Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 38


__ADS_3

“Austin … kenapa pria itu lagi? Kenapa harus dia dari seluruh manusia yang ada di dunia ini?”


Norah merasa kalau dirinya berada dalam masalah besar. Karena kasihan, Norah membawa Tuan dan Nyonya Clark ke rumah sakit tanpa tahu sebenarnya mereka adalah orang tua Austin. Musuh bebuyutan kakak kandungnya sendiri. Setelah tiba di rumah sakit, Norah menghubungi pasukan Geng Gold Dragon dan meminta mereka mengirim informasi tentang keluarga Clark. Tujuan Norah hanya satu. Dia hanya ingin keluarga Tuan Clark tahu kalau Tuan dan Nyonya Clark telah tiada. Mereka tewas karena di bunuh oleh seseorang.


Polisi juga ada di sana. Mereka mengintrogasi Norah karena memang dia yang pertama kali menemukannya. Karena tidak terbukti bersalah, Norah akhirnya bebas. Wanita itu kini bisa pergi kemanapun dia suka tanpa terkena pasal apapun.


Namun lagi-lagi ada saja masalah yang menghalanginya. Norah tidak diijinkan pergi oleh pihak rumah sakit sampai keluarga Tuan Clark yang tidak lain adalah Austin tiba di rumah sakit. Hingga akhirnya, mau tidak mau Norah menunggu Austin di kursi yang ada di depan ruangan tempat dua jenazah orang tua Austin berada.


Norah tidak takut sama Austin. Waktu itu dia menggunakan topeng dan Austin sendiri tidak terlalu fokus dengan Norah. Norah merasa sangat yakin kalau Austin pasti tidak mengenalinya sebagai adik dari Zion Zein. Tetapi, bagaimana jika masalah ini sampai ke telinga Zion? Alasan apa yang harus digunakan Norah untuk membuat kakaknya percaya kalau dia tidak berkhianat. Dia terjebak!


Suara sepatu yang begitu cepat di lorong sebelah kanan membuat Norah beranjak dari kursinya. Dia melihat Austin yang melangkah dengan begitu gagahnya. Kedua matanya menatap dengan tajam. Sama seperti saat Norah melihatnya pertama kali. Pria itu masih kesulitan berjalan. Norah yakin, kalau ketika jatuh dari atas waktu itu pasti masih meninggalkan cedera di kaki pria itu. Di dahinya juga masih ada perban. Walau hanya berukuran kecil.


Austin tidak datang sendirian. Ada beberapa pria berseragam rapi di belakangnya. Setibanya di depan ruangan itu, sebelum masuk Austin melirik ke arah Norah. Pria itu tidak mengatakan apapun. Dia segera masuk ke dalam ditemani pria berseragam itu.


Norah memandang ke kanan ke kiri. Sepertinya jika dia ingin pergi, tidak akan ada lagi yang menghalanginya. Norah melirik jam yang sudah menunjukkan pukul satu malam. Dia harus segera ke markas untuk memeriksa masalah yang terjadi di sana sebelum kembali ke rumah. Norah tidak memiliki waktu yang banyak. Dia harus cepat!


Di dalam ruangan, Austin mematung dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Di depannya telah terbaring kaku dua orang yang sangat menyayanginya. Hanya mereka yang mungkin akan memandang Austin sebagai pria baik. Sisanya di dunia ini hanya akan memandang Austin sebagai pria yang jahat. Austin kesulitan bicara, kesulitan melangkah. Pria itu benar-benar tidak percaya melihat kedua orang tuanya sudah tiada. Padahal sebelum berpisah, mereka terlihat sehat-sehat saja. Tiba-tiba rasa bersalah kembali menyelimuti Austin.


Austin lagi-lagi memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah. Nyonya Clark tidak terima. Wanita itu menangis dan terus saja memohon Austin untuk kembali. Tuan Clark sendiri tidak bisa berbuat banyak. Austin anak yang begitu keras kepala. Sulit untuk membujuknya apa lagi jika dalam keadaan emosi seperti ini.


