
Austin berbaring di tanah dengan posisi beruang di atas tubuhnya. Pria itu diam tanpa kata hingga akhirnya membuat Norah khawatir. Baik beruang maupun Austin sama-sama tidak bergerak. Bahkan tubuh Austin sebagian tidak terlihat karena tertindih tubuh beruang yang besar itu.
"Austin, apa kau baik-baik saja?" tanya Norah sambil melangkah perlahan. Dia juga harus memastikan kalau beruang itu sudah mati. "Austin, apa kau mendengarku?"
Austin masih belum menjawab. Norah menyentuh tubuh beruang itu dengan takut-takut. karena tidak mau mengambil 2u dia menggunakan kayu untuk membangunkan beruang tersebut. Jika memang benar beruang itu sudah mati, maka Norah akan menyingkirkan beruang itu dari tubuh Austin.
"Austin, apa kau masih hidup? Bicaralah!" ketus Norah mulai tidak sabar.
Karena beruang itu tidak juga memberikan respon, akhirnya Norah menyingkirkan tubuh beruang itu dari tubuh Austin. Melihat Austin tidak sadarkan diri membuat Norah mendekati pria itu.
"Austin, bangun." Norah mendekatkan telinganya di dada Austin. Masih terdengar jelas suara detak jantung pria itu. Norah meletakkan Austin di atas pangkuannya. Dia terus saja menepuk pipi Austin berharap pria itu segera membuka mata.
"Austin, bangunlah. Jangan membuatku takut. Aku tahu kau cuma mengerjaiku!"
Sudah hampir lima menit membangunkan Austin, pria itu tidak juga memberikan tanda-tanda akan sadar. Norah yang mulai frustasi kini kembali diam sambil menangis. Entah kenapa akhir-akhir ini dia berubah menjadi wanita yang cengeng. Padahal selama ini dia terbilang wanita yang susah untuk menangis.
"Lalu aku harus bagaimana sekarang?" tanya Norah kepada Austin. Walau dia tahu pria itu tidak akan menjawabnya. Tetapi tetap saja Norah melontarkan pertanyaan-pertanyaan konyol kepada Austin. Hingga akhirnya Austin tidak tahan lagi. Secara spontan pria itu tertawa dan membuka kedua matanya.
"Apa menangisiku, Nona?" ledek Austin.
Norah melebarkan kedua matanya. Dia mendorong Austin dari pangkuannya dengan wajah kesal. "Ini tidak lucu! Aku tidak suka!" ketus Norah. Wanita itu ingin beranjak dan pergi dari sana. Namun, dengan cepat Austin menarik tangannya dan membuat Norah terjatuh. Kini justru Norah yang menindih tubuh Austin. Pria itu menahan tubuhnya dengan meletakkan kedua tangannya di dada bidang Austin. Sedangkan kedua matanya menatap Austin tanpa berkedip.
"Kau sangat cantik Norah. Kau sempurna di mataku," gumam Austin di dalam hati.
Norah masih membisu memandang wajah Austin. "Apa ini? Kenapa aku deg-degan seperti ini? Apa aku sakit? Tidak biasanya debaran jantungku seperti ini," gumamnya di dalam hati.
"Aku mencintaimu, Norah. Sangat mencintaimu. Bagaimana caranya agar kau percaya padaku, kalau aku tidak bohong. aku benar-benar mencintaimu." Austin tidak mau menunggu lagi. Dia ingin Norah tahu kalau perasaannya itu tulus.
"Apa yang kau katakan? Aku lelah bercanda." Norah ingin menjauh dari tubuh Austin. Tetapi lagi-lagi Austin menahan tubuh Norah dengan cara memegang pinggangnya.
"Aku serius. Aku mencintaimu. Dan aku ingin kau menjadi istriku!"
Norah terpaku mendengarnya. bahkan Austin tidak mengajaknya pacaran lagi. Pria itu ingin hubungan mereka segera melangkah ke jenjang yang lebih serius. Namun, Norah tidak mau mengecewakan Zion. Dekat dengan Austin bahkan sampai berhubungan dengan pria itu sama saja mengkhianati kakak kandungnya sendiri.
"Maaf, aku tidak bisa."
Norah menyingkir dan berdiri. Austin masih diam dengan wajah kecewa. Pria itu duduk dan memandang mayat beruang yang tergeletak di dekatnya.
"Apa itu artinya kau menolakku?"
"Ya," jawab Norah cepat.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku tidak ingin membahas masalah ini sekarang."
