
“Ma, Zion pergi bersama Austin untuk menyelamatkan Norah. Ini kesalahan Zion. Mama jangan khawatir. Zion bisa jaga diri. Maafkan Zion, Ma. Mama dan papa pasti kecewa sama Zion karena Zion pergi tanpa pamit. Daisy sudah celaka. Tolong jaga Daisy saja ma. Percayakan Norah sama Zion. Maafkan Zion sekali lagi ma. Seluruh pasukan Gold Dragon ikut bersama Zion. Termasuk sniper. Zion harap, Mr. A tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang Mama dan papa. Zion sudah meminta Opa Lukas untuk menjaga Daisy. Semua akan baik-baik saja ma. Zion sayang mama dan papa.”
Leona menurunkan tangannya setelah membaca surat yang dituliskan Zion. Wanita itu memandang Daisy yang masih belum sadarkan diri. Dia mengusap rambut putrinya dan tersenyum kecil. “Kalian semua anak yang hebat. Mama bangga pernah mengandung dan melahirkan kalian bertiga.” Buliran air mata menetes di pipinya. Ibu mana yang bisa tenang ketika tahu putranya menantang bahaya. Tetapi, ikut pergi hanya akan memperburuk keadaan. Leona dan Jordan tidak mau meninggalkan Daisy dalam keadaan seperti sekarang ini. Penjagaan juga sudah berkurang karena semua ikut bersama Zion.
“Sayang, semua akan baik-baik saja.” Jordan mengecup pucuk kepala Leona. “Jangan bersedih.” Pria itu berusaha memberi kekuatan bagi istrinya. “Masalah ini pasti bisa kita lewati.”
“Bagaimana dengan tikus kecil itu?” tanya Leona. Dia telah tahu kalau orang yang sudah menjebak putrinya adalah wanita yang selama ini di anggap Daisy sebagai sahabatnya. Leona sudah meminta Jordan untuk menangkap Esme.
“Sudah ada di penjara bawah tanah. Kau bisa menjenguknya kapan saja,” jawab Jordan dengan santainya.
“Aku akan mengurusnya setelah Daisy bangun.” Leona mengusap rambut Daisy lagi sambil berdoa. Berharap putrinya segera bangun. Entah hukuman apa yang akan ia berikan kepada Esme nanti. Yang pasti, dia tidak akan memaafkan wanita muda itu begitu saja. Karena kelakukannya, nyawa putra dan putrinya yang menjadi taruhannya.
Di depan kamar tempat Daisy di rawat, Lukas membaca informasi yang diberikan seseorang. Pria itu terlihat sangat tegang. Dia duduk di kursi dan menunduk. Ponselnya ia genggam dengan erat. Kedua matanya terpejam. “Livy ...,” gumamnya di dalam hati. Terlihat jelas kalau kini pria tua itu sangat mengkhawatirkan cucunya.
***
Zion dan Austin melajukan mobil mereka menuju ke bandara. Mereka harus pergi meninggalkan kota Cambride. Mereka sudah berhasil mendapatkan informasi keberadaan Norah. Kini saatnya bertarung. Misi penyelamatan Norah tidak semudah yang dipikirkan. Ada banyak sekali hal tak terduga yang mungkin akan terjadi nantinya. Austin sudah memberi tahu Zion mengenai resiko yang akan mereka temui. Namun, Zion juga tidak memiliki pilihan lain selain maju ke depan untuk membawa pulang adiknya.
Austin memberhentikan mobilnya di bandara. Ia segera turun agar bisa segera naik pesawat. Zion yang baru saja turun membuat Austin menahan langkah kakinya. Pria itu memandang Zion sejenak sebelum memutar tubuhnya. Austin masih kecewa dengan Zion. Andai saja sejak awal Zion tidak menghalangi hubungannya dan Norah, mungkin masalah seperti ini tidak akan pernah terjadi.
“Austin,” sapa Zion hingga membuat Austin menahan langkah kakinya. Pasukan Gold Dragon yang ikut bersama Zion belum berani masuk ke dalam pesawat sebelum Zion masuk.
“Ada apa?” tanya Austin. “Kita tidak memiliki banyak waktu. Kita harus segera berangkat.”
“Maafkan aku,” sambung Zion lagi.
__ADS_1
Austin menggeleng. “Bukan saat yang tepat untuk membahas hal seperti itu. Norah butuh kita,” jawab Austin tanpa mau memberi keputusan apakah dia sudah memaafkan Zion atau belum. “Ayo kita berangkat. Kita harus segera menyelamatkan Norah.”
Zion mengangguk dan berjalan mendekati Austin. Dua pria itu berjalan beriringan menaiki tangga diikuti oleh pasukan Gold Dragon di belakang.
Setibanya di dalam pesawat, mereka sudah di sambut oleh wanita cantik yang memakai pakaian seksi berwarna merah. Wanita itu memberikan senyuman hangat kepada Austin.
“Selamat datang kembali, Bos.”
Zion sempat melirik tatapan Austin. Tentu saja dia juga harus tahu bagaimana karakter calon adik iparnya ini. Tetapi, satu hal tak terduga terjadi. Austin bahkan tidak menjawab sapaan wanita itu. Dia berlalu begitu saja dengan langkah yang gusar hingga membuat si wanita itu malu.
“Bos, semua sudah saya siapkan di dalam. Termasuk senjata keluaran terbaru yang anda minta,” ucap wanita itu lagi dengan nada yang tinggi agar Austin dengar.
