Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 107


__ADS_3

"Lalu kau lebih memilih untuk melukaiku?" sahut Daisy cepat. Hingga membuat Foster diam. Dia bahkan tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang.


"Maafkan aku. Aku memang salah."


"Sebuah hubungan bisa bertahan jika saling terbuka. Bukankah kau sendiri juga tahu bagaimana sifat Kak Zion? Apa saat itu aku memutuskan untuk meninggalkanmu? Apa saat itu aku lebih memilih untuk menyakitimu?" Nada bicara Daisy mulai naik. Pertanda kalau dia sudah tidak mau bersabar lagi. Dia harus bicara dan tegas di depan Foster. Walau sebenarnya dia sangat ingin memeluk kekasihnya tersebut karena terlalu rindu.


"Daisy, kalau mama hanya melarangku untuk mencintaimu, aku tidak akan peduli. Aku akan tetap mencintaimu! Tapi ini beda. Mama melukai dirinya sendiri sampai dilarikan ke rumah sakit. Daisy, tolong. Mengertilah posisiku waktu itu. Aku tidak mau kehilanganmu. Aku sangat mencintaimu. Jika kau ada di posisiku, aku yakin kau juga akan mengambil keputusan yang sama. Daisy, aku mohon. Mengertilah posisiku." Foster melangkah maju ingin menggenggam tangan Daisy. Namun, dengan cepat Daisy menghindar. Dia masih marah dan belum bisa memaafkan Foster.


"Seorang lelaki yang dipegang ucapannya. Jika kau ingin kita kembali, pastikan dulu hubunganmu dan orang tuamu baik-baik saja. Kedepannya aku tidak mau kejadian yang sama terulang lagi. Aku juga sadar kalau aku ini bukan wanita yang sempurna. Tapi setidaknya ketika menjalin hubungan, aku tidak pernah kepikiran untuk mengakhiri hubungan itu. Karena aku tahu luka patah hati adalah luka yang tidak ada obatnya."


"Kau mau memaafkanku? Daisy, aku mohon. Aku akan katakan ini sama mama. Aku tahu pasti tidak mudah mendapatkan restu mama. Tetapi aku akan berjuang. Setidaknya maafkan aku. Terima aku lagi sebagai kekasihmu, Daisy," rayu Foster dengan nada memohon.


"Aku memang akan memaafkanmu. Tapi, aku tidak janji untuk menerimamu lagi. Aku tidak bisa menjanjikan hal yang manis padamu. Maafkan aku. Tapi sepertinya waktunya sudah habis. Opa akan marah jika aku ingkar janji. Permisi!"


Daisy pergi begitu saja meninggalkan Foster. Wanita itu segera menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.


"Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Aku akan memperjuangkan cintamu Daisy! Kau harus lihat betapa tergila-gilanya aku pada dirimu. Aku akan buktikan semua ucapanku. Mulai besok, aku akan memperjuangkan cintamu lagi!" teriak Foster agar Daisy dengar. Tetapi Daisy tidak peduli. Wanita itu terus saja berjalan menuju ke mobil tanpa mau memutar badannya lagi untuk menatap wajah Foster.


Setibanya di dalam mobil, Daisy segera mengambil tisu dan menghapus air mata yang tersisa di pipi.


"Dia bilang kalau dia terpaksa memutuskanku karena ibunya akan bunuh diri. Mereka tidak merestui hubungan kami. Tapi, bukankah jujur lebih baik? Kenapa dia harus mengakhiri hubungan kami? Apa sudah tidak ada solusi lain? Kenapa harus membuatku benci kepadanya? Apa tidak ada cara lain yang bisa digunakan?" protes Daisy sambil menghapus air mata yang masih menetes deras.


Zeroun yang ada di samping Daisy hanya diam tanpa kata. Berbeda dengan Lukas yang saat ini duduk di samping supir. Pria itu seperti tidak suka melihat kelakukan Foster. Dia memposisikan Livy ada di posisi Daisy. Betapa sakitnya cucu kesayangannya jika sampai hal itu terjadi. Diputuskan secara sepihak tanpa alasan. Berbeda dengan Zeroun yang masih bisa memahami posisi Foster bahkan masih mau memberi kesempatan untuk Foster memperbaiki diri.


