Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 103


__ADS_3

Norah mulai belajar duduk. Walau masih belum boleh menurunkan kakinya ke lantai, tetapi wanita itu merasa senang karena punggungnya tidak panas karena terlalu banyak berbaring. Norah juga sudah bisa menggerakkan kedua kakinya perlahan. Senyum mengembang dibibirnya membuat Leona dan juga Zion ikut bahagia.


"Sayang, jangan di paksa dulu. Jangan terlalu banyak gerak," ucap Leona. Walau wajah Norah sudah lebih cerah, tetapi Leona tidak mau sampai Norah kelelahan.


"Ma, aku ingin cepat sembuh agar aku bisa menemui Austin. Dia pasti sangat sibuk hingga tidak ada menjengukku sampai sekarang."


Leona dan Zion saling memandang Mendengar pernyataan Norah membuat mereka merasa bersalah. "Sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengatakan keadaan Austin yang sebenarnya kepada Norah," gumam Zion di dalam hati.


"Zion, mama mau pulang. Apa kau bisa menjaga adikmu? Mama juga mau singgah ke rumah Opa Zen. Tadi pengawal di sana bilang kalau Daisy demam tadi malam." Leona mengambil barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas. "Ingat Zion. Jaga adikmu dengan baik. Mama gak mau kejadian serupa di alami Norah maupun Daisy."


Perintah Leona seperti cambuk bagi Zion. Dia merasa tertampar karena sudah dua kali dia gagal menjaga adiknya. Peringatan kali ini akan menjadi peringatan yang terakhir. Zion telah bersumpah pada dirinya sendiri kalau Norah dan Daisy akan selalu aman.


"Baik, Ma," jawab Zion dengan wajah tidak bersahabatan. Leona tahu kalau ada yang lain dari putranya itu. Dia mendekati Zion dan mengusap rambut Zion dengan lembut.


"Mama tahu bebanmu sebagai anak pertama berat. Tapi, mama juga sudah tua. Mama tidak bisa seaktif dulu. Hanya kau harapan mama dan papa Zion. Setidaknya jaga mereka sampai mereka menikah. Apa kau bisa?"


"Bagaimana kalau Kak Zion menemukan jodohnya dan menikah Ma? Mama tidak bisa terus-terusan menyalahkan Kak Zion atas masalah yang menimpah aku dan Daisy. Kak Zion gak salah ma. Aku dan Daisy yang salah karena kurang hati-hati," bela Norah. Dia tidak mau kakaknya disudutkan seperti itu. Diberi tanggung jawab yang begitu berat di pundaknya. "Aku dan Daisy juga bukan anak kecil lagi. Begitu juga dengan Kak Zion, Ma. Kami sudah seharusnya memikirkan mama dan papa. Kami bertiga ma. Bukan hanya Kak Zion!"


Zion memandang Norah dengan tatapan tidak percaya. Begitu jahatnya Zion jika menyangkut kehidupan adiknya. Dia sangat kejam hingga membuat peraturan aneh yang terkadang di luar akal sehat. Tetapi sekarang, dihadapannya adiknya membelanya. Walau Zion tidak keberatan dengan beban yang ia pikul. Tetapi pembelaan Norah membuatnya bangga.


"Norah, mama sangat menyayangi kalian bertiga. Sebenarnya mama tidak mau memberi beban ini kepada siapapun. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian bertiga. Sejauh ini musuh kita tidak ada yang berani mengusik kakak kalian. Hanya Daisy yang selalu diincar. Maka dari itu mama merasa kalau sebenarnya keluarga kita ini belum kompak. Kita masih memiliki celah untuk dikalahkan."


"Dan celah itu ada pada Daisy, gitu maksud mama?" sahut Norah.


"Norah, mama tidak bilang kalau Daisy adalah kelemahan di dalam keluarga kita. Mama hanya ingin bilang kalau ... semua musuh selalu mengincarnya. Tetapi mama tidak punya solusi untuk mencegah semua masalah ini terjadi."


"Daisy akan bisa bela diri dan menembak ma. Mama tenang saja. Setelah pulang dari rumah sakit, Norah akan melatih Daisy. Norah akan buat Daisy menjadi wanita hebat. Bahkan lebih hebat dari Norah."


"Tapi fisik Daisy tidak sekuat kalian berdua. Daisy mudah sakit. Kecapean sakit. Banyak pikiran sakit. Mama tidak mau memaksa Daisy, Norah. Apa tidak ada cara lain selain memaksa Daisy untuk bisa bela diri?"


"Cukup ... cukup." Zion angkat bicara. Kepalanya mau pecah mendengar perdebatan dua wanita yang ada di hadapannya. "Norah, Mama. Zion masih hidup. Diperintah ataupun tanpa diperintah, Zion tetap akan menjaga keluarga Zion. Bukan karena Zion anak pertama. Tetapi karena Zion merasa mampu melindungi keluarga Zion. Zion meminta Daisy berlatih bela diri dasar. Tidak harus sehebat Norah. Itu juga bermanfaat melindunginya dari penjahat kecil. Atau pacarnya." Lagi-lagi dia menyangkut pautkannya dengan Foster. "Setidaknya saat di sakiti, dia memiliki kekuatan untuk menampar wajah pacarnya dengan tenaga penuh!"


