
"Ma, bagaimana ini? Kenapa Abio belum sadar juga?" Alana tidak bisa menghentikan air matanya. Dia sedih melihat putranya seperti ini. Sharin yang selaku nenek Abio sekaligus ibu kandungnya Alana, hanya bisa menenangkan Alana dengan cara mengusap punggungnya. Dia tahu apa yang kini dirasakan oleh Alana. Tetapi, mau bagaimana lagi? Abio seperti ini karena dia ingin menolong keluarganya sendiri. Abio melakukan semua ini juga bukan karena di paksa. Semua murni atas kemauannya sendiri.
"Alana, tenanglah. Abio pasti akan segera sadar. Kau hanya perlu berdoa. Dokter bilang Abio sudah melewati masa kritisnya. Itu berarti Abio akan segera sadar," ucap Sharin berharap Alana mau mengerti dan berhenti menangis.
"Sayang, anak kita pasti akan baik-baik saja. Dia jagoan. Dia pasti kuat seperti kedua Opanya. Kau tenang saja," sahut Kwan yang duduk di dekat tempat tidur.
"Abio tidak pernah bertarung sampai separah ini. Dia memiliki kemampuan bela diri hanya untuk melindungi dirinya sendiri dari bahaya. Bukan untuk melakukan pertarungan besar seperti ini!" ujar Alana dengan suara lirih. Dia terus saja membayangkan bagaimana putranya kesakitan ketika mendapat pukulan dari lawannya. Alana merasa bersalah. Andai saja dia tidak mengizinkan putranya pergi malam itu, maka semua ini tidak akan terjadi.
Memang sebelum bertarung Abio sempat menghubungi Alana. Tetapi pria ini tidak memberi tahu Alana apa yang ingin dia lakukan. Bahkan kabar kalau Abio baru saja mengalami kecelakaan saja baru ini diketahui oleh Alana dan Kwan.
"Kita terlalu percaya padanya!" sambung Alana lagi.
"Alana, sebaiknya kau tidak membahas masalah ini ketika Shabira dan Kenzo ada. Mereka bisa salah paham. Mama tidak mau mereka berpikir kalau kau tidak rela Abio membantu Zion untuk membebaskan Daisy," ucap Sharin dengan nada pelan. Di sana juga ada Biao. Dia tidak mau Biao mendengar kalimat yang baru saja dia katakan.
"Baik, Ma." Alana menghela napas dan mengusap tangan Abio lagi. Ia terus saja memanggil nama Abio berharap pria itu mendengarnya dan segera bangun.
"Kwan, ayo kita keluar. Ada yang ingin papa bicarakan," ucap Biao. Kwan hanya mengangguk sebelum berjalan menuju ke pintu. Biao memandang Sharin sejenak sebelum pergi meninggalkan ruangan tempat Abio di rawat.
Biao menutup pintu dengan rapat dan memandang Kwan. Dia mengajak menantunya itu untuk duduk di kursi yang disediakan di depan ruangan tempat Abio di rawat.
"Apa kau mengetahui masalah ini sebelumnya?" tanya Biao ingin tahu. "Masalah ini cukup serius. Tidak mungkin rasanya kau tidak tahu, Kwan. Kenapa kau tidak memberi tahu papa sejak awal? Papa bisa turun tangan langsung untuk menjaga Abio."
"Pa, bahkan seorang Zeroun Zein saja tidak turun tangan untuk membantu cucunya. Bagaimana bisa aku memberi tahu semua masalah ini kepada Papa? Aku tahu bagaimana sifat papa. Belum lagi kalau masalah ini sampai ke telinga Papa Kenzo dan Mama Shabira. Bisa-bisa semua rencana yang sudah di susun Zion gagal. Aku tahu, Papa Biao, Papa Kenzo dan Mama Shabira dulunya seorang petarung. Tetapi kalian juga harus ingat kalau sekarang kalian sudah tua. Bukannya aku ingin menyepelekan kedua orang tuaku dan mertuaku, Pa. Tapi, jika kita tidak membiarkan mereka menghadapi masalah mereka sendiri. Nanti saat kita tidak ada, bagaimana mereka terbiasa mengatasi masalah yang mereka alami? Papa pasti tahu, keturunan kita pasti ada yang terjun ke dalam dunia yang dipenuhi dengan petarungan. Awal mula kehidupan kita memang sudah seperti ini. Jadi, kita harus bisa membentuk keturunan kita menjadi pribadi yang siap bertahan jika ada masalah seberat apapun itu!"