"Lalu kapan?" Austin memandang wajah Norah dengan kepala mendongak. "Apa tunggu kita keluar dari pulau ini baru kau mau mengatakan alasannya?"
"Austin, anggap saja kita tidak jodoh."
"Tidak, Norah. Tidak. Kita harus berjodoh! Kau harus jadi milikku."
Austin mulai kesulitan menahan emosinya. Sikap ambisiusnya kembali muncul hingga membuat Norah kaget. Inilah Austin yang pernah dia kenal. Si pria sok hebat yang selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Pria yang tidak pernah mau kalah.
"Semakin kau memaksaku, maka bagiku tidak ada alasan lagi untuk menolakmu, Austin. Permisi!" Norah memutar tubuhnya dan pergi. Padahal wanita itu tidak tahu harus kemana. Tetapi untuk saat ini dia merasa jauh lebih tenang jika tidak ada di dekat Austin.
"Austin, aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya terjadi kalau aku adalah adik kandungnya musuhmu. Kau pasti akan mencelakaiku. Aku masih ingin bertemu dengan keluargaku. Maafkan aku Austin. Mungkin lebih baik kita tidak berjodoh. Akan ada banyak masalah jika kita sampai bersatu. Bahkan mungkin aku tidak sanggup melewatinya."
Austin memandang punggung Norah dengan tatapan penuh arti. Tiba-tiba saja pria itu tertawa kencang ketika Norah Sudah beberapa meter dari posisinya.
"Hei, Nona. Aku hanya bercanda. Aku sengaja membuatmu marah. Ternyata kau tipe wanita yang suka menjauhi masalah daripada harus menyelesaikannya."
Norah menahan langkah kakinya. Norah tidak marah mendengar teriakan Austin. Justru dia merasa bersalah. Austin pria yang baik bahkan nyaris sempurna di mata Norah. sudah jelas-jelas pria itu cinta mati padanya. Bahkan rela mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan Norah. Tetapi satu hal yang membuat Norah sedih. Kenapa mereka pernah bermusuhan? Seharusnya permusuhan itu tidak pernah terjadi agar hubungan mereka tidak serumit ini.
"Nona, Kenapa kau diam saja?" Austin beranjak dari posisinya. Dia berjalan mendekati Norah. Ketika ingin memegang pundak Norah, tiba-tiba Norah lebih dulu berputar dan memeluk Austin. Hal itu membuat Austin syok. Dia bahkan bingung harus bagaimana hingga akhirnya dia memutuskan untuk membalas pelukan Norah. Wanita itu menangis di dalam pelukannya.
"Sekarang aku tahu kalau kau juga mencintaiku Norah. Kau tidak bisa menerimaku karena aku adalah musuh kakakmu. Baiklah, sekarang kau akan fokus memperbaiki hubunganku dengan Zion Zein. Setelah aku berhasil, aku akan menemuimu dan melamarmu di depannya," gumam Austin di dalam hati.
***
Zion yang ada di sana hanya bisa menenangkan adiknya yang sejak tadi menangis sedih. Daisylah yang paling cengeng di antara yang lain. Wanita itu bahkan berulang kali memanggil nama GrandNa dan berdoa agar wanita tua itu segera sadar.
"Daisy, kau sudah makan?" tanya Zion sambil mengusap rambut adiknya. Adiknya terlihat tidak terurus. Memang beberapa hari ini Daisy hanya fokus dengan Serena. Dia tidak terlalu peduli dengan penampilannya.
"Belum kak. Bahkan GrandNa juga belum."
Mendengar jawaban Daisy membuat Zeroun membatu. Pria itu memandang ke depan sebelum mengusap wajahnya lagi. Lukas yang juga ada di sana hanya diam tanpa tahu harus bagaimana.
Pintu ICU terbuka dan Leona muncul di sana. Wanita itu memandang ke arah Zeroun sambil menghapus air matanya. "Pa, mama Serena ingin bertemu papa."
Zeroun memandang ke arah Sabrina dan Kenzo. Mereka mengangguk pelan. Sejak tadi Sabrina yang ingin sekali bertemu dengan Serena. Namun, kenyataan berbeda. Serena justru ingin bertemu dengan Zeroun. Karena ada di ruangan ICU hanya boleh satu orang saja yang masuk.
"Apa dia sudah sadar?" tanya Sabrina ingin tahu.
"Sudah, Tante," jawab Leona. Wanita itu duduk di dekat Jordan. Dia menghapus air mata yang masih tersisa di pipi.
