Generasi Ke 3

Generasi Ke 3
Bab. 44


__ADS_3

“Kau tidak perlu tahu siapa kam!” teriak salah satu pria sebelum menyerang Norah. Mereka seperti tidak peduli dengan wanita yang kini digunakan Norah untuk mengancam semua orang. Pria-pria itu maju karena ingin menangkap Norah.


Norah terpaksa melepas wanita itu agar bisa bertarung dengan bebas. Dia menghindar dari pukulan lawannya sebelum menendang dengan kaki. Tidak cukup di situ, satu pria yang ingin menangkap Norah juga mendapat hadiah sebuah tinju di bagian wajahnya. Norah sudah lama tidak berkelahi. Malam ini dia merasa seperti olahraga.


“Sebenarnya siapa mereka? Kenapa mereka ingin menangkapku?” gumam Norah di dalam hati. Tanpa sengaja Norah melihat simbol yang ada di lengan kanan pria berbadan tegap itu. Simbol itu milik The Bloods. Zion pernah memberi tahu Leona beberapa simbol milik geng mafia yang menurutnya harus di waspadai karena sangat berbahaya. Salah satunya The Bloods.


“The Bloods? Apa mereka anak buah Austin?” Norah masih bertarung tetapi sambil berpikir. Ia kembali ingat dengan penjelasan Paman Tano di ruangan tadi. Austin sudah meninggalkan Geng mafia The Bloods. Pemimpin yang baru sekarang ingin menangkap Austin bahkan ingin membunuhnya. “Apa jangan-jangan mereka ingin menangkapku agar mereka bisa membuat Austin datang kepada mereka?”


Norah menghindar ketika balok kayu hampir saja mendarat di punggungnya. Beruntungnya dia sempat tahu kalau ada pria asing berdiri di belakangnya melalui pantulan mobil yang ada di depannya. Wanita itu berjongkok ketika balok kayu itu lagi-lagi mau mendarat di tubuhnya.


“Rasakan ini!” Norah menjegal pria yang membawa balok kayu hingga terjatuh. Setelah itu Norah mengambil balok kayunya untuk dijadikan senjata. Wanita itu merasa menang karena dia masih baik-baik saja sedangkan musuhnya sudah babak belur. Ketika Norah ingin menghajar satu persatu musuh yang ada di hadapannya, tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah belakang.


DUARR DUARR


Peluru itu berhasil menembus kulit orang-orang yang menjadi musuh Norah malam ini. Hingga akhirnya mereka semua kalah dan tergeletak di bawah. Norah memandang ke belakang tempat sumber tembakan berasal. Dia melebarkan kedua matanya melihat Austin dan Paman Tano berdiri di sana. Austin menurunkan senjata apinya sebelum berjalan mendekati Norah. Padahal pria itu masih butuh istirahat. Tetapi dia rela turun dari tempat tidur hanya demi menyelamatkan Norah.


“Apa kau baik-baik saja, Norah?” tanya Austin. Dia memegang tangan Norah untuk memastikan tidak ada bagian tubuh yang terluka. “Paman Tano tahu kalau ada yang mengikutimu. Setelah aku sadar, dia segera menceritakan semua yang terjadi. Aku tidak tahu, apa yang terjadi padamu jika aku sampai datang terlambat.”


Norah melempar balok kayu itu ke bawah. “Tuan Austin. Saya minta sama anda untuk tidak menemui saya lagi. Kita tidak cocok. Saya tidak mau masuk ke dalam masalah anda. Begitu sebaliknya. Saya tidak akan menyeret anda ke dalam masalah yang saya miliki. Saya butuh ketenangan. Setelah bertemu dengan anda, saya tidak bisa merasakannya lagi!” ketus Norah kesal. Tadinya dia pikir memilih Sapporo sebagai tempat bermain akan terasa sangat mengasyikkan. Tidak di sangka justru masalah di Sapporo lebih berat dari yang ia temui di Inggris.


“Tidak, aku tidak bisa untuk tidak bertemu dengan kau Norah. Aku janji, hal ini tidak akan terulang lagi. Aku akan meminta pengawal untuk menjagamu 24 jam agar kau selalu aman,” bujuk Austin.


“Tidak perlu, Tuan Austin! Saya bisa menjaga diri saya sendiri tanpa perlindungan siapapun! Permisi!” Norah memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Wanita itu benar-benar muak dengan semuanya.


