Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 122


__ADS_3

Norah merasa sangat mengantuk. Kalau saja sekarang dia ada di dalam mobil mungkin dia akan segera tidur. Memejamkan matanya walau hanya sebentar. Sudah berjam-jam dia mengamati kakaknya dari kejauhan tapi tidak ada juga tanda-tanda yang mencurigakan. Mobil pria itu masih terparkir rapi di sana. Pasukan gold dragon juga sedang berjaga pada posisinya masing-masing. Norah ingin sekali masuk ke dalam markas untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sana. Tetapi dia tahu kalau kakaknya akan marah jika dia menerobos masuk.


"Sebenarnya apa yang mereka bicarakan? Apa jangan-jangan Kak Zion tidur lagi di dalam."


Norah mengambil ponselnya yang berdering. Alisnya saling bertaut melihat panggilan dari Austin. Secepatnya dia angkat.


"Halo," ucap Norah pelan agar pasukan Gold Dragon yang ada di depan sana tidak mendengarnya.


"Apakah baik-baik saja. Apa kau berhasil mengikuti Kak Zion?"


"Kak Zion pergi ke markas Gold Dragon. Dia masuk ke dalam dan tidak keluar lagi sampai sekarang," jawab Norah dengan nada kesal. "Mataku sudah sangat mengantuk aku ingin segera tidur. Di sini dingin sekali."


"Sayang, kenapa kau menyiksa dirimu sendiri hingga seperti ini. Sekarang cepat pulang. Jangan pikirkan Kak Zion lagi. Dia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Justru sekarang kesehatanmu yang sangat mengkhawatirkan. Pulanglah. Dengarkan kata-kataku. Aku sudah ada di bandara. Tidak lama lagi aku akan berada di dalam pesawat. Secepatnya kita akan bertemu," bujuk Austin dengan nada yang sangat lembut.


"Tapi aku penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Kak Zion. Aku juga tidak akan bisa tidur dengan nyenyak sebelum aku mengetahui kebenarannya," jawab Norah. Wanita itu memang sangat keras kepala. Austin harus benar-benar sabar saat membujuknya.


"Sayang, Setelah aku tiba di sana kita akan sama-sama menyelidiki Kak Zion. Setidaknya kalau ketahuan tidak kau saja yang kena marah. Tapi aku juga. Untuk malam ini pulanglah. Aku tidak mau kau sakit. Kau harus menjaga kesehatanmu karena sebentar lagi kita akan tunangan. Aku mohon ...."


Kali ini bujukan Austin berhasil meluluhkan hati Norah. Wanita itu menghela napas panjang dan menyerah. "Baiklah. Aku akan pulang. Aku menunggumu di sini. Cepat datang karena aku sudah sangat merindukanmu."


"Itu baru namanya wanita yang aku cintai. Beri aku satu kecupan sebelum kau pergi pulang."


Norah memberi satu kecupan di telepon sambil tersenyum malu. "Aku sangat mencintaimu Austin. Sangat-sangat mencintaimu," ucap Norah bersungguh-sungguh.


"Aku juga sangat mencintaimu Norah. Setelah tiba di rumah hubungi aku lagi."


"Baiklah," jawab Norah. Wanita itu memutuskan panggilan masuknya. Dia memakai helm dan duduk di atas sepeda motor. Sebelum menghidupkan mesin sepeda motornya, dia kembali memandang ke arah markas Gold Dragon untuk memastikan Kak Zion masih tetap berada di dalam sana.


"Baiklah. Kali ini aku menyerah. Kak Zion pasti menertawaiku karena pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Aku tahu dia pasti sudah tahu kalau aku sudah ada di sini. Dia pasti akan pergi setelah aku pulang," protes Norah di dalam hati. Dia segera melajukan sepeda motornya dengan kesal. Wanita itu ingin segera tiba di rumah dan tidur.


