
Zeroun menghajar orang-orang yang ada di dekatnya. Walau begitu, pikirannya masih dipenuhi nama Serena. Dia ingin pertarungan ini segera berakhir. Namun, musuh mereka seperti tidak ada habisnya. Di tambah lagi Zeroun tidak tahu siapa dalang dari semua masalah ini.
Lukas yang sudah lelah, juga mulai memikirkan jalan untuk kabur dari sana. Dia tahu kalau saat ini Zeroun tidak konsentrasi dengan pertarungannya. Pria itu pasti memikirkan nama Serena di dalam ingatanya. Walau bisa di bilang Lukas juga sangat mengkhawatirkan Serena, tetapi pria itu harus tetap kuat karena dia yang bisa di andalkan di sana.
"Bos, musuh semakin banyak. Sepertinya kita akan kalah jika musuh terus meledakkan beberapa pagar pembatas." Lukas masih fokus dengan tembakan di depan.
"Dimana Kenzo dan Sabrina? Juga Lana," tanya Zeroun bingung. Seharusnya mereka sudah ada di rumah itu untuk membantu mereka. Bagaimanapun juga, mereka sudah tua. Kemampuan mereka tidak selincah dulu. Bahkan sudah sepatutnya mereka pengsiun dari dunia pertarungan seperti ini. Hanya saja, demi cucu mereka rela bertarung lagi seperti masa muda dulu.
"Saya juga tidak tahu, Bos. Mereka menghilang begitu saja." Lukas juga mulai mengkhawatirkan Lana. Seharusnya wanita itu memang berdiri di sisinya untuk membantunya. Walau Lana juga tidak sehebat dulu. Tapi, untuk masalah memegang senjata wanita itu masih sanggup. Namun, sejam sebelum penyerangan terjadi, Lana hilang entah kemana. Termasuk Kenzo dan Shabira. Kini bukan hanya Zeroun saja yang khawatir. Bahkan Lukas juga sangat mengkhawatirkan istrinya.
DHOOM
Lagi-lagi terdengar suara ledakan. Hal ini membuat Zeroun semakin geram. Jika terus seperti ini, mereka tidak akan bisa segera berangkat ke rumah sakit.
"Lukas, kau punya sesuatu untuk di ledakkan?" tanya Zeroun tanpa memandang.
Lukas mengeryitkan dahinya. Karena tidak memiliki firasat akan di serang, jelas saja pria itu tidak menyimpan benda-benda seperti itu. Dia juga tidak mau sampai salah letak dan menimbulkan masalah.
__ADS_1
"Tidak, Bos."
"Kenapa kau tidak membawanya!" protes Zeroun kesal. Seharusnya pria itu tahu. Sekarang mereka bukan pemimpin Gold Dragon lagi. Jelas saja benda seperti itu tidak di bawah oleh Lukas.
"Bos, kita sudah tua. Bagaimana mungkin anda meminta saya untuk membawa benda seperti itu. Bahkan senjata api saja sering saya tinggal," jawab Lukas membela diri. Ternyata semakin tua dia memiliki keberanian untuk membantah Zeroun.
Zeroun diam sejenak. Dia menarik napas karena semua yang dikatakan Lukas memang benar. Seharusnya saat ini dia duduk di kursi yang empuk sambil menikmati televisi. Bukan berdiri dengan senjata api dan mengalahkan musuh yang usianya rata-rata sama seperti Zion.
"Dimana Zion?" Zeroun yang baru saja sadar kini mulai mencari keberadaan cucunya. Padahal sejak tadi dia hanya fokus dengan musuh di depan. Sampai-sampai dia lupa kalau Zion salah satu target musuh mereka malam ini.
"Kenapa kau tidak bilang sejak tadi!" Zeroun menahan tembakannya. Dia berlari menghindar untuk mengejar Zion. Lukas hanya bisa mengelus dada melihat tingkah Zeroun yang semakin tua semakin aneh. "Seharusnya kami tidak seperti ini. Masa tua kami harus tenang!"
