Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 148


__ADS_3

Las Vegas


Malam yang panas menyelimuti kota Las Vegas. Suara klakson kendaraan memenuhi jalan raya. Malam ini adalah malam yang sangat indah karena ada jutaan bintang bertaburan di angkasa. Semua orang sedang menikmati malam dengan jalan-jalan mengelilingi kota. Sebagian lagi terlihat berhenti di cafe-cafe untuk berkumpul dan bercanda.


Di sebuah rumah di tengah kota, Dominic baru saja selesai mandi. Pria itu mengancing satu persatu kancing kemeja putih yang kini ia kenakan sebelum melangkah menuju ke meja yang ada di tengah ruangan. Seorang pria melangkah mundur ketika Dominic sudah ada di sana. Pria itu meletakkan satu mobil kecil di kota mini yang ada di atas meja.


"Apa sudah lengkap?" tanya Dominic.

__ADS_1


"Sudah, Tuan. Sudah seperti yang anda inginkan," jawab pria itu lagi.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Pria yang tadi menjaga Dominic segera membukakan pintu. Seorang pria berjaket hitam masuk ke dalam ruangan itu. Dominic memandangnya sejenak sebelum fokus ke miniatur yang ada di atas meja.


"Saya permisi, Bos," pamit pria yang tadi menyusun miniatur. Tersisa Dominic dan pria pembawa informasi. Untuk sejenak ruangan itu kembali sunyi karena tidak ada satupun yang berbicara.


Dominic memandang miniatur manusia yang tersusun rapi di atas meja. Ada perempuan ada juga laki-laki. Miniatur itu bentuknya memang seperti manusia. Jika diperhatikan lebih jelas lagi, wajah setiap miniatur tampak berbeda-beda. Ada wajah Faith, Zion, Abio, Austin, Livy dan juga Norah. Ke enamnya ada di atas meja. Mereka berdiri dengan posisi berbaris. Dominic mengambil miniatur Livy dan Abio. Pria itu mengeluarkannya dari arena. Dia terlihat puas setelah berhasil menyingkirkan miniatur Livy dan Abio dari arena permainannya.

__ADS_1


Dominic masih belum mau memberikan respon. Pria itu mengambil miniatur Austin lalu meletakkannya sedikit jauh dari Norah. Dominic Terlihat sangat serius kali ketika sedang bermain. Sampai-sampai pria yang sekarang sedang mengajaknya berbicara merasa diabaikan.


"Wanita ini. Aku mau dia target selanjutnya." Dominic mengambil miniatur Norah. Lalu menunjukkannya ke pria yang kini berdiri di hadapannya.


"Baik, Bos," jawab pria itu. Dia mengingat wajah Nora sebelum memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Pria itu tidak akan kembali jika misinya sampai gagal. Dominic melirik miniatur Livy dan Abio lalu menatapnya dengan tajam.


"Ini salah kalian sendiri. Seharusnya kalian berdua tidak perlu ikut campur dalam masalahku. Sekarang Terima akibatnya. Hari pernikahan itu tidak akan mungkin pernah terlaksana. Karena sebentar lagi salah satu pengantin akan meninggalkan dunia."

__ADS_1


Dominic diam sejenak sebelum tertawa puas. Sampai-sampai suara pria itu memenuhi ruangan luas yang sekarang dia tempati. Hanya dia seorang di dalam ruangan itu. Tetapi sudah seperti puluhan orang di dalamnya. Ramai sekali sampai-sampai suaranya bisa di dengar dari kejauhan.


"Faith. Kita pasti akan bersama sayang. Kau akan segera kembali ke rumah ini," teriak Dominic lagi. Pria itu terlihat seperti orang gila karena terlalu merindukan Faith. Dia bahkan tidak tahu caranya menikmati hidup ketika Faith tidak lagi ada di sisinya. "Faith sayang ... apa sekarang kau juga sedang memikirkanku?"


__ADS_2