
Dubai
Sejak Dominic tahu kalau Faith adalah adiknya, pria itu menjaga Faith layaknya seorang kakak. Dia bahkan tidak pernah meninggalkan Faith sendirian. Saat itu mereka berdua baru saja tiba di Dubai. Sejak turun dari pesawat, Dominic terus saja menggenggam tangan Faith. Dia tidak akan membiarkan adiknya berada jauh darinya. Sesekali pria itu memperhatikan wajah Faith sebelum tersenyum. Sekarang ekspresi wajah Dominic jauh berbeda jika dibandingkan sebelum bertemu dengan Faith. Dominic yang sekarang terlihat jauh lebih ceria dan bersemangat. Tidak ada lagi aura membunuh di matanya.
"Apa kau senang bisa jalan-jalan ke Dubai?" tanya Dominic tanpa memandang. "Di sini ada banyak sekali tempat berbelanja. Tidak ada satu wanitapun yang sanggup menolak godaan yang ada di Dubai. Aku ingin kau membeli barang-barang mewah yang di jual. Aku ingin kau seperti wanita pada umumnya yang suka sekali berbelanja. Bukankah selama ini kau hidup kekurangan? Aku yakin kau tidak akan pernah membeli barang yang harganya di luar standar."
Faith mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Dominic. Entah itu pujian atau ledekan. Rasanya Faith malas sekali untuk menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh Dominic. Namun hanya diam saja juga pasti akan percuma. 'Bukankah kita datang ke Dubai untuk menjenguk papa? Kenapa Kak Dominic bilang kalau kita sedang jalan-jalan. Oh ya, aku juga ingin memberitahu Kak Dominic kalau aku ini tidak sama seperti wanita pada umumnya yang suka berfoya-foya dan menghabiskan uang. Aku lebih senang membeli barang yang aku inginkan dengan uangku sendiri."
"Itu dulu. Setiap kali kau ingin membeli barang kau harus bekerja. Berbeda dengan kehidupanmu yang sekarang. Semua harta yang aku miliki juga akan menjadi milikmu. Jadi untuk apa kau bekerja lagi? Harta yang aku miliki sudah lebih dari cukup untuk menyenangkan hatimu." Dominic diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Kita ke Dubai memang untuk menjenguk Papa yang sedang sakit. Tapi tidak seharian juga kita bersama dengan papa. Kita memiliki banyak waktu untuk menikmati kota Dubai. Sayang sekali rasanya jika kita sudah tiba di Dubai tapi tidak jalan-jalan. Aku akan membawamu mengelilingi kota Dubai yang indah ini," ucap Dominic penuh semangat. Meskipun lelah, tetapi pria itu masih terlihat ceria.
"Sebelum ini apa Kak Dominic pernah ke Dubai?" Lagi-lagi Faith tertarik untuk mengetahui kehidupan kakaknya selama ini.
"Aku pernah bahkan sering ke Dubai. Tapi bukan untuk jalan-jalan. Hanya untuk urusan bisnis. Biasanya aku ke sini karena aku rapat dengan beberapa klien. Itu juga aku akan pulang setelah selesai. Aku tidak memiliki waktu untuk menikmati kota Dubai. Baru hari ini aku ingin jalan-jalan berkeliling kota Dubai. Itu juga karena aku sudah memiliki adik cantik dirimu." Dominic mencubit pipi Faith karena gemas.
"Kakak, jangan memujiku seperti itu. Aku bisa melayang tinggi nanti." Faith tersenyum manis mendengar pujian kakaknya.
"Jika tersenyum seperti ini kau terlihat sangat cantik. Berjanjilah padaku untuk tidak memasang wajah cemberut lagi. Apa lagi karena seorang pria."
Faith menggangguk. "Baiklah mulai sekarang aku berjanji sama Kak Dominic kalau aku akan terus memasang wajah yang ceria. Tidak lagi bersedih apalagi karena seorang pria. Aku akan menjadi diriku sendiri."
"Bagus. Itu baru namanya adikku." Dominic menepuk pelan pundak Faith karena merasa bangga dengan keberanian wanita itu. Selama hidup Dominic, Faith satu-satunya wanita yang berani memarahinya.
Kedatangan Dominic dan juga Faith sudah di tunggu-tunggu oleh anak buah Zean. Seorang pria berpakaian rapi menghampiri mereka berdua. Pria itu memandang ke arah Faith sejenak sebelum menunduk hormat. Hati pria itu berpikir kalau wanita yang kini digandeng oleh Dominic adalah kekasih baru Dominic. Memang selama ini setiap kali Dominic datang ke Dubai pria itu tidak pernah sendirian. Selalu ada wanita cantik di sampingnya.
"Selamat datang, Tuan. Senang bertemu dengan Anda lagi," sambut pria itu dengan penuh hormat.