“Itu yang aku butuhkan. Bukan ucapan selamat datang,” sahut Austin. Zion menyunggingkan senyuman tipis mendengarnya. Dia masih tetap mengikuti Austin dari belakang. Pria itu tidak terlalu paham dengan susunan pesawat yang kini ia tumpangi. Pesawat ini milik keluarga Clark. Sudah lama tidak digunakan oleh Austin. Hari ini dia sangat membutuhkan pesawat keluarga Clark karena hanya pesawat itu yang bisa mengantarkan mereka menuju ke negara tempat Norah di sekap.
Austin memutar tubuhnya dan menunjuk sebuah kursi warna hitam yang ada di sampingnya. “Silahkan duduk. Saya akan duduk di sana.” Austin menunjuk kursi yang bersebrangan dengan Zion.
Setelah Zion dan Austin duduk, wanita tadi kembali muncul bersama seorang pria. Mereka membawa senjata api yang sudah dipesan oleh Austin. Mereka berdiri di depan Austin sambil menunjukkan beberapa senjata api tersebut.
“Bos, ini beberapa senjata yang anda inginkan. Senjata mana yang ingin anda gunakan nanti?” tanya wanita itu sambil memperhatikan Austin dengan saksama. Sudah lama dia tidak melihat Austin. Rasanya dia sangat senang bisa melihat Austin lagi. Setidaknya, mulai sekarang pesawat yang selama ini dia jaga akan terbang lagi. Tidak hanya diam di bandara seperti yang terjadi selama beberapa bulan terakhir ini.
Bukan langsung memilih, Austin justru memandang Zion. “Anda bisa memilih senjata yang ingin anda gunakan.”
Wanita itu menunjukkan senjata yang dia bawa kepada Zion. Zion memperhatikan beberapa senjata itu. Semua terbaik. Hanya satu tembakan saja sudah bisa menewaskan musuh mereka. Menembus kaca dan juga memiliki keakuratan yang baik. Zion sendiri sempat bingung harus memilih yang mana. Karena semua senjata yang ditawarkan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
“Aku akan gunakan senjata ini dan senjata milikku sendiri.” Zion hanya mengambil satu senjata dari 10 senjata api yang di tawarkan. Austin mengangguk pelan. Kini saatnya dia memilih. Tentu saja Austin tidak memilih hanya satu. Pria itu memilih dua senjata sekaligus. Dia juga langsung memasukkan peluru ke dalamnya.
__ADS_1
“Pergilah!” usir Austin.
“Permisi, Bos.” Wanita itu segera membawa bawahanya pergi bersama dengannya. Kini hanya tersisa Zion dan Austin saja di sana. Dua pria itu sama-sama diam karena sedang memikirkan Norah.
“Sepertinya aku tidak perlu bertanya lagi. Tetapi, aku ingin mendengarnya langsung,” ucap Zion sambil memandang Austin. Austin membalas tatapan Zion dengan alis saling bertaut karena bingung.
“Apa yang ingin anda dengar?”
“Apa kau mencintai adikku Norah?” tanya Zion dengan wajah yang serius.
Austin diam sejenak seolah-olah pertanyaan itu sangat sulit di jawab. Padahal dia hanya perlu waktu satu detik untuk menjawab ya. Tetapi, entah kepada dia masih diam walau detik jam sudah berlalu selama 10 detik.
“Ada yang salah dari pertanyaanku?” tanya Zion bingung ketika Austin tidak juga menjawabnya.
“Tidak!” jawab Austin. “Aku tidak mencintai Norah.”
Zion terdiam mendengarnya. Seperti ingin marah tetapi dia tahu kalau ada alasan di balik jawaban Austin. Tidak mungkin Austin menyerah. Tidak mungkin Austin akan meninggalkan Norah. Seperti itu yang ada di dalam pikiran Zion saat ini.
“Kau tidak mencintai Norah?” Zion ingin memastikan lagi.
Austin tertawa. Pria itu melambaikan tangan meminta pramugari untuk membawakan minuman. “Itu pertanyaan konyol. Aku sudah berulang kali mengorbankan nyawaku untuknya. Aku tidak peduli jika hal ini menjadi hal yang sia-sia. Yang terpenting, seumur hidupku aku pernah berjuang demi wanita yang aku cintai. Aku mencintainya, Tuan. Sangat mencintainya. Jangan tanyakan pertanyaan seperti itu lagi.”
Anehnya Zion tidak mau ikut tertawa bersama Austin. Dia tahu kalau Austin sedang mencairkan suasana. “Kalau begitu, tinggalkan Norah. Dia akan bahagia jika berpisah darimu.”
Austin mengangguk pelan mendengarnya. Dia membanting gelas yang tadi sempat ia genggam di atas meja. “Tidak akan. Saya akan memperjuangkan Norah sampai titik darah penghabisan, Tuan Zion Zein. Bahkan menghadapi anda, saya sanggup!” Austin menuang minuman ke dalam gelas kosong dan memberikannya kepada Zion.
__ADS_1
Zion menerima minuman yang diberikan kepadanya. Dia membuang tatapannya dan meneguk minuman itu secara perlahan. Ada senyum tipis di bibirnya.
Pasukan Gold dragon yang kebetulan mendengar percakapan Austin dan Zion hanya bisa saling memandang dengan pikiran mereka masing-masing. Bukan hanya hari ini. Tetapi selama mereka menjadi bawahan Zion, mereka belum juga berhasil menilai bagaimana sebenarnya sifat bos mereka itu. Terkadang dia humoris, terkadang dia berubah menjadi pria yang menakutkan.