
Daisy sudah ada di dalam pesawat bersama dengan Zeroun. Mereka sedang menyantap makan malam. Daisy Semakin bahagia ketika Zeroun membelikannya sebuah gaun yang indah. Daisy sangat ingin menggunakan gaun tersebut. Tetapi Zeroun melarangnya. Opa Zen Meminta Daisy untuk memakai gaun itu ketika mereka sudah tiba di Eropa.
"Opa, jangan banyak-banyak makan yang berlemak. Tidak baik untuk kesehatan," protes Daisy ketika Zeroun ingin memasukkan makanannya ke dalam mulut. Pria itu tertawa mendengar larangan Daisy.
"Kau sama seperti Oma Emelie. Cantik tapi juga cerewet!" sahut Zeroun sebelum mengganti makanannya dengan makanan yang tidak bersantan.
"Opa, Eropa itu sangat luas. Tempat yang pertama kali kita kunjungi apa?" Daisy meletakkan sendok di atas piring. Dia meneguk air putih dan merasa sudah sangat kenyang malam ini.
"Ukraina."
"Ukraina?" Daisy mengeryitkan dahinya. "Ada apa di Ukraina?"
"Kau akan tahu sendiri nanti."
"Opa sering ke sana?"
Zeroun menggeleng kepalanya. "Hanya sekali. Saat itu Opa sedang menemani Oma Emelie menemui rekannya. Hanya beberapa hari saja. Opa pikir di sana tempatnya sangat cocok denganmu."
Daisy tersenyum. "Eropa itu sangat luas Opa. Aku ingin menjelajahi semua tempat yang ada di Eropa. Tapi waktu yang kita miliki sangat singkat sekali. Sebentar lagi Kak Norah dan Kak Austin akan bertunangan. Kak Norah akan marah besar jika sampai aku tidak datang di pesta pertunangannya. Bisa-bisa dia mengusirku sebagai adik." Daisy menyandarkan tubuhnya. Dia melirik potongan buah yang ada di meja sebelum mengambilnya dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Kita hanya fokus di Ukraina saja. Opa yakin kau tidak mau pindah ke tempat lain setelah tiba di tempat itu. Bahkan mungkin kau tidak mau pulang," ucap Zeroun dengan penuh keyakinan.
"Itu tidak mungkin Opa. Aku tidak mudah akrab dengan lingkungan baru. Jika sudah tiba di Ukraina, aku akan segera mengelilingi tempat itu lalu pindah ke tempat lainnya."
"Mau taruhan?" tantang Zeroun.
Daisy Mengernyitkan dahinya dengan tatapan ragu. Tapi kapan lagi dia bisa taruhan dengan Zeroun seperti ini. Selagi masih ada kesempatan, dia akan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin.
"Apa taruhannya Opa? Aku tidak memiliki sesuatu yang berharga yang bisa dijadikan bahan taruhan."
Zeroun terlihat sedang berpikir. Pria itu sendiri tidak tahu taruhan apa yang cocok. "Begini saja. Jika Opa yang menang, Opa akan tidur di rumahmu. Bukankah sejak kemarin kau ingin Opa tidur di sana? Tetapi jika Opa kalah, kau boleh minta apapun dari opa."
"Apapun? Opa yakin? Tidak akan menyesal?"
__ADS_1
"Tidak akan," jawab Zeroun mantap.
"Baiklah. Opa siap-siap kalah. Karena setelah tiba di Ukraina, aku akan mencari cara agar bisa segera meninggalkan tempat itu," jawab Daisy dengan penuh percaya diri.
Zeroun hanya tersenyum saja melihat tingkah laku Daisy. Sebenarnya dia ingin memberitahu apa yang akan ditemui oleh Daisy ketika tiba di Ukraina nanti. Namun ini akan menjadi kejutan untuk Daisy. Zeroun hanya ingin melihat cucunya bahagia. Setidaknya di akhir usianya dia bisa memberikan yang terbaik untuk cucu-cucunya.
"Opa, apa Opa tidak ngantuk?"
Zeroun menggeleng. "Kau ngantuk?"
"Tidak juga. Perjalanan malam terasa sangat lama. Aku tidak bisa tidur jika masih dalam perjalanan seperti ini. Walau mataku terpejam, tetap saja kupingku bisa mendengar suara apapun." Daisy kembali ingat dengan hilangnya Zeroun dari rumah hingga ketidakhadiran Zeroun di pesta ulang tahun Livy. Dia ingin tahu, ke mana saja Opa Zen selama beberapa hari ini.
"Apa-apa selama beberapa hari ini Opa tetap ada di Inggris?"
