
Pranggg
Zion memandang gelas yang jatuh di lantai dengan tatapan tidak terbaca. Entah kenapa firasatnya menjadi tidak enak. Pikirannya lagi-lagi dipenuhi dengan nama Norah setelah beberapa jam ini dia hanya memikirkan kesehatan GrandNa nya.
“Norah. Sampai sekarang aku belum menemukan petunjuk apapun. Dimana dia? Apa benar dia masih hidup?” gumam Zion di dalam hati. Dia berjongkok ingin mengambil pecahan gelas yang ada di lantai. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk Zion hingga membuat Zion mendongak. “Pa.”
Jordan duduk di kursi. Dia menuang air putih ke dalam gelas sebelum memandang ke depan. Perlahan dia meneguk minuman itu. Zion mengurungkan niatnya untuk mengutip pecahan kaca tersebut. Setelah ini juga pasti ada pelayan yang akan membersihkannya.
“Bagaimana keadaan GrandNa, pa? Apa GrandNa baik-baik saja?”
Zion duduk di kursi yang dekat dengan Jordan. Pria itu mengambil gelas yang baru dan menuang airnya. Ia memandang Jordan menunggu pria itu menjawab pertanyaannya.
“GrandNa belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Papa juga sudah membayar detektif terbaik untuk menemukan keberadaan Norah tetapi mereka semua bilang, Norah ada di dalam pesawat.” Jordan mengusap wajahnya dengan tangan. “Mamamu sudah mengikhlaskan kepergian Norah. Tetapi, apa mungkin kita diam saja? Bagaimana kalau Norah benar-benar masih hidup dan membutuhkan bantuan kita? Opa Zen sudah tidak bisa kita harapkan lagi. Jika GrandNa belum bangun. Jiwanya juga mati.”
“Opa Zen mencintai GrandNa?” celetuk Zion. Sebenarnya Zion tidak terlalu peduli sama perasaan Opa nya itu. Namun, setelah melihat perubahan sikap Zeroun sejak Serena masuk rumah sakit. Zion jadi membuat kesimpulan seperti itu.
Jordan tersenyum. Dia meneguk habis air minum yang ada di dalam gelas. “Jika kau sudah selesai, kembalilah ke rumah sakit. Papa juga ingin kembali ke rumah sakit. Sepertinya rumah kita sudah aman. Kalaupun mereka ingin menyerang lagi, penyerangan mereka hanya sia-sia saja. Jika mereka ingin rumah ini, aku dengan senang hati menyerahkannya!”
Jordan pergi meninggalkan Zion begitu saja tanpa mau menjawab pertanyaan putranya. Dia sendiri sebenarnya bingung melihat sikap ayah kandungnya. Ada rasa sedih karena Zeroun begitu perhatian dengan Serena dibandingkan dengan Emelie saat sakit dulu. Tetapi, dia sendiri juga tidak mengerti. Bagaimana perasaan Zeroun saat ini. Apa benar pria itu masih cinta sama Serena atau terlalu sayang karena Serena satu-satunya teman cerita dia saat ini.
Zion memandang gelas di meja. “Well, sepertinya aku tidak perlu berpikir terlalu jauh tentang GrandNa dan Opa Zen. Itu sama sekali bukan urusanku. Sekarang aku harus memastikan rumah ini aman sebelum berangkat ke rumah sakit.” Zion juga pergi meninggalkan dapur. Pria itu melangkah ke halaman samping karena di sana tempat yang paling parah ketika terjadi penyerangan.
Belum terlalu jauh Zion melangkah, seorang pria berlari mendekatinya. Pria itu menunduk hormat sejenak sebelum memandang ke arah Zion. “Tuan, sejauh ini kami lihat keadaan aman. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?”
__ADS_1
Zion memandang ke luar untuk memastikan suasana di halaman samping sudah benar-benar aman. Karena melihat tidak ada masalah lagi di sana, Zion memutuskan untuk segera berangkat ke rumah sakit. “Tugasmu menjaga rumah. Aku kurang percaya dengan yang lain. Pasukan Gold Dragon tidak ada yang bisa menjaga rumah ini karena mereka di tugaskan oleh Opa Lukas untuk menjaga rumah sakit tempat GrandNa di rawat.”
“Baik, Tuan.”
Zion menahan langkah kakinya melihat foto keluarga mereka terpajang di dinding. Senyum mereka berlima sangat manis untuk di pandang. Seolah-olah mereka itu keluarga paling bahagia di dunia ini. Tatapan Zion terhenti pada Norah. Memang di antara foto mereka berlima, setelah diperhatikan lebih teliti lagi Norah tidak tidak tersenyum lepas. Seperti ada yang di tahan oleh wanita itu.
“Norah. Apa mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi?”
***
Norah membuka kedua matanya ketika matahari menyengat kulitnya. Wanita itu segera menutup matanya dengan tangan. Dia memiringkan kepalanya ke samping. Sejenak Norah berusaha mengingat apa yang terjadi. Kakinya yang basah karena terkena percikan air laut membuatnya segera bangun dan duduk di atas pasir pantai yang basah.
