
Dominic dan Faith menahan langkah kaki mereka ketika mereka melihat Zion ada di depan ruangan tempat Zean dirawat. Dominic segera melepas tangan adiknya. Pria itu ingin memberikan kesempatan kepada Faith dan Zion untuk mengobrol.
"Biar aku saja yang temui papa dan nemani Papa di dalam," ucap Dominic sebelum masuk ke dalam. Pria itu tidak mau mengatakan apa-apa lagi di depan Zion. Bahkan menyapanya juga tidak mau.
Faith memandang Zion sejenak sebelum mengalihkan pandangannya. Sampai detik ini wanita itu masih merasa takut jika berada di dekat Zion. Bukan karena rasa cinta di dalam hatinya telah pudar. Tetapi wanita itu tidak mau membuat Zion merasa tidak nyaman. Faith tahu kalau sifat kakaknya sudah membuat Zion sakit hati.
"Apa Kak Zion sudah makan?" tanya Faith dengan nada yang ramah.
"Belum. Aku hanya ingin bilang kalau mama dan papa sudah kembali pulang. Mereka akan ke sini lagi setelah beberapa hari."
Faith mengangguk pelan. "Tadinya aku ingin bertemu dengan Tante Leona untuk mengucapkan terima kasih. Tapi sekarang Tante Leona sudah pulang Jadi aku ingin mengatakan terima kasih kepada Kak Zion saja. Aku minta Kak Zion mau untuk menyampaikan rasa terima kasih kami kepada tante Leona."
Zion mengangguk mendengar permintaan Faith. "Apa kau sudah makan? Apa obat yang tadi aku berikan sudah kau minum juga?" Meskipun terlihat cuek, tetapi Zion sangat perhatian sama Faith. Dia tidak mau sampai Faith jatuh sakit.
"Selama Kak Dominic ada di sampingku, aku tidak akan mungkin terlambat makan. Apa lagi sampai terlambat minum obat," jawab Faith sambil tersenyum.
__ADS_1
Zion diam sejenak. Jelas-jelas dia tahu kalau Dominic dan Faith adalah saudara. Tetapi tetap saja ia cemburu ketika mendengar kabar Kalau Dominic sangat perhatian kepada wanita yang ia cintai.
"Aku akan tetap di sini untuk menemanimu," ucap Zion tidak mau kalah. Ia tidak mau membiarkan Faith terus menerus berada di samping Dominic.
"Kak Zion memiliki banyak pekerjaan. Sebaiknya Kak Zion pulang saja. Biar aku dan kak Dominic yang menjaga Papa di sini."
"Tidak! Pekerjaanku tidak terlalu sulit," ucap Zion asal saja. Padahal sebenarnya kini ia harus segera bertemu dengan pasukan Gold Dragon untuk mengatasi masalah berat yang sedang mereka hadapi. Sudah sejauh ini Gold Dragon tidak pernah mendapat perhatian dari Zion. Biasanya Gold Dragon selalu diseleksi untuk mengetahui siapa yang benar-benar setia dan siapa yang sudah mulai berkhianat untuk menghindari masalah kedepannya. Namun beberapa waktu ini Zion terlihat tidak peduli dengan geng mafia Gold Dragon yang sempat diwariskan oleh Zeroun Zein tersebut.
"Aku tahu Kak Zion pasti sedang berbohong. Kak Zion tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja di sini." Tiba-tiba saja Faith memegang tangan Zion lalu menggenggamnya. "Kita sudah bertunangan. Setelah Papa sembuh, kita juga kita akan menikah. Untuk saat ini beri aku kebebasan untuk berkumpul dengan keluargaku. Aku ingin fokus menjaga papa. Bukan aku tidak suka jika Kak Zion ada di sini. Tetapi aku ingin Kak Zion kembali menemuiku setelah Papa dinyatakan sehat. Jika Kak Zion terus-terusan berada di dekatku, aku menjadi tidak fokus untuk mengurus papa. Aku akan selalu merasa tidak enak ketika meninggalkan Kak Zion sendirian seperti sekarang."
Zion bisa memahami apa yang dipikirkan oleh Faith. Sejak tadi memang pria itu sempat salah paham. Ia berpikir kalau Faith tidak mau ditemani olehnya. Tidak disangka alasan wanita itu sangat masuk akal hingga membuat Zion tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.
Faith segera menerima ponsel itu lalu memandangnya beberapa detik. "Terima kasih," ucapnya sambil tersenyum.
Zion beranjak dari kursi yang sejak tadi ia duduki. Pria itu memandang Faith sejenak sebelum memandang ke arah lain. "Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik. Segera hubungi aku bila terjadi sesuatu."
__ADS_1
Faith juga beranjak dari kursi yang ia duduki lalu memandang Zion yang kini berdiri di hadapannya. "Hati-hati."
Zion terlihat berat untuk melangkah pergi karena pria itu sangat ingin memeluk dan mencium Faith. Namun ia tidak mau dikatakan sebagai pria yang sangat agresif. Hingga akhirnya dengan terpaksa pria itu memutar tubuhnya dan memaksa pergi meninggalkan Faith. Langkahnya terlihat sangat berat seolah-olah pria itu tidak rela untuk pergi menjauh.
"Kak Zion," ucap Faith hingga membuat Zion segera berhenti dan berputar memandang. Pria itu berharap kalau Faith merasakan hal yang sama dengannya.
"Kunci mobilnya ketinggalan," ucap Faith sambil memberikan kunci mobil yang tergeletak di atas kursi. Zion hanya bisa memasang wajah kecewa.
"Ada lagi?" tanya Zion penuh harap.
"Tidak ada," jawab Faith bingung hingga akhirnya membuat wajah Zion semakin kecewa.
"Kalau begitu aku-"
Tiba-tiba saja Faith mencium pipi Zion sebelum masuk ke dalam ruangan. Hal itu membuat Zion mematung dengan tatapan tidak percaya. Dia memandang ke arah pintu sebelum memegang pipinya sambil tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Zion tahu kalau Faith tidak mungkin mendengar perkataannya Karena Wanita itu sudah menutup pintu ruangan dengan begitu rapat.
Faith berhenti di depan pintu lalu memandang ke belakang lagi sambil tersenyum. Ternyata sebelum pintu itu tertutup rapat, ia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh Zion. "Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu," jawab Faith yang hanya berani di dalam hati saja.