"Opa ke Hongkong," jawab Zeroun. Dia mengambil air putih yang tersedia di depannya. "Opa merindukan Hongkong. Opa sengaja pergi ke Hongkong ketika Lukas dan Lana sibuk dengan pesta ulang tahun Livy. Opa tidak mau merepotkan mereka. Jadi Opa pergi secara diam-diam saja. Kau sendiri pasti tahu, bagaimana sifat Opa Lukas kalau sudah menyangkut tentang kehidupan Opa bukan? Dia sudah seperti istri yang mengkhawatirkan suaminya."
Daisy tertawa mendengar jawaban Zeroun. Walau terdengar aneh, tetapi semua yang dikatakan Zeroun itu benar, kalau Lukas memang sangat posesif terhadap Zeroun. Ibaratnya seorang kakak yang tidak rela adiknya pergi jauh.
"Lalu apa sekarang Opa Lukas sudah tahu kalau Opa Zen sempat datang ke Hongkong."
"Kak Norah dan Kak Zion bilang padaku kalau mereka juga ingin hadiah pesawat dari Opa." Zeroun mengeryitkan dahinya. "Kemarin saat Opa tanya mereka tidak bilang seperti itu. Apa mereka berubah pikiran setelah bertemu denganmu?"
Daisy tertawa geli. "Maafkan aku opa, aku hanya bercanda saja. Kak Zion dan Kak Norah senang melihat ku punya pesawat pribadi. Tetapi mereka tidak memiliki pemikiran untuk minta pesawat yang sama kepada Opa. Mereka Justru memarahiku karena hadiah yang opa berikan harganya begitu mahal. Papa dan Mama saja juga sempat marah. Kata Papa pesawat kita sudah ada kenapa harus beli pesawat yang baru." Daisy mempraktekan nada bicara kedua orang tuanya. Jelas saja itu membuat Zeroun tertawa geli.
"Kau tidak bilang kalau pesawatnya berbeda dari pesawat yang kita miliki sebelumnya?"
"Bagaimana bisa Aku mengatakan hal seperti itu Sedangkan aku belum pernah naik pesawat yang baru ini. Besok setelah pulang ke rumah aku akan katakan kepada mama dan papa kalau pesawat baru jauh lebih baik dari pesawat kita yang lama."
"Bagus. Anak pintar," puji Zeroun. Rasanya pria itu tidak bisa berhenti tertawa jika mengobrol dengan Daisy. Ini yang membuat Zeroun memutuskan untuk liburan bersama dengan Daisy. Wanita itu selalu bisa mencairkan suasana.
Daisy mengucek matanya yang mulai terasa ngantuk. Walaupun terasa ngantuk berat tetapi kedua matanya pasti akan sangat sulit untuk terpejam. Apa lagi sekarang dia ada di dalam pesawat. Tidak ada di dalam kamar pribadinya yang nyaman.
"Opa, Aku mau berbaring untuk meluruskan pinggang. Sejak tadi aku belum ada istirahat. Selesai beres-beres Kak Norah mengajakku untuk menemaninya makan siang. Kami mengobrol sampai sore sebelum akhirnya aku berangkat ke bandara," jelas Daisy apa adanya.
__ADS_1
"Pergilah istirahat. Tetap jaga kesehatan agar kau bisa jalan-jalan mengelilingi Ukraina." Zeroun menahan kalimatnya. Dia ingin mengatakan sesuatu tetapi ia masih ragu untuk mengatakannya di depan Daisy.
"Apa yang Opa pikiran? Kenapa tiba-tiba Opa terlihat kebingungan seperti itu?"
"Tidak ada. Mata Opa juga ngantuk. Sepertinya kita harus sama-sama tidur. Besok saat membuka mata kita sudah tiba di Ukraina."
"Baiklah, Opa. Selamat malam dan selamat tidur. Jika Opa tidak bisa tidur dan butuh teman mengobrol panggil saja aku. Aku tidak keberatan jika diajak begadang untuk mendengarkan cerita Opa," ucap Daisy dengan satu mata berkedip.
"Terima kasih Daisy. Tapi Opa tidak akan mengganggu tidurmu. Pergilah Jika kau terus berdiri disini maka kau tidak akan tidur-tidur."
"Oke Opa."
Setelah Daisy pergi menuju ke tempat tidurnya, Zeroun mengambil foto yang ada di dalam saku. Pria itu memperhatikan foto seorang pria yang sedang bermain gitar di pinggiran jalan. Senyum indah terukir di bibir Zeroun. Kali ini dia tidak bisa berani jamin kalau rencananya akan berhasil 100% tetapi setidaknya dia sudah berusaha untuk membahagiakan Daisy."
