
Leona merasa sangat bahagia melihat anak-anaknya masih bisa berkumpul di rumah itu. Meskipun mereka melakukan aktivitas sederhana yaitu sarapan pagi tetapi suasana hangat keluarga mereka terasa begitu nyaman. Sambil memasukkan makanan ke dalam mulut Leona kembali membayangkan suasana yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Ketika Norah sudah memiliki anak. Begitu juga dengan Zion karena target Leona tahun ini Zion juga akan menikah dengan wanita pilihannya. Sedangkan Daisy mungkin masih bertunangan dengan Foster karena jika dihitung-hitung usia Daisy saat itu baru lanjut di S2.
Namun ada beberapa hal yang terkadang membuat Leona menjadi sedih. Ia kembali ingat dengan Emelie. Wanita itu tidak memiliki umur yang panjang hingga ia tidak cukup puas bermain dengan para cucunya. Leona takut mengalami nasib yang sama seperti Emelie. Pergi duluan ketika cucu-cucunya masih membutuhkan kasih sayang seorang Oma.
Ekspresi wajah Leona yang berubah sedih tertangkap jelas oleh Zion. Pria itu kini duduk tepat di depan ibunya. Sambil sesekali memasukkan makanan ke dalam mulut tatapan pria itu tidak teralihkan ke arah lain lagi. Ia hanya terus saja memandang ibunya sambil bertanya-tanya di dalam hati sebenarnya apa yang terjadi?
Setelah hampir 10 menit meja makan itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan piring. Kini semua orang sudah menyelesaikan sarapan paginya. Mereka terlihat bahagia dengan perut yang sudah kenyang. Para pelayan juga sudah merapikan piring kotor dan menggantikannya dengan potongan buah. Zion memanfaatkan situasi Itu untuk mengorek informasi yang menjadi penyebab ibu kandungnya berubah sedih.
"Ma, apa semua baik-baik saja? Apa mama merasa sakit?" tanya Zion dengan nada yang begitu hati-hati.
Jelas saja pertanyaan dia mengalihkan perhatian semua orang. Kini mereka semua memandang keadaan Leona. Sedangkan Leona justru lebih memilih untuk menunduk daripada memandang semua orang yang telah memandangnya.
"Ini benar-benar aneh. Tiba-tiba saja Mama pingin cucu." Leona mengangkat kepalanya lalu memandang ke arah Zion. "Mama juga ingin melihatmu menggandeng wanita yang menjadi istrimu dengan mesra. Mama ingin melihatmu memperlakukan istrimu dengan mesra. Bukankah selama ini kau hanya mau menyayangi adik dan mamamu saja. Kau sangat cuek kepada wanita lain. Apa lagi wanita asing. Mama ingat betul ketika kau kecil dulu kau bertemu dengan anak temen mama. Wanita yang sangat cantik itu menggodamu. Tetapi kau menghindarinya dan memarahinya hingga membuatnya menangis." Leona tertawa kecil membayangkan adegan itu. Namun sayangnya hanya dia di sana yang tertawa karena hanya Leona sendiri yang melihat kejadian itu secara langsung.
"Jika Mama ingin cucu minta saja sama Norah karena jelas-jelas Norah sudah menikah. Jangan minta padaku. Tetapi jika mama ingin jalan-jalan, aku akan membawa mama jalan-jalan kemanapun Mama ingin pergi. Soal wanita yang baru saja mama ceritakan, dia ada di mana ma? Apa mama mau aku menikah dengannya?" Zion kali ini lebih mengikuti apa yang dikatakan ibu kandungnya dan tidak banyak protes lagi.
Norah dan Daisy melebarkan kedua mata mereka mendengar perkataan Zion. Mereka kaget melihat kakak pertama mereka benar-benar akan menikah dengan wanita yang dijodohkan Leona. Zion sama sekali tidak menentang wanita yang dipilih oleh ibunya.
"Sulit untuk menemukannya lagi karena mama sudah lama tidak mendapatkan kabar darinya." Leona memandang ke arah Jordan. "Kecilnya saja dia sudah sangat cantik. Mungkin besarnya dia menjadi wanita yang cantik dan cerdas. Tapi usianya hampir sama sepertimu Zion. Bukankah rata-rata wanita yang usianya sama sepertimu pasti sudah menikah?" Jawaban Leona membuat Daisy dan Norah menghela napas lega. Setidaknya untuk season kali ini kakak mereka terbebas dari kata perjodohan.
