
Setelah Dokter memastikan kondisi Zion baik-baik saja, Dominic memutuskan untuk pergi meninggalkan Zion sendirian di kamar agar pria itu bisa istirahat. Tetapi percuma saja, karena Zion tidak bisa untuk istirahat. Pria itu terus saja memikirkan kejadian tadi. Rasanya ia ingin Livy segera menceritakan semuanya dengan jelas.
Namun kini justru Livy dan Norah sudah pergi meninggalkan Las Vegas. Mereka berdua merasa tidak diperlukan lagi di sana. Ketika mereka melihat Zion sudah baik-baik saja, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Norah dan Livy juga bukan pulang ke rumah. Melainkan kembali ke kapal. Jika mereka semua sampai menghilang di waktu yang bersamaan, itu hanya akan membuat semua orang yang ada di kapal menjadi curiga. Dan mereka berdua tidak mau sampai hal itu terjadi.
Zion mengambil senjata api yang pernah diwariskan oleh Serena kepadanya. Pria itu memeriksa ulang sebuah coretan nama yang terukir indah di bagian pistol tersebut.
"Queen Star. Ya, tidak salah lagi. Sepertinya Queen Star berhubungan dengan GrandNa. Tapi kenapa waktu itu GrandNa dan Opa Zen tidak mau menjelaskan yang sebenarnya? Justru Mereka bilang kepadaku kalau Queen Star itu hanya sekedar merek dagang. Sepertinya ada sesuatu yang sengaja disembunyikan GrandNa saat itu."
Zion menyimpan senjata apinya lagi. Pria itu menghela napas panjang lalu memandang ke langit-langit kamar. Tiba-tiba saja ada seulas senyum di bibir Zion.
"Kalau diingat-ingat lagi. Bukankah kemarin Norah sempat cerita kalau dia ingin menjodohkan Dominic dengan Putri Tante Letty yang bernama Elyna?Bukankah ini sebuah kebetulan? Tiba-tiba saja Elyna memiliki pemikiran untuk menyerang Las Vegas yang jelas-jelas Las Vegas itu dipimpin oleh Dominic." Zion terdiam sejenak. Ia mulai menyatukan satu persatu kebetulan yang menunjukkan kalau Dominic dan Elyna benar-benar berjodoh. "Apa mungkin mereka berjodoh? Sepertinya kisah mereka akan seru jika mereka benar-benar berjodoh. Mereka memiliki banyak kesamaan. Seperti sama-sama penggila harta. Mereka juga suka sekali memiliki wilayah kekuasaan yang begitu luas. Tidak salah lagi. Mereka memang pantas berjodoh. Dengan begitu Elyna akan senang karena berhasil memiliki Las Vegas. Sedangkan Dominic juga merasa diuntungkan karena akhirnya ia memiliki istri."
Zion tertawa geli di kamar itu. Tiba-tiba saja pria itu merasa sangat bahagia. Dia mengambil ponselnya yang berdering. Zion langsung tersenyum ketika melihat nama Faith muncul di layar ponselnya.
"Kak Zion baik-baik saja?" Tiba-tiba saja Faith langsung menanyakan kabar Zion. Dari nada bicara wanita itu bisa dibayangkan, bagaimana ekspresi wajahnya ketika sedang mengkhawatirkan Zion.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana liburannya? Apa kapal sewaan Mama sudah berlabuh di pelabuhan?"
"Tante Leona melanjutkan perjalanan ini. Katanya dia belum puas jika hanya berlibur selama beberapa hari saja. Kak Zion kapan kembali? Apa Kak Zion tidak akan menikmati liburan di kapal ini lagi?"
"Apa kau merindukanku?" Zion bisa membayangkan bagaimana wajah Faith ketika wanita itu tersipu malu. "Aku tahu kalau sekarang kau tersenyum ketika membayangkan wajahku," tebak Zion dengan penuh percaya diri.
"Kak Zion bisa aja," ucap Faith. Dia diam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku hanya mengkhawatirkan keadaan Kak Zion. Sebenarnya tugas apa yang Kak Zion lakukan di sana? Apa butuh waktu yang lama untuk menyelesaikannya?"
"Aku akan segera kembali karena tugasku sudah selesai. Kau tunggu saja. Besok ketika kau membuka mata, aku sudah ada di hadapanmu." Zion sendiri juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaannya itu.