Austin hanya bisa memandang Norah dengan wajah kecewa. Paman Tano menepuk pundak Austin sambil tersenyum. “Tuan, wanita seperti itu pantas untuk diperjuangkan. Jika anda berhasil mendapatkan hatinya, anda akan menjadi pria paling bahagia di dunia ini.”


“Dia akan semakin membenci saya jika saya terus mengikutinya, Paman Tano.” Austin memutar tubuhnya dengan tidak bersemangat. “Aku ingin pulang. Aku tidak mau tidur di rumah sakit.”


“Baik, Tuan,” jawab Paman Tano. Dia memandang ke arah Norah lagi sebelum mengikuti Austin dari belakang.


***

__ADS_1


Norah menopang kepalanya dengan tangan sambil memandang keluar jendela. Sekarang dia sudah ada di dalam taksi yang melaju kencang menuju ke kediaman Edritz Chen. Norah terus saja kepikiran dengan Austin. Seperti ada rasa menyesal dan bersalah karena sudah memarahi Austin seperti tadi.


“Aku tidak tahu ini keputusan yang tepat atau bukan. Tetapi, lebih baik mencegah daripada terlambat.”


Norah memandang ke depan ketika taksi yang ia tumpangi telah tiba di halaman rumah utama Edritz Chen. Wanita itu membayar sejumlah uang sebelum turun. Kali ini Serena tidak menunggunya di depan. Norah berpikir kalay GrandNa nya itu sudah tidur karena memang sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


“Nona, apa anda baik-baik saja? Nyonya sangat mengkhawatirkan anda,” ucap pengawal yang bisa berjaga di depan pintu.


“Sekarang dimana GrandNa?” tanya Norah khawatir.


“Nyonya ada di dalam, Nona. Nyonya Shabira dan Tuan Kenzo juga ada di dalam.”


Tanpa menunggu lama lagi, Norah segera masuk ke dalam. Wanita itu ingin melihat keadaan Serena dan memastikan neneknya itu baik-baik saja.


“GrandNa!” teriak Norah masih dikejauhan. Semua orang yang ada di ruang keluarga memandang ke arah Norah. Serena yang paling sangat antusias. Wanita itu beranjak dari kursi rodanya karena ingin mendekati Norah.


“Sayang, kau kemana saja?”


“Norah, apa kau dalam masalah? Kenapa penampilanmu acak-acakan seperti itu?” tanya Shabira. Dulunya dia seorang petarung. Jelas saja Shabira tahu apa yang baru saja dialami Norah hari ini hanya dari melihat penampilannya.


“Ya, Oma. Tadi di jalanNorah bertemu dengan geng motor. Mereka merebut sepeda motor Norah,” jawab Norah asal saja.


“Geng motor? Bagaimana ciri-ciri mereka? Opa akan menangkap mereka,” sahut Kenzo tidak sabar. Walau sudah tua, tetapi pria itu bisa menyuruh orang untuk membereskan suatu masalah.


“Norah tidak ingat seperti apa ciri-ciri mereka Opa.” Norah menjatuhkan tubuhnya di sofa. Dia menutup wajahnya dengan tangan dan bertingkah sedang kelelahan. Dengan begitu, dia tidak akan mungkin di wawancarai oleh leluhurnya yang kini ada di depan mata.


“Norah sayang, sana mandi. Istirahatlah. GrandNa akan meminta pelayan mengirimkan makan malam ke kamar. GrandNa tahu kau pasti belum makan,” perintah Serena. Norah menghela napas panjang. Dia mengangguk pelan.


“Terima kasih, GrandNa. Norah ke kamar dulu ya,” ucap Norah dengan wajah lelahnya. Dia melangkah menuju ke tangga dengan perasaan yang begitu lega. Hal yang paling sulit dilakukan Norah adalah berbohong. Maka dari itu dia lebih baik menghindar daripada harus berkata bohong. Karena jika jujur, itu hanya akan menimbulkan masalah baru.


Kenzo mengambil ponselnya. Tentu saja dia tidak tinggal diam mengetahui cucunya dalam bahaya ketika ada di wilayah kekuasaannya sendiri. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga. Shabira dan Serena hanya diam saja menunggu kabar dari Kenzo. Sebagai wanita yang sudah tua, mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Ruang gerak mereka sudah terbatas. Bahkan pandangan mata mereka sudah tidak setajam dulu.