Dari dalam markas, Zion hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku adik kandungnya. Setengah jam lagi dia akan keluar jika Norah tetap berdiri di sana. Dia tidak mau sampai adiknya kedinginan. Austin menghubungi Norah juga atas permintaan Zion. Pria itu ingin Austin membujuk adiknya agar mau pulang. Tidak ada jalan lain lagi sekarang. Zion harus tetap bertahan di dalam markas selama Norah masih menunggunya.


"Bos, mobil yang anda minta sudah kami siapkan," ucap salah satu pasukan Gold Dragon. Zion harus menggunakan mobil lain agar Norah tidak tahu keberadaan dirinya. Mobil yang sudah terdapat GPS akan ia tinggal di markas Gold Dragon agar Norah berpikir kalau Zion masih ada di sana.


"Baiklah." Zion melihat ke ponselnya. Lokasi Norah sudah sangat jauh. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk pergi. "Apa dia lupa kalau sepeda motor yang dia gunakan ini sudah dipasang GPS. Kalau dia pergi diam-diam tetap saja aku tahu dia mengikutiku dari belakang. Norah Norah. Kau mungkin bisa dengan mudah mengikuti orang lain. Tapi tidak denganku. Untuk saat ini aku masih belum bisa cerita apapun denganmu. Tapi nanti, jika saatnya telah tiba aku akan ceritakan apa yang sudah terjadi," gumam Zion di dalam hati.

__ADS_1


Zion meneguk minuman beralkohol yang ada di depannya sedikit lalu beranjak dari kursi. Pria itu mengambil kunci mobil yang ingin ia gunakan sebelum melangkah pergi.


Zion ingin heran ke rumah sakit. Tadi penjaga yang ada di rumah sakit sempat melihat beberapa pria mencurigakan muncul di sekitaran ruangan tempat Faith di rawat. Zion khawatir kalau itu adalah anak buah pria yang ingin menangkap Faith.


"Bos, Nona Faith sudah sadar." Seorang pria menghampiri Zion yang saat itu ingin masuk ke dalam mobil. Zion menahan langkah kakinya dengan wajah tidak percaya. padahal baru beberapa menit yang lalu anak buahnya memberi kabar Kalau Faith belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar.


"Benarkah? Lalu, apa yang dia katakan?" Entah kenapa tiba-tiba Zion ingin tahu sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Faith ketika pertama kali dia sadar. Apakah wanita itu sadar diri karena sudah menghalangi jalan Zion semalam. Apa melupakan kebaikan Zion begitu saja.


"Suster yang menjaga Nona Faith mengatakan kalau Nona Faith sempat memintanya menghubungi polisi. Dia sangat ketakutan. Nona Faith mungkin berpikir kalau anak buah kita adalah orang-orang yang ingin menangkapnya," jawab pria itu apa adanya. "Tapi sekarang Nona Faith sudah kembali istirahat setelah dia meminum obat. Anda tidak perlu khawatir lagi Bos."


"Saya ingin ke rumah sakit. Saya ingin melihatnya secara langsung. Tambah penjagaan di sana. Aku tidak mau sampai wanita itu berhasil dibawa lari."


"Baik bos," jawab pria itu sambil menunduk hormat.


Zion kembali masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Norah sampai di rumah dengan selamat, pria itu memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit. Dia melajukan mobilnya dengan sangat cepat.


...***...


Di rumah sakit, Faith tiba-tiba merasa sesak ketika sebuah kain menutup mulut dan hidungnya. Kain itu telah diberi cairan bius. Faith sempat membuka matanya dan melihat pria yang kini berdiri di hadapannya. Faith berusaha menekan tombol di samping tempat tidur untuk minta tolong.


Di depan jendela sudah ada alat yang akan membawa mereka menuju ke bawah. Itu seperti sebuah tangga yang biasa digunakan oleh pemadam kebakaran. Kali ini lawan Zion memang cerdas. Bahkan pasukan Gold Dragon saja bisa ia lewati. Suster yang seharusnya menjaga Faith telah tergeletak di lantai. Suster itu telah tewas karena dicekik oleh pria yang membawa Faith kabur.


