Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 147


__ADS_3

PRANKKK


Oliver memperhatikan gelas yang baru saja terjatuh dan berserak di lantai. Katterine yang juga ada di sana hanya bisa menghela napas panjang. Wanita itu memanggil pelayan untuk membersihkan lantai. Katterine beranjak dari kursi yang ia duduki lalu mendekati sang suami.


"Ada apa? Kau memikirkan sesuatu?" Katterine memijat punggung suaminya dengan lembut. "Apa ada wanita lain dipikiranmu?" tebak Katterine asal saja.


"Hanya kau wanita yang selalu ada di hati dan pikiranku Katterine. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi seperti ini. Rasanya sakit." Oliver memegang dadanya sendiri. Dia mengambil ponselnya ingin menghubungi Livy. Hanya itu satu-satunya darah daging yang ia miliki. Oliver ingin tahu apa yang sekarang sedang dilakukan oleh putrinya bersama dengan Abio.


"Apa kau akan menghubungi Livy? Dia bilang malam ini akan makan malam berduaan bersama dengan Abio. Sebaiknya jangan meneleponnya. Itu hanya akan mengganggu makan malam mereka saja. Abio akan merasa tidak enak jika kau bertanya di mana mereka berada. Seolah-olah kita tidak percaya dengan Abio kalau dia bisa menjaga Putri kita."


Oliver mengurungkan niatnya untuk menghubungi Livy. Pria itu meletakkan lagi ponselnya di atas meja. Walaupun begitu, pikirannya masih belum tenang. Pria itu berharap ada seseorang yang memberi kabar kalau kini putri dan calon menantunya baik-baik saja.


Seperti apa yang dipikirkan oleh Oliver. Dua menit setelah telepon itu tergeletak, ada panggilan masuk. Dengan cepat Oliver mengangkat panggilan telepon tersebut. Katterine memilih duduk di samping sang suami.

__ADS_1


"Halo."


"Apa benar ini dengan Tuan Oliver?"


"Ya. Saya sendiri. Anda siapa?"


"Kami dari rumah sakit. Kami ingin memberitahu Kalau Dokter Livy kecelakaan."


"Kecelakaan," Celetuk Oliver kaget.


"Katakan padaku. Di mana alamat rumah sakitnya. Aku akan segera ke sana."


"Baik, Tuan. Saya akan segera mengirim alamatnya."

__ADS_1


Panggilan telepon itu segera berakhir. Katterine yang sudah menangis ditarik oleh Oliver ke dalam pelukannya. Pria itu juga sedih dan syok berat mendengarkan berita ini. Namun karena dia seorang pria dia tetap terlihat tegar.


"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku ingin melihat keadaan putriku," lirih Katterine dengan pipi yang sudah basah.


Oliver menggangguk tanpa membawa apa-apa lagi. Pria itu menarik Katterine dan membawanya menuju ke mobil. Bahkan saat itu Oliver tidak membutuhkan supir untuk mengantarnya ke rumah sakit. Pria itu memilih untuk menumpangi mobil sport agar bisa segera tiba. Dia tidak akan bisa tenang sebelum melihat wajah putrinya baik-baik saja.


Katterine menangis sambil membayangkan Livy dengan wajah yang begitu khawatir. Wanita itu tidak tahu harus bicara apa lagi. Baru saja mereka tenang sekarang masalah sudah datang lagi menghampiri. Karena tidak membawa ponsel sekarang Katterine tidak tahu harus menghubungi siapa untuk memberitahu kabar ini.


"Tenanglah. Sekarang tugas kita adalah berdoa agar anak kita baik-baik saja. Livy wanita yang kuat. Mungkin mereka hanya kecelakaan dan luka ringan saja. Jangan pikirkan yang aneh-aneh karena itu hanya akan membuatku juga menjadi takut," ucap Oliver sambil sesekali memandang Katterine.


"Jika memang hanya luka ringan saja, kenapa harus orang lain yang menghubungi kita? Kenapa tidak Livy langsung yang menelepon kita. Livy pasti sekarang tidak sadarkan diri. Lalu di mana Abio? Apa mereka berdua sama-sama kecelakaan. Apa mereka berdua sama-sama tidak sadarkan diri? Aku sudah bilang sejak pagi agar mereka tidak keluar rumah. Mereka akan segera menikah dan sebaiknya tidak pergi kemana-mana. Tetapi mereka berdua sangat keras kepala. Kau juga selalu mendukung keputusan Livy. Tidak pernah mau mendengarkan perkataanku." Katterine melampiaskan rasa kesalnya. Wanita itu sedih tapi juga ingin marah.


Oliver kini tidak bisa berkata apa-apa lagi ketika istrinya terus saja menyalahkannya. Semua yang dikatakan oleh Katterine benar. Wanita itu berulang kali melarang putrinya untuk pergi dan tidak terus terusan mengurus urusan orang lain karena sebentar lagi akan menikah. Katterine meminta Livy untuk lebih merawat diri agar ketika menikah nanti dia terlihat seperti seorang putri. Namun Livy mengabaikan semua itu. Bahkan wanita itu tetap bersikeras untuk datang ke rumah sakit dan menolong pasien yang membutuhkan bantuannya.

__ADS_1


"Maafkan Aku," ucap Oliver sebelum menambah laju mobilnya lebih cepat lagi.


__ADS_2