
Leona dan Daisy saling berpelukan sambil menunggu dokter dan tim medis lainnya yang sedang berjuang di dalam ruang operasi. Jordan berdiri di dekat pintu sambil bersandar. Dia memikirkan nasip keluarganya. Menyalahkan dirinya sendiri atas masalah yang menimpah keluarganya.
"Leona, bagaimana dengan mama?"
Aleo muncul bersama dengan istri dan putrinya. Pria itu terlihat sangat khawatir. Dia panik sampai-sampai dia tidak lagi mempedulikan istri dan putrinya yang masih berlari di belakang sana.
"Kak." Leona tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Dia segera memeluk Kakaknya dan menangis. Walau sudah tua seperti ini, tetap saja dia masih butuh pelukan kakaknya.
"Leona, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa mama sampai tertembak? Bagaimana pertahanan di rumahku?" Aleo ingin protes dan menyalahkan awalnya. Namun, ketika dia kembali ingat kalau Norah sudah tiada, dia menahan kalimatnya. Dia tahu betapa tersiksanya saudara kembarnya itu saat ini. Baru saja kehilangan putrinya dan sekarang harus menyaksikan orang tuanya terluka dan kritis.
"Mama kak. Bagaimana dengan mama? Aku tidak mau mama seperti ini," lirih Leona lagi.
__ADS_1
Aleo memejamkan mata dan memeluk Leona dengan erat. Pria itu memandang Aleo yang kini berdiri dengan wajah bersalah. Tamara dan putrinya juga baru saja tiba di samping Aleo. Wanita itu memegang pundak Leona dan mengusapnya dengan lembut.
"Leona, kau harus kuat. Kita semua sedang di uji. Aku yakin, semua masalah yang kita hadapi, nanti pasti ada kebahagiaan yang kita terima." Tamara berusaha membuat Leona kembali tenang. Walau sebenarnya dia sendiri juga tidak sekuat apa yang dia ucapkan. Putrinya harus melakukan cuci darah setelah di vonis mengidap penyakit kanker. Hal ini membuat Tamara dan Aleo sibuk dengan putri mereka.
"Aku tidak menyangka ini semua akan terjadi." Leona melepas pelukannya. Dia memandang Tamara dan menghapus air matanya. "Aku baru saja menguatkan hatiku untuk merelakan kepergian Leona. Sekarang, aku harus berdiri di depan ruangan operasi menunggu kabar mama yang kritis. Kak, apa dosa masa laluku belum juga terbayar? Sampai-sampai di usiaku yang seperti sekarang ini aku harus membayarnya dengan berjuta kali rasa sakit yang begitu menyesakkan dada?"
"Leona, jangan pernah sesali apa yang pernah terjadi. Kita semua pasti bisa melewatinya. Kau harus kuat." Tamara memeluk Leona.
"Dimana Serena? Apa dia baik-baik saja? Aku yakin dia bisa melewati semua ini. Ini hanya tembakan kecil," ujar Zeroun.
Zion mendekati Daisy. Wanita itu masih menunduk sambil menutup wajahnya. Dia menangis karena tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap GrandNanya.
__ADS_1
"Daisy, apa kau baik-baik saja? Apa kata dokter?" tanya Zion dengan nada pelan.
Daisy mengangkat kepalanya dan segera memeluk Zion. Dia lagi-lagi menangis dan memeluk Zion dengan begitu erat.
"Dokter bilang, GrandNa kritis. Keadaan GrandNa ...." Daisy bicara dengan terisak-isak.
Zeroun yang mendengar jawaban Daisy mengepal kuat tangannya. Dia berjalan ke arah dinding sebelum memukul tangannya ke sana hingga berdarah.
"No!" Jordan memegang tangan Zeroun dengan wajah marah. "Ini bukan solusi yang tepat, pa. Melukai diri sendiri tidak akan bisa mengubah keadaan. Mama Serena sudah ada di dalam. Itulah kenyataannya. Apapun yang kita lakukan tidak bisa membuat mama Serena berdiri di depan kita!" Jordan benar-benar marah. Dia menahan tangan Zeroun agar tidak menyiksa dirinya lagi.
"Aku telah gagal menjaganya. Daniel pasti marah padaku ...."
__ADS_1