Kali ini apa yang dikatakan Kwan benar. Biao tidak mau protes lagi. Memang bisa di bilang kalau sampai Biao turun tangan, sudah pasti Abio tidak akan celaka hingga seperti ini. Tapi, bagaimana kalau nanti Biao sudah tiada? Apa mungkin Abio bisa bertahan jika selama hidupnya terus saja di bantu oleh kakek dan nenek yang ia miliki?
__ADS_1
"Pa, soal ini jangan sampai tahu Alana ya? Dia pasti akan marah besar sama Kwan. Dia pasti akan menyalahkan Kwan."
"Tenang saja. Papa tidak akan cerita sama siapapun. Apa Kenzo dan Shabrina juga tahu masalah ini?"
"Tidak, Pa. Tidak ada yang tahu selain aku dan tante Serena. Aku juga tahunya secara tidak sengaja ketika aku berkunjung ke rumah Tante Serena untuk mengantarkan oleh-oleh, di saat itu aku lihat Tante Serena bersiap-siap ingin pergi ke Cambridge. Tante Serena menceritakan semuanya. Tetapi, dia memintaku untuk merahasiakan ini. Kalau soal Abio, aku baru tahu setelah pertarungan terjadi. Sejak awal memang Abio tidak terlibat. Namun, tanpa sengaja Abio berteman dengan pria yang suka dengan Daisy. Jadi, tanpa di rencanakan akhirnya Abio memutuskan untuk membantu Zion."
"Apa pria itu adalah Foster?"
"Ya, Pa. Dia adalah Foster. Sekarang dia juga sudah di bawa ke Jepang. Dia akan berobat di sana. Kedua orang tuanya adalah teman baik paman Daniel. Semoga saja mereka tidak membesar-besarkan masalah ini."
Biao hanya bisa mengangguk saja. Pria itu memandang ke depan sambil memikirkan sesuatu. Ternyata dia sudah tidak muda lagi. Ya, itulah yang terlintas di benaknya. Selama ini dia tidak pernah sadar kalau sudah memiliki cucu. Abio merasa kalau dirinya masih kuat dan masih bisa melindungi keluarganya.
"Bahkan Tuan Daniel sudah tidak ada. Waktu begitu cepat berlalu. Padahal baru kemarin aku dan Tama bekerja di S.G Group. Tinggal di kediaman keluarga Edritz Chen. Sekarang, semua hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanya generasi penerus yang masih muda dan belum banyak pengalaman. Seberat apapun masalah yang akan dihadapi generasi kami nanti, aku harap mereka selalu bersatu seperti apa yang dilakukan kedua orang tuanya terdahulu. Karena dengan bersatu, sekuat apapun kekuatan musuh pasti akan mudah untuk dihadapi," gumam Biao di dalam hati.
Di ruangan lain, Zion dan Lukas duduk di sofa sambil menikmati pemandangan di sore hari melalui jendela kamar. Cucu dan kakek itu terlihat sangat kompak. Lukas sangat menyayangi Zion seperti dia menyayangi Livy.
"Opa, kenapa Opa melarangku untuk menghabisi nyawa Austin? Pria seperti dia tidak pantas hidup. Dia akan terus mencari masalah. Apa lagi setelah semua yang aku lakukan. Dia pasti akan menyusun rencana untuk balas dendam. Aku yakin, dia tidak akan tinggal diam, Opa," tanya Zion kepada Lukas.
