Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 245


__ADS_3

Malam ini adalah acara resepsi pernikahan antara Zion dan Faith. Lagi-lagi semua orang berkumpul. Meskipun begitu, selalu saja ada topik yang bisa dibahas hingga membuat suasana kembali mencair. Meskipun jelas-jelas baru dua minggu yang lalu mereka berkumpul.


Di antara tamu undangan yang hadir, ada sebuah meja yang kini mencuri perhatian banyak orang. Bagaimana tidak? Di meja itu ada dua orang tua yang saling bertemu dan berniat untuk menjodohkan anak mereka. Mereka adalah Zean dan Letty. Sejenak mereka saling mengingatkan akan masa kejayaan mereka ketika masih muda dulu. Bahkan dengan begitu bangga Zean sempat menertawakan Letty ketika wanita itu dulu berhasil ia kalahkan.


"Kau tidak berubah Letty. Cara bicaramu masih sama seperti dulu. Bahkan cara dudukmu juga masih sama. Kau tidak pernah bisa untuk menjadi wanita yang feminim. Bisa aku bayangkan bagaimana sifat putrimu saat ini. Aku yakin hampir 85% dia meniru sifatmu waktu masih muda dulu."


"Kau benar Zean. Elyna meniru sifatku yang buruk. Tetapi dia tidak meniru sifatku yang baik. Dan ini membuatku sedikit pusing. Maka dari itu aku berniat untuk menikahkannya saja. Aku akan mencarikannya jodoh. Karena setelah aku pikir-pikir lagi, jika menunggu Elyna bertemu dengan jodohnya sendiri, mungkin tunggu aku mati dia tidak akan menikah." Letty meneguk lagi minuman yang ada di depannya karena tenggorokannya kering saat kebanyakan bicara.


Zean tertawa geli mendengar penjelasan Letty. Pria itu juga meneguk minuman berwarna merah yang ada di hadapannya sebelum melanjutkan obrolannya bersama dengan Letty. Sampai detik ini Zean sendiri masih belum tahu kalau putri tunggal Letty sempat menyerang kediaman putranya Dominic. Semua orang telah berjanji untuk merahasiakan masalah ini dari Zean. Karena bagi mereka masalah itu telah selesai di atasi dan tidak perlu dibahas-bahas lagi.


"Lalu apa kau sudah mendapatkan calon yang pas untuk putrimu?" tanya Zean ingin tahu.


"Belum. Maka dari itu aku menemuimu. Bukankah kau memiliki anak laki-laki yang belum menika? Bagaimana kalau kita jodohkan saja?" tawar Letty penuh semangat. Dia merasa yakin kalau Zean pasti setuju dengan idenya ini.


Zean tertegun mendengar tawaran Letty. Bukannya dia tidak setuju jika Dominic menikah dengan Putri Letty. Tetapi hari ini Zean baru saja bersedih karena harus merelakan putrinya menikah dengan Zion dan pergi darinya untuk hidup bersama dengan Zion. Zean belum siap jika Dominic juga harus melakukan hal yang sama dalam waktu dekat ini juga.


Letty menjadi khawatir melihat ekspresi Jean malam itu. "Kenapa kau diam saja? Apa kau sudah menemukan calon mantu yang tepat untuk menikah dengan putramu? Jika memang seperti itu, Aku tidak bisa memaksamu lagi. Sepertinya memang anak kita tidak berjodoh," ucap Letty tanpa dendam sedikitpun. "Aku juga tidak sembarangan mengajakmu bertemu seperti ini. Sebelumnya aku telah bertemu dengan Leona. Kami sempat berbincang-bincang saat itu. Leona bilang padaku kalau kau memintanya untuk mencarikan jodoh untuk putramu yang bernama Dominic. Jadi aku berinisiatif untuk menawarkan putriku. Ya memang bisa aku akui kalau putriku itu sangat susah diatur. Tapi aku yakin setelah menikah dia pasti akan berubah. Aku akan terus mendampinginya dan mengajarinya untuk menjadi istri yang baik bagi putramu nanti." Meskipun belum tahu apa keputusan Zean, tetapi Letty berusaha untuk menawarkan keuntungan yang akan didapatkan oleh Putra Zean nantinya.