"Kita lihat saja nanti, apa yang akan terjadi jika mereka berdua bertemu lagi?" gumam Zeroun sebelum menyimpan foto itu lagi ke dalam saku.
Di tempat tidurnya, Daisy berbaring memandang ke layar monitor yang ada di depannya. Tadi matanya sangat mengantuk tapi entah kenapa ketika sudah berbaring rasa kantuk itu hilang begitu saja. Daisy tiba-tiba saja kembali ingat dengan Foster. Padahal hari ini Daisy tidak ada bertemu dengan hal yang berhubungan dengan pria itu. Rasa rindu itu tiba-tiba saja muncul hingga membuatnya tersiksa. Daisy ingin sekali bertemu Foster. Walau hanya 5 menit saja sekedar untuk melepaskan rindu.
"Kabar terakhir yang aku terima kalau Kak Foster pergi ke benua Eropa ini. Tapi benua Eropa sangat luas. Apa mungkin kami akan bertemu lagi. Dia menghilang begitu saja tanpa kabar hingga aku merasa kalau hubungan ini benar-benar sudah berakhir. Padahal sudah satu bulan berlalu. Tapi aku semakin cinta padanya. Apa dia benar-benar sudah melupakanku. Sampai detik ini kenapa dia tidak ada kabar lagi. Apa sudah ada wanita lain di sampingnya. Sebenarnya apa yang dia kerjakan di Eropa. Walau hanya dalam mimpi Aku ingin sekali bertemu dengannya. Setidaknya aku bisa katakan padanya kalau aku sangat merindukannya. Tidak ada rasa benci sedikitpun di dalam hatiku."
Daisy mematikan layar monitor yang ada di depannya dan langsung memejamkan mata. Dia harus banyak istirahat agar bisa terlihat bersemangat besok pagi. Kesedihan ini biar lah dia yang rasa. Jangan sampai Zeroun tahu kalau hatinya sepi dan sangat merindu.
Buliran air mata jatuh di sudut mata Daisy. Entah kenapa hatinya menjadi sensitif setiap kali dia ingat dengan Foster. Jika Norah atau Zion tahu akan hal ini maka mereka akan marah.
"Kak Foster ... kakak dimana?" jerit Daisy di dalam hati. "Di manapun Kakak berada, aku harap Namaku tidak pernah hilang di dalam pikiran Kakak Foster.
Di sisi lain, rasa dingin membuat Foster membuka matanya dan turun dari tempat tidur. Pria itu memandang ke jendela yang ternyata lupa dia tutup. Dengan segera Foster menutup jendela itu agar Angin tidak masuk ke kamarnya. Setelah menutup jendela pria itu berhenti di sana memandang keluar. Sama seperti yang sekarang dipikirkan oleh Daisy. Foster juga tidak bisa tidur karena dia memikirkan Daisy. Ingin sekali pria itu berteriak untuk melampiaskan rasa rindu yang kini menyesakkan dada.
"Daisy, sebulan sudah kita berpisah. Kabar terakhir yang aku terima hidupmu sekarang menjadi jauh lebih baik. Apa masih ada namaku di dalam hatimu. Jika kita ditakdirkan bertemu lagi Apakah kau masih mau bicara padaku. Atau jangan-jangan kau sudah sangat benci bahkan tidak mau memandang wajahku lagi? Daisy, hidupku yang sekarang tidak baik-baik saja. Aku harus bertarung nyawa untuk tetap bertahan hidup. Aku aku bukan Foster kaya raya seperti yang dulu kau kenal. Jika kau tahu keadaanku yang sekarang Kau pasti akan menertawaiku. Dan berkata kalau ini adalah karma yang pantas untuk aku dapatkan karena pernah menyakiti hatimu dengan begitu parah."
Foster sudah tidak bisa tidur lagi walau jam masih menunjukkan pukul 03.00 pagi. Pria itu pergi ke dapur untuk membuat minuman hangat. Dia sekarang bukan seorang direktur atau pemilik perusahaan yang bisa seenaknya melakukan hal yang dia suka. Foster sekarang seorang pengamen. Pria itu harus menjual suaranya dipinggiran jalan demi mendapatkan uang agar bisa bertahan hidup. Beberapa rekan bisnisnya ingin membantu. Tetapi Foster menolak. Dia sengaja menjalani hidup yang sulit ini agar kedua orang tuanya tidak lagi mengusik hidupnya.
Foster merebus air panas di atas kompor. Dia mengeryitkan dahi mendengar suara orang berjalan di luar sana. Pria itu menghela napas kasar. Memang biasanya selalu saja ada preman yang datang untuk meminta uang. Walau Foster selalu bisa membela diri. Tetapi dia lelah berkelahi.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus segera meninggalkan Ukraina!" gumam Foster di dalam hati.