"Opa, aku harus bagaimana? Aku juga masih mencintainya. Aku tidak mau pisah dari Kak Foster. Tapi jika aku tidak memberi hukuman seperti ini, dia akan sepele terhadap hubungan kami."


"Dia sangat menyayangimu hingga tidak mau kau sakit hati. Kau juga sangat mencintainya dan ingin bersamanya lagi. Namun, cara yang dia gunakan salah. Dia harus di hukum! Menurut Opa, lihat saja bagaimana perjuangannya mendapatkan maaf darimu. Dia seorang pria. Dia harus memperbaiki semuanya," jawab Zeroun.


"Opa, Opa gak marah sama Kak Foster? Apa Opa mau memaafkannya dan menerimanya?"


Zeroun tertawa dibuat pertanyaan Daisy. "Kau yang menjalaninya. Untuk apa menanyakan pendapat Opa? Tadi opa sudah memberi solusi. Itu artinya opa tidak ada masalah. Opa akan menerima Foster sebagai cuci Opa jika memang hubungan kalian masih bisa diperbaiki. Semua keputusan ada di tanganmu Daisy. Kau tidak perlu memikirkan opa."

__ADS_1


"Kak Zion tidak akan memaafkan Kak Foster. Semalam aku lihat Kak Zion marah besar sama Kak Foster."


"Itu hal yang wajar. Jika dia tidak marah, justru patut dicurigai. Itu artinya dia tidak menyayangimu," sahut Lukas dari depan.


"Opa, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bantu aku Opa," rengek Daisy. Walau tadi di depan Foster dia terlihat cuek. Tetapi sebenarnya dia sangat senang bisa mendengar penjelasan dari Foster.


"Kau tidak perlu melakukan apapun. Soal Zion, serahkan saja sama Foster. Jika dia memang mencintaimu, dia pasti berhasil meluluhkan hati kedua orang tuanya dan juga Zion. Kau hanya perlu fokus dengan kuliahmu. Kejar cita-citamu. Kenapa akhir-akhir ini Opa lihat kau tidak lagi peduli dengan pendidikanmu? Apa kau sudah mulai tidak fokus dengan pendidikanmu? Kau lupa tujuan utamamu masuk ke universitas Yale apa?"


Daisy tertegun mendengar teguran Zeroun. Kepalanya menunduk karena merasa bersalah. Zeroun bisa tahu jelas apa yang dipikirkan Daisy sekarang.


"Opa hanya mengingatkan. Sejauh ini nilaimu masih di atas rata-rata. Opa bangga padamu Daisy." Zeroun merangkul pundak Daisy dan menepuknya pelan. "Apapun keadaannya, kau tetap cuci kesayangan Opa."


"Kak Norah dan Kak Zion bagaimana?" tanya Daisy.


"Mereka juga kesayangan Opa." Zeroun memandang ke arah Lukas yang ada di depan. "Begitu juga dengan Livy. Dia juga cucu kesayangan Opa."


"Aku sayang sekali sama Opa." Daisy memeluk erat tubuh Zeroun. Lukas tersenyum mendengar obrolan Zeroun dan Daisy di belakang. Sebenarnya pria itu juga sangat menyayangi Daisy, Zion dan juga Norah. Inilah alasannya dia tidak mau cucu-cucunya disakiti. Siapapun yang menyakiti cucunya, maka akan dia balas berkali-kali lipat. Walau tidak terlihat nyata, tetapi pada dasarnya Lukas selalu ada ketika cucunya mengalami kesulitan.


***


"Daisy, aku akan memperjuangkan cinta kita. Aku akan melamarmu dalam waktu dekat," ujar Foster lebih keyakinan. Pria itu segera turun dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Pa, apa sudah semua? Jangan sampai ada yang ketinggalan."


"Sudah papa masukan semua Ma," jawab pria paruh baya tersebut.


Foster menahan langkah kakinya. Dia mengatur napasnya sebelum bicara.


"Ma, apa kabar?"


Sepasang suami istri itu segera memandang ke belakang. Alis mereka saling bertaut melihat putranya berdiri di sana. Padahal seharusnya saat ini Foster sedang ada di Prancis untuk urusan bisnis.

__ADS_1


"Foster, kenapa kau bisa ada di sini? Darimana kau tahu mana dan papa liburan ke sini?"