"Siapa nama wanita itu, Ma? Apa Mama masih ingat dengan namanya. Zion akan membantu Mama untuk mencari identitas wanita itu jika memang mama benar-benar menginginkannya untuk menjadi menantu mama." Lagi-lagi Zion memberi solusi yang tidak masuk akal.
Kali ini Norah tidak bisa diam lagi. Dia mendekati Zion untuk membisikkan sesuatu. "Kak Zion yakin dengan apa yang Kak Zion ucapkan? Pikirkanlah lagi. Masalahnya wanita ini belum pernah bertemu dengan kita. Mungkin memang benar jika kelakuannya waktu kecil sangat baik bagaimana kalau besarnya tidak?" bisik Norah. Wanita itu berusaha untuk memperingati kakak kandungnya agar tidak sampai salah pilih. Pasrah boleh dengan pilihan orang tua tapi tidak sampai untuk menyerah.
"Aku tidak tega melihat mama sedih seperti itu," sahut Zion dengan nada berbisik juga.
"Tidak tidak. Sepertinya dia tidak cocok denganmu. Masih kecil saja sudah kelihatan kalau kalian tidak memiliki pemikiran yang sama. Bisa-bisa ketika menikah nanti kalian ribut terus. Mama ingin mencari wanita yang lebih sabar untuk menghadapimu. Tidak harus pintar bela diri karena untuk melindunginya sudah ada pasukan Gold Dragon. Tapi akhir-akhir ini mama jarang keluar rumah. Mama sulit bertemu dengan wanita cantik seperti yang mama bayangkan."
"Ma, sebaiknya lupakan saja soal perjodohan Kak Zion. Kita serahkan saja masalah ini kepada Kak Zion. Biar Kak Zion memilih wanita yang sesuai kriterianya," ucap Daisy memberi solusi.
"Daisy, Kau bisa lihat sendiri kalau kakakmu sampai setua ini dia belum juga memiliki pacar. Sekali jatuh cinta malah patah hati. Dia sama sekali tidak bisa dipercaya dalam urusan percintaan. Dia tidak memiliki pengalaman apapun hingga mudah sekali ditipu oleh wanita."
__ADS_1
Jordan tersenyum kecil mendengar perkataan istrinya.
"Kenapa Papa tiba-tiba tersenyum bahagia seperti itu?" tanya Norah penuh selidik. "Apa Papa ingat sesuatu. Ceritakan dong Pa kepada kami. Bagaimana kelakuan Mama waktu masih muda dulu. Kami juga ingin tahu. Kapan lagi kami bisa mendengar cerita orang tua kami. Kami semua sudah besar dan sebentar lagi akan memiliki keturunan dan akan mengurus anak masing-masing. Kami juga ingin berbagi pengalaman. Biasanya orang tua suka sekali menceritakan kehidupannya di masa muda dulu." Norah terus saja mendesak karena dia ingin mengalihkan topik obrolan pagi itu dari cerita perjodohan Zion.
"Masalahnya cerita Mama dan Papa tidak ada gelombangnya. Kami bertemu saling mencintai lalu menikah dan memiliki kalian semua. Tidak seru jika diceritakan," sahut Leona cepat. Dia sengaja mengatakan seperti itu agar Norah tidak terus mendesak Jordan untuk bercerita.
"Mama kalian ini wanita yang sangat ceroboh. Kalau sudah dendam tidak bisa bernegosiasi lagi. Jangan sampai dia mengambil keputusan. Meskipun di mata semua orang keputusan yang ia ambil salah tetapi di mata ia benar maka ia akan tetap memegang prinsip itu. Terkadang Papa berusaha untuk membujuknya. Tetapi Papa tahu setiap orang memiliki prinsip yang tidak bisa dibantah oleh siapapun. Awal-awalnya Papa berpikir kalau prinsip yang dipegang mamamu akan mencelakai dirinya sendiri. Tetapi semakin lama usia pernikahan kami Papa semakin mengerti kalau apa yang dilakukan Mama kalian demi kebaikan semua orang."