__ADS_1


“Aku ingin kalian menangkap geng motor yang sudah berani masuk ke wilayahku. Usir mereka semua dari Sapporo! Aku tidak mau mendengar mereka berkeliaran di wilayahku lagi!” Setelah memberi perintah, Kenzo memandang Serena dan Shabira. Pria itu mengatur napasnya yang terasa berat. “Sampai kapan kita harus turun tangan?”


Serena tertawa kecil. “Sebenarnya kita tidak perlu turun tangan. Kita hanya perlu membimbing dan melihat apa yang dilakukan cucu-cucu kita. Tetapi terkadang, kita tidak sabar ketika mereka berada dalam masalah. Padahal saat muda dulu, kita juga kesulitan mengatasi masalah yang kita hadapi.”


“Kak Erena benar. Kita tidak pernah di minta untuk membantu cucu-cucu kita. Tetapi, dengan suka rela kita membantu mereka. Seperti apa yang sekarang kau lakukan. Melihat sepeda motor Norah hilang kau langsung turun tangan. Jika terus-terusan seperti ini, kapan mereka mandiri?”


“Baiklah, aku janji ini yang terakhir. Setelah ini aku tidak akan membantu cucuku lagi,” sahut Kenzo kalah. Sebagai seorang Opa, sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan cucunya dalam bahaya meskipun istrinya tidak setuju dengan tindakan yang ia lakukan.


Di dalam kamar, Norah cepat-cepat mengunci pintu kamar agar tidak ada yang masuk ke dalam. Wanita itu mengeluarkan senjata api, ponsel dan dompet yang ia bawa. Meletakkan semua barang-barang itu di atas meja. Norah ingin mandi sebelum makan malam. Dia yakin, makan malam akan siap beberapa menit lagi. Maka dari itu dia memilih untuk mandi biasa dan tidak berendam.


Norah membuka seluruh pakaiannya dan berdiri di bawah pancuran shower. Keramas di malam hari dengan air hangat membuatnya merasa jauh lebih tenang. Ketika kedua matanya terpejam, tiba-tiba bayang wajah Austin kembali melintas dan memenuhi pikirannya. Norah segera membuka matanya.


“Kenapa aku memikirkan pria itu? Bukankah aku sendiri yang meminta agar kami tidak bertemu lagi?” umpat Norah kesal. Ia mematikan shower dan mengambil sampo yang ada di dekatnya. Membasuk rambutnya dan memijatnya dengan lembut. Lagi-lagi pikirannya dipenuhi nama Austin. Karena kesal, Norah mengambil sampo dengan begitu banyak dan meletakkannya di rambut agar Austin hilang dari pikirannya.


“Austin Austin! Kau harus pergi dari pikiranku! Jangan jadi pengganggu!” umpat Norah dengan wajah kesal.


Dia menyudahi mandinya ketika tubuhnya telah wangi dan bersih. Norah memakai kimono dengan handuk melilit rambut di atas kepala. Wanita itu memandang ke pintu ketika mendengar seseorang mengetuk pintunya.


“Non, ini makan malamnya,” teriak pelayan di luar kamar.


“Iya,” sahut Norah.


Norah melangkah ke pintu. Dia membuka pintu dan mempersilahkan pelayan itu masuk sambil membawa makan malam untuknya. Melihat makanan yang masih hangat membuat Norah menjadi lapar. Dia hampir seharian tidak makan karena harus berada di rumah sakit untuk memastikan Austin baik-baik saja.


“Apa Oma Shabira dan Opa Kenzo masih ada di bawah?” tanya Norah kepada pelayan yang ada di depannya.


“Tuan dan Nyonya sudah pulang, Non. Nyonya Serena juga sudah kembali ke kamarnya.” Setelah selesai menata makanan di atas meja, pelayan itu berdiri dan menunduk hormat. “Saya permisi dulu, Non.”


Norah hanya mengangguk saja. Dia segera mengambil sendok dan garpu karena sudah tidak sabar mencicipi makanan yang ada di hadapannya. Lagi-lagi dia kembali ingat dengan Austin. Dia tahu kalau seharian ini Austin juga belum makan.


“Apa Austin sudah makan? Dia bisa sakit jika tidak makan,” gumam Norah di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2