"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan sifat putrimu. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, termasuk putrimu itu." Zean mengatur napasnya lalu memandang ke arah Letty lagi. Dia tidak mau sampai mengecewakan Letty. "Begini saja, dalam waktu dekat ini kita atur ketemuan lagi. Aku akan membawa Dominic dan kau bisa membawa putrimu. Untuk tahap pertama, kita akan mempertemukan mereka terlebih dahulu sebelum nantinya kita menjodohkan mereka. Setelah mereka bertemu dan saling mengenal, baru kita bisa mengambil keputusan. Aku harap mereka bisa cocok di pandangan ertama nanti." Zean merasa yakin kalau ini ide yang sangat menguntungkan bagi mereka berdua.


"Ide yang bagus. Aku setuju," ucap Letty dengan senyuman. Kebetulan sekali saat itu Elyna tidak hadir di pesta pernikahan Zion dan Faith. Jadi wanita itu tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh ibu kandungnya.


Berbeda dengan Dominic yang kini memandang wajah Zean dengan tatapan penuh arti. Belum mendengar ceritanya saja sudah membuat Dominic memiliki firasat yang buruk. Dia tahu kalau apa yang dibahas ayah kandungnya itu pasti berhubungan dengan dirinya.


"Aku tidak menyangka kalau Papa ternyata sedekat itu dengan ibu kandung wanita brandal bernama Elyna itu. Kira-kira Apa yang sedang mereka bicarakan? Kenapa mereka berdua terlihat bersemangat sekali. Tidak mungkin Tante Letty membahas ulang kejadian penyerangan di Las Vegas karena Tante Leona sendiri yang sudah memutuskan untuk merahasiakan masalah ini dari papa."


Dominic tersentak kaget ketika tiba-tiba saja Austin menepuk pundaknya. "Kenapa kau berdiri di sini sendirian? Kami berkumpul di sana. Ayo ikut dengan kami." Tanpa menunggu persetujuan dari Dominic, dia langsung saja merangkul pria itu dan membawanya untuk bergabung dengan yang lainnya. Dominic sendiri tidak mau banyak protes karena kini pria yang merangkulnya adalah keluarganya juga.


Zion dan Faith baru saja muncul dengan menggunakan gaun pengantin berwarna merah sedangkan Zion mengenakan jas berwarna hitam. Mereka berdua terlihat sangat serasi malam itu. Kecantikan Faith yang tiada tara membuat semua tamu wanita menjadi iri.


"Kenapa mereka semua memandangku seperti itu? Apa ada yang salah dari penampilanku?" bisik Faith yang saat itu terlihat gugup. Sampai-sampai tangannya terasa dingin dan Zion bisa merasakannya dengan jelas.


"Mereka memandangmu karena mereka kagum akan kecantikanmu. Sebenarnya mereka ingin ada di posisimu, tapi tidak bisa," sahut Zion asal saja. Padahal yang sebenarnya terjadi pria itu sama sekali tidak tahu mengapa semua orang memandang ke arah mereka berdua saat ini.


"Benarkah?" tanya Faith sambil memandang ke arah Zion.


"Lupakan soal tamu undangan itu. Sekarang kita harus menemui keluarga kita di sana. Aku ingin acara ini segera berakhir."


Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Zion membuat Faith merona malu. Wanita itu tidak bisa membayangkan bagaimana malam pertama mereka nanti.


"Kak Zion!" teriak Norah dan Daisy bersamaan. Faith dan Zion yang tadinya ingin melangkah menuju ke tengah-tengah ruangan untuk memotong kue pengantin harus menahan langkah kaki mereka.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berteriak seperti itu!" protes Zion tidak suka.


"Kak, Ayo berdansa," ajak Norah.


"Kak Zion harus berdansa denganku lebih dulu!" Daisy tidak mau kalah.


"Kalian ini! Aku tidak mau berdansa dengan kalian. Sekarang aku sudah memiliki istri. Aku akan berdansa dengan istriku," tolak Zion mentah-mentah.


"Yah, Kak Zion. Kenapa seperti itu?" ucap dua wanita itu dengan kecewa. Faith yang tidak tega langsung membujuk Zion agar mau berdansa dengan Norah dan Daisy secara berganti-gantian. "Aku akan menunggumu di sini. Cepat sana berdansa bersama Norah dan Daisy.