Setibanya di bawah, mereka segera membawa Faith masuk ke dalam mobil. Security yang melihat kejadian itu hanya bisa diam saja seperti tidak melihat apapun. Mereka juga diancam. Jika berani berbicara mereka akan dibunuh.


Mobil hitam itu melaju cepat meninggalkan rumah sakit. Bersamaan dengan itu mobil Zion juga sampai. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan. Zion segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.


Seorang pria yang tidak lain adalah pasukan Gold Dragon telah menunggu Zion di depan pintu masuk. Pria itu ingin memberitahu keadaan Faith secara detail.


"Nona Faith sudah jauh lebih baik, Bos. Luka operasinya akan segera kering. Kata dokter dalam waktu dekat dia sudah diperbolehkan pulang. Anda ingin membawa Nona Faith kemana setelah dia diizinkan pulang nanti, Bos. Jika anda butuh tempat tinggal saya akan menyiapkannya."


"Untuk saat ini aku tidak bisa memutuskan apapun. Aku harus bicara langsung dengannya. Aku harus memastikan sendiri apakah benar dia adalah wanita yang pernah bertemu denganku dan sempat aku cari 10 tahun yang lalu. Jika tidak aku akan membiarkannya hidup dengan bebas di tempat yang lebih aman."


Pria itu menekan tombol lift. "Maafkan saya karena tidak bisa membantu banyak Bos. Masa lalu Nona Faith memang sangat sulit untuk dicari. Sepertinya dia sering dikurung di rumah sehingga tidak ada informasi apapun tentang dirinya."


Zion memandang bawahannya lagi. "Kau sudah bekerja semaksimal mungkin. Aku selalu puas dengan hasil kerjamu. Sekarang bawa aku ke tempat dia berada."

__ADS_1


"Baik, Bos."


Mereka sama-sama masuk ke dalam Lift. Itu berhenti di lantai 5. Zion keluar lebih dulu. Pertama kali keluar dari lift dia langsung melihat pasukan Gold Dragon yang berjaga di depan pintu. Tanpa bertanya dia juga sudah tahu yang mana ruangan tempat Faith dirawat.


"Selamat malam, Bos!" sapa pasukan Gold Dragon yang berjaga di sana.


Zion hanya mengangguk saja tanpa menjawab. Pria itu segera masuk ke dalam ruangan setelah pintu dibuka. Bukan hanya Zion saja, tetapi beberapa pasukan Gold Dragon yang ada di belakang Zion juga kaget ketika melihat Faith sudah tidak ada di dalam ruangan itu. Mereka segera berlari ke jendela ketika melihat jendela itu terbuka. Sebagian lagi memeriksa suster yang tergeletak di lantai.


Zion hanya bisa memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Dia ingin marah. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk marah. Tiba-tiba saja Zion kembali ingat dengan mobil hitam yang sempat berpapasan dengannya. Mobil itu memang sangat mencurigakan. Pria itu membuka kedua matanya dan berputar. Dia pergi meninggalkan ruangan itu langkah yang cepat.


"Bos, maafkan saya," ucap pria yang tadi menyambut kedatangan Zion. Pria itu benar-benar merasa bersalah. Ia terus aja menyalahkan dirinya karena sudah mengecewakan Zion.


"Siapkan pasukan. Kita harus segera berangkat. Sepertinya aku tahu kemana mereka akan membawa wanita itu," jawab Jion sambil melangkah dengan cepat lagi.


Setibanya di lantai bawah mereka semua segera masuk ke dalam mobil. Saat itu Zion lebih memilih untuk menyetir mobilnya sendiri. Sedangkan pasukan Gold Dragon sebagian ada di belakang mobilnya sebagian lagi menuju ke tempat yang sudah ditentukan oleh Zion. Mereka semua harus mengepung mobil itu sebelum melewati perbatasan. Zion tahu untuk situasi saat ini mereka tidak akan mungkin membawa Faith kembali ke Las Vegas dengan menggunakan pesawat.