"Contohnya?" celetuk Daisy ingin tahu.
"Banyak. Kalian saja yang tidak menyadarinya. Yang pertama kau Daisy. Kau masuk ke Universitas Yale karena keinginanmu sendiri bukan? Semua orang pasti berpikir seperti itu. Tetapi jika dikaji ulang ke belakang sebenarnya Universitas Yale adalah universitas favorit mamamu. Waktu dia hamil Zion, dia bilang kepada papa kalau nanti anaknya akan kuliah di Universitas Yale. Tetapi sayangnya Zion dan Norah tidak ingin kuliah di Universitas. Kalian berdua lebih menyukai sebuah kebebasan dan belajar di rumah. Karena keinginan utama Mama kalian adalah menyekolakan anak kandungnya di universitas Yale pada akhirnya ia mendidik Daisy menjadi wanita yang benar-benar pintar. Tidak lagi mengenalkan dunia mafia dengan Daisy. Membiarkan Daisy tumbuh seperti anak-anak pada umumnya. Bahkan Mama selalu marah setiap kali Papa melatih Daisy untuk bela diri. Ia takut kau sama seperti Norah. Tidak mau kuliah karena lebih menikmati hidup bebas yang selama ini ia jalani. Hingga akhirnya Daisy tumbuh besar dan ia sendiri yang memilih Universitas Yale seolah-olah memang itu adalah keinginan Daisy. Padahal sebenarnya tanpa disengaja mamamu sendiri lah yang selalu saja memunculkan Universitas Yale di dalam pikiran Daisy. Dan kalian tahu hikmahnya apa. Apa kalian bisa menyebutkannya satu persatu?"
"Tentu saja banyak sekali. Aku tidak akan bertemu dengan Austin dan tidak akan menikah dengan Austin jika Daisy tidak sampai diculik oleh pria ini. Aku juga tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya berpacaran sembunyi-sembunyi dari Kak Zion. Aku juga tidak akan tahu bagaimana rasanya terdampar di Pulau tanpa ada tempat tinggal dan makanan. Semua bisa aku rasakan hanya karena Daisu kuliah di Universitas Yale. Mungkin jika saja Daisy kuliah di Universitas lain ceritanya akan lebih berbeda lagi."
"Itu salah satunya. Apa ada yang lain?" tanya Jordan lagi.
"Aku bertemu dengan Kak Foster. Memang tidak terlalu spesial di mata orang lain tetapi dihatiku itu pertemuan yang sangat berharga. Karena setelah bertemu dengan Kak Foster aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku menjadi bisa belajar untuk berinteraksi dengan lawan jenis."
"Kenapa jadi aku yang dibicarakan. Apa aku sekejam itu sebagai seorang ibu. Tapi jika dipikir-pikir semua yang dikatakan oleh Papamu ada benarnya juga. Sejak awal memang mama menginginkan Universitas Yale. Mama senang sekali ketika Daisy masuk ke Universitas Yela."
"Sepertinya ada acara ini. Menapa Opa tidak Diundang?"
Semua orang yang ada di meja itu memandang ke arah Zeroun Zein yang baru saja tiba. Daisy segera beranjak dari kursinya lalu berlari menghampiri Opa Zen. Wanita itu sangat senang bisa melihat Opanya juga hadir di antara mereka. Dia memeluk Opa Zen dengan penuh kerinduan seolah-olah mereka tidak jumpa bertahun-tahun. Opa Zen tersenyum dan membalas pelukan Daisy. Dia mengusap-ngusap rambut Daisy sebelum mengacaknya hingga berantakan.
"Opa," rengek Daisy sambil cemberut. "Sejak tadi aku sudah menghubungi Opa tapi Opa tidak bisa dihubungi. Aku senang sekali karena Opa datang ke sini. Ayo ikut dengan kami Opa. Masih ada satu kursi kosong lagi yang sepertinya memang cocok sekali untuk Opa." Daisy memegang tangan Opa Zen dan membawanya menuju ke meja tempat mereka berkumpul. Wanita itu harus melangkah pelan-pelan karena langkah Opa Zen tidak bisa secepat dulu lagi.