"Kakak, waktunya juga tidak sekarang. Pesta dansa akan dimulai setelah Kakak dan Kak Zion memotong kue dan memberi sambutan kepada tamu undangan. Kami datang ke sini hanya sedang bertarung saja. Sebenarnya siapa yang akan dipilih oleh Kak Zion untuk berdansa lebih dulu dengannya. Aku yakin kalau akulah yang akan dipilih oleh Kak Zion karena aku adik pertamanya." Norah terlihat sangat percaya diri.


"Tidak bisa seperti itu! Sebagai adik terakhir tentu aku harus mendapatkan perlakuan yang spesial!" sahut Daisy tidak mau kalah.


Faith tertawa geli melihat tingkah laku adik iparnya. "Kalian hanya memiliki satu kakak, kenapa harus rebutan seperti ini. Bagaimana mungkin Kak Zion harus memilih antara kalian berdua. Sedangkan kalian berdua itu adalah bagian dari hidupnya. Jika Kak Zion memilih salah satu dari kalian, itu berarti hidupnya akan menjadi tidak sempurna. Karena kehadiran kalian di dunia ini untuk menyempurnakan seorang Zion Zein sebagai seorang kakak."


Kata-kata yang diucapkan oleh Faith membuat Zion tersentuh. Pria itu tidak menyangka kalau pemikiran Faith bisa sejauh itu. "Dia menjadi semakin dewasa setelah menikah."


"Sekarang kalian sudah tahu kan kalau aku tidak akan bisa memilih. Jadi biar lebih adil, Aku akan berdansa dengan istriku saja dan kalian berdua berdansalah dengan pasangan kalian masing-masing. Jangan lagi merepotkanku."


Zion segera membawa Faith pergi menuju ke tengah-tengah lokasi pesta. Mereka akan segera memotong kue di sana. Sedangkan Norah dan Daisy saling memandang satu sama lain. Meskipun begitu dua wanita itu terlihat saling menyayangi.


"Aku juga akan mencari Foster. Sebelum acara dansa dimulai, aku harus sudah bersama dengannya. Sepertinya Kak Zion tidak menunjukkan tanda-tanda mau berdansa dengan kita. Daripada kecewa lebih baik kita membuat rencana cadangan," ucap Daisy memberi solusi.


Norah mengangguk setuju. "Kau benar."


Di tengah ruangan Zion dan Faith kini dikelilingi para tamu undangan. Mereka memotong kue pernikahan dan saling menyuapi satu sama lain. Malam itu Zion dan Faith terlihat sangat bahagia. Rasanya dunia ini hanya milik mereka berdua karena hati mereka terlalu berbunga-bunga.


"Apa aku bermimpi? Jika memang aku sedang bermimpi, Aku tidak ingin bangun. Karena mimpi ini terlalu indah," ucap Faith sambil tersenyum malu.


"Kau tidak sedang bermimpi. Ini semua memang nyata. Kita memang sudah menikah," jawab Zion untuk meyakinkan Faith.


"Oh iya, tadi aku sudah membaca surat Kak Zion. Kata-katanya sungguh manis dan begitu romantis. Tetapi kenapa semua itu hanya ada di surat saja. Aku juga ingin Kak Zion memanggilku dengan kata-kata yang romantis."


"Benarkah?" tanya Zion penuh semangat.


Faith mengangguk setuju. "Coba katakan sekarang. Aku ingin tahu bagaimana perasaanku ketika mendengarkannya."


Zion mengatur posisinya berdiri. Sebelum berucap pria itu kembali mengatur napasnya agar kembali tenang. Dia memegang kedua tangan Faith lalu menatap wanita itu dengan penuh cinta. "Sayang, aku mencintaimu."


Walah Faith langsung merona malu. Rasanya kedua kakinya tidak lagi menapak di lantai. Dia terbang terlalu jauh karena merasa sangat bahagia. "Itu terlalu manis. Terima kasih sayang," jawab Faith kembali. Hingga akhirnya gantian membuat Zion yang salah tingkah.

__ADS_1


Tiba-tiba saja lampu dibuat menjadi temaram. Acara dansa akan dimulai. Semua tamu undangan memanggil pasangan mereka masing-masing. Sebagai pembuka, pengantin barulah yang dipersilakan untuk berdansa lebih dulu.


"Apa kau siap untuk berdansa denganku?" tanya Zion. Faith hanya menjawab dengan anggukan saja. Wanita itu meletakkan tangannya di samping leher Zion lalu tersenyum manis. Sedangkan Zion sendiri sudah meletakkan tangannya di pinggang Faith. Mereka berdua berdansa mengikuti alunan lagu yang terdengar.