“Dimana ini? Apa aku sudah ada di surge?” gumam Norah di dalam hati. Dia memandang ke arah kanan. Alisnya saling bertaut melihat seorang pria tergeletak di atas pasir putih. Posisinya hanya beberapa meter dari posisi Norah berada.”Siapa dia? Apa itu Austin?” Norah segera berdiri. Namun dia harus terjatuh ketika kakinya terasa sakit. Norah melihat kakinya tertusuk ranting pohon. Bahkan rantingnya itu masih tertancap di kakinya hingga menyisakan rasa nyeri yang begitu luar biasa. “Bagaimana ini? Aku tidak bisa jalan.”
Norah kembali duduk. Tidak habis akal, dia memandang pria itu lagi. Karena posisinya membelakangi, jadi Norah tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria tersebut. Norah mengambil segenggam pasir di dekatnya dan melempar ke arah pria tersebut. Berharap pria itu segera terbangun setelah terkena pasir yang di lempar Norah.
Austin merasa sangat pusing. Kepalanya terasa berat karena terlalu banyak meminum air laut. “Ada di mana ini?” pria itu segera duduk di atas pasir pantai. Dia belum sadar kalau Norah sedang memperhatikannya dari kejauhan. “Norah, di mana dia?” Austin miring ke kiri. Hingga akhirnya tatapan mereka saling bertemu. “Norah!”
Tanpa pikir panjang, Austin segera berdiri dan mendekati Norah. Pria itu bahkan tidak ingat lagi dengan sakit yang ia derita. Ia lebih mementingkan kesehatan Norah daripada nyawanya sendiri.
“Norah, apa kau baik-baik saja?” Austin memandang kayu yang masih menancap di kaki Norah. Pria itu berjongkok di dekat kaki Norah. “Kenapa kayu ini bisa ada di kakimu? Apa saja yang kau kerjakan?”
Norah menyipitkan kedua matanya. “Tadinya aku pikir pria gagah dan tampan sepertimu itu adalah pria yang pintar. Ternyata tidak! Kau bahkan jauh lebih bodoh jika dibadingkan seorang supir. Untuk apa aku melukai kakiku sendiri? Aku bahkan tidak tahu sejak kapan kayu itu ada di sana. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana melepasnya!” sahut Norah malas. Sebenarnya dia tidak mau menjawab pertanyaan Austin. Wanita itu masih marah karena ciuman Austin tadi malam. Jika di ingat-ingat lagi, rasanya Norah tidak terima ciuman pertamanya di curi oleh Austin.
__ADS_1
“Mau aku bantu melepaskannya?” tawar Austin. Pria itu tidak mau banyak berdebat dengan Norah. Dia tidak mau Norah sampai kehabisan tenaga karena terlalu banyak berdebat.
“Lakukan saja jika kau bisa!” Norah lagi-lagi memalingkan wajahnya.
“Tidak di sini. Terkena air laut membuat bajumu selalu basah!” Austin memandang lokasi yang sedikit rimbun. “Di sana saja. Bagaimana?” Austin menunjuk ke arah belakang. Norah mengikuti arah yang di tunjuk Austin sebelum mengangguk.
“Tapi aku tidak bisa ke sana. Kaki ku sakit.”
Austin menaikan satu alisnya. “Anda minta di gendong Nona?”
“Aku tidak memintamu untuk melakukannya!” ketus Norah tidak mau mengakui.
“Baiklah. Dengan senang hati.” Austin membungkukkan tubuhnya dan segera mengangkat tubuh Norah ke dalam gendongannya. “Nona, pegangan yang kuat atau anda akan jatuh.”
“Jika kau berani macam-macam, aku pastikan kayu itu akan mendarat di kedua matamu yang cabul itu!” ancam Norah.
“Baiklah. Aku lebih baik diam.” Austin segera melangkah ke pepohonan. Walau sebenarnya dia sendiri tidak tahu sekarang ada di mana. Setidaknya dia bersama Norah. Berduaan di pulau terpencil bersama dengan wanita yang dicintainya membuat Austin tidak khawatir sama sekali.
“Apa pulau ini jauh dari pulau pertama?” tanya Norah ingin tahu.
“Aku tidak tahu. Aku belum pernah melihat pulau ini sebelumnya. Semoga saja tempat ini bisa dijadikan tempat kita bersembunyi dari anak buah Mr. A. Aku pernah dengar kalau ada banyak pulau tidak berpenghuni di sekitar sini. Jumlahnya bahkan sampai puluhan. Dia tidak akan mungkin memeriksa satu persatu kan?”
Austin meletakkan Norah dengan hati-hati. Dia meminta Norah bersandar di batang pohon agar posisinya bisa lebih nyaman. “Aku akan mencabut kayu ini. Tapi, rasanya akan sedikit sakit.” Austin menarik tangan Norah dan meletakkannya di lengan kekarnya. “Kau bisa mencubit atau melakukan apa saja terhadap tanganku selama aku mencabutnya.”
__ADS_1
Norah hanya diam mendengar apa yang dikatakan Austin. Pria itu membuat Norah kembali ingat dengan Zion. Biasanya setiap kali Norah terluka, demi membuat Norah melupakan rasa sakitnya. Zion akan memberikan lengannya untuk di cubit oleh Norah.
“Kenapa Austin bisa sebaik ini? Jika dia terus-terusan bersikap manis seperti ini. Aku tidak akan memiliki alasan untuk membencinya,” gumam Norah di dalam hati.