"Itu tidak penting Ma." Foster menahan kalimatnya. "Ada yang ingin Foster katakan sama mama dan papa."


"Foster, apa kau baik-baik saja, sayang?" Nyonya Matthew berjalan mendekati Foster dan memegang kedua pipi pria itu. "Kau terlihat sangat pucat. Apa kau kurang tidur akhir-akhir ini nak?"


"Ma, tidak di sini. Foster ingin bicara sama mama dan papa."


"Oke oke. Kita makan siang di restoran saja. Di dekat sini ada restoran favorit mama dan papa."


Foster hanya mengangguk saja. Pria itu seperti sudah tidak bersemangat untuk menjalani hidup ini. Maaf dari Daisy saja belum jelas. Jangan sampai restu dari orang tuanya juga tidak ia dapatkan.


Tidak butuh waktu lama mereka bertiga sudah tiba di restoran. Nyonya Matthew memesan ruangan VVIP agar bisa lebih privat dengan keluarganya. Dia memesan makanan favorit Foster. Namun Foster tetap saja tidak selera makan. Ia ingin bicara bukan makan siang!


"Ma, Foster ingin bicara. Apa sekarang sudah bisa Foster bicara?" Foster mulai frustasi.


"Sayang, mama akan dengarkan apapun yang kau katakan kecuali tentang wanita itu. Mama bahkan merasa muak mendengar namanya."


"Ini memang tentang Daisy, Ma. Tentang wanita yang Foster cintai!"


"Kau sudah janji untuk melupakan wanita itu. Kenapa lagi-lagi kau membahas wanita itu? Apa kau tidak sayang sama mama? Kau lebih menyayangi wanita itu?" Ny. Matthew menjadi emosi. Liburan yang tadinya ia pikir akan menyenangkan kini harus berantakan karena kemunculan Foster.


"Ma, beri Foster pilihan lain. Tetapi jangan minta Foster untuk memilih antara mama dan Daisy. Foster hanya ingin hidup bahagia dengan wanita yang Foster cintai Ma. Apa itu salah?"


"Gak salah Foster jika wanita yang kau cintai berasal dari keluarga yang baik-baik saja. Bukan berasal dari keluarga kriminal seperti Daisy. Kau mungkin sekarang menertawakan mama karena melarangmu berpacaran dengan wanita pilihanmu. Tetapi, lihatlah nanti. Ketika kau sudah menikah dan memiliki anak. Kau akan tahu apa tujuan mama melakukan semua ini. Sebagai orang tua, mama hanya ingin yang terbaik untuk hidupmu. Mama tidak pernah memintamu membayar apa yang sudah mama berikan selama ini. Tetapi kali ini, tidak ada penawaran lagi. Mama tetap tidak setuju apapun yang kau katakan. Keputusan mama tetap sama. Mama tidak akan merestui kalian. Jika kau tetap memaksa, kau tanggung sendiri akibatnya!"


"Ma!" Foster beranjak dari kursi yang ia duduki. Kedua tangannya diletakkan di atas meja. "Daisy juga berasal dari keluarga baik-baik. Mereka memang memiliki latar belakang yang buruk. Tetapi itu tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk memandang mereka sebelah mata. Mama harus percaya sama Foster kalau pilihan Foster tidak pernah salah. Daisy dan keluarganya orang yang terhormat ma. Bahkan mereka keturunan kerajaan Cambridge. Mama harus tahu kalau Daisy itu cucu Ratu Emelie."


"Ratu Emelie katamu?" Ny. Matthew kaget. Padahal informasi yang ia dapat dari orang bayarannya, tidak ada yang mengatakan kalau Daisy memiliki darah dari keluarga kerajaan Cambridge.


"Ya, ma. Ratu Emelie. Dia sudah tiada. Tetapi kerajaan Cambridge sangat menghormati keluarga Daisy. Terutama Opa nya."

__ADS_1


"Kau harus buktikan sama mama kalau Daisy keturunan keluarga kerajaan. Mama akan pertimbangkan lagi nanti," jawab Ny. Matthew. Foster terlihat jauh lebih bersemangat sekarang.


"Baik, Ma. Aku akan bawa buktinya di hadapan mama. Setelah ini aku yakin, mama tidak akan memandang Daisy sebelah mata lagi."


__ADS_2