"Aku pikir sudah ganti ternyata masih sama," jawab Dominic. "Di mana Papa? Aku ingin segera bertemu dengannya." Dominic memperhatikan lokasi sekitar.
"Tuan Zean tadinya dilarikan ke rumah sakit namun setelah ia sadar dia memaksakan diri untuk pulang ke hotel. Sekarang anda hanya perlu menemui Tuan Zean di hotel. Dia menolak untuk diperiksa secara intensif di rumah sakit. Sejak tadi hanya nama anda yang ia cari-cari. Sepertinya saat ini Tuan Zean sangat merindukan Anda Tuan."
__ADS_1
"Kau tidak perlu melebih-lebihkan cerita karena aku tahu bagaimana sifat papa. Dia tidak akan mungkin merindukanku. Aku tahu kalau papa memerintakanmu untuk mengundangku datang ke Dubai itu mungkin karena ada sebuah rencana yang sudah ia persiapkan. Yang pastinya misi ini akan sangat menguntungkan baginya."
Di mata Dominic, Ayah kandungnya masih sama seperti dulu. Pria tidak berhati yang tidak pernah menyayangi putranya. Meskipun hari ini ia merasa bahagia karena bisa bertemu dengan ayah kandungnya lagi, tetapi ada secuil rasa gelisah di dalam hatinya. Ia takut kalau semua ini hanya jebakan semata hingga akhirnya akan membuatnya kecewa.
"Sebaiknya jauhkan pikiran seperti itu Tuan Karena sekarang Tuan Zean memang sudah banyak berubah. Anda pasti akan kaget ketika bertemu dengannya nanti. Mungkin karena faktor usia. Semakin tua ia semakin sadar kalau semua perbuatannya yang dulu pernah melukai hati anda adalah perbuatan yang salah. Saya minta kepada anda untuk kembali berdamai dengan Tuan Zean. Bagaimanapun juga Anda dan Tuan Zean adalah ayah dan anak. Sudah sepantasnya saling membantu satu sama lain. Anda juga bisa tinggal di satu rumah dan saling menyayangi. Bisnis Tuan Zean juga jadi terbengkalai akhir-akhir ini. Saya melihat Tuan Zean tidak bersemangat lagi dalam mengelola bisnis yang ia miliki. Jika dibiarkan terus-menerus bisnis yang sudah ia bangun dari nol bisa hancur berantakan. Hal ini membuat saingan bisnis Tuan Zean mencari celah untuk menghancurkan bisnis mereka."
"Bisakah sekarang kita bertemu dengan papa? Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya," bisik Faith di telinga Dominic. Wanita itu juga tidak mau sampai pria yang ada di hadapannya mendengar apa yang ia katakan.
"Baiklah, sekarang cepat antar aku bertemu dengan papa. Aku tidak memiliki waktu banyak di sini," Ucap Dominic dengan wajah sombong. Ia tidak mau terlalu lama menunggu.
"Baik, Tuan. Silakan." Pria itu segera membuka pintu mobil dan memberi jalan kepada Dominic dan Faith untuk masuk ke dalam. Setelah Dominic dan Faith masuk ke dalam pria itu, sang supir juga segera mengitari mobil lalu masuk dan duduk di bangku kekudi. Kemudian ia melajukan mobil tersebut dengan kecepatan tinggi menuju hotel tempat Zean saat ini berada."
Di sepanjang jalan menuju ke hotel Faith tidak berhenti-hentinya memuji keindahan kota Dubai. Apalagi Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di Dubai bersama dengan seorang wanita. Rasanya semua masih seperti mimpi. Faith yang dulu hanyalah wanita biasa yang sering dihina oleh teman-temannya karena miskin kini telah berubah menjadi Cinderella. Wanita itu telah memiliki segalanya. Ia sudah bisa mendapatkan apapun yang ia inginkan sejak ia di akui oleh Dominic sebagai adik.
"Takdir memang sempat mempermainkan hidupku. Tapi aku tetap menikmatinya. Karena aku tahu jika tidak ada cerita yang dulu maka tidak akan pernah ada cerita yang sekarang. Semua saling berhubungan satu sama lain. Kehidupanku yang dulu mengajarkanku untuk banyak-banyak bersyukur. Sehingga di kehidupan yang sekarang Aku Menjadi pribadi yang lebih menghargai uang," gumam wanita itu di dalam hati.
"Kak Dominic tenang saja. Aku pasti akan berjuang untuk membuat Papa percaya," jawab Faith dengan penuh percaya diri.
Pria yang kini mengemudikan mobil terlihat bingung. Dari obrolan antara Dominic dan Faith, Sekarang wanita sudah bisa menyimpulkan kalau hubungan di antara Domino's dan Faith adalah hubungan persaudaraan bukan sepasang kekasih.
"Tuan. Siapakah nona cantik yang sejak tadi bersama dengan Anda?" tanya Sopir itu ingin tahu. Sejak tadi ia memang sudah penasaran.