Setelah 5 menit berdansa akhirnya semua tamu undangan dipersilakan untuk berdansa juga. Suasana dansa malam itu terlihat sangat romantis. Semua tamu undangan terlihat berbahagia.


Namun di antara tamu undangan yang hadir ada seorang wanita yang kini justru terdiam sambil memikirkan sesuatu. Dia adalah Shabira.


Tiba-tiba saja wanita itu mengingat ketika pesta dansa saat masih muda dulu. Semua orang masih muda dan terlihat sangat bahagia. Termasuk dirinya. Shabira masih tidak menyangka kalau waktu berjalan dengan begitu cepat. Hingga akhirnya di detik ini dia mulai merasa sendiri.


Kenzo yang menyadari perubahan sikap istrinya segera memegang tangan wanita itu. Dia tahu kalau Shabira selalu saja berubah menjadi sensitif setiap kali mereka diingatkan dengan hal-hal yang pernah mereka lakukan saat masih muda dulu. Terutama jika hal-hal itu berhubungan dengan Serena.


"Sayang, apakah kau mau berdansa denganku? Aku akan menahan tubuhmu agar tidak terjatuh," tawar Kenzo. Hanya itu yang bisa dia lakukan agar istrinya tidak sedih lagi.


Shabira menggeleng kepalanya tidak setuju. Sepertinya di usianya yang sekarang wanita itu tidak mau berdansa lagi. "Setelah ini aku ingin berkunjung ke makam Kak Erena dan Kak Emelie. Tiba-tiba saja aku merindukannya."


Kenzo mengangguk setuju. "Baiklah, Tapi berjanjilah padaku malam ini kau harus tersenyum bahagia. Jangan lagi ada air mata. Aku tidak sanggup melihatmu sedih."


"Sebenarnya aku tidak sedih. Aku hanya sedang tidak enak badan saja," dusta Shabira agar Kenzo tidak mengkhawatirkannya. Namun meskipun Shabira berbohong, tetap saja Kenzo tahu kalau kini istrinya itu sedang berbohong.


"Acara pestanya akan segera selesai. Kita bisa kembali ke kamar sekarang juga jika kau memang tidak enak badan," tawar Kenzo lagi.


"Jangan! Aku tidak enak dengan Leona. Bagaimanapun juga aku di sini sebagai pengganti kak Serena. Leona sudah tidak memiliki Ibu lagi begitupun dengan Zion yang tidak memiliki Oma lagi."


"Malau begitu jangan bersedih. Mereka semua juga akan berpikir yang aneh-aneh jika melihatmu bersedih seperti ini."


Shabira mengangguk. Wanita itu berusaha untuk tersenyum manis. "Bagaimana sekarang? Apa aku sudah terlihat seperti orang yang bahagia?"


Kenzo menggeleng kepalanya. "Senyum itu terlihat sangat terpaksa. Cobalah sekali lagi. Harus disertai dengan perasaan agar senyummu tidak terlihat kaku."


Tiba-tiba saja Opa Zen duduk di salah satu kursi yang ada di meja itu. Kenzo dan Shabira sama-sama memandang ke arah Opa Zen. Mereka berdua mengatur ekspresi wajah mereka. Mereka berdua tidak mau sampai Opa Zen tahu kalau Shabira baru saja bersedih karena dia merindukan Serena.


"Apa Kakak sudah makan? Lihatlah ini. Makanan di acara pesta Zion dan Faith sangat enak. Cobalah untuk memakan makanan ini. Cake ini tidak mengandung gula. Jadi sangat cocok untuk dimakan oleh pria tua seperti kakak," ucap Shabira menawarkan salah satu kue yang ada di meja.


"Bukankah suasana ini akan sangat lengkap jika Emelie, Serena dan Daniel juga ada di sini."


Perkataan Zeroun membuat Shabira dan Kenzo saling memandang satu sama lain. "Mereka juga ada di sini. Tapi wujud mereka tidak terlihat karena mereka hanya ada di dalam hati kita saja," jawab Shabira sambil menunduk.


Opa Zen hanya tersenyum saja sambil memandang ke arah lain. Di dalam imajinasinya kini Emelie dan Serena sedang bercanda ria di salah satu meja tamu yang ada di ruangan itu. Pemandangan itu membuat Zeroun kembali tersenyum hangat.


"Aku merindukanmu," gumam Zeroun di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2