
Malam ini Leona meminta para pelayan untuk menyiapkan pesta barbeque. Wanita paruh baya itu memang ingin kembali ke masa mudanya dulu. Bersenang-senang bersama dengan orang terkasih saat malam tiba. Melupakan usia yang sudah tidak muda lagi.
Leona sengaja memanfaatkan momen ini untuk berkumpul. Wanita itu tahu kalau sudah banyak sekali anggota keluarga mereka yang usianya sangat tua. Entah tahun depan mereka bisa bertemu lagi atau tidak.
Semua sudah dipersiapkan. Hanya sedang menunggu semua orang berkumpul di tempat itu. Karena terlalu ramai, bahkan mereka semua tidak menyadari kalau Dominic sudah tidak ada di kapal. Zion dan Zean yang mulai menyadari ketidakberadaannya Dominic.
Faith belum memberi informasi apapun karena dia berencana untuk memberi tahu kepergian Dominic saat besok pagi. Wanita itu tidak Zean menjadi khawatir dan tidak lagi menikmati suasana liburannya.
Malam itu Faith sedang merias wajahnya di dalam kamar. Dengan balutan gaun panjang berwarna hitam, Faith terlihat sangat elegan. Memang malam ini Leona meminta semua orang untuk memakai gaun warna hitam. Dia ingin pesta barbeque yang dia rencanakan bisa berjalan dengan meriah dan meninggalkan kesan yang bagus.
"Kira-kira Kak Dominic sudah sampai belum ya?" Faith menghela napas panjang sembari memandang wajahnya sendiri di depan cermin. Wanita itu memegang kedua pipinya sebelum tersenyum. "Sayang sekali malam ini Kak Dominic tidak bisa ikut berpesta. Aku maunya dansa sama Kak Dominic." Faith berusaha merelakan Dominic. Meskipun sebenarnya wanita itu inginnya Dominic selalu ada di sampingnya. "Kalau ada Kak Dominic aku tidak bisa dekat dengan Kak Zion. Kalau gak ada Kak Dominic aku justru merasa ada yang kurang. Sepertinya memang lebih baik ada Kak Dominic di sini. Dengan begitu perjuangan Kak Zion lebih terlihat."
Suara ketukan pintu membuat Faith beranjak dari kursi yang ia duduki. Wanita itu berjalan pelan-pelan menuju ke arah pintu. Setibanya di depan sana ia segera membuka kunci lalu menarik pintu tersebut agar terbuka.
"Selamat malam," sapa Zion dengan pakaian yang sudah rapi. Pria itu memberikan sekuntum bunga mawar kepada Faith hingga akhirnya membuat Faith tersipu malu.
"Terima kasih Kak," ucap Faith sembari menerima bunga tersebut.
Zion memandang ke dalam kamar. "Apa aku boleh masuk?"
Faith mengangguk lalu memberikan jalan kepada Zion. Setelah Zion masuk ke dalam wanita itu kembali menutup pintu kamarnya.
"Apa Daisy sudah siap? Tadi kami janjian akan pergi bersama ke lokasi pesta." Faith berjalan di belakang Zion.
"Dia tidak akan ingat lagi denganmu karena sudah ada Foster di sampingnya." Zion duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. "Aku datang ke sini atas perintahnya. Dia yang memintaku untuk menjemputmu."
"Oh." Faith meletakkan bunga yang diberikan oleh Zion ke dalam pot. Ada rasa kecewa ketika dia tahu kalau Zion menjemputnya karena diperintahkan oleh Daisy, bukan atas keinginannya sendiri. "aku bisa jalan sendiri karena aku sudah tahu gimana tempatnya Kak jion tidak perlu repot-repot menjemputku seperti ini." Wanita itu juga duduk di sofa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi Zion berada.
__ADS_1
Zion menaikan satu alisnya. "Apa kau marah padaku?"
"Tidak." Meskipun begitu, terlihat jelas kalau Faith marah kepada Zion. Wanita itu tidak memiliki bakat untuk menyembunyikan kekecewaannya. Ekspresi wajahnya bisa menjawab apa yang sekarang dirasakan di dalam hati.
"Sebenarnya aku yang meminta Daisy untuk tidak menjemputmu karena aku ingin menjemputmu! Sekarang, apa kau puas?" Meskipun Zion menjelaskan dengan nada kesal, tetapi tetap saja hal itu bisa membuat Faith kembali tersenyum.
Zion bisa menghela napas lega ketika melihat senyum manis di bibir Faith. "Kau ini ... hampir saja membuatku jantungan."
"Kenapa harus berbohong kalau jujur saja bisa membuat orang lain bahagia? Jangan terlalu gengsi karena terkadang demi menutupi gengsi kita, hal itu bisa membuat orang lain salah paham."
"Ya ya, Nona. Terima kasih atas nasehatnya." Zion diam sejenak. Dia kembali ingat dengan tujuannya menemui Faith malam ini. "Apa kau tahu di mana Dominic berada? Sejak tadi siang aku tidak melihatnya lagi. Paman Zean juga terus mencari keberadaan Dominic. Bahkan katanya dia tidak ada di kamarnya."