"Janji?" tanya Faith tidak percaya. "Kalau bohong bagaimana?"
"Ya, aku janji. Aku tidak akan membohongimu." Zion merasa yakin kalau besok pagi dia pasti sudah tiba di kapal. Pria itu ingin segera berangkat agar tidak kesiangan besok.
"Baiklah, kalau begitu aku mau bertemu dengan Papa dulu. Sekarang waktunya papa minum obat. Kak Zion jangan lupa makan ya." Faith segera memutuskan panggilan teleponnya. Sedangkan Zion justru memilih beranjak dari tempat tidur itu. Dia mulai merasa bosan. "Kau pasti tidak bisa seceria ini jika kau tahu kalau sekarang aku berada di rumah Dominic."
Zion melangkah menuju ke jendela. Pria itu ingin memeriksa keindahan di luar sana. Namun sayangnya tidak ada yang bisa dilihat di sana karena posisi kamar yang ditempati Zion menghadap ke areal lapangan luas yang gersang.
Zion memandang jam yang ada di dinding. Pria itu tidak mau menunda lagi. Dia harus segera pergi.
"Aku harus kembali ke kapal. Aku tidak mau sampai Paman Zean menyadari masalah ini."
Zion segera mengambil barang-barangnya lalu pergi meninggalkan kamar. Pria itu juga akan menemui Dominic sebelum ia pergi kembali ke kapal.
Dominic saat itu duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Ternyata pria itu sedang memeriksa seluruh pendapatan dari Kasino miliknya yang ada di Las Vegas. Wajahnya benar-benar emosi ketika hasil hitungannya menunjukkan angka kerugian.
__ADS_1
"Sebenarnya uangku dikemanakan olehnya! Wanita ini benar-benar licik!" umpat Dominic kesal. Andai saja kini Elyna ada dihadapannya, pria itu pasti sudah menagih penjelasan. Kenapa kasino mewahnya bisa sampai mengalami kerugian!
"Apa ada masalah lagi?" tanya Zion.
Dominic segera memandang ke arah Zion lalu menyimpan ponselnya. "Kenapa kau keluar dari kamar? Bukankah tadi aku minta agar kau istirahat saja di dalam sana. Sebentar lagi kita akan makan siang. Kau juga harus minum obat, bukan?"
"Aku harus kembali ke kapal agar semua orang tidak curiga. Bagaimana dengan Anda? Apa Anda tidak mau kembali ke kapal? Bukankah masalah di Las Vega sudah selesai. Sekarang anda tidak perlu khawatir lagi."
Dominic mengangguk. "Memang benar, kalau sekarang Las Vegas sudah tidak diserang lagi. Tetapi tetap saja aku tidak bisa meninggalkan Las Vegas dalam keadaan seperti ini. Aku harus mengatur ulang keamanan di Las Vegas agar kesalahan seperti ini tidak sampai terulang lagi. Jika kau ingin kembali ke kapal, silahkan. Aku tidak bisa melarangmu. Faith juga pasti sangat mengkhawatirkanmu jika kau tidak segera muncul di hadapannya."
Zion duduk di sofa. Tiba-tiba saja pria itu ingin memastikan restu yang sempat dituliskan oleh Dominic di dalam suratnya.
"Aku dan Faith sudah memutuskan untuk segera menikah dalam waktu dekat ini. Bagaimana pendapat anda?"
Dominic mengangguk setuju. "Ide yang bagus. Kondisi Papa juga sudah jauh lebih baik. Sepertinya memang lebih bagus kalian menikah dalam waktu dekat agar kalian tidak perlu berpisah lagi."
Zion tersenyum bahagia mendengarnya. "Terima kasih, kakak ipar," ucap Zion dengan senyum ramah di bibirnya.
"Hemm," sahut Dominic singkat.
...***...
Elyna terlihat membisu. Wanita itu tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskannya agar Ibu kandungnya kini berpihak kepadanya. Dari cara Letty memandangnya saat ini, Elyna bisa tahu kalau ibunya itu belum bisa diajak berbicara.