"Kau ini bicara apa Zion. Mama jadi pusing," keluh Leona.


"Mama tadi kan mau pulang. Sudah ya ma. Pulang aja sana. Sepertinya mama butuh banyak istirahat agar bisa berpikir jernih," Norah berbaring lagi.


"Baiklah. Mama mau pulang dulu ya sayang." Leona mengecup pucuk kepala Zion dan Norah secara bergantian. Tanpa mau banyak bicara lagi Leona segera pergi meninggalkan ruangan itu.


"Seharusnya kau tidak berdebat dengan mama sepeti tadi. Mama sudah tua. Dia hanya ingin yang terbaik untuk anaknya," protes Zion.

__ADS_1


"Aku tidak mau mama terus-menerus menekan kakak. Hanya itu!" sahut Norah. Dia memandang langit-langit kamar sambil tersenyum. Tiba-tiba saja sifat jahilnya kambuh. "Kak."


"Hem," sahut Zion malas. Dari nada manggilnya saja sudah kelihatan kalau ada pertanyaan gak beres yang akan diucapkan.


"Kakak suka wanita yang seperti apa?"


"Maksudnya?" Zion mengeryitkan dahinya bingung.


"Tipe wanita seperti aku atau Daisy?"


"Kau meminta kakak memilih antara kau dan Daisy gitu?"


"Bukan bukan." Norah menghela napas. Dia berusaha duduk lagi.


"Apa yang kau lakukan?"Zion membantu Norah duduk.


"Maksudku ... nanti kakak akan menikah dengan wanita yang seperti apa?"


"Belum terpikirkan." Zion kembali duduk. "Yang pasti dia juga sayang sama kau, Daisy, mama, papa dan semua keluarga kita."


"Cara tahunya kalau dia sayang sama keluarga kita bagaimana?"


Norah tertawa geli. "Aku lagi carikan kakak jodoh. Siapa tahu cocok," sahut Norah diselingi tawa.


"Norah!" protes Zion. "Jangan lakukan hal konyol seperti itu."


"Jika tidak di cari tidak akan jumpa."


"Tapi tidak sekarang," sahut Zion.


"Lalu kapan? Kalau dilihat dari sifat kakak yang seperti ini, kakak akan lama ketemu jodoh kakak. Mana ada wanita yang mau sama pria galak dan cuek seperti kakak."


"Kalau ada?" tantang Zion.


Norah menyipitkan kedua matanya. "Aku akan melompat dari atas pesawat dan meneriaki nama kakak di langit," sahut Norah mantap.


"Pegang janjimu!"


"Oke," sahut Norah penuh keyakinan.

__ADS_1


"Aku akan segera bertemu dengannya," jawab Zion penuh dengan percaya diri.


"Harus cantik dan kaya ya kak," tawar Norah.


"Kau ini." Zion kembali memasang wajah yang serius. "Norah, sebenarnya ada hal penting yang ingin aku katakan padamu sejak semalam."


"Hal penting apa kak?"


"Ini tentang Austin."


"Austin? Apa yang terjadi dengan Austin?" Norah menjadi sangat serius.


"Sebenarnya Austin di rawat di rumah sakit ini juga. Kakinya mengalami cedera. Dia ada di ruangan sebelah."


"Apa? Kenapa kakak tidak bilang sejak kemarin? Antar aku kak. Aku ingin bertemu dengannya." Wajah Norah terlihat panik.


"Ini yang kakak khawatirkan. Norah, tenanglah. Austin baik-baik saja. Kakak akan membawa dia ke ruangan ini. Tetapi kau janji harus cepat sembuh."


"Tidak perlu kak. Aku bisa datang sendiri."


Zion dan Norah dibuat kaget dengan kemunculan Austin di dalam ruangan tersebut. Dia sudah tidak sanggup menahan rindu hingga memaksakan diri untuk menemui Norah. Ada Paman Tano yang bertugas untuk mendorong kursi rodanya.


"Austin?" lirih Norah. "Apa kau baik-baik saja?" Norah memandang Zion dengan tatapan kesal. "Kakak jahat. Kenapa kakak merahasiakan keadaan Austin?"


"Norah, tenanglah," bujuk Austin.


"Tolong jaga adikku." Zion memberi kode kepada Paman Tano untuk keluar. Mereka sengaja memberikan waktu berdua untuk Austin dan juga Norah.


Setelah pintu kembali tertutup, Austin memandang Norah dan tersenyum ramah. "Apa kabar?"


"Austin, aku sangat mengkhawatirkanmu. Kenapa kau bisa sesantai ini?"


"Norah, kau marah padaku?"


"Ya. Aku marah padamu dan juga Kak Zion. Kalian sudah membohongiku."


Austin mengambil tangan Norah dan mengecupnya. Tiba-tiba saja pria itu menyematkan sebuah cincin di jari manis Norah.


"Austin, apa ini?"

__ADS_1


"Setelah keluar dari rumah sakit, kita akan menikah."


__ADS_2