Setelah Austin pergi, kedua orang tua Austin memutuskan untuk menemui Austin lagi keesokan harinya. Mereka berharap bisa suasana hati Austin sudah kembali tenang. Namun, di jalan mereka bertemu dengan orang yang tidak dikenali. Orang itu pura-pura numpang hingga akhirnya penusukan ini terjadi.


“Maafkan Austin, Ma … Pa …,” lirihnya.


“Tuan, kami sudah berhasil menangkap orang yang sudah melakukan semua ini,” ujar pria yang ada di belakang.


“Tinggalkan aku sendiri,” sahut Austin. Tanpa banyak kata lagi, mereka segera meninggalkan Austin sendirian. Setelah mereka pergi, Austin mulai bisa meneteskan air matanya. Pria itu terjatuh dan berlutut di depan jenazah kedua orang tuanya. Dia sangat-sangat menyesal. Andai dia tidak pergi, semua kejadian ini tidak akan pernah terjadi. Kedua orang tuanya pasti masih hidup.

__ADS_1


Austin menundukkan kepalanya. Satu persatu air matanya mulai jatuh. Sambil mengepal kuat kedua tangannya, pria itu menangis senggugukan. Dia butuh orang tuanya. Sejahat dan setidak pedulinya Austin. Dia masih butuh sosok orang tuanya. Dia sangat menyayangi orang tuanya melebihi nyawanya sendiri. Namun memang terkadang dia terlalu egois. Hanya mau keinginannya saja yang di turuti tanpa mau memikirkan perasaan kedua orang tuanya.


Melihat kedua orang tuanya sudah tidak ada seperti ini, samar-samar Austin kembali ingat pertemuan terakhirnya dengan sang ayah. Pria itu sempat meminta Austin untuk berubah. Menjauhi dunia gelap yang sama sekali tidak memberikan untung bagi hidup Austin.


“Pa … bangunlah. Bangun Pa. Maafkan Austin. Austin janji akan menuruti perkataan papa. Tapi papa harus bangun.” Austin merangkak menuju ke tempat orang tuanya. Dia memegang kaki Tuan Clark terlebih dahulu. “Bangun, Pa. Pandang Austin. Marahi Austin seperti kemarin. Bangun, Pa!” Austin menuju ke Nyonya Clark. “Ma, bangun Ma. Austin belum sempat bahagiain mama. Jangan tinggalkan Austin Ma. Austin tidak mau sendirian. Tolong bangun Ma!”


Derai air mata membanjiri wajah Austin. Pria itu benar-benar sedih. Dia tidak sanggup menerima kenyataan ini. Dia menangis sendirian di ruangan itu sambil meratapi kesalahan yang sudah ia perbuat.


“Austin janji! Austin janji!” Austin berdiri dan memandang jenazah kedua orang tuanya. “Austin akan tinggalkan The Bloods dan mengurus semua bisnis papa. Austin akan berubah menjadi pribadi yang jauh lebih baik seperti yang selama ini papa dan mama inginkan!”


***


Di jalan, Norah terus saja kepikiran dengan Austin. Kedua orang tua Austin sudah tidak ada. Norah merasa yakin kalau sekarang pria itu pasti sedang bersedih. Anak mana yang tidak menangis ketika kedua orang tuanya pergi untuk selama-lamanya. Secara bersamaan lagi. Bahkan meninggalnya juga secara tragis. Karena di bunuh oleh seseorang.


“Kenapa aku jadi ingat sama mama dan papa ya. Aku tidak mau seperti Austin. Aku mau kedua orang tuaku selalu hidup. Tidak boleh pergi,” ujar Norah.


Norah memberhentikan mobilnya ketika sudah tiba di markas Gold Dragon. Kedatangannya langsung di sambut. Wanita itu turun dari mobil dan didampingi beberapa wanita yang sudah menunggunya sejak tadi.


“Masih ada di ruangan bawah tanah, Bos,” sahut wanita tangguh itu. Dia membukakan pintu agar Norah bisa masuk ke dalam.


Norah mendapat kabar kalau Rula telah tewas. Padahal mereka tidak memberikan wanita itu racun atau dengan sengaja membunuh Rula. Rula dalam keadaan sehat. Bahkan bisa dipastikan wanita itu masih bisa bertahan hingga beberapa hari ke depan.