"Jangan pernah pikirkan cara untuk kabur dari sini karena semua idemu itu tidak akan berhasil. Kali ini Mommy akan menjagamu dengan ketat agar kau tidak membuat ulah lagi. Elyna, kau ini sudah dewasa. Teman-teman seusiamu sudah pada menikah dan memiliki anak. Tetapi kau justru masih saja memikirkan wilayah kekuasaan.
Tanpa wilayah kekuasaan pun. Jika memang Queen Star kau pimpin dengan benar, maka kalian semua tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh pasukan mafia manapun. Menapa kau harus susah-susah memikirkan wilayah kekuasaan? Bukankah markas yang sekarang kau miliki sudah cukup nyaman dan aman?" Nada Letty meninggi. Hal itu menandakan kalau dia sedang kecewa.
"Maafkan aku, Mom," jawab Elyna singkat.
"Dominic itu adalah kakak iparnya Zion. Dan kau tahu Zion itu siapa? Zion itu adalah putranya Tante Leona. Pemimpin Queen Star setelah Nona Serena. Apa jadinya jika tadi kau berhasil mencelakai Zion? Mungkin pasukan Queen Star mu ini akan ditarik kembali oleh Tante Leona. Bagaimanapun juga sampai detik Tante Leona masih memiliki hak atas Queen Star ."
"Kenapa Mama bicara seperti itu? Seolah-olah Aku ini tidak pantas untuk menjadi pemimpin Queen Star!" Elyna terlihat kesal.
"Mommy bukan merendahkan kemampuanmu. Tetapi Mommy hanya tidak mau kau terjebak di posisi yang sama seperti Mommy dulu." Letty memandang keluar. "Saat Mommy masih muda dulu, Mommy juga sangat nakal. Sama sepertimu. Dulu Mommy seperti kau ini, suka membuat onar dimana-mana. Tetapi sekarang Mommy tahu bagaimana beratnya penyesalan yang Mama rasakan setelahnya. Jadi Mommy tidak mau kau merasakan penyesalan yang pernah Mommy rasakan dulu." Letty menatap Elyna dengan mata berkaca-kaca. Elyna jadi tidak tega melihatnya.
"Lalu setelah ini apa yang Mommy inginkan? Jika Mommy terus memintaku untuk berada di samping Mommy, lalu bagaimana dengan Queen Star?"
"Mommy tidak melarangmu untuk memimpin Queen Star. Tapi janganlah menjadi pembunuh bayaran lagi. Apa uangmu belum cukup untuk memenuhi kebutuhanmu? Setahu Mommy bayaran yang selama ini kau terima jumlahnya sangat fantastis. Sebenarnya apa yang ingin kau beli? Apa kau ingin membeli dunia ini dengan uangmu itu?"
"Mom, tidak seperti itu juga. Aku hanya ingin membuktikan kepada Mommy kalau aku bisa mandiri," jawab Elyna penuh keyakinan.
"Dengan cara membunuh? Apa kau yakin diantara korbanmu itu tidak ada yang memiliki niat untuk balas dendam?" Letty berusaha untuk membuka jalan pikiran putrinya.
__ADS_1
"Mereka tidak akan tahu akan identitasku. Saat di lokasi, aku juga tidak turun tangan langsung. Aku hanya menggunakan senjata yang aku miliki untuk menghabisi targetku. Aku bisa jamin kalau tidak akan meninggalkan jejak sedikitpun di sana. Mommy jangan mengkhawatirkanku ya," bujuk Elyna agar ibu kandungnya tidak sedih dan tidak khawatir.
"Bagaimana bisa Mommy tidak mengkhawatirkanmu, sedangkan Mommy tahu kalau karma masih ada di dunia ini. Kejahatanmu pasti mendapatkan balasannya. Dan sampai saat karma itu tiba, Mommy tidak tahu apa Mommy masih bisa untuk melindungimu nanti atau tidak!"
"Mommy ... Kenapa Mommy bicara seperti itu?" Tiba-tiba saja Elyna tersentuh. Wanita itu langsung memeluk ibu kandungnya. "Bukankah Mommy ini wanita yang kuat? Temani aku sampai aku tua. Aku tidak mau ditinggalkan oleh Mommy. Aku tidak siap untuk kehilangan Mommy. Jika Mommy tidak ada lagi di dunia ini, aku dengan siapa nanti? Aku tidak memiliki siapapun lagi."
