
"Sekarang tidak ada lagi yang bisa mendengar perkataan kita. Cepat katakan. Siapa anak kecil ini?" tanya Austin dengan wajah penasaran. Pria itu memandang Norah yang kini duduk di jok belakang bersama dengan anak kecil misterius yang mereka temukan tadi.
"Sebenarnya aku juga tidak kenal dengan anak kecil ini. Dia bilang kalau dia butuh pertolongan. Segerombolan pria tadi pasti berniat jahat terhadapnya."
Norah mengusap tangan anak kecil itu lalu memandangnya. "Adik manis ... sekarang tidak ada lagi yang perlu kau takuti. Paman di depan adalah orang yang baik. Kami berjanji tidak akan menyakitimu. Tapi dengan satu syarat, kau harus menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jika memang kau telah diculik, Tante akan membantumu untuk mempertemukanmu dengan orang tuamu lagi."
"Waktu pulang sekolah mereka membawaku ke dalam mobil lalu mengikat kedua tanganku. Aku berteriak minta tolong tetapi mereka mengeluarkan sebuah pisau hingga membuatku takut. Mereka memaksaku untuk diam. Aku berhasil lari ketika mereka memaksaku untuk turun dari mobil. Aku sangat ketakutan tadi," ucap anak kecil itu sambil gemetar ketakutan.
Norah diam sejenak. Dia tahu kalau anak kecil itu adalah korban penculikan. "Apa kau ingat di mana alamat rumahmu?"
Anak kecil itu mengangguk cepat. "Papa dan Mama pasti sangat mengkhawatirkanku saat ini. Tante baik ... Tolong antarkan aku pulang ke rumah."
"Oke, Tante akan mengantarkanmu pulang ke rumah. Bisakah kau katakan sekarang di mana alamat rumahmu?"
Anak kecil itu mengucapkan alamat rumah yang lokasinya tidak jauh dari rumah Serena. Norah yang memang belum ada singgah ke rumah itu merasa kalau anak kecil itu sengaja dikirimkan oleh Tuhan agar ia pulang ke rumah GrandNa dan Opa Daniel. Austin yang mendengar penjelasan anak itu hanya diam saja. Sekarang dia sudah melajukan mobilnya menuju ke rumah anak kecil itu.
__ADS_1
"Memang sekarang lagi marak penculikan anak. Mereka memang tidak memiliki hati. Bagaimana mungkin mereka tega menyakiti anak kecil sekecil ini," ucap Norah sambil mengusap rambut anak kecil tersebut.
"Adik manis ... Apa kau tahu apa yang mereka katakan saat mereka menculikmu? Kau bisa menceritakannya kepada Paman. Paman akan menangkap mereka dan memasukkan mereka dan memasukkan mereka ke dalam penjara. Paman akan membuat mereka menyesal karena sudah berani menculik anak manis seperti dirimu," bujuk Austin. Kali ini dia tidak hanya berniat untuk menolong anak kecil itu. Tetapi berniat untuk membantai sindikat penculikan anak yang ada di Jepang. Terutama wilayah Sapporo.
Anak kecil itu menggeleng dengan wajah bingung. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Austin.
"Austin, mungkin anak kecil ini masih trauma hingga ia tidak mau cerita banyak. Sebaiknya jangan menanyakan hal-hal yang membuatnya semakin takut," ujar Norah tidak setuju.
"Baiklah. Maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan seorang anak kecil. Bisa dibilang Ini pertama kalinya aku bertemu dengan anak kecil seperti dia."
"Kau harus belajar untuk menyesuaikan diri dengan anak kecil karena nanti kita juga akan memiliki anak."
"Austin jaga bicaramu!" Norah memalingkan wajahnya.
Austin hanya tertawa saja mendengar suara Norah. Pria itu menambah laju mobilnya agar bisa segera tiba di rumah anak kecil tersebut.
__ADS_1
Anak kecil itu memperhatikan sebuah tato yang ada di leher Norah. Ia langsung menjauh dari tubuh Norah dengan wajah ketakutan. Jelas saja hal itu membuat Norah bingung.Padahal sebelumnya anak itu baik-baik saja.
"Anak manis, Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba takut?"
"Tante jahat!" teriak anak kecil itu.
Norah memandang Austin di depan sebelum memandang anak kecil itu lagi. "Tante tidak jahat. Buktinya sekarang tante akan mengantarkanmu pulang ke rumah."
"Tante memiliki gambar yang sama seperti mereka!" teriak anak kecil itu lagi.
"Gambar?" tanya Norah bingung.
Anak kecil itu mengangguk lagi lalu menunjuk ke arah leher Norah. Norah memegang lehernya sendiri. "Tato Gold Dragon? Apa maksud dia kalau orang yang menculik Dia memiliki tato Gold Dragon. Tapi ini tidak mungkin. Pasukan Gold Dragon tidak pernah memiliki bisnis seperti ini. Tapi tidak ada salahnya aku menyelidikinya langsung. Bukankah yang aku ketahui pasukan Gold Dragon juga ada di Jepang?"
"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Austin khawatir.
__ADS_1
"Hemm, ya. Jalan lebih cepat lagi."
Norah memandang anak kecil itu lalu tersenyum. Dia terus saja membujuk agar anak kecil itu tidak takut lagi.