Tetapi malam ini, saat bawahan Gold Dragon ingin memberi makan dan minum, mereka melihat Rula sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Ada buih di mulut wanita itu yang menandakan kalau dia mati karena keracunan.


Norah memandang Rula dengan helaan napas yang begitu berat. Sebenarnya dia kasihan. Tetapi, mau bagaimana lagi? Toh bukan dia yang sudah membunuh Rula.


“Siapa yang terakhir kali memberinya makan dan minum?”

__ADS_1


“Sepertinya dia penyusup, Bos,” jawab wanita itu dengan wajah bersalah. “Maafkan atas keteledoran kami, Bos.”


Norah melipat kedua tangannya. “Aku tidak mau hal yang sama terulang lagi. Bagaimana bisa penyusup masuk sampai ke ruang bawah tanah? Apa saja yang kalian kerjakan selama ini? Jika Kak Zion tahu, kalian semua bisa dihabisinya!” teriak Norah marah.


“Maafkan kami, Bos. Kami benar-benar minta maaf. Kami bersalah,” ujar wanita itu. Dia sampai berlutut agar Norah mau memaafkannya dan tidak memberinya hukuman.


“Baiklah. Semua sudah terjadi. Sekarang, kuburkan dia dengan layak. Aku harus pulang. Besok pagi akan aku beri tahu Kak Zion tentang masalah ini. Aku tidak mau ada jejak. Semua ini bukan kesalahan kita. Apa kalian mengerti maksudku?”


“Kami akan segera mencari penyusup itu, Bos. Kami pasti akan menangkapnya hidup-hidup,” jawab wanita itu lagi.


“Bagus!” Norah memandang jenazah Rula yang terlihat begitu menyedihkan. Dari ekspresi wajahnya sudah bisa dibayangkan kalau wanita itu pasti menahan sakit yang luar biasa sebelum ajal menjemputnya. “Maafkan aku. Semoga kau tenang di sana,” gumam Norah sebelum memutar tubuhnya dan pergi.


Sebelum sampai ke mobil, Norah mendapat panggilan masuk dari Zion. Ia meminta semua pasukan Gold Dragon yang ada di dekatnya menyingkir sebelum mengangkat panggilan masuk kakak kandungnya itu.


“Kau dimana Norah? Kau kabur?” Dari nada bicara Zion, Norah sudah tahu kalau kakaknya itu sangat mengkhawatirkannya.


“Kak, apa mama dan papa tahu?”


“Tidak. Daisy bilang kau sudah tidur. Tetapi saat kakak cek, kamarmu kosong dan mobil kakak tidak ada. Kau pergi kemana? Kenapa tidak bilang-bilang!”


“Maafkan aku kak.” Norah bersandar di depan mobil. “Aku bosan berada di lokasi pesta seperti itu.”


“Norah, kau ada di mana? Kakak jemput ya. Ini sudah sangat malam.”


“Jangan kak. Aku sudah mau pulang. Aku di markas. Aku baik-baik saja. Kakak jangan khawatir. Aku bisa jaga diri.” Norah berusaha menyakinkan Zion agar pria itu tidak perlu repot-repot menjemputnya. Rula tidak mau jika nanti Zion juga menghilang justru akan membuat curiga orang satu rumah.


“Baiklah. Kakak tunggu.”

__ADS_1


Panggilan telepon itu berakhir. Norah memandang ponselnya sebelum menghela napas. Di depan dia melihat pasukan Gold Dragon yang membawa jenazah Rula. Mereka akan segera memakamkan wanita itu dengan layak. Sebelumnya mereka juga akan membawanya ke rumah sakit untuk di mandikan dan melewati segala proses yang ada.


Norah segera masuk ke dalam mobi. Dia harus sampai di rumah sebelum Zion meneleponnya lagi. Setelah mobil yang membawa jenazah Rula berangkat, mobil Norah juga berangkat. Tanpa di sadari Norah, pasukan Gold Dragon akan membawa Rula ke rumah sakit yang sama dengan kedua orang tua Austin.


__ADS_2