Memang sebelum Zion datang ke kamar itu untuk menolong Abio, Lukas sempat menghubunginya. Pria itu berkata, agar Zion tidak sampai membunuh Austin. Apapun caranya hindari untuk membunuh pria itu. Zion sendiri sempat kesal awalnya. Namun, pada akhirnya dia lebih menuruti perkataan Lukas.
"Opa Zeroun yang memintaku untuk mengatakan kalimat seperti itu kepadamu," jawab Lukas.
"Opa, Opa pasti tahu. Cepat Opa, beritahu aku. Aku ingin tahu alasannya," ujar Zion. Dia tidak sabar ingin tahu alasan Opa nya. Bukankah selama ini seorang Zeroun Zein dan Lukas terkenal sebagai seorang pembunuh. Bagaimana mungkin mereka menghalangi Zion untuk mengikuti jejak mereka berdua.
"Karena ada hati orang tua yang ingin dijaga oleh Opa Zen. Opa Zen tahu semua yang terbaik untuk Cucunya. Ikuti saja apa yang dia katakan maka semua akan baik-baik saja," jawab Lukas. "Membunuh juga bukan solusi sebuah masalah. Bisa jadi setelah kau membunuh seseorang, justru akan timbul masalah baru. Cukup kami yang merasakan semua itu, Zion. Kau jangan." Lukas menepuk pelan pundak Zion.
__ADS_1
"Opa, apa aku telah gagal menjadi seorang kakak?" Zion memandang ke depan. Menikmati pemandangan di depan. Saat itu di ruangannya, Zion tinggal sendirian saja. Daisy sudah diperbolehkan pulang. Leona dan Jordan yang menjaga Daisy di rumah.
Sedangkan Zeroun dan Serena ikut pulang ke Cambridge untuk membantu Leona dan Jordan menjaga Daisy.
"Tidak. Kau kakak yang hebat, Zion. Opa bangga padamu. Kau rela mempertaruhkan nyawamu hanya demi keselamatan adikmu. Walau bisa di bilang rencanamu sempat gagal di awal. Tetapi, akhirnya musuh telah kalah. Kau hebat, Zion! Sangat hebat!"
"Opa, terima kasih karena selalu mendukungku." Zion memandang ke arah Lukas. "Dulu Livy sempat menangis karena gold Dragon jatuh ke tanganku. Sekarang, dengan sadar dan tanpa paksaan, aku akan menyerahkan Gold Dragon kepadanya. Sepertinya -"
"Tidak, Zion. Geng Gold Dragon biasa di pimpin oleh pria. Jadi, pertahankan saja."
"Wanita seperti Livy juga hebat dan layak memimpin sebuah geng, Opa."
"Sehebatnya wanita, dia masih memiliki kelemahan."
Tiba-tiba Lukas ingat kalau Livy memiliki penyakit yang sama seperti Emelie. Jika datang bulan, wanita itu bisa membuat seluruh dunia menjadi kebingungan. Sudah berulang kali hal ini terjadi. Lukas sendiri saksinya. Dia tidak mau ketika ada sebuah misi, bertepatan dengan tanggal Livy datang bulan. Bisa-bisa misi yang sudah mereka rencanakan gagal total.
"Opa mau keluar. Opa ingin menemui Opa Biao dan Opa Kenzo. Apa kau tidak masalah dit tinggal sendiri?"
"Apa Abio belum sadar juga, Opa?"
"Dia pasti akan sadar malam ini. Percayalah sama Opa." Lukas menepuk pelan pundak Zion sebelum pergi meninggalkan pria itu sendirian. Zion mengalihkan perhatiannya ke depan sambil memandang pantulan wajahnya dari kaca jendela yang ada di depan. Pria itu menghela napas dan kembali memikirkan perkataan Daisy sebelum pulang ke Cambridge.
"Kak, Foster pria yang baik. Aku tahu kakak sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kami. Aku mohon, jangan sakiti Foster. Dia tidak bersalah. Dia hanya mencintaiku, tidak menyakitiku."
Zion mengusap wajahnya dengan tangan. Kini pria itu masih bingung harus bagaimana. Dia harus merestui atau menentang hubungan antara Daisy dan Foster?
__ADS_1