"Dia adalah adikku," jawab Dominic mantap.
"Anda memiliki adik angkat." Pria itu ingin memperjelas semua ini lagi.
"Kami memiliki Ayah yang sama namun dari ibu yang berbeda. Apa itu bisa dikatakan sebagai adik angkat. Bukankah lebih tepatnya kami ini adalah adik kakak kandung karena berasal dari ayah yang sama."
"Apa maksud Anda tuan? Saya masih tidak mengerti," ucap Sopir itu dengan wajah bingung. "Apa anda mau bilang kalau Nona yang kini duduk di samping Anda adalah putri yang selama ini dicari oleh Tuan Zean."
__ADS_1
"Ya. Kali ini tebakanmu benar," soraknya penuh semangat.
Bukankah Setahu saya Anda sangat membenci Putri yang selama ini dicari oleh Tuan Zean? Bagaimana bisa anda menemukannya secepat ini. Bahkan Tuan Zean saja yang sudah mengeluarkan uang begitu banyak hanya untuk mencari keberadaannya, tetap saja gagal. Pria itu terlihat ragu. Ia tkut jika wanita yang dibawa oleh Dominic adalah Putri palsu yang sengaja disiapkan Dominic agar semua orang percaya dengannya. Termasuk Dominic.
"Kau tidak perlu repot-repot memikirkan masalah ini karena ini semua akan menjadi urusanku dan papa. Aku akan mengajak Papa untuk tes DNA agar ia percaya. Aku juga akan menunjukkan hasil tes DNA kami yang baru saja keluar seminggu yang lalu. Dari hasil tes DNA ini sudah tertulis jelas Kalau kami berdua adalah adik kakak. Tidak ada yang bisa menyangkalnya lagi."
Dominic segera mengeluarkan surat hasil tes dna-nya dan memberikannya kepada sopir yang duduk di depan. Pria itu menurunkan laju mobilnya lalu memeriksa surat hasil test DNA tersebut dengan seksama. Ia menurunkan surat yang baru saja ia baca lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasanya dia masih sulit untuk percaya kalau pada akhirnya iklan yang berhasil menemukanu mereka berdua.
"Sekarang apa kau percaya dengan apa yang aku katakan?" tanya Dominic dengan senyuman kecil. Aku tidak mungkin berbohong karena bagiku itu sangat tidak berarti. Sama sekali tidak menguntungkan."
"Terima kasih Tuan. Terima kasih. Saya harap setelah bertemu dengan Nona ...." Sopir itu bisa menahan kalimatnya karena ia tidak tahu siapa nama majikan barunya tersebut.
"Faith. Kau bisa memanggilnya dengan nama Faith Domini.
"Kalau Faith Senang bertemu dengan anda. Saya harap anda bisa membuat Tuan Dominic dan Tuan Zean kembali bersatu seperti dulu lagi. Mereka harus terlihat kompak sebagai ayah dan anak. Tidak lagi berselisih paham dan saling menjatuhkan seperti yang beberapa bulan terakhir ini mereka lakukan.
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyatukan mereka dan membuat mereka kembali merasakan kasih sayang. Saya harap anda bisa membantu saya, Tuan," ucap Faith.
"Tentu Nona Saya akan membantu anda. Saya akan mendukung semua rencana Anda jika itu berhubungan dengan Tuan Zean dan Tuan Dominic."
Faith kembali memandang Dominic yang sejak tadi terus saja memandang wajahnya. "Setelah bertemu dengan papa kakak harus memasang wajah seceria ini. Jangan lagi memasang wajah cemberut seolah-olah kakak ingin mengajak Papa perang.
Memasang wajah cemberut seperti itu hanya akan membuat lawan bicara kita berpikiran yang aneh-aneh. Dia akan berpikir kalau sebenarnya kita tidak menyukainya. Bahkan ada beberapa kasus yang membuat salah paham di antara kedua belah pihak. Apapun keadaannya dan di manapun berada ekspresi wajah menentukan karakter seseorang."
"Apa secara tidak langsung kau ingin menyindirku? Kalau selama ini aku selalu memasang wajah jutek itu berarti aku menunjukkan sifat kalau aku ini pria yang tidak memiliki perasaan. Apa itu benar?"
"Mana berani Aku mengatakan kalimat seperti itu bahkan memikirkannya saja aku tidak mau," dusta Faith. Padahal yang sebenarnya terjadi memang Dominic ini dipandang sebagai pria angkuh dan sombong. Bukan hanya itu saja Ia juga dipandang sebagai pria yang tidak memiliki hati dan perasaan. Semua predikat jelek telah melekat di dirinya.
"Kak Dominic, aku akan membuat kakak merasakan kasih sayang seorang papa. Aku janji," gumam Faith di dalam hati.
__ADS_1