Zeroun mengatur napasnya dan memastikan kedua matanya tetap kering. Dia tidak mau Serena tahu kalau dia baru saja menangis. Pria itu mendorong pintu ICU dan segera masuk ke dalam.
__ADS_1
Suara monitor detak jantung menyambut kedatangan Zeroun. Zeroun memandang ke arah dokter dan suster yang juga ada di sana sebelum melangkah mendekati Serena.
"Dia sudah sadar. Tetapi tekanan darah dan oksigennya melemah," jelas dokter itu apa adanya. "Kami sudah melakukan tindakan sesuai dengan prosedur. Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawanya."
Zeroun mengepal kuat tangannya. Andai sekarang dia tidak ada di depan Serena, mungkin dokter itu sudah ia hajar sampai berbaring di ruang ICU juga. Sayangnya kini Serena sedang memandangnya dengan bibir tersenyum. Hal itu membuat Zeroun luluh dan melangkah lebih cepat lagi.
"Kau menangisiku?" ledek Serena.
Zeroun masih diam. Dia mengambil tangan Serena dan mengecupnya. "Kau harus sehat, Serena. Kau tidak boleh seperti ini. Dimana Serena yang aku kenal? Kau bukan wanita lemah!"
"Zeroun, sadarlah! Kita hanya manusia. Bukan robot. Kita sudah tua. Orang yang tua pasti akan mati."
"Jangan bicara soal kematian. Aku tidak suka mendengarnya," protes Zeroun.
"Baiklah. Aku tidak akan cerita tentang kematian. Aku juga tidak suka." Serena menahan kalimatnya. Dia mengatur napasnya dengan begitu sulit. Zeroun bisa tahu itu. Tetapi apa yang bisa dia lakukan?
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Serena. Kau harus kuat."
Serena tersenyum. Wanita itu memandang ke atas. "Daniel sudah menungguku."
"Kenapa kau selalu memilihnya? Bahkan kau lebih rela mati daripada hidup dan berkumpul bersama kami. Erena, jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Seharusnya aku yang lebih dulu pergi. Aku benci kematian. Aku benci perpisahan!"
Zeroun trauma. Kematian Emelie cukup menyiksa batin dan membuatnya hampir gila. Dia tidak mau menjadi benar-benar gila setelah kepergian Serena.
"Zeroun, maafkan aku." Serena kesulitan mengatur napasnya. Zeroun menggeleng pelan sambil meneteskan air mata. Dokter dan suster segera berlari.
"Erena, bangun Erena. Kau pasti kuat sayang ...." Zeroun mengusap punggung tangan Serena. Dia berharap wanita itu mau bertahan. Mereka harus mati bersama-sama.
"Aku ...." Buliran air mata menetes di sudut mata Serena. "Jangan menangis Zeroun. Jangan menangis. Aku menyayangimu."
"Hei, aku juga menyayangimu. Kau adikku bukan? Sahabatku. Kau nyawaku Erena. Bagaimana caranya aku hidup jika kau tidak ada?" lirih Zeroun dengan tatapan memelas. Kedua matanya memerah. Dia belum siap kehilangan Serenanya. "Erena sayang ...."
Serena memejamkan mata sejenak sebelum membukanya lagi. Dia tersenyum manis. "Maukah kau menciumku? Ciuman perpisahan."
"ERENA!" teriak Zeroun. "Apa ini? Apa maksudmu!" Zeroun semakin kalut. Pria itu tidak tahu harus bagaimana.
"Cium saja di sini. Aku akan tidur dengan tenang." Serena menyentuh keningnya.
Zeroun memalingkan wajahnya sambil mengepal kedua tangannya. Bahkan sampai memutih. Pria itu berusaha kuat dan tegar sebelum menunduk dan mendekati wajah Serena.
"Terima kasih." Serena memejamkan matanya ketika Zeroun ingin menciumnya.
Zeroun juga memejamkan mata ketika bibirnya berhasil mendarat di dahi Serena. Untuk beberapa saat dia ingin berada di situ. Menghirup aroma Serena agar tidak pernah dia lupakan.
__ADS_1
Serena tidak lagi membuka mata. Bahkan monitor detak jantungnya semakin melemah. Zeroun mulai meneteskan air mata. Karena tidak sanggup dia meletakkan kedua tangannya di pipi Serena.
"Bangun Serena. Bangun. Mana Erenaku? Bangun!"