Udara semakin dingin. Kabut pagi menutupi jalanan di depan. Zion harus hati-hati mengendarai mobilnya. Selain matanya yang mulai mengantuk dia juga terlihat kelelahan. Sejak mendonorkan darah untuk Faith, dia tidak ada istirahat. Makan saja tidak teratur.


Setelah beberapa kilometer melajukan mobilnya dengan cepat akhirnya mereka berhasil menemukan mobil yang membawa kabur Faith. Zion dan pasukan Gold Dragon segera mengimbangi mobil hitam tersebut. Namun orang yang menyetir mobil hitam itu sadar kalau Zion akan menghalangi rencana mereka. Mobil itu melaju lebih cepat lagi menghindari Zion.


Persamaan dengan itu mobil yang sudah ditugaskan oleh Zion untuk menunggu di perbatasan telah berhenti dan berhasil memasang jebakan. Mereka memegang senjata api. Mobil hitam itu tidak memiliki pilihan lain selain berhenti. Menabrak jebakan yang sudah dibuat oleh pasukan Zion hanya akan membuat nyawa mereka melayang. Jika ban mobil sampai pecah keseimbangan mobil tidak ada lagi dan mereka akan masuk ke jurang.


Ketika mobil hitam itu berhenti semua pasukan Gold Drngon segera mengelilingi dengan senjata api yang lengkap. Zion segera turun dari mobil. Pria itu masih menahan pasukannya agar tidak menyerang. Zion tidak mau sampai Faith celaka.


"Apa yang kalian inginkan? Kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya pria yang sudah membawa Faith kabur dari rumah sakit.


"Serahkan wanita yang ada di dalam. Jika tidak, nyawamu akan melayang," sahut pasukan Gold Dragon yang kini berdiri di samping Zion.


Pria itu tertawa geli mendengar ancaman yang keluar dari mulut pasukan Zion. "Berani sekali kalian mengancamku. Kalian akan menyesal nanti."


Zion memberikan kode untuk segera melakukan penyerangan. Pertarungan pun terjadi. Bawahan Zion maju untuk menyerang pria yang tadi menertawai Zion. Sedangkan Zion segera masuk ke dalam mobil untuk melihat keadaan Faith. Pria itu kembali lega ketika melihat Faith masih dalam keadaan baik-baik saja. Walau wanita itu belum sadarkan diri tapi setidaknya sekarang Faith sudah ada di tangan yang tepat.


Satu hal tak terduga terjadi. Ternyata rombongan yang ingin membawa Faith kabur dari kota itu tidak hanya satu mobil saja. Dari arah depan puluhan mobil telah tiba. Zion kalah jumlah. Tapi pria itu tidak mau menyerah. Dia segera menggendong Faith dan membawanya kabur. Kali ini pria itu tidak mau menggunakan mobil. Dia memilih untuk kabur menuju ke tebing dan mencari tempat persembunyian di sana.


Pasukan Gold Dragon tahu kemana arah perginya Zion. Mereka tidak mau sampai bos mereka tertangkap. Salah satu dari mereka masuk ke mobil dan melajukan mobil itu untuk kabur. Mereka sengaja melakukan itu untuk membuat pancingan terhadap musuh. Seperti apa yang mereka pikirkan. 5 dari mobil yang datang mengejar mobil yang melaju cepat tersebut. Sisanya lagi ingin menghajar pasukan Gold Dragon yang ada di sana.

__ADS_1


Zion tersenyum melihat kerja bawahannya yang begitu memuaskan. Dia kembali berlari untuk segera kabur. Daerah ini masih termasuk wilayahnya. Zion tahu ke mana jalan untuk menuju tempat yang aman.


__ADS_2