Lukas memandang musuh di depannya yang sejak tadi tidak ada habisnya. "Kalian semua membuatku muak!" Pria itu memegang senjata Laras panjang dan menembak musuhnya tanpa ampun hingga membuat hiasan-hiasan kaca yang tertata rapi berantakan dan berserak di lantai. Seharusnya memang sejak tadi dia lakukan. Tetapi Lukas masih memikirkan Zeroun. Kini Lukas maju sambil memegang senjata api itu tanpa peduli dengan keselamatan orang lain lagi.
...***...
Austin dan Zion masih bertahan di posisi mereka masing-masing. Mereka berdua sama-sama tidak mau menyerang lebih dulu. Austin sendiri bukan tidak mau menyerang duluan. Ia hanya belum menemukan keputusan yang tepat. Pikirannya masih dilema hingga detik ini. Sedangkan Mr. A seperti sedang menertawakannya di seberang sana.
__ADS_1
"Bos, apa yang anda tunggu?" Seorang pria memberikan senjata api kepada Austin. "Anda bisa membunuh pria itu sekarang juga. Dia sendirian dan sekarang kita sudah berhasil mengepungnya," bisik seseorang yang sejak tadi berdiri di dekat Austin.
"Zion Zein, kenapa dia bisa sendirian? Kemana pasukan Gold Dragon?" Ini memang benar-benar aneh. Austin bukan senang melihat Zion dikepung seperti ini. Justru dia yang terlihat panik. Kalau bisa Zion Zein tetap baik-baik saja walaupun nanti pada akhirnya mereka tetap akan bertarung.
Zion juga terlihat bingung melihat Austin. Kesempatan untuk menyerang sudah ada. Tetapi pria itu tidak juga melakukan tindakan apapun. Zion melirik ke arah pergelangan tangannya. Posisinya berada saat ini sudah terbaca. Tidak lama lagi pasukan Gold Dragon akan tiba untuk membantunya. Zion juga tidak mau sampai kalah. Apa lagi setelah dia tahu, kalau dia adalah target musuhnya malam ini.
"Kenapa kau diam saja? Kau takut kalah lagi? Eh?" ledek Zion. Dia sengaja ingin membuat Austin terpancing dan emosi agar menyerang duluan.
"Bagaimana mungkin aku jatuh cinta kepada wanita yang memiliki kakak sesongong ini? Apa benar mereka saudara kandung?" umpat Austin di dalam hati.
Zion juga bingung melihat Austin tidak memberikan respon apapun. Jauh berbeda ketika pertarungan mereka waktu itu. Saat itu Austin terlihat sangat menggebu-gebu. Kali ini justru Austin terlihat tidak peduli dengan apa yang dia dengarkan. "Kenapa dia diam saja? Apa dia sudah menyiapkan sebuah jebakan lagi?" Zion memperhatikan ke kanan ke kiri. Semua orang masih memandangnya dengan tatapan menikam. "Baiklah. Sepertinya langkah pertama kau harus menghabisi orang-orang tidak penting yang ada di dekatku ini."
Zion memutar tubuh sebelum berjongkok dan menjegal orang-orang yang ada di dekatnya hingga terjatuh. Dia juga menembak musuh-musuh itu. Tidak peduli kalau peluru yang ia miliki jumlahnya terbatas.
Austin memejamkan mata sejenak sebelum maju ke depan. Dia harus terlihat sedang bertarung di depan Mr. A. Jika tidak, Austin khawatir tidak bisa bertemu dengan Norah lagi.
"Baiklah. Aku terpaksa bertarung dengannya. Semoga saja Norah tidak marah padaku," gumam Austin di dalam hati. Mengingat Norah membuatnya menahan langkah kakinya. "Bukankah seharusnya dia sudah tahu kalau aku adalah musuh kakaknya? Lalu, untuk apa dia menolongku malam itu?"
__ADS_1