"Papa, apa kabar?" tanya Jordan sambil memperhatikan langkah kaki ayah kandungnya dengan saksama.
"Seperti yang kau lihat kalau Papa baik-baik saja. Papa tahu besok Norah akan pergi untuk bulan madu ke Jepang. Papa ingin mengobrol dengan Austin." Opa Zen melirik Austin sejenak sebelum duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.
"Apa yang ingin Opa katakan?" tanya Norah dengan penuh antusias.
__ADS_1
"Opa ingin bicara berdua dengan Austin nanti. Kau tidak perlu ikut-ikutan. Ini urusan pria."
"Kenapa aku tidak diajak Opa?" sahut Zion hingga membuat Opa Zen mengernyitkan dahi.
"Kau ini belum menikah. Jadi ceritanya tidak akan nyambung dengan lajang sepertimu. Cepatlah menikah. Opa bisa mengatakan nasehat yang sama seperti Austin kepadamu."Opa Zen memandang ke arah Leona. "Tadi anak buah Opa mengurus bisnis di Dubai. Tanpa sengaja mereka bertemu dengan Zean."
"Zean?" celetuk Leona pelan.
"Zean? Siapa Zean opa? Apa Zean adalah saudara kita? Kenapa baru sekarang kami mendengar namanya?" tanya Norah pemasaran.
"Ya. Paman Zean adalah saudara kita," sahut Jordan dengan senyuman. Hal itu membuat Leona melirik Jordan sejenak sebelum memandang ke arah Opa Zen lagi.
"Bagaimana kabarnya Opa. Apa dia baik-baik saja?"
"Sayang sekali. Kabarnya sangat buruk. Istrinya sudah lama meninggal. Dia memiliki masalah dengan anaknya hingga harus berpisah dalam kurun waktu yang begitu lama. Sekarang Zean menderita penyakit kanker. Dia menolak untuk diobati."
Leona merasa sedih mendengarnya. Wanita itu segera memandang suaminya untuk meminta sebuah solusi. Dia tidak mungkin duduk diam saja di sini sedangkan sahabat terbaiknya sedang sakit dan pasrah dengan kematian. Ia ingin menemui Zean dan membujuk pria itu agar mau disembuhkan.
"Kita akan berangkat ke Dubai hari ini juga untuk menemui Zean," ucap Jordan. Pria itu juga tidak tega mendengar kabar Zean yang seperti sekarang.
"Aku ikut. Aku akan menjaga mama dan papa," ucap Zion menawarkan diri.
"Ya. Itu ide yang bagus. Sebaiknya kau ikut, Zion. Daisy akan kembali ke Universitas Yale. Sedangkan Norah harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk bulan madu besok."
"Tapi jika kita siang ini berangkat ke Dubai, besok tidak bisa untuk mengantar Norah untuk bulan madu." Leona masih bimbang. Belum bisa mengambil keputusan.
"Mama, nggak papa. Asalkan mama bisa tetap menjaga kesehatan Mama Norah akan baik-baik saja kok. Jangan pikirin Norah ya. Nanti juga kita akan bertemu lagi. Tapi dengan teman Mama Norah juga sangat khawatir. Bukankah Opa Zen sendiri yang bilang kalau dia sakit. Bagaimana kalau dia tidak bisa diselamatkan dan mama tidak bisa bertemu dengannya lagi. Norah setuju dengan ide Papa untuk berangkat saja siang ini ke Dubai agar mama bisa segera menemuinya dan membujuknya agar mau diobati," ucap Norah memberi solusi.
Opa Zen hanya senyum-senyum saja di dalam hati meskipun kini ekspresinya terlihat sangat dingin. "Akhirnya ada juga jalan untuk mempertemukan mereka. Setelah ini aku yakin kalau Leona pasti akan mengizinkan Faith dan Zion bersatu," gumam Opa Zen di dalam hati. Sejak ia gagal mendapatkan wanita yang ia cintai sejak saat itu juga ia memperjuangkan cucu-cucunya untuk bisa bersatu dengan orang yang mereka cintai. Opa Zen tidak mau cucunya merasakan rasa sakit yang sama seperti dirinya dulu.
"Kenapa ekspresi Opa Zen terlihat mencurigakan ya?" gumam Daisy di dalam hati.
__ADS_1