"Untuk itu berubahlah, Nak. Jadilah wanita yang baik. Mommy tidak mau membandingkanmu dengan sepupumu Livy. Mommy hanya berharap kau bisa jauh lebih baik daripada dirimu yang sekarang. Jika kau terus-terusan membuat Mommy jantungan, Mama juga tidak yakin bisa memiliki umur yang panjang."
"Baiklah, Mom. Demi Mommy aku akan berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi. Mulai sekarang jangan bicarakan soal kematian lagi karena aku sangat takut mendengarkannya."
Letty mengangguk. "Mommy juga merasakan hal yang sama. Mommy tidak mau kehilanganmu. Untuk itu mulai sekarang dengarkan perkataan Mommy. Mommy mohon ... sudahi main-mainmu karena main-main mu sudah terlalu jauh Nak ..."
Elyna mengangguk. "Ya, Mom. Mulai sekarang aku akan menuruti semua perkataan Mommy. Apapun itu," ucap Elyna penuh dengan keyakinan.
"Apapun?" tanya Letty untuk kembali memastikan.
Elyna mengangguk cepat. "Ya, apapun Mom." Namun tiba-tiba saja ekspresi wajah wanita itu berubah. Dia menatap ibu kandungnya yang kini memasang senyuman penuh arti. "Kenapa firasatku menjadi tidak enak. Sepertinya Mommy memiliki rencana tertentu kali ini," gumam Elyna di dalam hati.
"Terima kasih sayang. Kau memang Putri Mama yang paling baik." Tiba-tiba saja Letty mencium pipi Elyna lalu memeluk wanita itu lagi.
"Mommy tidak merencanakan yang aneh-aneh kan?" tanya Elyna curiga.
"Tidak, sayang. Tenang saja. Apapun yang sudah Mommy pikirkan, itu semua demi kebaikanmu. Sebaiknya sekarang kau tidur saja. Kau butuh istirahat yang cukup. Nanti ketika kita sudah tiba di kapal Mommy akan membangunkanmu."
Letty kembali memandang ke depan dan mengingat kejadian sebelum dia tiba di Las Vegas tadi.
"Tante, apa yang Tante lakukan di sini?" Livy menyapa Letty karena tanpa mereka sadari mereka berada di pesawat yang sama. Bahkan tiba di tempat yang sama juga.
"Tante ingin menjemput Elyna. Dia ada di sini," jawab Letty saat itu.
"Elyna? Untuk apa Elyna ada di Las Vegas?" tanya Livy. Wanita itu masih belum paham.
"Elyna berencana untuk mengalahkan pria yang menjadi pemilik Las Vegas ini. Sekarang tante ingin menemui Elyna untuk mencegahnya. Tante tidak mau sampai dia celaka," ucap Letty dengan wajah sedih.
"Elyna ingin menguasai Las Vegas? Itu berarti Elyna lah yang sekarang akan dihadapi oleh kak Zion?" sahut Norah dengan wajah yang khawatir.
"Zion juga ada di sini? Di Las Vegas ini?" Letty semakin tidak tenang sekarang.
"Ya. Jadi pria yang berkuasa di Las Vegas ini bernama Dominic. Dia adalah calon kakak ipar Kak Zion. Setelah tahu kalau Las Vegas akan dikuasai oleh seseorang, Kak Zion memutuskan untuk membantu Dominic. Kami sama sekali tidak menyangka kalau Elyna lah lawan Kak Zion kali ini. Kita harus segera mencegah mereka bertarung. Jangan sampai salah satu dari mereka ada yang celaka." Norah terlihat panik sekali. Dia ingin segera bertemu dengan kakak kandungnya.
"Ya. Kita harus bergerak cepat!" Letty yang sudah sangat khawatir segera menarik tangan Livy dan membawa dua wanita itu menuju ke mobil. Di detik itu juga mereka cepat-cepat pergi menuju ke kediaman Dominic.
"Terlambat sedikit saja mungkin aku akan kehilangan Elyna. Jika memang hal itu sampai terjadi, Aku tidak tahu bagaimana kedepannya. Mungkin saja hubunganku dengan mereka bisa kembali memburuk. Karena sebagai seorang ibu, aku pasti tidak akan terima jika putriku mati dengan cara dibunuh," gumam Letty di dalam hati.
__ADS_1