna untuk merawat Dominic selama dia berada di rumah sakit ini," ucap Miller tiba-tiba hingga membuat Letty dan juga Elyna kaget bukan main.


Namun di depan Miller, Elyna tidak pernah berani menentang Ayah kandungnya. Hingga akhirnya wanita itu hanya diam saja dan menuruti apa yang sudah diperintahkan oleh Miller.


"Elyna, apakah Kau keberatan untuk merawat Dominic?" tanya Miller lagi untuk kembali memastikan.


"Kau tidak perlu repot-repot menyuruh putrimu untuk merawat Miller karena aku bisa membayar suster yang ada di rumah sakit ini," sahut Zean memberi solusi. Dia juga tidak mau ketika Dominic sadar nanti, justru pria itu marah-marah karena melihat Elyna ada di sampingnya.


"Tidak. Kau tidak perlu memanggil orang lain untuk merawat Dominic. Aku ingin Elyna merawat Dominic sebagai ungkapan terima kasihku karena sudah menolongku waktu itu. Aku dan Letty juga akan sering-sering ke sini untuk bertemu dengan Dominic. Kau ini sudah tua Zean. Jadi sebaiknya jangan memaksakan diri untuk merawat Dominic. Aku berani jamin kalau putriku tidak akan berbuat ulah lagi."


Miller melirik ke arah Elyna. Pria itu meminta putrinya untuk bicara. Jangan diam saja seperti itu. "Apa yang dikatakan oleh Daddy benar, Paman. Elyna akan merawat Dominic dengan sebaik mungkin. Paman tidak perlu mengkhawatirkannya. Elyna janji tidak akan membuat keributan di sini."


Melihat harapan yang begitu besar di wajah Miller dan juga Elyna, akhirnya membuat Zean luluh juga. Pria itu mengizinkan Elyna untuk merawat Dominic di sana.


"Miller, lihatlah. Sepertinya Dominic sudah sadar," ucap Letty dengan wajah berseri. Mereka semua segera beranjak dari sofa dan berjalan mendekati tempat tidur.


Dominic membuka matanya secara perlahan. Pria itu kaget bukan main melihat ada banyak sekali orang yang kini mengelilinginya. Satu persatu wajah orang yang ada di sana ia lihat dengan seksama. Hingga akhirnya perhatian Dominic terhenti pada Elyna yang berdiri tidak jauh dari posisi tempat tidurnya berada.


"Untuk apa kau ke sini?" ketus Dominic tidak suka.


"Dominic, sebaiknya kau jangan marah-marah dulu. Perutmu masih luka. Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak!" protes Zean. "Apa kau ini sudah tidak menganggap Papa sebagai ayah kandungmu? Kenapa kau merahasiakan masalah besar ini dari Papa. Jika saja hari ini kau tidak pingsan mungkin Papa tidak akan pernah tahu kalau ada luka di perutmu." Zean langsung saja melampiaskan kekecewaannya.


Dominic memegang perutnya sendiri. Pria itu merasa bersalah karena sudah merahasiakan penyakitnya. "Maafkan Dominic, Pa. Dominic hanya tidak mau membuat Papa khawatir," ucap Dominic dengan suara yang serak.


Dominic berusaha untuk mengingat-ingat kira-kira di mana ia pernah bertemu dengan Miller. Wajah pria itu terlihat semakin serius ketika dia ingat kalau Miller adalah salah satu tawanan yang pernah ia bebaskan di Nevada waktu itu.


"Bukankah anda salah satu tawanan yang ada di Nevada?" tanya Dominic ingin tahu.


"Ya, kau benar Dominic. Saya adalah salah satu tawanan yang kau bebaskan malam itu. Aku datang ke sini karena ingin mengucapkan terima kasih. Jika malam itu kau tidak muncul, mungkin selamanya aku akan terkurung di dalam ruang gelap itu.


Elyna adalah Putri kandungku dengan Letty. Aku tahu kalau selama ini hubunganmu dengan Elyna tidak pernah baik. Elyna memang suka sekali mencari masalah. Paman harap kau mau memaafkan kesalahan Elyna," ucap Miller dengan sungguh-sungguh.


Elyna mengangkat tangannya dengan wajah ragu-ragu. Wanita itu memandang ke arah Miller sejenak sebelum mengucapkan satu kalimat yang sampai detik ini selalu ditunggu-tunggu oleh Dominic.


"Maafkan aku," ucap Elina pada akhirnya.


Dominic merasa puas mendengar kata maaf yang terucap dari bibir Elyna. Meskipun begitu pria itu tetap memasang wajah tidak peduli agar Elyna tidak sampai besar kepala. "Ya. Baiklah. Aku sudah memaafkanmu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak mengulang kesalahan yang sama."


"Kau bisa lihat sendiri kalau diantara putra dan putri kita sudah tidak ada masalah lagi. Itu berarti Dominic tidak keberatan jika selama keberadaannya di rumah sakit dirawat oleh Elyna," ucap Miller penuh percaya diri.


Dominic mengernyitkan dahi mendengarnya. "Aku tidak perlu dirawat oleh siapapun karena penyakitku ini pasti akan segera sembuh," tolak Dominic tidak setuju.

