
Ketika Faith tersentak bangun, ia kaget karena tidak melihat Dominic ada di ruangan tersebut. Setelah membenarkan selimut pada tubuh Zean, Faith memutuskan untuk keluar dan mencari keberadaan Dominic. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Sudah seharusnya Dominic beristirahat. Faith tidak mau sampai Dominic jatuh sakit juga.
Di depan ruangan Faith bertemu dengan suster yang kebetulan lewat. Wanita itu mencegah Suster itu lalu bertanya. "Sus, apa anda melihat kakak saya?" Suster itu kenal Faith dan Dominic.
"Kakak Anda ada di sana Nona." Suster itu menunjuk pada sebuah pintu yang tidak jauh dari lorong tersebut. Pintu itu berhubungan dengan tempat pemberhentiannya helikopter.
"Terima kasih, Sus," ucap Faith sebelum berlari menuju ke pintu tersebut.
Faith mendorong pintu itu lalu melihat Dominic berdiri di tepian gedung. Tanpa pikir panjang Faith segera berlari mendekati Dominic.
__ADS_1
"Apa yang kakak lakukan di sini? Bukankah di sini anginnya sangat kencang? Kakak bisa sakit jika lama-lama berada di sini," teriak Faith sambil berlari.
Dominic memutar tubuhnya sejenak lalu memandang ke depan lagi. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku sambil berdiri dengan tegap.
"Kenapa kau ke sini? Bukankah kau sendiri yang bilang kalau di sini banyak angin? Jika kau juga di sini, nanti kau bisa sakit. Berbeda dengan daya tahan tubuhku yang kuat," ucap Dominic.
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan yang sebenarnya padaku kalau Livy itu adalah wanita yang pernah kucelakai. Dokter itu mengatakan kalau Livy yang memintanya untuk menolong papa. Aku langsung kepikiran untuk mencari identitas wanita itu. Aku sama sekali tidak menyadari kalau wanita itu salah satu orang yang pernah aku celakai. Dia tidak sendirian. Ada seorang pria di mobil itu. Jika saja saat itu takdir tidak memihak mereka, mereka pasti akan mati. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan ketika nanti aku bertemu dengannya. Aku merasa sangat malu dan bersalah. Bahkan jika Aku mati saja belum pantas untuk menebus rasa bersalahku Ini."
"Kakak jangan bicara seperti itu. Aku tidak mau kakak kenapa-kenapa. Hanya kakak dan papa yang aku miliki saat ini. Tolong jangan tinggalkan aku. Soal Nona Livy, pasti masih bisa kita bicarakan. Aku yakin kalau Nona Livy bukan wanita pendendam. Dia pasti sudah memaafkan kesalahan Kakak sebelum memutuskan untuk menolong papa," ucap Faith dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Tidak, Faith. Aku yakin Livy menolong papa karena permintaan Tante Leona. Aku juga sangat yakin ketika dia mendengar kalau Papa adalah Ayah kandungku, dia langsung membenci Papa juga. Aku sama sekali tidak menyangka kalau orang yang pernah aku celakai akhirnya jadi pahlawan untuk keluargaku sendiri." Terlihat jelas rasa penyesalan di wajah Dominic. Namun nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain merubah diri untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi.
"Sekarang Kak Livy lagi bulan madu. Aku tahu ini ide yang buruk. Tapi jika Kakak mau menebus kesalahan Kakak, lebih baik Kakak kirim orang untuk menjaga Kak Norah dan juga Kak Livy. Meskipun mereka memiliki penjagaan sendiri, tetapi tetap saja mereka butuh pasukan untuk menjaga mereka agar bulan madu mereka bisa berjalan dengan lancar. Aku akan memberitahu masalah ini kepada Kak Zion agar orang-orang yang selama ini menjaga Kak Livy dan Kak Norah tidak curiga."
Dominic mengeryitkan dahinya. "Hanya sesederhana itu?" tanya Dominic kurang percaya.
Faith mengangguk cepat. "Nanti ketika Kak Livy dan Kak Norah pulang dari bulan madu mereka. Kakak bisa menemui mereka dan langsung meminta maaf. Aku yakin mereka mau memaafkan kesalahan kakak."
Dominic mulai kembali tersenyum. "Semoga saja. Terima kasih Faith."
__ADS_1