"Kak Dominic pulang ke Las Vegas. Sepertinya dia lebih nyaman berada di sana daripada ikut kita berliburan di kapal ini. Kak Dominic memang tidak berpamitan langsung. Namun ia meninggalkan surat di kamarnya."
"Las Vegas? Ada apa di sana? Kenapa Dominic tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang?" Zion sudah merasakan hal yang mencurigakan di sana.
Zion tidak mau membahas terlalu jauh lagi. Pria itu beranjak dari sofa lalu mengulurkan tangannya. "Ayo kita ke lokasi pesta. Aku yakin semua orang sudah berkumpul di sana."
Faith segera beranjak dari sofa yang ia duduki. Tanpa segan-segan wanita itu merangkul lengan Zion dengan mesra. "Oh ya. Ada yang ingin aku katakan lagi kepada Kak Zion. Tadi siang aku tidak sempat mengatakannya karena Kak Zion sibuk sekali." Faith menahan langkah kakinya.
Zion memandang Faith dengan serius. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan? Cepat katakan sekarang juga."
"Kak Dominic sudah merestui hubungan kita. Dia meminta kita untuk segera menentukan tanggal pernikahannya. Bukankah ini kabar baik?" ucap Faith dengan wajah yang begitu berseri. Dia merasa yakin kalau kini Zion juga merasakan kebahagiaan yang sekarang ia rasakan.
Wajah Zion langsung berseri. "Benarkah?" tanya Zion tidak percaya.
"Tunggu sebentar. Aku akan menunjukkan sesuatu." Faith melepas lengan Zion lalu dia berjalan ke lemari tempat dia menyimpan surat yang ditinggalkan oleh Dominic tadi. "Kak Dominic juga menulis pesan itu di surat ini." Faith segera memberikan lembar surat itu kepada Zion.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Zion segera menerima surat itu dan membaca tulisannya satu persatu. Ekspresi wajah pria itu terlihat lebih bersemangat ketika dia tahu kalau Dominic telah merestui hubungannya dengan Faith dan meminta Faith untuk segera menentukan tanggal pernikahannya. Tetapi entah kenapa firasat Zion mengatakan kalau Dominic kembali ke Las Vegas karena ada masalah di sana. Bukan hanya sekedar merindukan Las Vegas saja.
"Aku akan segera menyampaikan informasi ini kepada Mama agar segera menentukan tanggal pernikahan kita." Zion memandang Faith lagi. Meskipun dia sekarang mengkhawatirkan keselamatan Dominic, tapi dia tidak mau memperlihatkan rasa khawatir itu di depan Faith.
Faith mengangguk cepat sambil tersenyum bahagia, wanita itu merangkul lengan Zion lagi. "Ayo kita temui mereka di sana dan sampaikan kabar gembira ini kepada semua orang."
Zion membalas senyum Faith. Pria itu segera mengajak Faith menuju ke lokasi pesta.
...***...
Pesta bunga api menjadi pembuka pesta barbeque yang diadakan oleh Leona. Semua orang terlihat sangat bersemangat malam itu. Mereka yang berpasang-pasangan saling menyuapi pasangan mereka masing-masing.
Beberapa diantaranya masih sibuk dengan makanan yang kini dibakar di atas panggangan. Sedangkan para Oma dan Opa memilih untuk duduk dan menikmati pesta tersebut. Karena pencernaan mereka sudah tua, mereka juga lebih menjaga apa yang masuk ke dalam mulut mereka agar tidak menimbulkan masalah baru.
"Bukankah daging ini sangat enak? Aku ingin tambah lagi," ucap Norah sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Apa kau belum kenyang juga? Kau sudah memakan daging dengan begitu banyak," sahut Austin tidak percaya.
"Hari ini aku terlalu banyak beraktivitas jadi kehilangan banyak energi. Malam ini aku harus makan yang banyak agar energiku kembali pulih. Aku tahu nanti malam aku akan beraktifitas lagi sampai pagi." Norah melempar tatapan penuh arti ke arah Austin hingga membuat pria itu salah tingkah. "Makanlah yang banyak sayang. Kau butuh banyak energi," dukung Austin dengan penuh semangat.
"Kau ini, jika ada maunya langsung semangat!"
Austin tertawa lagi. "Aku yakin Harumi pasti tidak menyangka kalau wanita yang selama ini ia panggil Mama ternyata suka makan banyak. Tapi bagus juga. Kau harus menaikan berat badanmu."
"Sebenarnya aku tidak terlalu sering makan dalam porsi yang banyak seperti ini. Jika suasana hatiku bagus dan perutku sedang lapar aku selalu bisa menghabiskan makanan lebih dari porsi yang biasa aku makan. Tetapi jika suasana hatiku buruk maka sesuap roti pun tidak dapat aku telan." Lagi-lagi Norah memasukkan potongan daging yang sudah dipanggang itu ke dalam mulutnya.
"Ya sayang. Makanlah lebih banyak lagi ...." Austin menyodorkan jagung bakar, ikan bakar kepada Norah dengan penuh semangat.
__ADS_1