__ADS_1


"Kali ini dengarkan perkataan papa. Biarkan Elyna merawatmu sampai sembuh. Papa juga tidak akan membiarkanmu pulang meninggalkan rumah sakit ini jika luka di perutmu itu belum benar-benar kering."


Dominic yang tidak memiliki kalimat lagi untuk menolak Elyna hanya bisa pasrah. Namun kali ini Dominic tidak lagi memandang Elyna dengan penuh kebencian. Justru pria itu mulai tertarik melihat sifat Elyna yang sopan dan lembut. Bahkan penampilan Elyna tidak lagi berantakan seperti saat pertama kali mereka bertemu dulu.


"Kalau begitu aku dan Miller pamit dulu. Kami akan menginap di salah satu hotel yang ada di dekat rumah sakit ini. Besok kami akan kembali lagi. Jika kau ingin istirahat, kau bisa bergantian jaga dengan Elyna," ucap Letty memberi solusi. Wanita itu memandang ke arah Dominic lagi. "Tante harap kau segera sembuh agar bisa segera pulang ke rumah. Jika Elyna mengatakan kalimat yang menyinggung perasaanmu, katakan saja kepada Tante. Kami akan segera memberinya hukuman."


"Terima kasih, Tante," jawab Dominic masih dengan suara yang lemah karena memang saat itu kondisinya tidak seperti biasa.


Miller dan Letty segera pergi setelah berpamitan. Kini yang tersisa di ruangan itu hanya ada Zean, Elyna dan juga Dominic. Zean kembali ingat kalau dia harus mengambil obat di lantai bawah. Pria itu tidak mungkin menyuruh Elyna untuk mengambilnya.


"Elyna, tolong jaga Dominic sebentar saja. Paman harus ke bawah untuk mengambil obat," ucap Zean dengan senyuman ramah.


"Baik, Paman," jawab Elyna.


Zean kembali memandang putranya. "Jangan banyak bergerak. Kau harus tetap berbaring seperti ini sampai lukamu benar-benar kering. Apa kau mengerti?" tanya Zean dengan nada mengancam.


"Ya, Pa. Aku mengerti," jawab Dominic. Setelah itu Zean segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Elyna memandang ke arah Dominic sejenak sebelum duduk di kursi yang ada di dekat tempat tidur. Wanita itu lebih memilih untuk memainkan ponselnya daripada harus mengajak Dominic berbicara.


Dominic merasa sangat haus sekali. Tetapi pria itu juga merasa gengsi untuk meminta tolong kepada Elyna. Hingga akhirnya secara perlahan Dominic menggerakkan tubuhnya lalu tangannya berusaha untuk meraih gelas yang ada di atas nakas.


Elyna melihat itu lalu menghela napas kasar. Dia segera mengambil air tersebut lalu memberikannya kepada Dominic. "Apa kau tidak punya mulut?s Setidaknya bicaralah. Agar aku tahu apa yang kau butuhkan!" ketus Elyna kesal.


"Terima kasih," ucap Dominic sebelum meneguk minuman itu. Dia sama sekali tidak mau berdebat dengan Elyna saat ini.


Elyna menerima gelas itu lalu mengembalikannya ke atas nakas. "Terima kasih karena kau sudah menolong Daddy. Aku tahu kalau kau tidak sengaja melakukannya. Tetapi tetap saja jika tanpa bantuanmu, sampai detik ini kami tidak akan pernah tahu kalau Daddy masih hidup."


Dominic mengernyitkan dahinya. "Apa Tuan Miller sudah lama hilang?"


"Ya. Bahkan sudah hampir 5 tahun. Kemunculan Daddy kemarin membuat kami sangat kaget. Bahkan Kami sempat tidak percaya kalau pria yang berdiri di hadapan Kami adalah Daddy."


"Tetapi setidaknya sekarang kalian sudah berkumpul. Itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Anggap saja bukan aku yang menolong. Dengan begitu Kau tidak perlu merasa balas budi kepadaku."


Elyna tertegun mendengar kemurahan hati Dominic. Tadinya wanita itu berpikir kalau Dominic akan mengerjainya. "Terima kasih," ucap Elyna lagi.


Zean segera masuk ke dalam ruangan sambil membawa obat yang baru saja ia ambil. Pria itu memperhatikan Elyna sebelum meletakkan obat di atas meja.


"Elyna, jika kau ingin melakukan sesuatu pergilah. Biar paman yang menjaga Dominic di sini," tawar Zean. Pria itu juga tidak mau membuat Elyna merasa bosan. Hingga akhirnya ia mengizinkan Elyna untuk keluar ruangan. Meskipun hanya sekedar menghirup udara segar di luar sana.


Elyna menggangguk. Wanita itu segera beranjak dari kursi lalu berjalan menuju ke pintu. Setelah pintu kembali tertutup, Zean memandang ke arah Dominic yang sejak tadi memperhatikan Elyna. Pria itu mengukir senyuman penuh arti.

__ADS_1


"Bukankah dia sekarang sudah berubah menjadi wanita yang baik sesuai dengan kriteriamu?" ledek Zean.


Dominic memalingkan wajahnya. "Sampai kapanpun di mataku dia tetap wanita yang menyebalkan!" ketus Dominic tidak mau mengakuinya. Padahal yang sebenarnya terjadi kini Dominic sangat mengagumi sikap Elyna yang sekarang.


__ADS_2