
Austin baru saja tiba di dermaga. Setelah mendapat kabar kalau Mr. A masih di Amerika, Austin segera berangkat ke pulau tempat Norah di sekap. Dia ingin membawa Norah pergi dari sana. Bersama dengan pengikut setianya, Austin naik ke kapal yang kini berangkat menuju ke pulau terpencil.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Angin malam memang sangat dingin. Ombak di laut begitu kencang. Austin terlihat gelisah selama perjalanan. Dia takut Norah sudah di bawa pergi dari pulau itu. Dia tidak mau sampai Mr. A tahu rencana yang kini dia susun sendiri.
"Bos, anda yakin akan menentang Mr. A? Jika dia tahu anda berkhianat, bukan hanya anda yang akan celaka. Tetapi wanita itu juga," ucap seorang pria yang kini bersama dengan Austin.
"Aku tidak memiliki pilihan lain. Aku tidak mungkin juga membunuh kakak kandung wanita yang aku cintai. Itu hanya akan membuat Norah membenciku. Bahkan jika dia tahu kalau aku tidak sampai membunuh kakaknya, belum tentu dia mau menerima cintaku. Jika kau takut, kau boleh mundur. Aku tidak mau memaksa siapapun." Austin memandang pasukannya yang lain. "Aku juga tidak memaksa kalian. Ini pertarungan yang sangat konyol. Karena kita akan melawan orang yang pernah menjadi rekan kita. Taruhannya nyawa karena aku tidak berani untuk menjamin keselamatan kalian nanti."
__ADS_1
"Bos, kami tidak pernah memikirkan nyawa kami. Kami hanya tidak mau perjuangan anda sia-sia. Bagaimana kalau wanita itu sengaja menjebak anda waktu itu? Bagaimana kalau dia memiliki niat jahat terhadap anda namun akhirnya dia yang terperangkap sendiri. Demi mendapatkan bantuan dari anda, dia rela berakting seolah dia menderita?"
Austin memandang ke depan lagi. Pikiran buruk seperti ini sudah memenuhi pikirannya terlebih dahulu sebelum pria itu mengatakannya. Austin tidak akan ada di dalam kapan ini untuk menolong Norah jika keputusannya setengah-setengah.
"Tidak! Hatiku tidak pernah salah. Kami pasti bertemu secara tidak sengaja. Norah awalnya juga kaget dan terlihat menghindar. Aku yang selalu mengusik ketenangannya. Aku yakin, pertemuan kami memang sudah ditakdirkan," jawab Austin mantap. Dia tidak mau berpikiran buruk tentang Norah.
Tidak lama kemudian, kapan mereka berhenti di lautan yang tidak jauh dari pulau. Mereka harus berenang untuk mencapai ke pulau agar tidak ketahuan. Misi ini dilakukan secara diam-diam. Mereka tidak mau musuh menyadari kehadiran mereka sebelum mereka berhasil membawa Norah kabur dari sana.
__ADS_1
Austin mengusap wajahnya yang basah setelah tiba di pulau. Dia memandang ke arah pasukannya yang baru saja tiba. "Kalian alihkan perhatian semua orang. Aku akan langsung menuju ke ruangan tempat Norah di sekap."
"Baik, Bos."
Mereka segera menuju ke bagian depan. Sedangkan Austin memilih lokasi belakang agar tidak ketahuan.
Austin pernah menjadi pemilik pulau itu. Tentu saja dia tahu dan kenal betul dengan detail pulau tersebut. Mendengar suara tembakan di depan membuat Austin segera menerobos masuk. Dia yakin, penjaga di sana juga pasti akan berlari ke depan untuk menolong rekannya yang lain.
__ADS_1
Austin mengambil kunci pintu dari saku. Dia memandang ke kanan dan ke kiri sebelum menerobos masuk ke dalam. Langkahnya terhenti ketika dia telah tiba di dalam ruangan tersebut.
"Norah."